
Samuel dan Ibunya mendatangi rumah Jessica.
Ibu Samuel ingin mengucapkan terima kasih pada Jessica atas pemberian rangkaian mawar putih yang telah diberikan padanya.
Ibu Samuel mengetuk pintu rumah Jessica.
Jessica langsung membuka pintu setelah menghidangkan semua masakannya ke atas meja.
"Samuel.."
ucap Jessica saat melihat Samuel berdiri di depan pintu.
Jessica mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang sedang tersenyum padanya.
"Jadi gadis cantik ini yang memberikan rangkaian bunga itu pada Ibu?" tanya Riana pada Samuel.
"Iya Bu."
Riana langsung mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan saya Riana, Ibu Samuel. Saya ingin berterima kasih karena anda telah memberikan rangkaian bunga yang indah pada saya."
Jessica tersenyum dan membalas uluran tangan Riana.
"Saya Jessica Bu.
Terima kasih kembali Bu."
"Oh ya, apa kedatangan kami mengganggumu Jess?"
"Tidak Bu, Ibu dan Samuel sama sekali tidak mengganggu saya.
Kebetulan saya baru selesai masak, bagaimana kalau kita makan bersama Bu?"
Samuel dan Riana diam sejenak.
Mereka merasa tidak enak dengan Jessica.
"Mau ya Bu?" dengan nada memohon.
Melihat ketulusan Jessica, rasanya tidak tega jika Riana menolaknya.
"Baiklah Jess." ucap Riana.
Samuel juga menganggukkan kepalanya.
Riana dan Samuel kemudian masuk ke dalam rumah.
"Makanan ini sangat lezat Jess.
Ibu yakin kamu pasti Istri yang baik."
Jessica menghentikan kegiatan makanannya.
Lagi-lagi, wajah Ethan muncul di pikirannya.
Entah mengapa ia tidak bisa terlepas dari Pria itu.
Riana melihat tidak ada cincin pernikahan yang melekat di jari Jessica.
Itu artinya Jessica belum menikah.
"Kelak, seorang Pria pasti akan beruntung memilikimu sebagai Istrinya.
Selain memiliki paras yang cantik, kamu juga memiliki kepribadian yang baik Jess."
Jessica membalas penuturan Riana dengan senyuman.
"Terima kasih Bu."
--
Rossa langsung pergi ke rumah Ethan setelah mendengar penuturan Laurine padanya.
Gadis itu menceritakan segalanya padanya.
Mulai dari Laurine yang hilang ingatan, hingga kepergian Jessica dari rumah.
Rossa menekan bel rumah.
Namun pintu belum terbuka juga.
Rossa menekan bel rumah lagi.
Ethan yang sedang beristirahat, tiba-tiba terbangun saat mendengar bel rumah berbunyi.
Dengan langkah perlahan, ia menuruni tangga dan membuka pintu rumah.
Ethan melihat Rossa yang sedang berdiri di depan rumah.
"Mama.." ucap Ethan.
"Sayang.."
Rossa terkejut melihat wajah Ethan yang sangat pucat.
"Sayang, kamu sakit?"
Rossa langsung memegang kening Ethan untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Ethan nggak papa Ma, Ethan baik-baik saja."
"Bagaimana mungkin kamu baik-baik saja sayang? Badan kamu panas begini."
Rossa sangat khawatir dengan kondisi Ethan.
"Aku baik-baik saja Ma." ucap Ethan lagi.
"Ayo kita ke kamar, kamu harus minum obat dan beristirahat.
Mama akan merawatmu."
Rossa memegang tangan Ethan dan Ethan mengiyakan perintah Rossa.
Ia juga tidak mau Rossa sedih melihatnya sakit.
Setelah makan, Rossa memberikan obat dan air putih pada Ethan.
"Istirahatlah sayang."
Rossa menyelimuti tubuh Ethan.
Ethan langsung tertidur pulas.
Rossa kemudian mengambil air dan kain di dalam baskom untuk mengompres kepala Ethan.
Sesekali Rossa melihat tubuh Ethan yang gelisah di dalam tidurnya.
"Jess...
Jangan tinggalkan aku." ucap Ethan dengan nada lirih.
Rossa menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Ethan.
Ia begitu sedih melihat kondisi Ethan seperti ini.
Rossa tahu, Ethan sangat menderita.
Putranya itu pasti begitu merindukan Jessica.
Ternyata Ethan mencintai Jessica sedalam ini.
"Mama yakin kalian akan kembali bersama sayang." ucap Rossa.
Rossa kemudian kembali mengompres kepala Ethan.
--
Jason duduk di dalam ruangannya.
Ia masih menunggu informasi tentang keberadaan Jessica.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari luar.
"Masuk..", ucap Jason.
"Siang Pak, saya sudah menemukan lokasi keberadaan Nona Jessica."
"Kau sudah menemukannya?"
Suruhannya langsung memberikan foto-foto Jessica yang sedang berada di suatu tempat.
Gadis itu tampak sedang merangkai bunga.
"Nona Jessica tinggal di daerah terpencil Provinsi Nusa Tenggara Timur Pak.
Akses untuk datang ke sana juga tergolong sangat sulit. Menurut informasi yang saya dapatkan dari warga sekitar, bahwa setiap warga ataupun orang lain yang ingin keluar ataupun masuk ke daerah itu harus menggunakan kapal yang hanya digunakan sekali seminggu Pak.
Mereka mengatakan, kapal akan datang untuk mengangkut penumpang pada hari kamis."
Ia juga begitu merindukan Jessica.
"Kerja yang bagus.
Tapi, pastikan kalian selalu memantau keberadaan Jessica. Jangan sampai kalian kehilangan informasi tentang Jessica.
Beritahu aku jika sesuatu terjadi."
"Baik Pak."
"Kau boleh keluar."
Suruhannya langsung pergi meninggalkan ruangan Jason.
Jason menghembuskan napas lega.
Ia senang, Jessica akhirnya ditemukan.
Paling tidak, Jessica masih dalam kondisi baik-baik saja.
Ia akan memastikan Gadis itu aman di sana.
Jason tiba-tiba teringat pada Ethan.
Ia pikir ia harus memberitahu Ethan soal ini.
Jason sudah mempertimbangkannya dengan matang.
Ia bisa melihat kesungguhan Ethan.
Ethan benar-benar menderita saat ini.
Ia tidak mungkin memisahkan mereka berdua dengan kondisi salah paham.
Keduanya juga saling mencintai satu sama lain.
--
Keesokan paginya, Jason menelpon Ethan.
Ethan terbangun saat mendengar suara dering handphonenya.
Ethan meletakkan kain yang berada di kepalanya ke dalam baskom yang terdapat di atas meja.
Kepalanya masih sakit walau suhu tubuhnya sudah berangsur normal.
Ethan turun dari tempat tidur dan mengambil handphonenya.
Ia melihat nama Jason tertera di sana.
Ia kemudian mengangkat panggilan itu.
"Halo.."
"Aku sudah menemukan lokasi keberadaan Jessica."
Raut wajah Ethan tiba-tiba berubah setelah mendengar ucapan Jason.
"Benarkah?
Kau harus memberitahuku. Aku akan menjemputnya dari sana."
"Dia berada di daerah terpencil Provinsi NTT.
Kau hanya boleh ke sana pada hari kamis, karena transportasi digunakan sekali seminggu.
Hari ini adalah kesempatan untukmu untuk segera bertemu dengan Jessica.
Aku akan mengirimmu lokasi lengkapnya."
"Terima kasih Jason, aku berhutang budi padamu."
"Aku melakukannya untuk Jessica. Aku ingin ia segera menemukan kebahagiaannya.
Kau hanya harus membahagiakannya.
Awas saja jika kau menyakitinya lagi.
Aku tidak akan mengalah lagi padamu."
"Baiklah Jason, aku berjanji tidak akan melukai Jessica lagi.
Aku akan selalu membahagiakannya."
Jason tersenyum mendengar penuturan Ethan dari telepon.
Ia berharap Jessica dan Ethan hidup bahagia bersama selamanya.
Ethan menutup teleponnya.
Ia kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Hari ini, ia akan melakukan yang terbaik untuk Jessica.
Ia akan bertemu dengan gadis itu.
Ethan sangat merindukan Jessica, ia ingin segera memberikan pelukan padanya.
Membayangkan hal itu, sungguh membuat Ethan jauh lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Walaupun saat ini kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Beberapa saat kemudian, Ethan sudah selesai berpakaian.
Ia langsung turun ke bawah .
Rossa yang sedang memasak, heran melihat Ethan yang berpakaian rapi tampak akan pergi ke suatu tempat.
"Ethan, kamu mau pergi kemana sayang?"
Ethan tersenyum dan kemudian menghampiri Rossa.
"Ethan ingin bertemu Jessica Ma."
"Jessica? Kamu sudah menemukannya sayang?"
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Jason membantuku menemukan keberadaan Jessica Ma.
Sekarang aku akan berangkat ke sana."
"Tapi sayang, kamu harus sarapan terlebih dahulu. Kondisimu belum sepenuhnya pulih."
Ethan memegang tangan Rossa dan tersenyum lebar.
"Ethan sakit karena Ethan kehilangan Jessica Ma. Dan hari ini, Ethan akan menemukan Jessica kembali.
Ethan akan baik-baik saja Ma.
Ethan janji, Ethan akan menyempatkan waktu untuk makan Ma.
Mama jangan khawatir, hem?"
Rossa mengelus wajah Ethan dengan lembut.
"Baiklah sayang, jangan lupa makan ya.
Kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu.
Berjanjilah kamu akan membawa Jessica kembali.
Mama akan menunggu kalian berdua pulang."
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Ethan janji Ma.
Baiklah Ma. Ethan berangkat dulu ya Ma."
"Hem, hati-hati sayang.
Tuhan memberkatimu."
Ethan tersenyum sebelum akhirnya keluar dari rumah.
Ethan melajukan mobilnya ke lokasi yang diberitahu oleh Jason.
Ethan mengambil kotak yang berada di dalam sakunya.
Ia mengambil cincin yang berada di sana.
Ia tersenyum melihat cincin itu.
Sebentar lagi, cincin itu akan menemukan kembali pemiliknya.
"Tunggu aku Jess," ucap Ethan dengan senyuman merekah.