
Ethan sudah sampai di pelabuhan dimana ia akan berangkat menggunakan kapal.
Ethan membeli tiket kapal yang akan digunakannya.
Sudah beberapa jam Ethan menunggu, namun kapalnya belum datang juga.
Walau dalam keadaan panas terik, Ethan tidak sedikitpun berpindah dari tempatnya.
Ia bahkan berusaha menahan dahaganya sejak tadi.
Ia hanya tidak ingin melewatkan kapal itu karena ini adalah kesempatan satu-satunya agar dapat bertemu dengan Jessica.
Waktu sudah hampir malam, namun kapal itu juga belum datang.
Semua orang tampak gelisah dan kecewa.
Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan bahwa kapal tidak bisa datang hari ini dikarenakan sedang dalam proses perbaikan.
Ethan sangat kecewa.
Ia kemudian menghampiri petugas yang berada di dalam loket.
"Pak, apa keberangkatan hari ini memang benar-benar dibatalkan?"
"Benar Pak."
"Kalau begitu, kedatangan kapal besok pukul berapa Pak?"
"Kira-kira pukul 8 Pagi Pak.
Saya bisa pastikan itu.
Penundaan ini hanya akan terjadi sekali saja Pak."
"Baik, terima kasih Pak."
Ethan melihat baterai handphonenya yang mulai berkurang.
Ia kemudian mematikan handphonenya untuk menghemat baterai.
Ethan lupa membawa charger karena pergi sangat terburu-buru tadi.
Waktu sudah semakin malam.
Ethan memutuskan untuk tidur di loket pelabuhan itu.
Rasa kedinginan dan nyamuk yang begitu banyak sama sekali tidak dihiraukannya.
Ethan juga melewatkan makan malamnya.
Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri. Saat ini yang dipikirannya adalah Jessica.
Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Istrinya itu.
--
Samuel menemani Jessica merangkai bunga yang akan dijual hari ini.
"Kak, aku akan membantu Kakak menjual sebagian bunga-bunga ini."
Jessica menghentikan kegiatannya saat mendengar penuturan Samuel barusan.
Kemudian ia tersenyum pada anak itu.
"Tidak perlu sayang.
Kamu lebih baik belajar di rumah."
"Kak, tadi aku sudah belajar di sekolah. Jika harus belajar lagi, rasanya sangat tidak menyenangkan."
"Sam, kamu tidak boleh begitu sayang. Kamu harus rajin belajar supaya bisa membahagiakan Ibu, hem?"
"Kak, izinkan aku membantu Kakak. Aku janji hanya untuk hari ini. Mulai besok aku akan rajin belajar."
"Sam, lagian kamu masih kecil. Kakak tidak akan membiarkanmu menjual bunga-bunga ini."
"Kakak tidak perlu khawatir. Aku tidak sendirian menjualnya.
Ibu ikut bersamaku Kak."
"Ibu juga ikut?"
Sam menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Rencananya kami akan menjual bunga ini ke pelabuhan Kak. Karena Ibu dan aku yakin, jika menjualnya di sana, semua bunga ini pasti terjual habis."
"Tapi bukankah pelabuhan sangat jauh Sam? Kakak tidak enak dengan Ibu dan kamu."
"Kak, kami senang membantu Kakak. Kakak juga orang yang sangat baik pada aku dan Ibu."
"Terima kasih banyak Sam."
"Baiklah Kak. Aku akan kembali ke rumah dan memberitahu Ibu soal ini. Setelah itu, kami akan datang membawa bunga-bunga ini."
"Baiklah sayang."
Samuel tersenyum dan kemudian pergi dari sana. Anak itu tampak sangat bersemangat.
Jessica senang bisa mengenal Sam dan Ibu Riana. Keluarga mereka sangat baik padanya.
Jessica juga tidak merasa kesepian lagi karena kehadiran mereka.
--
Ethan sangat senang melihat kedatangan kapal yang akan mengangkut mereka.
Ethan langsung masuk saat penumpang mulai keluar dari kapal.
Ethan berdiri di sisi kapal.
Tiba-tiba, ada seorang anak kecil berdiri di depannya dengan membawa rangkaian bunga di tangannya.
"Kak, apa kakak mau membeli rangkaian bunga cantik ini?"
Ethan memandangi rangkaian mawar putih itu.
Sejenak ia teringat dengan Jessica yang begitu menyukai bunga mawar putih.
Ethan tersenyum dan kemudian memutuskan untuk membeli salah satu rangkaian bunga itu.
Ethan pikir, ia akan memberikan rangkaian bunga itu pada Jessica saat mereka bertemu nanti.
"Kakak akan membelinya satu."
"Kakak ingin membeli yang mana?"
"Yang ini."
Ethan menunjuk ke rangkaian bunga mawar putih yang pertama kali menarik perhatiannya.
Ethan sejenak mengagumi kemahiran sang perangkai bunga itu.
"Pilihan Kakak begitu tepat."
Samuel mengingat begitu besar usaha Jessica merangkai bunga itu.
Selain itu, Jessica juga mengatakan padanya ada makna khusus dibalik rangkaian bunga itu.
"Ini Kak."
Samuel memberikan rangkaian bunga itu pada Ethan.
Ethan memberikan sejumlah uang pada Samuel.
"Kak, ini terlalu banyak."
"Tidak papa dik, kamu boleh mengambilnya. Ini karena Kakak begitu menyukai rangkaian bunga ini.
Rangkaian bunga ini sangat indah."
"Apa Kakak akan memberikannya pada orang yang spesial?"
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Kakak akan memberikannya pada Istri Kakak"
Ethan menatap Samuel.
"Dia pasti menyukainya, karena dia sangat menyukai bunga mawar putih."
"Baguslah Kak."
Riana melihat Samuel sedang berbicara pada seorang Pria.
"Samuel..." panggil Riana.
Ethan dan Samuel melihat ke arah Riana.
"Oh Kak, Ibuku sudah memanggilku.
Aku pergi dulu Kak. Terima kasih telah membeli rangkaian bungaku."
Ethan tersenyum pada Samuel.
"Sama-sama."
Samuel langsung pergi meninggalkan Ethan.
--
Beberapa menit kemudian, kapal yang digunakan Ethan berangkat.
Angin kencang meniup rambut Ethan.
Ethan berdiri di sisi kapal sambil memegang rangkaian mawar putih tadi.
ia tidak berniat untuk masuk ke dalam.
Ethan memandang rangkaian bunga itu.
(Apa Jessica mau memaafkanku?)
Ethan menghembuskan napasnya dan kemudian menaruh tangan kanannya ke dalam saku celananya.
Semua penumpang mulai turun dari kapal.
Ethan tersenyum bahagia.
Ethan menghidupkan kembali handphonenya.
Ia melihat alamat Jessica yang telah diberikan Jason padanya.
Kemudian Ethan melihat sekelilingnya, sama sekali tidak ada kendaraan di sana.
Apa yang harus ia lakukan?
Ethan memutuskan mencari alamat Jessica dengan menyusuri daerah itu.
Ia juga akan bertanya pada warga sekitar.
Perut Ethan berbunyi. Ia memang belum makan apa-apa hari ini ditambah lagi kemarin ia melewatkan malamnya.
Ethan mulai merasakan pusing.
Tubuhnya juga semakin lemah.
Namun Ethan tetap melanjutkan perjalanannya.
Kali ini Ethan tidak bisa menahannya rasa sakitnya lagi. Penglihatannya mulai kabur dan kakinya lemah.
Tubuh Ethan jatuh ke tanah.
Seorang Bapak melihat Ethan yang terbaring di tanah dan segera mendekatinya
"Tuan..." ucap Bapak itu.
"Ada apa Pak Mamat?" tanya Riana yang baru datang bersama Samuel.
Riana melihat ke arah Ethan.
"Siapa Tuan ini?"
"Kakak.." ucap Samuel saat melihat tubuh Ethan.
"Kamu mengenalnya Sam?"
"Ini Kakak yang membeli rangkaian bunga tadi Bu. Aku bertemu dengannya saat di pelabuhan."
"Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya Tuan ini pendatang baru. Kita juga belum tahu apakah ia memiliki keluarga disini atau tidak."
"Untuk sementara, kami akan membawanya ke rumah kami Pak." ucap Riana.
"Baiklah Bu. Saya akan meminta bantuan orang lain untuk membawanya ke rumah kami."
Pak Mamat segera pergi untuk meminta bantuan.
Ethan sudah dibawa ke rumah Samuel.
"Sepertinya ia demam.
Apa kamu tahu siapa nama Tuan ini Sam?"
"Tidak Bu, aku tidak menanyakan namanya tadi."
"Kamu tetap di sini Sam. Ibu akan memasakkan sesuatu padanya."
"Baik Bu."
Samuel meletakkan rangkaian bunga milik Ethan.
"Sam.." panggil Riana.
Samuel langsung menghampiri Riana.
"Iya Bu."
"Pergilah ke rumah Kak Jessica. Kita kekurangan bumbu dapur untuk masak sup.Ibu rasa, Jessica memiliknya.
Oh ya, jangan lupa sekalian memberikan uang hasil penjualan rangkaian bunga."
"Baik Bu."
Samuel pergi menuju rumah Jessica.
"Kak.."ucap Samuel.
"Sam..
Kamu sudah kembali?"
"Sudah Kak. Semua rangkaian bunganya terjual habis."
"Benarkah?"
Samuel menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Ini uangnya Kak."
"Tidak perlu Sam.
Kamu boleh menyimpannya.
Kakak memberikannya sebagai tabunganmu."
"Tapi Kak.."
"Sam, kamu Anak yang baik. Jadi, kamu pasti menggunakan uangnya dengan sebaik-baiknya."
"Terima kasih Kak."
Samuel memeluk tubuh Jessica dengan erat dan kemudian melepaskannya.
"Oh ya Kak, apa Kakak punya bumbu dapur untuk memasak sup?"
"Punya sayang.
Kemarilah Kakak akan memberikannya padamu."
"Ibu akan masak apa Sam?"
"Aku tidak tahu Kak. Yang aku tahu, Ibu akan masak sup untuk Kakak itu."
"Kakak itu? Siapa Sam?"
"Aku juga baru mengenal Kakak itu saat di pelabuhan itu Kak. Dia membeli rangkaian bunga untuk Istrinya.
Dan saat pulang, kami melihatnya tergeletak di tanah. Jadi kami memutuskan untuk membawa Kakak itu ke rumah."
"Oh begitu. Kakak rasa Istrinya pasti sedang mencarinya saat ini."
--
Ethan perlahan membuka matanya.
Ia memegang kepalanya yang masih sakit.
"Kakak sudah bangun?" ucap Samuel.
Ethan menatap Samuel. Ia bingung, mengapa ia bisa bertemu dengan anak kecil tadi.
"Kamu?"
"Iya Kak, ini aku."
"Kakak kok bisa bertemu denganmu lagi?"
"Kakak sedang berada di rumahku sekarang."
"Apa?"
Samuel tersenyum.
"Kakak tadi pingsan di jalan. Jadi Ibu dan aku membawa Kakak ke sini."
"Oh, begitu. Terima kasih banyak ya dik."
Samuel mengambil menganggukkan kepalanya.
"Oh ya Kak, Ibu sudah menyiapkan makanan untuk Kakak. Makanlah Kak."
Ethan melihat ke arah makanan itu dan kemudian menganggukkan kepalanya.
Ia juga sudah sangat lapar.
Perutnya sama sekali belum terisi.
Setelah itu, Ethan bertemu dengan Riana.
"Maafkan saya Bu. Saya sudah menyusahkan Ibu dan Sam."
"Tidak apa-apa Tuan.
Oh ya, saya rasa Tuan sepertinya baru pertama kali datang ke daerah ini.
Saya belum pernah bertemu dengan Tuan sebelumnya."
"Iya Bu, saya sebenarnya ke sini ingin bertemu Istri saya."
"Oh begitu.
Hari sudah malam. Saya pikir, Tuan sebaiknya menginap di sini malam ini.
Saya takut Tuan kenapa-napa nanti di jalan."
"Baiklah Bu. Terima kasih banyak Bu sebelumnya."
"Sama-sama Tuan."
Ethan beruntung bisa bertemu dengan orang baik seperti mereka.
Besok ia akan melanjutkan perjalanannya untuk bertemu Jessica.
Tubuhnya masih lemah dan juga tidak baik jika ia menolak tawaran Ibu itu.