Love You Too Much

Love You Too Much
Bulan Madu Kedua



Jessica bergelut di dalam pelukan Ethan. Ia membuka matanya. Dada Ethan menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya hari ini.


Ia tersenyum tatkala menyadari bahwa ia sedang berada di pelukan Ethan.


Jessica melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 Pagi. Ia bangun kesiangan hari ini.


Jessica melepaskan tangan Ethan dari pinggangnya dengan hati-hati namun pelukan itu semakin erat.


Jessica berusaha kembali, namun Ethan menarik tubuh Jessica semakin dekat padanya.


Jessica terdiam sesaat di dalam pelukan Ethan.


Ethan membuka matanya dan kemudian tersenyum menyadari Jessica tidak bisa menghindari pelukannya.


Ethan melonggarkan pelukannya dan membuka suara.


"Apa kamu ingin pergi bersamaku?"


Jessica menaikkan wajahnya menatap Ethan.


"Pergi kemana Kak?"


Ethan tersenyum.


"Aku berencana mengajakmu pergi untuk melanjutkan bulan madu kita.


Karna kamu suka pantai, bagaimana kalau kita pergi lagi ke Villa yang berada di Bandung? Kamu mau?"


Jessica menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Baiklah, kita akan berangkat ke sana hari ini."


"Hari ini? Bukannya hari ini Kakak akan pergi ke kantor?"


"Tidak, aku sudah membatalkan jadwalku hari ini. Aku melakukannya agar aku bisa menghabiskan waktuku bersamamu."


Pernyataan Ethan sukses membuat Jessica tersipu.


"Bukankah harusnya aku mendapatkan hadiah?" ucap Ethan dengan nada menggoda.


Ethan mengarahkan tangannya pada pipinya. Ia bermaksud agar Jessica mencium pipinya.


Jessica terdiam sebentar. Namun beberapa saat kemudian, ia memajukan wajahnya dan mencium pipi Ethan.


Ethan tersenyum puas saat Jessica mencium pipinya. Jessica melepaskan ciumannya, ia memandang Ethan yang sedang tersenyum padanya.


Ethan lalu menarik Jessica ke dalam pelukannya. Ia mencium kepala dengan lembut.


Jessica tersenyum di dalam pelukan Ethan. Apa yang ia rasakan saat ini adalah hal yang sangat berharga di dalam hidupnya.


Seorang Pria yang tak lain adalah Cinta Pertamanya akhirnya mencintainya...


---


Ethan sedang menyetir dengan tangan kirinya yang menggenggam tangan kanan Jessica. Sesekali ia mencium lembut tangan gadis itu sambil tersenyum ke arahnya.


"Tidurlah jika kamu mengantuk.


Perjalanan kita masih jauh."


"Tidak Kak, aku tidak mengantuk." ucap Jessica sambil tersenyum pada Ethan.


"Baiklah."


Beberapa waktu kemudian Ethan dan Jessica sudah sampai di Villa.


Ethan mengangkat koper mereka.


Jessica terdiam di tempatnya. Ia begitu senang bisa kembali lagi ke tempat ini.


Mereka masuk ke dalam rumah. Ethan membawa koper mereka ke kamar atas.


Sekilas memori bulan madu pertama mereka terlintas di pikiran Jessica. Ia ingat pernah tidur di kamar itu. Kamar yang berada di lantai bawah. Saat itu Ethan tidak ingin sekamar dengannya dan menyuruhnya tidur di sana.


Jessica tersenyum tipis. Sekarang semuanya berbanding terbailik, pria itu mencintainya. Bahkan saat ini Ethan menginginkan sekamar dengannya.


Jessica menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Ethan. Tidak ada siapa-siapa di sana.


Bunyi gemercik air dari kamar mandi seolah memberitahu Jessica bahwa Ethan sedang mandi.


Jessica kemudian membuka koper dan memasukkan satu per satu baju mereka ke dalam lemari pakaian.


Pintu kamar mandi terbuka. Jessica begitu terkejut melihat Ethan keluar hanya dengan handuk yang melekat di pinggangnya. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ethan mendekati Jessica.


"Bisakah kamu membantuku mengeringkan rambutku?"


Jessica perlahan menatap wajah Ethan.


Ia kemudian tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Ethan duduk di tepi ranjang. Ia membiarkan Jessica yang sedang mengeringkan rambutnya dengan posisi berdiri.


Gadis itu tampak sangat serius melakukannya. Ethan sangat menyukai raut wajah itu.


Jessica menyadari Ethan yang memandanginya dari tadi. Sebenarnya ia masih gugup berada di dekat Ethan walaupun selama ini mereka sudah melakukan hal yang biasa dilakukan suami istri pada umumnya.


Bahkan malam itu Ethan hampir saja menyentuhnya.


Jessica tahu suatu hari mereka juga pasti akan melakukannya. Ethan adalah suami sekaligus Pria yang dicintainya. Ia akan menyerahkan dirinya untuk Pria itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga sangat ingin memiliki anak bersama Ethan.


Kegiatan Jessica sontak berhenti saat Ethan memeluk perut Jessica.


Jessica terdiam dengan handuk masih berada di tangannya.


"Aku ingin selalu memelukmu seperti ini Jess." ucap Ethan yang menenggelamkan wajahnya ke perut Jessica.


Jessica merasa kegelian saat Ethan memainkan perutnya dengan wajahnya.


Jessica tertawa kecil.


Ethan menaikkan wajahnya.


"Apa kamu kegelian?"


Jessica menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Ethan.


Ethan kemudian menarik tubuh Jessica untuk duduk di pangkuannya.


Jessica mengalungkan tangannya ke bahu Ethan.


Ethan memandangi wajah Jessica.


"Kak, Kakak harus segera berpakaian. Nanti Kakak sakit."


Lagi-lagi Ethan menggodanya.


Ethan menyentuh wajah Jessica dengan lembut.


Ia memajukan kepalanya dan berniat mencium bibir Jessica. Namun suara handphone menghentikannya.


Mereka saling bertatapan sebentar. Ia ingin melanjutkan kembali kegiatannya, namun suara handphonenya tidak berhenti juga.


Sial, pikir Ethan.


"Angkatlah Kak. Siapa tahu ada hal penting pada perusahaan."


Ethan melepaskan pelukannya dari tubuh Jessica dan kemudian Jessica turun dari pangkuan Ethan.


Ethan mengangkat panggilan itu.


Jessica tersenyum pada Ethan.


Ia kemudian memasukkan kembali pakaian mereka ke dalam lemari.


--


Jessica terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 17.30 Sore. Ia kemudian keluar dari tempat tidur dengan hati-hati, ia tidak ingin membuat Ethan terbangun.


Jessica melihat ke luar jendela. Hari sudah mau berganti malam.


Jessica melihat langit yang berwarna oranye bercampur dengan warna gelapnya malam.


Suatu ide terlintas di benak Jessica untuk melihat sunset di pantai. Itu pasti sangat indah, pikirnya.


Ia kemudian beranjak keluar dari rumah menuju pantai.


Jessica sangat bahagia melihat keindahan itu. Ia menghirup udara pantai dengan perlahan. Ia tidak memperdulikan angin pantai yang semakin lama semakin dingin.


Ada seorang pria menatapnya dari kejauhan. pria itu tidak memutuskan pandangannya dari Jessica. Ia ingin menghampiri gadis itu dan memeluknya.


Jauh di lubuk hatinya, ia sangat merindukan Jessica. Ia selalu berniat untuk mengunjungi gadis itu namun ia mengurungkan niatnya mengingat posisinya yang tidak mengetahui hubungan antara Jessica dan Ethan.


Bahkan apa yang ia lakukan saat ini adalah hanya untuk melihat wajah Jessica walaupun dari kejauhan.


Ia tersenyum melihat Jessica yang sangat cantik dengan rambut panjangnya yang terhempas angin.


Ethan membuka matanya. Ia melihat ke sampingnya dan tidak ada Jessica di sana.


Ethan keluar dari tempat tidur menuju ke dapur, ia pikir Jessica pasti sedang berada di sana.


Namun saat berada di dapur, Ethan tidak menemukan siapapun.


Ethan mencari ke sekitar namun hasilnya tetap sama.


Ethan merasa sangat panik saat ini. Ia takut Jessica kenapa-kenapa. Hal yang sama ia rasakan saat gadis itu pernah menghilang saat bulan madu pertama mereka. Walaupun ia memarahi Jessica pada saat itu.


Bukan, kepanikannya ini jauh lebih besar dari yang sebelumnya.


Mungkin perasaannya pada gadis itu yang menyebabkannya.


Ethan mengambil jaketnya dan langsung pergi keluar rumah.


Ia melangkahkan kakinya dengan cepat.


Ethan mengedarkan pandangannya dengan teliti.


Jessica tidak ada di sana, kemudian ia pergi ke area pantai.


Ethan semakin mempercepat langkahnya. Jantungnya berdetak dengan cepat. Kekhawatirannya semakin bertambah tatkala belum menemukan Jessica.


Jessica terkejut melihat Ethan dari kejauhan.


Ia baru menyadari bahwa saat pergi ia tidak memberitahu Ethan tadi. Ethan pasti sangat mengkhawatirkannya.


Jessica melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menghampiri Ethan.


"Kak.." ucap Jessica saat ia sudah berada di dekat Ethan.


Ethan membalikkan tubuhnya saat mendengar suara Jessica.


Ethan langsung mendekati Jessica dan memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat.


Jessica merasa bersalah saat ini. Ia takut Ethan akan marah padanya, sama seperti saat ia menghilang di bulan madu pertama mereka.


"Maafkan aku Kak.." ucap Jessica


Ethan melepaskan pelukannya.


"Aku begitu khawatir padamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Maaf Kak..." ucap Jessica dengan lirih.


"Aku mohon jangan lakukan hal seperti ini lagi, hem?"


Jessica menganggukkan kepalanya dengan lembut.


"Aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi Kak."


"Jika kamu ingin pergi kemanapun, kamu harus memberitahuku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."


"Ya Kak.."


Ethan kembali memeluk tubuh Jessica.


Sesekali ia mencium kepala Jessica dengan lembut.


Ia begitu lega saat ini. Ia sempat berpikiran negatif tadi. Ia takut Jessica diganggu oleh pria lain. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Ethan kemudian melepaskan jaket dari tubuhnya dan memasangkannya pada tubuh Jessica.


Ethan menggenggam tangan Jessica dan membawa Jessica kembali ke rumah.


Dari kejauhan, Jason bisa melihat kekhawatiran di wajah Ethan. Ia begitu khawatir dengan Jessica.


Ternyata pria itu sudah mencintai Jessica.


Di satu sisi, Jason begitu sedih melihat gadis yang dicintainya bersama Pria lain, tapi di sisi lain ia senang melihat Jessica bahagia.


Ia tahu Jessica begitu mencintai Ethan. Bahkan ia tahu Ethan menjadi alasan mengapa Jessica menolak perasaannya dulu. Pria itu adalah cinta pertama Jessica. Ia sudah mencintai Ethan saat di bangku SMA.


Jason mencari tahu semuanya saat mengetahui bahwa pernikahan Ethan dan Jessica bukanlah atas dasar cinta.


Namun Takdir seakan mempermainkan mereka.


Pernikahan itu mempertemukan keduanya kembali.