
Jessica memandang wajahnya di depan cermin.
Dia terlihat sangat anggun. Dress putih yang ia gunakan malam ini menyatu dengan kulitnya yang putih dan mulus.
Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan indah dan menambahkan asesoris permata di sana.
Untuk yang sekian kalinya, Jessica lebih memilih mendandani dirinya sendiri daripada harus pergi ke salon.
Selain hemat, Jessica juga lebih puas dengan hasil karyanya sendiri.
Tiba-tiba sebuah pelukan hangat menempel di punggung Jessica.
"Bukankah ini terlalu seksi, hem?" tanya Ethan dengan meletakkan dagunya pada bahu Jessica.
Jessica tersenyum mendengar penuturan Ethan.
Ethan sesekali mencium punggung polos Jessica.
Ya, gaun yang digunakan Jessica memang terlihat cukup terbuka di belakang sehingga sedikit menampilkan punggungnya.
Namun ia pikir rambut panjangnya mampu menutupi punggungnya yang kelihatan.
"Apa aku harus mengganti gaunku Kak?" tanya Jessica.
Ethan tersenyum.
"Tidak, tidak perlu sayang.
Aku hanya bercanda."
"Kamu sangat cantik malam ini.
Tapi aku tidak suka."
"Mengapa Kak?"
Ethan membalikkan tubuh Jessica dan memandang wajah indah itu.
"Kecantikanmu hanya boleh diperlihatkan untukku, tidak untuk orang lain.
Dan malam ini kamu pergi bersama pria lain."
ucap Ethan dengan nada kesal.
Jessica memegang tangan Ethan dengan lembut.
"Kak, ini hanya akan terjadi sekali saja.
Aku janji tidak akan pernah pergi bersama Pria lain lagi."
Ethan tersenyum mendengar penuturan Jessica.
Ia kemudian menarik tubuh Jessica lebih dekat dengannya.
"Kamu tahu? Aku sangat ingin menguncimu di kamar bersamaku saat ini."
Ethan mengelus wajah Jessica dengan lembut.
Bibir merah Jessica sangat menggodanya. Benda itu, salah satu bagian yang ia sukai dari Jessica.
Setiap hari, ia pasti selalu menyempatkan waktunya untuk menyentuh bibir mungil itu.
Dan sekarang, ia juga tidak bisa menahannya lagi.
Jessica mengerti maksud dari perkataan Ethan barusan.
Ethan kemudian memajukan wajahnya hingga bibirnya menempel sempurna di bibir Jessica.
Ethan langsung ******* bibir Jessica.
Ia mengulum seluruh bagian bibir Jessica dengan lihai seakan ia tidak akan melepaskan bibir itu.
Jessica perlahan mengalungkan tangannya pada leher Ethan dan membalas ciuman Suaminya.
Ia juga sangat menikmati ciuman Ethan.
Baginya, momen paling manis dalam pernikahan mereka adalah saat mereka berciuman.
Ciuman dari Pria yang kamu cintai pasti terasa sangat luar biasa bagimu.
Bukan nafsu yang ditunjukkan di sana, melainkan pembuktian bahwa orang itu sangat mencintaimu.
Beberapa saat kemudian, Ethan melepaskan ciumannya.
Ia meraba bibir Jessica yang terlihat bengkak dan sudah tidak ada pewarna lagi di sana.
Ethan tersenyum pada Jessica.
"Aku merusak riasanmu."
"Tidak apa-apa Kak." ucap Jessica dengan wajah tersipu.
"Ya, aku sudah menandaimu di bagian sini."
Ethan menyentuh bibir Jessica lagi.
"Apa aku harus menandaimu di bagian lain?"
Jessica hanya diam karena ia tidak mengerti maksud Ethan.
Ethan tersenyum geli dan langsung melancarkan aksinya.
Ia perlahan mencium leher Jessica.
Jessica terkejut dengan apa yang dilakukan Ethan.
"Kak..
Kita akan pergi ke pesta. Bagaimana kalau orang lain melihatnya?"
Jessica semakin bergidik kegelian. Ethan masih belum menghentikan kegiatannya.
"Kak.."
Jessica mencoba menghentikan Ethan dan akhirnya berhasil.
"Bukankah ini indah?" ucap Ethan dengan bangga.
Jessica membalikkan tubuhnya dan melihat ke cermin, sudah ada kissmark di lehernya.
Ethan tersenyum geli melihat ekspresi Jessica.
"Kak...
Apa yang harus aku katakan, jika orang bertanya?
"Gampang saja, kamu katakan saja jika Suamimu yang melakukannya."
Ethan memeluk Jessica lagi dari belakang dan mencium pipinya.
"Tenang saja sayang.
Aku yang akan menghadapi mereka, hem?"
Ethan tertawa di dalam hatinya. Ia melakukan itu agar tidak ada orang lain yang mendekati Istrinya, termasuk Jason.
Memang cukup kekanak-kanakan, namun itu ia lakukan karna ia sangat mencintai Jessica.
--
Jessica sedang berada di mobil Jason.
Sedari tadi Jessica hanya diam dan memandang ke arah depan.
Jason sesekali melihat ke arah Jessica.
Gadis itu sangat cantik malam ini.
"Jess.."
"Ya Kak?"
"Akhirnya kamu mau bicara.
Dari tadi kamu hanya diam. Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada Kak. Aku hanya menikmati perjalanan kita."
Jason tersenyum pada Jessica.
"Ngomong-ngomong, kamu sangat cantik malam ini."
Jessica menanggapi pujian Jason dengan senyuman.
"Makasih Kak."
Lain halnya dengan Ethan.
Dari tadi pikirannya hanya terpusat pada Jason dan Jessica.
Apa yang akan dilakukan Jason pada Istrinya?
Awas saja kalau dia berbuat macam-macam, pikirnya.
Ethan semakin mengeratkan tangannya pada setir mobil.
Laurine menyadari hal itu.
Dari tadi Ethan terlihat sangat gelisah.
Bahkan Pria itu tidak mengajaknya bicara sama sekali.
"Kak, ada apa?
Apa ada sesuatu yang terjadi?", tanya Laurine dengan memegang lengan Ethan.
Ethan menatap Laurine dan tersenyum pada gadis itu.
"Tidak, aku tidak ada apa-apa Lau."
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat berlangsungnya acara.
Laurine berjalan bersama Ethan.
Dan di saat yang kebetulan, mereka bertemu dengan Jessica dan Jason yang baru saja keluar dari mobil.
Jessica menatap wajah Ethan.
Pria itu menyunggingkan senyuman padanya.
Jessica membalas Ethan dengan senyuman.
Namun senyuman itu berhenti saat Laurine memegang lengan Ethan.
Ethan melihat lengannya yang dipegang oleh Laurine. Lalu ia menatap wajah Jessica yang tampak sedih melihat itu.
Jason melihat perubahan raut wajah Jessica.
Kemudian ia memegang tangan Jessica juga.
"Ayo kita masuk ke dalam Jess." ucap Jason.
Jessica menatap Jason dan menganggukkan kepalanya.
Ethan berusaha menahan amarahnya melihat Jason memegang tangan Jessica.
Jangan sampai Pria itu berbuat lebih pada Istrinya.
Jessica mengikuti langkah Jason.
Jessica menghentikan langkahnya karena tali sepatunya lepas.
Jessica ingin menundukkan badannya untuk memasang tali sepatunya.
Namun Jason tiba-tiba berjongkok dan memasangkannya untuknya.
Ethan berniat menghentikan Jason, tapi tangan Laurine memegangnya dengan erat seolah-olah melarangnya untuk melakukan itu.
Ethan mengepal tangannya kuat-kuat.
Akhirnya Jason selesai memasang tali sepatu Jessica dan kemudian berdiri kembali.
Ia tersenyum pada Jessica dan mengajak gadis itu masuk ke dalam.
Sepanjang pesta mata Ethan tidak lepas pada Jessica dan Jason.
Ia memantau setiap gerak-gerik Pria itu.
"Kak, apa Kakak tidak minum atau makan sesuatu?" tanya Laurine pada Ethan.
"Tidak Lau." ucap Ethan namun matanya masih mengarah pada dua sosok itu.
Laurine mengkuti arah pandang Ethan dan mendapati Jessica dan Jason di sana.
Laurine memegang erat gaunnya.
Ia tahu Ethan sedang cemburu saat ini.
Jason menyadari hal itu.
Walaupun ia sedang berbincang-bincang dengan Jessica, namun ekor matanya bisa menangkap Ethan yang sedang menatap mereka berdua.
Jason tersenyum geli.
"Tunggu sebentar Jess.
Jessica melihat Jason naik ke atas panggung.
Kejutan apa yang akan diberikan Pria itu padanya?
Ethan juga melihat Jason yang naik ke atas panggung.
Apa yang akan dilakukan Jason?, tanyanya di dalam hati.
"Selamat Malam semua.
Saat ini saya akan memberikan hadiah istimewa pada Pasangan saya malam ini.
Gadis cantik itu berada di sana."
Jason menunjuk ke arah Jessica.
Seketika semua mata tertuju pada Jessica.
Jessica masih belum mengerti apa maksud dan tujuan Jason saat ini.
Ethan semakin kesal dengan Jason.
Apa sebenarnya maksud Jason?
"Aku ingin meminta bantuan kalian untuk membujuk gadis itu naik ke panggung bersamaku."
Sontak suara semua orang riuh meneriakinya untuk naik ke atas panggung.
Saat ini Jessica tidak tahu harus melakukan apa.
Ia sekilas melihat ke arah Ethan.
Namun Pria itu tidak memberikan tanda apa-apa padanya.
Akhirnya Jessica memutuskan naik ke atas panggung. Ia berdiri di samping Jason.
Semua orang bertepuk tangan.
Jason tersenyum melihat Jessica yang berdiri di sampingnya.
Jason kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari jasnya.
Semua orang tampak penasaran dengan isi dari kotak cincin itu.
Jason tampak seperti akan melamar Gadis pujaannya.
Jessica terkejut saat melihat hadiah yang dimaksud oleh Jason.
Ada cincin permata di sana.
Apa Pria itu berniat melamarnya?
Tidak, tidak boleh.
Kali ini Ethan tidak bisa menahannya lagi.
Jason pasti berniat melamar Jessica di depan semua orang.
Jessica adalah Istrinya, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Jason mengambil tangan kiri Jessica.
Ia menatap cincin yang berada di jari manis Jessica.
Ia tahu, itu adalah cincin pernikahan Jessica dan Ethan.
Ia tersenyum sebentar, dan berusaha melepas cincin itu dari jari Jessica.
Jessica semakin panik.
(Apa yang harus aku lakukan?)
Ethan melepaskan tangan Laurine pada lengannya.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju panggung sambil mengepal tangannya dengan erat.
Wajahnya menunjukkan emosi yang berkobar-kobar saat ini.
Ethan langsung menarik tangan Jessica dan membawa Jessica keluar dari sana.
Ia tidak perduli dengan tatapan semua orang yang tampak bingung dengan tindakannya.
Jason tidak membiarkan hal itu.
Ia mengejar Ethan yang membawa Jessica keluar dari pesta.
Jason menarik tangan Jessica yang satunya.
"Kau tidak boleh membawanya.
Aku belum selesai melakukannya."
Ethan menatap Jason dengan tatapan emosi.
"Lepaskan tanganmu darinya."
"Aku tidak akan melepaskannya.
Kamu tidak punya hak untuk melarangku melamar Jessica."
Kalimat itu seolah menghidupkan api di dalam diri Ethan.
Refleks, ia memberikan pukulan pada wajah Jason dan membuat Pria itu tersungkur ke tanah.
"Kak.." ucap Jessica.
"Kau tidak akan bisa melakukannya.
Jessica adalah Istriku."
Kalimat itu akhirnya terucap dari mulut Ethan.
Jason tersenyum di dalam hatinya.
"Jangan pernah mendekatinya lagi.
Aku tidak akan segan-segan menghabisimu."
ucap Ethan dengan nada memberi peringatan.
Ethan menarik tangan Jessica menuju ke mobilnya.
Jason melihat kepergian mereka.
"Akhirnya kau mengaku juga."
Jason kemudian berdiri dan memegang lukanya.
"Ini sakit.
Kau sangat berlebihan. Seharusnya kau berterima kasih padaku." ucap Jason pada Ethan yang sudah tidak kelihatan lagi.
Dari kejauhan, seorang gadis menangis mendengar pernyataan Ethan.
Laurine meluruhkan tubuhnya ke lantai.
Bagaimana bisa Ethan menikah dengan Jessica?
Ia tahu, bahwa kondisinya telah membuatnya melupakan hal itu.
Semua orang pasti menyembunyikan hal itu darinya agar tidak terjadi hal buruk padanya.
Namun kenyataan yang barusan ia ketahui semakin membuatnya terluka.
"Lebih baik aku mati saja waktu itu."
Chris mengedarkan pandangannya mencari Laurine.
Ia sangat khawatir dengan kondisi Laurine.
Ya, ia sengaja ikut ke acara pesta ini.
Salah satu kerabatnya yang bekerja di Perusahaan Jason mengundangnya ke acara itu.
Karena mengetahui Laurine datang ke acara pesta itu, ia akhirnya memutuskan untuk datang juga.
Selama pesta tadi, matanya selalu tertuju pada gadis itu walaupun Ethan juga berada bersama Laurine.
Hingga ia melihat Laurine berlari mengikuti Ethan dan Jessica yang keluar dari pesta.
"Laurine.." panggil Chris.
Ia masih mencari keberadaan Laurine.
Namun sosok seorang gadis yang duduk di lantai mengalihkan perhatiannya.
Ia menghampiri gadis itu.
Laurine menundukkan wajahnya dengan bahu yang bergetar hebat.
Chris berjongkok di depan Laurine.
Ia memegang pundak gadis itu.
"Lau.." ucap Chris pada Laurine.
Laurine menaikkan wajahnya.
Chris menatap wajah Laurine yang dipenuhi oleh air mata.
Entah keberanian dari mana, Chris langsung membawa Laurine ke dalam pelukannya.
Hatinya sakit melihat air mata itu.
Laurine membalas pelukan Chris.
Ia semakin meluapkan perasaanya di dalam pelukan Chris.
"Tenanglah Lau."
Chris mengelus kepala Laurine dengan lembut.
"Jangan tinggalkan aku Kak."
ucap Laurine.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.
Aku akan selalu bersamamu Lau." ucap Chris dengan nada meyakinkan.
Chris mencium puncak kepala Laurine.
Chris membiarkan Laurine meluapkan kesedihannya.
Beberapa menit kemudian, setelah Laurine lebih tenang, Chris melepaskan pelukannya.
Chris memegang tubuh Laurine hingga akhirmya Gadis itu dapat berdiri.
Ia menatap wajah sendu dan mata sembab Laurine.
Chris melepaskan jasnya dan memakaikannya ke tubuh Laurine.
Chris menatap wajah itu lagi.
Ia kemudian membawa Laurine kembali ke dalam pelukannya.
Chris melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Laurine.
"Aku akan mengantarmu kembali ke rumah sakit."
Chris menggenggam tangan Laurine.
Laurine tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Selama perjalanan ke rumah sakit, Chris sesekali menatap Laurine.
Gadis itu tampak menikmati angin malam dengan jendela mobil yang terbuka.
Namun beberapa saat kemudian, gadis itu sudah tertidur pulas dengan tubuh yang kedinginan.
Chris tersenyum dan kemudian menutup jendela mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit, Chris mengangkat tubuh Laurine menuju kamarnya.
Chris perlahan meletakkan tubuh Laurine ke ranjang dan menyelimuti gadis itu.
Chris menatap wajah damai itu.
Ia lalu memegang tangan Laurine.
"Aku akan selalu ada di sampingmu Lau.
Aku tidak ingin kamu menangis lagi."
Mulai saat ini, Chris berjanji tidak akan pernah meninggalkan Laurine.
Ia akan melindungi Laurine.
Sebenarnya, gadis itu sudah lama memiliki tempat di hatinya.
Ya, Chris mencintai Laurine sejak mereka pertama kali bertemu.