Love You Too Much

Love You Too Much
Hilang Ingatan



Laurine  sedang berjalan di tengah jalan sambil menangis.Wajahnya tampak sangat kacau saat ini. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.


Hari-hari ia habiskan dengan menangis. Ia menyesal karena telah membiarkan Ethan menikah dengan Jessica.


Ia mengira bahwa Ethan hanya mencintai dirinya selamanya, namun yang terjadi saat ini sebaliknya. Pria itu mencintai wanita lain.


Laurine menangis sejadi-jadinya.


Laurine melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyebrang jalan dan kembali ke mobilnya. Namun ia tidak melihat ada mobil yang berada sangat dekat dengannya.


Laurine tertabrak mobil itu. Kepalanya bercucuran darah.


Sang pemilik keluar dari mobil, ia begitu terkejut melihat seorang gadis yang ia tabrak. Pria itu mendekati tubuh Laurine.


"Nona.." ucapnya dengan nada khawatir.


Tak lama kemudian orang-orang banyak berdatangan.


"Saya akan bertanggung jawab pada Nona ini. Saya seorang Dokter, saya akan membawanya ke rumah sakit saya." ucapnya dengan nada meyakinkan.


--


Ethan dan Jessica sedang berada di dapur. Ethan tampak begitu menyukai makanan Istrinya.


"Makanan ini sangat lezat."


Jessica begitu senang mendengar Ethan memuji masakannya.


Ethan berdiri dan mendekati tubuh Jessica. Ia memegang pundak gadis itu.


"Maafkan aku karena selama ini aku telah menyakitimu Jess.


Kakak tidak pernah menghargai masakanmu, Kakak selalu berkata kasar padamu. Bahkan Kakak selalu membuatmu menangis.


Maafkan aku Jess." ucap Ethan dengan nada menyesal.


Jessica tersenyum pada Ethan.


"Tidak Kak. Aku tahu Kakak tidak bermaksud melakukannya. Aku masuk ke dalam kehidupan Kakak secara tiba-tiba, Kakak juga pasti sangat menderita."


Jessica meneteskan air matanya. Ia merasa bahwa Ethan dan dirinya sama-sama menjadi korban pada saat itu.


"Apa kamu mau memaafkanku Jess?"


"Tentu saja Kak."


Mereka saling berpelukan.


Mulai saat ini Ethan berjanji pada dirinya untuk tidak akan melukai Jessica lagi.


--


Chris melihat daftar kontak yang berada di handphone Laurine. Tidak ada satupun kontak yang menunjukkan keluarga gadis itu.


Ia memandangi wajah Laurine.


Apa yang harus ia lakukan?


Saat ini ia tidak tahu akan menghubungi siapa.


Chris membuka daftar panggilan Laurine. Disana ada banyak panggilan yang bertuliskan nama seseorang dengan simbol hati.


Chris yakin bahwa orang itu adalah Kekasih Laurine.


Ia kemudian menelpon nomor itu.


Ethan dan Jessica sedang menonton TV bersama.


Tiba-tiba dering handphone berbunyi.


"Kak, sepertinya handpone Kakak berbunyi."


"Tidak, aku tidak akan mengangkatnya Jess. Aku tidak mau mereka mengganggu kita lagi.


Biarkan saja."


Bunyi Handphone Ethan berbunyi lagi.


"Kak, angkatlah, hem?", ucap Jessica dengan nada memohon.


"Baiklah."


Ethan beranjak dari sofa dan mengambil handphone nya yang berada di atas meja.Ia melihat nama Laurine tertera di sana. Sebenarnya Ethan tidak ingin menjawab panggilan itu mengingat kejadian terakhir kali saat ia dan Laurine bertemu.


Namun ia pikir ia harus menjawabnya, sebagai tanda bahwa mereka tetap berhubungan baik walaupun hubungan mereka sudah berakhir.


"Halo.." ucap Ethan.


"Halo.."


Ethan bingung mendengar suara seorang Pria dari panggilan Laurine.


Ia melihat layar handphone nya dan ia tidak salah melihat.


"Halo, anda siapa? Mengapa handphone Laurine berada pada anda?" tanya Ethan.


"Hem, sepertinya anda sangat dekat dengan Nona Laurine.


Saya hanya ingin memberitahu bahwa Nona Laurine sedang di rumah sakit sekarang. Dia mengalami kecelakaan tadi siang."


Ethan begitu terkejut dengan ucapan pria itu.


"Bagaimana kondisinya? Apa ia baik-baik saja?" tanya Ethan dengan nada khawatir.


"Sebaiknya anda segera datang ke sini. Saya kasihan dengan Nona Laurine, tidak ada satupun yang menemaninya di sini. Saya akan menjelaskan bagaimana kondisinya saat anda sudah berada di rumah sakit."


"Baiklah, saya akan segera ke sana." ucap Ethan lalu menutup panggilannya.


Ia menghampiri Jessica.


Jessica melihat perubahan raut wajah Ethan.


Ia langsung berdiri mendekati Ethan.


"Ada apa Kak? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Jessica dengan nada khawatir.


"Laurine kecelakaan Jess."


Jessica begitu terkejut mendengar penuturan Ethan.


"Dia sendirian di rumah sakit. Orang tua Laurine sedang berada di luar negeri, tidak ada yang menemaninya di sana."


Ethan memegang pundak Jessica.


"Apa kamu mau ikut denganku pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya?"


Jessica tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Jessica bisa merasakan apa yang dirasakan Ethan saat ini. Ia juga merasa kasihan dengan Laurine.


Ethan melanjukan mobilnya dengan cepat. Ia sangat khawatir dengan kondisi Laurine.


Chris memandangi wajah Laurine yang sedang terbaring di ranjang. Ia merasa bersalah karena telah menabrak gadis itu.


Bagaimana cara menjelaskan kondisinya pada Kekasihnya nanti?, tanyanya di dalam hati.


Ethan berlari menuju ruangan Laurine dirawat. Jessica mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di depan ruangan Laurine, Ethan kebetulan bertemu dengan Chris yang baru keluar dari ruangan Laurine.


"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Ethan dengan nada panik.


"Boleh ikut ke ruangan saya sebentar?"


Ethan menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Chris menuju ke ruangannya.


Chris menjelaskan segalanya. Mulai dari ia yang menabrak Laurine, hingga bagaimana kondisi Laurine saat ini.


"Dia akan siuman sebentar lagi. Saya bisa pastikan itu." ucap Chris dengan nada meyakinkan.


Ethan menghirup napas lega. Ia takut sesuatu terjadi pada Laurine.


Ethan keluar bersama Chris.


Ethan menghampiri Jessica yang menunggu di depan ruangan Laurine.


Ethan tersenyum pada gadis itu dan memegang lembut tangannya.


Chris bingung dengan pemandangan yang dilihatnya.


Bukannya Ethan adalah Kekasih Laurine?


Tiba-tiba Suster keluar dari ruangan dan menghampiri Chris.


"Dok, pasien sudah siuman."


Mereka langsung masuk ke dalam ruangan.


Ethan dan Jessica mendekati ranjang.


Laurine melihat siapa yang datang. Ia tersenyum bahagia melihat Ethan.


Ia  langsung memeluk tubuh Ethan dengan erat.


Jessica merasa sedikit sedih melihatnya. Bahkan genggaman Ethan pada tangannya perlahan terlepas.


Laurine melepaskan pelukannya.


Ia kemudian menatap gadis yang berada di samping Ethan saat ini. Ia tidak mengenalnya.


"Kak, dia siapa? Apa dia temanmu?"


Ethan begitu terkejut mendengar penuturan Laurine. Apa yang terjadi dengannya?


"Laurine kamu..."


Ethan menatap ke arah Chris.


Chris mendekati Laurine.


"Nona, karena anda baru siuman, saya akan memeriksa kembali kondisi anda. Itu lebih baik agar anda cepat pulih."


Laurine menuruti perkataan Chris. Ia kemudian meluruhkan badannya ke tempat tidur.


"Kakak tidak boleh meninggalkan aku disini ya. Aku mohon temani aku Kak." ucap Laurine dengan menggenggam erat tangan Ethan.


Ethan menganggukkan kepalanya dengan lembut.


"Kakak berjanji tidak akan pergi Lau.


Kakak akan menunggumu di luar sampai Dokter selesai memeriksamu."


Laurine menganggukkan kepalanya.


Ethan dan Jessica keluar dari ruangan.


Ethan memandang Jessica dengan tatapan sendu.


Jessica tersenyum pada Ethan. Ia mencoba memberikan dukungan pada Suaminya.


Chris keluar dari ruangan. Ia menghampiri Jessica dan Ethan.


"Nona Laurine mengalami cedera kepala yang mengakibatkan amnesia. Untuk sementara waktu, saya sarankan sebaiknya jangan memaksanya untuk mengingat semuanya. Hal itu akan berakibat buruk pada kondisinya.


Pak Ethan, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar Nona Laurine cepat pulih. Saya yang akan bertanggung jawab padanya."


"Dukungan anda juga sangat saya butuhkan dalam pemulihannya." ucap Chris.


"Apa ingatannya ada kemungkinan dapat kembali Dok?"


"Ya, ingatannya akan kembali secara bertahap dari waktu ke waktu."


Ethan menatap wajah Jessica.


Apa yang harus ia lakukan saat ini?


Hal ini pasti akan menyakiti keduanya. Terutama Jessica. Untuk sementara waktu, mereka harus menyembunyikan hubungan mereka dari Laurine.


Jessica menggenggam tangan Ethan dengan erat. Jessica yakin mereka bisa melalui semua ini.


"Apa Nona Jessica..."


Ethan mengetahui arah pertanyaan Chris. Pria itu pasti ingin memastikan hubungan antara dirinya dengan Laurine.


"Ini Jessica, dia Istriku.


Chris begitu terkejut dengan ucapan Ethan.


"Oh, maafkan saya.."


"Tidak papa Dok, Laurine adalah Mantan Kekasih saya dan sudah saya anggap seperti Adik saya sendiri."


"Sekali lagi maafkan saya Pak Ethan.


Dan saya juga minta maaf pada Nona."


Chris mengarahkan tatapannya pada Jessica.


Jessica tersenyum pada Chris.


"Tidak apa-apa Dok."


"Oh ya, saya belum memperkenalkan diri saya sebelumnya. Nama saya Christian Logan.


Kalian bisa memanggil saya Chris. Saya yang akan bertanggung jawab menangani Nona Laurine."


"Senang bertemu dengan anda Dokter Chris."


ucap Ethan pada Dokter muda itu.


Ethan masuk ke dalam ruangan Laurine. Gadis itu sedang tidur di ranjangnya.


Mata itu perlahan terbuka seolah mengetahui kehadiran Ethan. Ia tersenyum melihat Ethan dan berusaha untuk memperbaiki posisinya.


Ethan melihat hal itu dan membantu Laurine.


"Terima kasih telah menungguku di sini Kak."


Ethan tersenyum menanggapi pernyataan Laurine.


"Sebenarnya aku merasa bosan di sini. Aku ingin pulang Kak. Aku tidak sabar pergi ke restoran favorit kita bersama Kakak."


ucap Laurine dengan nada bersemangat.


Jessica membawa makanan untuk Ethan. Pria itu belum makan dari tadi.


Ia berdiri di depan ruangan Laurine. Ia melihat gadis itu sedang berbincang dengan Ethan.


Jessica memutuskan masuk ke dalam.


Laurine menatap wajah Jessica dengan heran. Ia bingung mengapa gadis itu masih berada di sana.


"Kak, sebenarnya dia.."


"Kenalin, dia Jessica.


Dia..." Ethan menatap wajah Jessica. Ia tidak tega mengatakan pada Laurine bahwa ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Jessica.


"Saya karyawan Pak Ethan."


Ethan terkejut dengan penuturan Jessica.


"Apa kamu karyawan baru? Aku sepertinya tidak pernah melihatmu di kantor sebelumnya.


Kamu bekerja di bagian mana?"


Jessica menatap wajah Ethan dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Laurine.


"Saya bekerja di tim khusus Pak Ethan."


"Oh, baiklah.


Saya Laurine, Kekasih Ethan Samuel Jeconiah."


Jessica sedih saat Laurine menyebut Ethan Kekasihnya. Walaupun ini hanya untuk sementara, sebagai Istri ia juga tidak ingin Suaminya bersama gadis lain.


"Saya Jessica Bu." ucap Jessica.


"Tidak usah panggil Bu. Sepertinya kita juga seumuran. Kamu panggil Laurine saja karena kamu spesial. Kamu sudah menjengukku juga. Kamu mengerti?"


"Baiklah Laurine."


"Itu apa?" tanya Laurine saat melihat sebuah plastik di tangan Jessica.


"Ini makanan untuk Pak Ethan. Pak Ethan tadi menyuruh saya membeli makan malam."


Ethan menatap senduh wajah Jessica.


Gadis itu menjadi korban atas semua ini.


"Berikan padaku. Aku akan menyuapi Kak Ethan. Dia Pria yang suka manja padaku."


Jessica perlahan mendekati Laurine dan memberikan makanan itu padanya.


"Kemarilah Kak. Aku akan menyuapimu."


Ethan tidak menggubris perkataan Laurine. Ia masih menatap wajah Jessica.


"Kak.." ucap Laurine lagi.


Ethan sontak mengalihkan pandangannya pada Laurine.


"Iya?"


"Kemarilah Kak.


Tanganku sakit jika terus begini." ucap Laurine dengan nada merengek.


Perlahan Ethan duduk di hadapan Laurine. Lalu gadis itu menyendokkan makanan padanya.


Jessica masih berdiri di tempatnya.


Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.


"Oh, Pak Ethan, Laurine saya izin kembali." ucap Jessica dengan nada lembut.


Laurine menghentikan kegiatannya.


"Kamu mau pulang?


Ini sudah malam, apa kamu mau diantar oleh Supirku? Tidak baik kalau kamu pulang sendiri."


"Tidak, tidak perlu Laurine. Aku bisa pulang sendiri.


Terima kasih." ucap Jessica dengan nada lembut.


"Baiklah, hati-hati ya.." ucap Laurine.


Jessica menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Laurine.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Ethan. Pria itu menatapnya dengan raut wajah merasa bersalah.


Ia tersenyum pada pria itu dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua di sana.


Sesampainya di pintu, Jessica meneteskan air matanya.


Ia tidak menyangka hubungannya dengan Ethan ternyata tidak semulus apa yang ia pikirkan seperti kemarin saat mereka bulan madu.