
Matahari pagi memancarkan sinar yang begitu menyilaukan. Kedua sosok itu tampak bergelut di dalam tidurnya. Posisi mereka saling berhadapan dengan jarak tubuh yang sangat dekat. Tangan pria itu juga memeluk pinggang Istrinya.
Jessica dan Ethan sama-sama membuka mata mereka. Seketika mata mereka saling bertatapan, kemudian mereka menyadari posisi mereka yang begitu dekat. Ethan dan Jessica saling bangun dari posisi mereka.
Jessica tidak tahu harus melakukan apa. Dia begitu salah tingkah atas kejadian tadi. Untung saja kedatangan Kevin menyelamatkan perasaannya yang saat ini sangat gugup.
"Tante Jecika..", panggil Kevin dari luar.
Jessica langsung membukakan tenda itu, tampak seorang anak kecil berdiri dengan permen lolipop di tangannya.
Kevin masuk ke dalam tenda.
"Tante, Nenek memanggil Tante dan Om untuk sarapan."
Jessica melihat jam berada di tangannya. Ia begitu terkejut saat menyadari bahwa dirinya bangun kesiangan hari ini.
"Apa Kakak bisa berjalan?"
Tanya Jessica pada Ethan yang sudah berdiri.
Jessica melihat Ethan yang sedang mencoba berjalan, namun kaki itu masih tampak susah untuk digerakkan.
Jessica langsung menghampiri Ethan.
"Aku akan membantu Kakak berjalan. Bolehkah?"
Ethan menganggukkan kepalanya.
Ethan memberikan lengan kirinya pada bahu Jessica agar gadis itu dapat membantunya berjalan. Sementara Jessica memegang erat lengan dan tubuh Ethan.
Jessica memutarkan pandangannnya pada Kevin.
"Ayo sayang", ucap Jessica.
Mereka bertiga berjalan beriringan.
--
Setelah sarapan, Jessica kembali ke tenda untuk membersihkan tempat tidur mereka. Tiba-tiba suara dering handphone berbunyi. Jessica mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Ia melihat ada panggilan kantor pada Handphone Ethan. Pria itu meninggalkannya, pikir Jessica.
Jessica kemudian memutuskan untuk memberikan Handphone itu pada Ethan. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat agar Ethan dapat menjawab panggilan itu.
Jessica melihat Ethan bersama Laurine dipantai. Ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri pria itu, namun terhenti saat melihat mereka berdua berpelukan.
Ada rasa kecewa di hati Jessica saat ia kembali melihat Ethan berpelukan dengan Laurine. Ia berusaha menahan air matanya yang ingin keluar.
Ia melihat handphone di tangannya yang sudah tidak berdering lagi, ia memutuskan untuk kembali ke tenda.
Saat Jessica membalikkan tubuhnya, Dave sudah berdiri di hadapannya.
"Apa kamu tidak apa-apa?", tanya Dave melihat mata Jessica yang sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak apa-apa Kak, aku baik-baik saja, " ucap Jessica tersenyum sambil melangkahkan kakinya kembali.
Tangan Dave menghentikan langkahnya. Dave kemudian berjalan menuju Jessica dan berdiri di hadapannya.
"Tolong jujurlah padaku Jess, katakan jika kamu sedang tidak baik-baik saja."
Jessica meneteskan air matanya. Ia kemudian menundukkan kepalanya, ia tidak ingin Dave melihatnya menangis.
Dave tahu betul apa yang sedang Jessica rasakan saat ini. Ia juga melihat Ethan dan Laurine yang sedang berpelukan di sana. Ia ingin marah saat ini, ia berjanji akan membalas perbuatan Ethan.
--
Dave sedang duduk bersama Jessica di suatu tempat.
"Aku tahu kalian menikah pasti atas dasar permintaan Bibi Rossa. Aku benar kan Jess?"
Jessica menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Seharusnya setelah menikah Ethan tidak boleh menjalin hubungan lagi dengan Laurine."
"Tidak Kak, mereka saling mencintai. Pernikahan ini tidak akan bisa menghalangi hubungan mereka. Dan sebagai istri aku hanya bisa mendukung hubungan mereka", ucap Jessica dengan menundukkan kepalanya.
Dave mendekati Jessica dan memegang pundak gadis itu.
"Apa kamu tidak terluka melihat Ethan berhubungan dengan wanita lain?"
Jessica menatap mata Dave.
"Tidak Kak. Aku sudah menerima konsekuensinya jauh sebelum kami menikah."
Dave tahu Jessica sedang berbohong
"Apa kamu mencintai Ethan?" tanya Dave pada Jessica.
Jessica hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Dave.
Dave sudah mengetahui bagaimana perasaan Jessica pada Ethan. Gadis itu ternyata sangat mencintai sepupunya.
Dave kemudian berdiri.
"Baiklah. Dari pada bersedih, Kakak akan mengajakmu ke tempat favorit Kakak. Kakak yakin kamu pasti senang mengunjunginya.
Kamu mau kan?"
Jessica menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
--
"Bagaimana?"
Jessica menyunggingkan senyumnya dengan puas. Ia melihat taman bunga yang begitu indah. Ada begitu bayak bunga disana. Keberadaan taman itu semakin menambah keindahan pantai.
"Aku senang sekali Kak. Tempat ini sangat indah."
Jessica berjalan mengelilingi taman bunga itu. Ia mengerlingkan matanya saat melihat bunga favoritnya ada di sana. Ia ingin memetik bunga itu, namun tangannya tidak sampai.
Dave yang melihat Jessica yang mengalami kesulitan menyunggingkan senyumannya, dan menghampiri gadis itu.
"Apa kamu suka bunga mawar putih?
"Iya Kak. Jessica sangat menyukai bunga mawar putih", ucap Jessica dengan tersenyum.
Dave dengan berusaha keras memetik bunga itu. Akhirnya ia berhasil memetik 3 tangkai bunga mawar putih yang diingikan Jessica
Jessica sangat senang melihat Dave berhasil memetik bunga itu. Ia langsung menghampiri Dave.
"Ini dia..." Dave memberikan bunga itu pada Jessica.
Jessica menerima bunga itu dengan sangat senang. Ia menghirup bau bunga itu dengan tersenyum.
"Terima kasih Kak, Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Kamu terlihat seperti anak kecil yang baru menerima cokelat sekarang." ucapnya dengan tertawa geli.
"Kak Dave.." Jessica sangat malu mendengar ucapan Dave.
--
Ethan dan Laurine sudah kembali ke tempat keluarganya berkumpul.
"Apa kamu melihat Jessica?" tanya Rossa pada Veronica.
"Entahlah, aku juga tidak melihat Dave. Kemana perginya anak itu?"
Ethan mengedarkan pandangannya mencari Jessica.
(Apa jangan-jangan Jessica pergi bersama Dave?)
"Nenek, Kevin tadi melihat Tante Jessica pergi bersama Om Dave." ucap Kevin pada Rossa.
"Benarkah sayang?" ucap Veronica.
"Ah syukurlah. Aku sangat takut Jessica tersesat di suatu tempat." ucap Rossa dengan perasaan lega.
Ethan berkacak pinggang setelah mendengar penuturan Kevin. Lagi-lagi ia melakukannya, pikirnya.
Dave dan Jessica sedang berjalan di area pantai.
Dave tersenyum geli melihat Jessica yang kelihatan sangat menyukai bau bunga mawar putih itu. Dari tadi gadis itu terus menghirup bau bunga itu.
"Jess.."
Jessica mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Dave.
"Iya Kak?"
Mereka menghentikan langkah mereka.
"Aku ingin bertanya padamu."
"Kakak ingin bertanya apa?"
"Apakah dosa jika mencintai milik orang lain?"
Seketika Jessica teringat dengan posisinya yang juga mencintai milik orang lain. Ya, dia mencintai Ethan yang notabenenya adalah milik Laurine.
Jessica membuka suara, " Aku rasa setiap orang memiliki hak untuk mencintai dan dicintai Kak. Termasuk mencintai orang yang sudah menjadi milik orang lain. Jadi aku rasa itu tidak dosa Kak."
"Apa Kakak sedang mencintai gadis yang sudah memiliki pacar? Atau bahkan sudah memiliki suami?" , tanya Jessica dengan nada bercanda.
"Tentu saja tidak." Dave menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia tampak salah tingkah mendengar Jessica yang sepertinya sudah mengetahuinya.
"Aku hanya barusan menonton sinetron tentang seorang pria yang mencintai pacar sahabatnya." ungkap Dave sambil meninggalkan gadis itu.
Jessica langsung mengikuti langkah Dave yang mencoba melarikan diri.
"Benarkah?", ungkap Jessica dengan nada tidak percaya.
"Sudah hentikan Jess." Dave berlari menghindari pertanyaan Jessica
Jessica juga berlari mengejar Dave.
"Aku tidak akan berhenti sebelum Kakak mengatakan yang sejujurnya."
Mereka berdua berhenti berlari saat melihat Ethan datang menghampiri mereka.
Ethan menatap Jessica dan Dave dengan wajah tidak suka. Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada tangan Jessica yang sedang memegang bunga.
"Dari mana saja kamu?" , tanya Ethan pada Jessica dengan menaikkan nada suaranya.
"Aku yang mengajaknya pergi", ucap Dave pada Ethan.
"Pergilah, Mama sedang mencarimu." Ethan melembutkan suaranya.
Jessica menatap Dave sekilas dan kemudian pergi meninggalkan dua pria itu.
Dave ingin mengikuti Jessica namun Ethan menghentikannya.
"Apa tujuanmu mendekatinya?", ucap Ethan dengan nada datar.
Dave menghadapkan tubuhnya pada Ethan.
"Bukan urusanmu." ucap Dave mencoba meninggalkan Ethan.
"Bukan urusanku?" Ethan mengikuti posisi Dave dan menghadapkan tubuhnya pada pria itu.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu bukan urusanku? Apakah kau lupa bahwa dia adalah Istriku?"
Dave memandang Ethan dengan tersenyum remeh, "Aku tahu kalian menikah atas permintaan Bibi. Kau tidak mencintainya, dan itu tidak ada masalah bukan jika aku mendekatinya?"
"Selama dia masih menjadi Istriku, kau tidak boleh mendekatinya." ucap Ethan dengan nada tidak suka.
"Kalau begitu aku akan membantumu berpisah dengannya. Bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku? Dengan begitu kau bisa kembali berhubungan dengan Laurine tanpa harus sembunyi-sembunyi."
Kali ini Ethan membiarkan Dave pergi begitu saja.
Ethan masih berada di tempat itu. Ethan begitu tidak menyukai penuturan Dave tadi. Pria itu seolah-olah ingin dirinya melepaskan Jessica. Di satu sisi ia mengatakan hal itu sangat bagus, mengingat ia dan Laurine bisa bersatu kembali. Tapi di sisi lain, ia tidak suka Jessica bersama Dave.
"Ya aku hanya tidak suka. Apa Dave tidak bisa mencari gadis lain selain Jessica?"
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak memiliki perasaan khusus pada gadis itu. Buktinya ia masih mencintai Laurine hingga saat ini. Ia juga sudah minta maaf pada Laurine atas perbuatannya kemarin. Bahkan Laurine mengajaknya berhubungan kembali. Gadis itu mengatakan ia menyesali keputusannya kemarin dan berjanji tidak akan mengatakannya lagi.