
Jessica memutuskan kembali ke rumah pukul 10 Pagi. Ia tidak ingin Ethan melihat wajahnya. Jadi ia memutuskan pulang saat Ethan sudah berada di kantor. Ia membuka pintu rumah. Ada perasaan tidak enak saat kembali ke rumah itu.
Jessica membuka kamar yang berada di bawah. Kamar itu memang tidak sebesar kamar Ethan, tapi kamar itu masih terbilang bagus dan besar. Jessica akan tidur kamar itu. Ia sudah memikirkannya, ia akan pindah dari kamar Ethan. Ia tidak bisa tidur di sana, mengingat perkataan Ethan yang mengatakan tidak ingin melihatnya. Lagian Jessica kasihan melihat Ethan yang terus tidur di sofa ruang kerjanya. Jessica tahu, selama ini Ethan tidak ingin tidur sekamar dengannya walaupun ia tidak pernah menyuruhnya pindah.
Ia mengambil semua pakaian dan barang-barangnya kemudian memindahkannya ke kamar bawah. Ia lalu kembali lagi ke atas untuk membersihkan kamar Ethan dan mencuci pakaian kotor pria itu yang Jessica yakini belum dibersihkan selama ia pergi.
"Aku akan berhenti Kak. Aku akan melakukannya sesuai permintaanmu."
Jessica menutup pintu kamar Ethan kemudian turun ke kamar bawah untuk membersihkannya juga. Sekarang, kamar itu sudah bersih. Ia membereskan barang-barangnya. Ia mengambil foto pernikahan yang ia minta dari fotografer saat prewed dan meletakkan foto itu di samping foto balita Ethan.
(Biarlah seperti ini. Aku tahu selamanya kita akan tetap menjadi orang asing walaupun kita terikat pernikahan. Aku akan mencintaimu dengan caraku)
--
Jessica sedang memasak untuk makan malam. Mulai saat ini ia akan masak untuk dirinya sendiri. Setelah selesai makan, ia mencuci piring kotor dan langsung kembali ke kamarnya. Ia mengambil sebuah buku di dalam rak dan membacanya.
Suara mobill terdengar di telinganya. Ia yakin itu mobil Ethan. Jessica melihat jam di dinding.Tumben ia cepat pulang, pikirnya.
Ethan membuka pintu dan melihat sekeliling.
(Apa ia belum kembali juga?)
Kemudian tatapannya berhenti pada sebuah kamar yang lampunya sedang hidup. Ia mendekati kamar itu namun tidak sampai membukanya. Ethan kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Ia melihat kamarnya yang begitu rapi. Baju kotornya juga sudah dicuci. Ia membuka lemari pakaian, pakaian gadis itu sudah tidak ada lagi di sana. Yang ada hanya pakaiannya yang sangat tersusun rapi. Ethan yakin gadis itu sudah pindah ke kamar bawah. Kini keadaan kamar itu sudah kembali seperti semula. Hanya saja foto pernikahan mereka terpajang di sana.
--
Sudah seminggu Jessica dan Ethan menjalankan kehidupan mereka masing-masing. Ethan yang setiap harinya ke kantor, dan Jessica yang setiap harinya membersihkan rumah dan merawat tanamannya.
Jessica sama sekali tidak pernah berjumpa atau berpapasan sekalipun dengan Ethan di dalam rumah. Sebisa mungkin pria itu tidak akan melihatnya. Jessica akan keluar setelah Ethan pergi ke kantor dan masuk lagi ke dalam kamar sebelum Ethan pulang kantor. Ia melakukan semua itu lagi-lagi demi Ethan.
Ethan pun menyadari hal itu. Gadis itu seperti menghindarinya. Ia bahkan tidak pernah keluar sekalipun saat Ethan berada di rumah. Ia kemudian menyadari bahwa ini adalah permintaannya, hal yang selama ini ia inginkan dalam pernikahan ini, tidak ada percakapan sama sekali dan menjalankan kehidupan masing-masing.
Ethan keluar dari kamar mandi.Tiba-tiba handphonenya berdering. Ethan mengambil benda itu dan menjawab panggilan Mamanya.
"Ethan, kamu sudah tahu kan minggu depan adalah harinya?"
Ethan terdiam sejenak, ya minggu depan Hari Peringatan Kematian Papanya. Sudah 15 tahun sejak Papanya meninggal.
"Ya, Ethan tahu Ma."
"Ajaklah istrimu ke rumah Nenek. Kita akan mempersiapkannya segalanya di sana bersama seluruh keluarga."
"Baiklah Ma."
Ethan menutup teleponnya. Ia terdiam sejenak. Rasa sedih itu kembali lagi. Rasa yang sudah ia rasakan 15 tahun lamanya sejak Robert meninggal dunia. Ethan meneteskan air matanya. Ia begitu merindukan Robert. Ia ingin bertemu dengannya walau hanya sekali.
Di kamarnya Jessica juga sudah mengetahui hal itu.
"Apa aku akan pergi ke sana? Apa aku boleh?"
Jessica takut kedatangannya akan melukai perasaan Ethan dan menambah kesedihan pria itu. Ia yakin Ethan pasti sedang merasa sedih saat ini. Rossa sudah menceritakan padanya bahwa Ethan sangat terpuruk sejak kematian Papanya. Ia ingin menghibur pria itu, tapi ia tidak bisa.
Jessica perlahan meneteskan air mata.
--
Ethan pulang dari kantor Pukul 3 Sore menggunakan go-jek. Ia yakin gadis itu akan menghindarinya begitu mendengar suara mobilnya. Ia membuka pintu dan melihat gadis itu sedang berada di dapur, mengisi air minum dengan handuk di atas kepalanya. Ia yakin gadis itu pasti habis mandi.
Gadis itu membalikkan tubuhnya setelah gelasnya terisi penuh.
Jessica membelalakkan matanya, ia begitu terkejut melihat Ethan berdiri tepat di depannya. Gelas di tangannya ia genggam begitu erat, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menundukkan kepalanya kemudian memutuskan untuk pergi dari hadapan Ethan. Namun suara Ethan menghentikannya.
"Siapkan pakaianmu selama seminggu. Hari ini kita akan pergi ke rumah Nenek."
Jessica membalikkan tubunya dan menatap mata Ethan sebentar. Lalu pria itu langsung pergi menuju kamarnya. Jessica menatap punggung pria itu, ia bisa melihat kesedihan di sana.