Love You Too Much

Love You Too Much
Menikah kedua kalinya



Jessica memandang penampilannya dengan terkejut.


Kali ini ia tampak seperti pengantin. Gaun putih beserta penutup kepala yang ia gunakan di puncak kepalanya semakin menambah kesan layaknya seorang pengantin wanita.


"Anda sangat cantik Nona."


Jessica tersenyum.


"Tapi mengapa kamu mendandaniku seperti ini Eve?" tanya Jessica dengan penasaran.


Eve tersenyum mendengar pertanyaan Jessica.


"Anda akan mengetahuinya nanti Nona.


Sekarang, saya akan menuntun anda keluar. Semua orang pasti sudah menunggu Nona.


Eve memegang tangan Jessica dan membimbingnya menuju pintu.


Saat pintu terbuka, Jessica melihat Papanya berdiri di depan pintu dengan setelan jas lengkap sambil tersenyum padanya.


"Papa..." Jessica masih berdiri di tempatnya


"Kemarilah sayang." ucap Marcus


Jessica perlahan mendekati Marcus.


"Nona, ini..."


Eve memberikan buket bunga mawar putih yang sangat indah pada Jessica.


Jessica mengambil buket bunga itu dan kemudian tersenyum pada Marcus.


Marcus menautkan tangan kiri Jessica pada tangan kirinya.


Jessica memandang tangannya yang terapit pada tangan Marcus dengan penuh tanya.


Jessica masih belum mengerti dengan apa yang terjadi dengan semuanya.


Mengapa ia berpenampilan dan berperilaku layaknya seorang pengantin saat ini?


Marcus kemudian menuntun Jessica keluar menuju halaman rumah.


(Dekorasi ini? Bukankah saat aku masuk tadi semuanya masih polos?)


Jessica memandang sekelilingnya dengan penuh kagum hingga matanya tertuju pada seorang Pria yang menatapnya dengan penuh cinta.


Pria itu sangat tampan dengan tuxedo hitam yang melekat pas di tubuhnya.


Jessica kemudian melihat semua keluarganya di sana. Mereka semua tampak berpakaian rapi.


Karyawan Ethan juga berdiri di sana.


Mereka tersenyum kagum menatapnya.


Pendeta yang memberkati mereka saat pernikahan tersenyum memandangnya.


Jessica kembali mengalihkan pandangannya pada Ethan.


Mata Jessica dengan intens menatap Ethan sampai pada akhirnya ia berdiri di depan Pria itu.


Marcus memberikan tangannya pada Ethan.


Ethan tersenyum dan kemudian menggenggam tangan Jessica dengan erat.


Mata Jessica belum terputus sama sekali.


Mereka berdua berdiri di hadapan Pendeta.


"Nona, saya senang bertemu dengan anda kembali."


Jessica akhirnya mengalihkan pandangannya.


"Saya sangat senang bisa memberkati anda berdua untuk kedua kalinya."


Jessica menatap Ethan kembali.


"Suami anda meminta saya untuk melakukan Pemberkatan Pernikahan untuk yang kedua kalinya.


Pak Ethan melakukannya sebagai tanda awal yang baru bagi pernikahan kalian.


Bahkan ia berjanji pada saya, bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Anda.


Pak Ethan sangat mencintai Anda Nona."


Jessica menutup mulutnya dan kemudian meneteskan air matanya.


Akhirnya ia tahu, bahwa ini adalah kejutan besar yang dikatakan There kemarin.


Ia sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Ethan. Cinta Ethan sangat besar untuknya.


Ethan menghapus air mata Jessica sambil tersenyum.


"Apa anda siap untuk melakukan Pemberkatan?" tanya Pendeta.


Jessica menganggukkkan kepalanya dengan yakin.


Mereka berdua kini berhadapan dan saling berpegangan tangan untuk mengucapkan Janji Suci Pernikahan di depan Pendeta dan semua orang yang berada di sana.


"Saya Ethan Samuel Jeconiah. Aku mengambil engkau Jessica Ornetha menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”


Mendengar penuturan Ethan, Jessica menitihkan air matanya lagi.


Sekilas ingatan tentang pernikahan mereka dulu muncul di benak Jessica. Ethan juga mengucapkan janji pernikahan saat itu.


Namun bedanya, saat ini Ethan benar-benar mencintainya dan ingin hidup bersamanya selamanya.


Kini giliran Jessica mengucapkan Janji Suci Pernikahan. Ia mengucapkannya dengan isakan tangis.


Saya Jessica Ornetha, aku mengambil engkau Ethan Samuel Jeconiah menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”


Mereka saling bertatapan dan kemudian berpelukan.


Ethan ikut menitihkan air matanya. Dulu, hal ini tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya. Ia tidak pernah mengira bahwa ia akan mencintai Jessica bahkan sangat sangat mencintainya.


Kebaikan dan Cinta tulus Jessica mampu mengalahkan semua egonya dan membuat Ethan tergila-gila dengannya.


Semua orang ikut menangis bahagia.


Termasuk There, yang dari awal menyaksikan kisah cinta Jessica.


Ia sangat bahagia melihat Sahabatnya akhirnya dapat tersenyum bahagia bersama Pria yang dicintainya.


Perjalanan cinta Jessica yang tergolong sulit, membuatnya bangga pada Jessica. Ia tahu hal ini akan terjadi pada Jessica dan Ethan. Karna cinta yang dimiliki Sahabatnya itu sangat tulus pada Ethan, mulai sejak SMA sampai dengan sekarang.


Jason melihat ke arah There yang sedang berdiri di sampingnya. Air mata Gadis itu keluar dengan derasnya.


Ia tersenyum tipis. Jason tahu, There sangat menyayangi Jessica.


Ia kemudian mengambil sapu tangan yang terdapat di dalam sakunya dan menyodorkannya pada There.


There menatap sapu tangan itu, dan kemudian melihat Jason.


Mata Pria itu seakan-akan menyuruhnya untuk mengambilnya.


There akhirnya mengambil sapu tangan itu dan menghapus air matanya.


Sementara Chris, Pria itu menatap Laurine dari kejauhan.


Dari tadi matanya tidak putus menatap Laurine.


Ia hanya ingin memastikan Gadis itu baik-baik saja. Walaupun wajah Laurine berbalut senyuman, namun Christ tahu bahwa Laurine merasakan sakit saat melihat Ethan bersama Gadis lain.


Chris pikir Laurine memang masih mencintai Ethan. Itulah alasan mengapa ia tidak bisa memiliki hati Gadis itu.


--


Setelah acara pemberkatan, tiba saatnya Jessica dan Ethan berdansa.


Kaki Jessica perlahan bergerak mengikuti langkah Ethan.


Tak sengaja, kaki Jessica menginjak Kaki Ethan.


Jessica melepaskan tangannya dari Ethan.


"Maaf Kak." ucap Jessica dengan nada merasa bersalah.


"Tidak apa-apa sayang."


Ethan kemudian menarik tubuh Jessica mendekat padanya.


"Kamu sangat sangat sangat cantik malam ini sayang."


Jessica tersipu mendengar pujian Ethan.


Semburat merah perlahan muncul di pipinya.


Ethan tersenyum geli melihatnya dan mencium pipi Jessica di depan semua orang.


"Kak, semua orang sedang melihat kita."


"Tidak apa-apa sayang, mereka juga tahu bahwa hari ini adalah hari spesial kita."


Ethan kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica.


"Aku sangat tidak sabar menunggu malam pertama kita sayang."


"Kak Ethan..."


Jessica mencubit perut Ethan.


"Sakit sayang.."


Ethan tersenyum melihat tingkah polos Jessica.


Istrinya itu semakin membuatnya jatuh cinta padanya.


Semua pasangan perlahan ikut berdansa.


Mereka membimbing pasangannya masing-masing mengikuti alunan musik.


"Bolehkah aku mengajakmu berdansa?"


"Apa Kak?" There begitu terkejut mendengat penuturan Jason barusan.


"Kakak ingin mengajakku berdansa?"


There takut ia salah mendengar.


Jason menganggukkan kepalanya.


"Maukah kamu berdansa denganku Clare?" tanya Jason.


There tersenyum dan kemudian menerima ajakan Jason.


"Aku mau Kak."


Hal yang mengejutkan, Jason menggenggam tangannya dan membawanya ke lantai dansa.


Pria itu bahkan menautkan tangan mereka berdua dan meletakkan tangannya yang lain di pinggangnya.


"Apa kamu bisa berdansa?"


Pertanyaan Jason membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ia pasti ketahuan menatap Pria itu dari tadi.


"Aku tidak bisa berdansa Kak.


Lebih baik Kakak mencari pasangan yang lain saja."


There melangkahkan kakinya pergi, namun tangan Jason menghentikannya.


"Aku akan mengajarimu Clare."


Tangan itu semakin menggenggam tangannya, membuat There akhirnya membalikkan badannya.


Mata Jason seakan mengisyaratkan padanya untuk tetap berdansa dengannya.


There kemudian menganggukkan kepalanya.


Jason tersenyum senang dan kemudian mengatur posisi mereka berdua.


Rossa tersenyum melihat kemesraan Ethan dan Jessica.


Keduanya tampak sangat bahagia.


Matanya kemudian melihat ke arah Laurine yang berdiri di sampingnya.


Laurine sedang menundukkan kepalanya, menatap minuman yang berada di tangannya.


Gadis itu pasti sedang melamun.


"Lau..." panggil Rossa.


Laurine kemudian menaikkan wajahnya saat mendengar suara Rossa memanggilnya.


"Iya Bi?"


"Kemarilah."


Rossa menarik tangan Laurine menuju Chris yang tengah duduk di sebuah kursi.


"Bi, kita akan pergi kemana?"


Laurine semakin bingung saat mereka mendekat ke arah Chris yang sedang duduk.


Mereka berhenti di hadapan Chris. Kedatangan Rossa dan Laurine membuat Chris berdiri.


Chris dan Laurine saling bertatapan.


"Chris, maukah kamu menjadi pasangan dansa Laurine?"


Laurine dan Chris derkejut dengan perkataan Rossa barusan.


"Bi.."


"Bibi minta tolong Chris, jadilah pasangan dansa Laurine, hem?" ungkap Rossa dengan tatapan memohon.


Chris melihat ke arah Laurine yang sedang menundukkan kepalanya.


Gadis itu pasti tidak ingin berdansa dengannya.


Namun melihat tatapan memohon Rossa, ia sangat tidak tega untuk menolaknya.


"Baiklah Bi."


Laurine menaikkan wajahnya.


"Terima kasih Chris. Sekarang pergilah ke lantai dansa bersama Laurine.


Laura sayang, Bibi akan menunggumu di sini."


Laurine akhirnya mengikuti kemauan Rossa. Ia pergi bersama Chris ke lantai dansa.


Chris dan Laurine sampai di lantai dansa.


Mereka saling membisu satu sama lain, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.


"Lau. Jika kamu tidak ingin berdansa dengan Kakak, tidak apa-apa. Kita bisa pergi dari sini."


Laurine menatap Chris.


Tidak baik jika ia bersikap seperti ini pada Chris. Bagaimanapun selama ini Chris sangat baik dengannya. Pria itu selalu menjaganya bahkan menghiburnya saat ia bersedih.


Akhir-akhir ini ia memang menjaga jarak dengan Chris, bukan karena ia membenci Chris namun karena ia tidak ingin menyakiti hati Pria itu.


Ia menyadari perhatian Chris selama ini semakin menunjukkan bahwa Pria itu menaruh hati padanya.


Ia hanya belum siap untuk membuka hatinya kembali. Ia takut jika pada akhirnya Chris akan terluka karenanya.


Chris Pria yang sangat baik.


Laurine tersenyum pada Chris.


"Aku mau berdansa dengan Kakak."


Chris senang, akhirnya Laurine bisa tersenyum kembali padanya.


"Baiklah." ucap Chris.


Chris perlahan menggerakkan kakinya sementara Laurine mengikuti gerakannya.


Tiba-tiba kaki Laurine tersandung karena ia begitu gugup.


Chris langsung menangkap tubuh Laurine yang akan jatuh ke bawah.


Mata mereka berdua lama bertatapan sebelum akhirnya Laurine berusaha berdiri dan pergi meninggalkan Chris.


Chris mengejar Laurine yang tampak kesakitan saat berjalan.


"Laurine, berhenti. Kakimu bisa semakin terluka."


Chris memanggil Laurine, namun Laurine belum juga berhenti.


Ia kemudian menghentikan langkah Laurine dengan memegang tangannya.


Laurine akhirnya berhenti.


Laurine sangat terkejut saat Chris menggendongnya.


"Kak, apa yang Kakak lakukan? Turunkan aku Kak"


Chris tidak menghiraukan perkataan Laurine.


Ia kemudian meletakkan Laurine di kursi dan meluruhkan badannya, berjongkok di hadapan Laurine.


"Kak, apa yang Kakak lakukan?"


"Kakak akan memeriksa kakimu."


Laurine membiarkan Chris memeriksa kakinya.


Chris perlahan memijat kakinya dengan lembut.


"Apa sakitnya di bagian sini?" tanya Chris.


Laurine menganggukkan kepalanya.


Matanya terus menatap Chris yang begitu perhatian padanya.


Pria itu bahkan tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatnya dari tadi.


Beberapa saat kemudian, Chris berdiri.


"Berdirilah Lau."


Laurine kemudian berdiri di hadapan Chris.


"Apa kakimu sudah membaik?"


"Sudah Kak."


"Syukurlah."


Tiba-tiba, Rossa datang menghampiri mereka.


"Apa kamu baik-baik saja sayang? Bibi dengar terjadi sesuatu padamu tadi."


"Laurine sudah baik-baik saja kok Bi."


"Benarkah?"


Laurine menganggukkan kepalanya.


"Baiklah sayang, Bibi akan membawamu masuk ke dalam. Udaranya semakin dingin, tidak bagus untuk kesehatanmu. Bibi juga akan memberikanmu obat."


"Chris, terima kasih telah menjaga Laurine."


"Sama-sama Bi."


"Ayo sayang masuk ke dalam."


Rossa membawa Laurine pergi meninggalkan Chris.


Chris menatap kepergian Laurine. Laurine tidak berkata apapun padanya.


Laurine sepertinya kembali menjaga jarak dengannya.


Tapi syukurlah Gadis itu baik-baik saja.


Perlahan Laurine membalikkan tubuhnya melihat ke arah Chris. Namun Chris sudah tidak berada di sana lagi.


Hatinya sedikit kecewa.


"Duduklah Lau. Bibi akan mengambilkan obat untuk kakimu."


Laurine kemudian duduk di sofa.


Ia kemudian teringat dengan perlakuan Chris padanya tadi. Pria itu sangat perhatian padanya.


Ntah mengapa, hatinya begitu nyaman saat bersama Pria itu. Apalagi saat Pria itu memberikan perhatian padanya.


Namun, kenyamanannya semakin membuatnya sadar bahwa ia tidak boleh memberikan harapan pada Chris.


Laurine meneteskan air matanya.


Dirinya memang masih terikat dengan masa lalu, sehingga sulit untuk membangun cinta yang baru.


Chris tidak boleh terluka karena dirinya.


Dia tidak boleh egois.