
Jessica sedang memasukkan pakaiannya dan pakaian Ethan ke dalam lemari.
Ethan keluar dari mandi. Ethan tampak merapikan kemejanya di depan cermin. Hari ini ia akan pergi ke kantor. Ia mengambil dasi kantornya yang terletak di dalam lemari. Jessica menyadari kehadiran Ethan. Ia sekilas melihat ke arah pria itu kemudian tetap melanjutkan kegiatannya.
Ethan masih berdiri di sana. Jessica mulai menyadari hal itu. Ia merasa Ethan belum berpindah dari tempatnya. Ia kemudian melihat ke arah samping, pria itu sedang menatapnya dengan memegang dasi di tangannya. Ia menatap wajah Ethan, pria itu seolah ingin Jessica memakaikan dasi untuknya.
Jessica rasa perkiraannya benar, ia meletakkan pakaian di tangannya dan menghampiri Ethan.
Jessica perlahan mengambil dasi yang berada di tangan Ethan. Tangan itu membiarkan dasi itu lolos, seolah memberikan Jessica izin.
Jessica menatap mata Ethan sekilas dan mulai memasangkan dasi Ethan. Awalnya tidak ada rasa gugup, namun tatapan Ethan yang tidak putus padanya membuat Jessica sulit bernapas.
Ethan menyadari kegugupan gadis itu. Ia tersenyum, rasanya sangat menyenangkan melihat wajah gadis itu yang memerah. Ia tetap menatap gadis itu.
Jessica sudah selesai memasangkan dasi Ethan. Ia mulai memundurkan posisinya. Ia menundukkan kepalanya agar Ethan tidak menyadari kegugupannya.
Ethan tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya untuk mengambil jas dan tasnya. Lalu Ethan membuka pintu dan keluar dari kamar.
Jessica menghirup napas lega, ia kemudian melanjutkan kegiatannya tadi.
Jessica keluar dari kamar, ia melihat Ethan yang sedang mengangkat telepon di sudut ruangan. Ethan melihat ke arah Jessica, dan menutup sambungan teleponnya. Ia menghampiri gadis itu. Jessica tersenyum. Mereka kemudian turun bersama ke bawah.
Rossa melihat Ethan dan Jessica yang turun bersama. Ia tersenyum bahagia.
(Aku rasa mereka sudah berbaikan)
Ethan dan Jessica menghampiri Rossa.
"Apa kamu akan berangkat ke kantor sayang?"
"Iya Ma."
Ethan memeluk tubuh Rossa.
"Maafkan Ethan Ma, Ethan bertingkah tidak sopan pada Mama kemarin."
Rossa tersenyum, "Iya, Mama udah maafkan kamu sayang."
Mereka melepaskan pelukan.
"Mama rasa, sekarang pasti kamu sudah tidak marah lagi seperti kemarin."
Rossa tersenyum sambil melihat Ethan dan Jessica secara bergantian.
Jessica dan Ethan saling bertatapan sekilas. Rossa membuat keduanya merasa gugup.
Rossa tersenyum geli.
(Aku rasa aku harus memberikan waktu pada mereka untuk berduaan saja di rumah)
"Baiklah sayang, pergilah. Nanti kamu telat pergi ke kantor."
"Baik Ma." Ethan berniat pergi, namun Rossa menghentikan langkahnya.
"Ehh.. Apa kamu akan pergi tanpa melakukan apa-apa pada Istrimu?
Ethan dan Jessica tidak mengerti apa maksud ucapan Rossa barusan.
"Tidak ada ciuman manis? Paling tidak, kecuplah kening istrimu.
"Ma.." ucap Jessica. Ia begitu menyadari posisinya sebagai Istri yang tidak dicintai Ethan.
"Dasar pasangan tidak romantis." ucap Rossa lagi.
Tanpa disadari, Ethan mendekati tubuh Jessica dan mencium kening gadis itu.
Jessica hanya diam membisu, ia tidak menyangka Ethan akan menciumnya.
Ethan melepaskan ciumannya dan menatap wajah Jessica, "Aku pergi dulu."
Jessica menaikkan wajahnya dan tersenyum tipis pada Ethan.
Ethan kemudian pergi meninggalkan Jessica dan Rossa.
Rossa bahagia melihat pasangan itu.
(Sepertinya ada perkembangan pada hubungan mereka. Aku sangat bahagia.)
---
Jessica menatap ke arah luar jendela kamar. Ia membiarkan angin menghempaskan rambutnya.
Jessica tersenyum bahagia membayangkan ketika Ethan menciumnya tadi Pagi. Ia tidak pernah membayangkan hal itu terjadi di pernikahan mereka. Mengingat pernikahan mereka tanpa didasari cinta.
Namun senyum Jessica mulai memudar kala menyadari bahwa Ethan melakukannya terpaksa, atas permintaan Rossa. Ya, pria itu sebenarnya sama sekali tidak berniat menciumnya tadi.
Tiba-tiba Jessica mendapatkan pesan. Ia mengambil handphone nya. Ia melihat pesan itu dari Rossa. Rossa mengatakan bahwa selama 3 hari ia tidak pulang karena pergi bersama-sama temannya.
Jessica membalas pesan Rossa. Padahal Rossa kemarin mengajaknya pergi hari ini untuk mempersiapkan perayaan ulang tahunnya.
Jessica kemudian meletakkan handphonenya di atas meja.
--
Hari semakin sore, hujan deras mulai turun ke bumi.
Jessica berdiri di depan jendela. Ia harap hujan segera berhenti, ia tidak ingin merasakan kembali hal yang pernah menimpanya dulu. Apalagi dia sedang sendiri di rumah, Ethan juga kemungkinan pulang lama hari ini.
Sudah malam namun hujan belum juga berhenti, yang lebih parah lagi suara gemuruh petir mulai terdengar di telinga Jessica.
Jessica mulai gelisah di kamar. Ia memeluk erat selimut yang ia gunakan.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Jessica dengan mata berkaca-kaca.
Ia sendirian di rumah, ia tidak bisa minta tolong pada siapapun.
Ia membayangkan peristiwa yang dialaminya saat berusia 10 Tahun.
Saat dimana ia tinggal di rumah sendirian. Sementara Neneknya belum pulang ke rumah.
Dengan keadaan hujan deras, petir dan mati lampu Jessica menangis sendirian. Saat ia ingin keluar rumah, ia melihat ada pencuri yang masuk ke dalam rumah. Karena panik, Jessica teriak dan pencuri itu mengetahui keberadaannya. Pencuri itu sempat mengejarnya dan ingin membunuh Jessica. Beruntung Jessica bisa melarikan diri dan pergi ke rumah Pak Reinhard, tetangga mereka.
Mulai saat itu Jessica tidak ingin sendirian di rumah jika hujan turun deras. Ia juga menjadi takut dengan kegelapan. Ia sangat trauma dengan kejadian itu.
Jessica takut hal itu terjadi lagi. Ia ingin mengambil Handphone nya untuk menelpon siapapun. Namun saat ia ingin berdiri melangkah, listrik tiba-tiba padam. Rasa takutnya kini semakin menjadi-jadi.
Jessica kemudian berlari ke sudut lemari. Ia bersembunyi sambil memeluk tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Piluh membasahi tubuhnya pada cuaca yang sangat dingin.
Ethan melajukan mobilnya ke rumah. Ia ingin cepat pulang, mengingat gadis itu sendirian di rumah. Rossa tadi sudah mengirimnya pesan bahwa ia pergi selama 3 hari.
Ia melihat hujan yang semakin deras. Ia menginjak pedal gasnya.
Jessica mulai berpikir yang tidak-tidak. Ia takut pencuri memasuki rumah kembali. Ia semakin memundurkan langkahnya ke dinding.
Ethan memarkirkan mobilnya ke bagasi. Ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ia membuka jasnya yang sudah basah.
Ia melihat listrik mati. Ethan menghidupkan lampu Handphone nya lalu mengedarkan pandangannya mencari Jessica.
"Jessica..." panggil Ethan.
Ethan kemudian mencari Jessica ke dalam kamar mereka. Ethan membuka pintu itu.
Samar-samar Jessica mendengar pintu kamar terbuka. Ia sangat takut, jantungnya berdebar dengan sangat cepat.
"Jessica..." ucap Ethan lagi sambil mencari Jessica di tempat tidur.
Jessica menaikkan wajahnya. Ia mengenal suara itu, itu suara Ethan.
Jessica langsung berlari memeluk tubuh Ethan. Ethan menyadari Jessica yang memeluknya. Ethan merasakan bahu itu bergetar hebat, gadis itu sepertinya sedang merasa ketakutan.
Ethan melepaskan pelukan gadis itu dan menatap wajah itu dengan lembut, "Ada apa?" ucapnya menatap Jessica.
"Aku sangat takut Kak.." ucap Jessica dengan nada senggugukan.
Ethan langsung memeluk tubuh Jessica.
Tubuh itu sangat basah.
"Tenanglah, aku di sini bersamamu. Semua akan baik-baik saja."
Jessica menjadi lebih tenang setelah mendengar penuturan Ethan.
Ethan menggenggam tangan Jessica yang begitu dingin. Ia membimbing Jessica menuju tempat tidur.
"Tidurlah..."
Jessica naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya, namun tangannya masih memegang tangan Ethan dengan erat.
Ethan tidak tega meninggalkan Jessica, gadis itu masih sangat ketakutan. Ethan memutuskan berbaring bersama gadis itu.
Ethan menaikkan selimut ke tubuh mereka kemudian menarik tubuh Jessica ke pelukannya. Jessica masih menangis, Ethan mengelus punggung Jessica dan sesekali mencium kening gadis itu.
Rasa ketakutan Jessica menjadi berkurang. Ethan berada di dekatnya, bahkan ia sedang berada di dekapan pria itu.
Rasa kantuk mulai menghantui Jessica. Ia mulai tertidur dengan posisi berada di pelukan Ethan. Ethan merasakan hal itu, namun ia tidak melepaskan pelukannya.
Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini pada Jessica , yang ia tahu ia hanya ingin melindungi gadis itu.