
Ethan melajukan mobilnya menuju rumah dengan wajah berseri-seri.
Ia senang karena akhirnya Laurine sudah mengingat semuanya, termasuk pernikahan mereka. Gadis itu juga sudah bisa menerima kenyataan bahwa ia sangat bahagia bersama Jessica.
Ia membayangkan perkataan Laurine tadi.
"Kak, aku sudah bisa menerima semuanya. Dan mulai besok, Kakak tidak perlu datang untuk merawatku lagi."
Laurine menatap Chris.
"Ada Kak Chris yang akan merawatku.
Aku tidak bisa mengganggu pernikahan Kakak lagi. Aku juga sangat menghargai perasaan Jessica sebagai Istri Kakak.
Aku ingin Kakak selalu bahagia bersama Jessica."
Ethan begitu bahagia saat ini.
Ia ingin cepat-cepat pulang, memberitahu segalanya pada Jessica . Namun terlebih dahulu, ia akan meminta maaf pada Jessica karena tidak memberitahunya dari awal.
Ia yakin Jessica pasti akan memaafkannya.
Beberapa saat kemudian, Ethan sampai di depan rumah.
Ethan membuka pintu rumah. Namun keadaan sekelilingnya sangat gelap, tidak ada penerangan sama sekali.
Ia menyalakan lampu utama.
Tidak biasanya Jessica seperti ini, pikir Ethan.
Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar.
Ethan pikir, Jessica pasti sedang tidur di dalam kamar.
Namun saat ia masuk ke dalam sana, lampu kamar juga mati.
Apa yang terjadi?
Ethan bertanya-tanya di dalam hatinya.
Ia kemudian berusaha untuk menyalakan lampu kamar. Hingga akhirnya saat lampu menyala, ia tidak melihat Jessica berada di dalam kamar.
Ethan panik, dan segera memeriksa keberadaan Jessica di dalam kamar mandi. Namun tidak ada seorangpun di sana.
Ia mengambil handphonenya yang ia letakkan di atas meja. Sama sekali tidak ada panggilan ataupun pesan dari Jessica.
"Kamu ada dimana Jess?"ungkapnya dengan nada cemas.
Ia meletakkan kembali handphonenya di atas meja.
Namun matanya tertuju pada surat yang berada di atas meja.
Ia penasaran, dan segera membuka surat itu.
Serasa disambar petir, ia begitu terkejut melihat tulisan tangan Jessica berada di sana.
Isinya juga membuat dadanya begitu sesak.
Untuk: Kak Ethan
*Mu*ngkin, aku sangat terlambat untuk melakukan hal ini Kak. Aku terlambat menyadari, bahwa hati Kakak tidak akan pernah kumiliki. Aku juga terlambat untuk men*yadari bahwa sejak awal, aku seharusnya pergi dari hidup Kakak.
Aku tahu, Kakak dan Laurine saling mencintai dari dulu hingga sekarang.
Maaf Kak, maaf karena kedatanganku menjadi benalu bagi hubungan kalian. Kesalahan terbesarku adalah memisahkan kalian berdua, yang memang ditakdirkan untuk bersama*.
*Maaf, karena dari awal aku terlalu memaksakan pernikahan kita.
Aku memang begitu mencintaimu Kak. Namun cintaku tidak bisa mengalahkan cinta Laurine yang sudah lama tumbuh di hati Kakak.
Aku sadar, sampai kapanpun aku tidak akan bisa menggantikan tempat Laurine di hati Kakak.
Kakak tidak perlu membohongi perasaan Kakak...
Terima kasih Kak, terima kasih karena telah memberikan kesempatan padaku untuk merasakan kebahagiaan bersama Kakak.
Terima kasih karena Kakak telah mengizinkan aku melakukan kewajibanku sebagai seorang Istri.
Menjadi Istri Kakak seperti keberuntungan besar untukku.
Aku bisa tinggal bersama Pria yang kucintai dan menatapnya dari dekat.
Aku juga bisa memasakkan makanan kesukaannya dan menyiapkan pakaian kerjanya setiap pagi.
Aku sangat beruntung Kak*...
*Aku pergi, karena aku begitu mencintaimu Kak. Aku hanya ingin Kakak dapat bersatu dengan Gadis yang Kakak cintai.
Kakak tidak perlu khawatir, semua orang akan mengerti bahwa kita berdua tidak akan pernah bisa bersama.
Ini juga untuk kebahagiaan kita berdua.
Aku berharap, kelak kita bisa bertemu kembali. Di saat kita sudah menemukan kebahagiaan kita masing-masing.
Selamat tinggal Kak*...
Jessica
Ethan melihat ada cincin pernikahan mereka di dalam amplop surat itu.
Itu artinya Jessica menginginkan perceraian darinya.
Tangan Ethan bergetar hebat.
Pertahanannya mulai runtuh, hingga ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Apa maksudnya semua ini?
Semuanya seakan-akan mimpi buruk baginya.
Ethan menggelengkan kepalanya, berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa ini tidak benar. Jessica tidak mungkin meninggalkannya.
Ethan termenung sesaat, pikirannya kosong.
Ia perlahan meneteskan air matanya.
Semua ini karena kebodohannya sendiri.
Ia yang menyebabkan Jessica pergi meninggalkannya.
"Tidak, tidak mungkin."
Ethan masih tidak percaya bahwa Jessica pergi meningggalkannya.
Rasanya ia seperti orang gila saat ini.
Ia langsung berdiri mengambil handphonenya yang berada di atas meja.
Ia keluar dari rumah dan segera melajukan mobilnya.
Ia menekan nomor There dan memulai panggilan pada gadis itu.
Jason mengantar There di depan apartemennya.
"Terima kasih banyak Kak."
ucap There dengan senyum khasnya.
"Sama-sama Clare."
Ia melihat nama Ethan di depan layar handphonenya.
There bertanya-tanya mengapa Ethan menelponnya jam segini.
Apa ada sesuatu yang penting.
Ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo Pak."
"Halo Re.
Apa saya boleh bertemu dengan kamu sebentar?"
Sebenarnya apa yang terjadi? tanya There di dalam hatinya.
Suara Ethan terdengar sangat parau.
There memasukkan handphone kembali ke dalam tas.
"Siapa yang menelponmu barusan Clare?"
tanya Jason saat melihat ekspresi There yang terlihat keheranan.
"Pak Ethan Kak.
Dia ingin bertemu denganku di sini. Sepertinya ada urusan penting."
Tak lama kemudian, Ethan sampai di depan apartemen There.
Jason dan There melihat Ethan yang keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
Ethan melihat kehadiran Jason di sana. Namun ia mengalihkan tatapannya pada There. Ia harus segera mengetahui dimana keberadaan Jessica.
"Apa hari ini Jessica bertemu denganmu? Atau mengatakan sesuatu padamu?" tanya Ethan pada There.
"Hari ini saya tidak bertemu dengan Jessica Pak dan Jessica juga sama sekali tidak memberikan pesan ataupun menelpon saya."
Ethan memijit keningnya.
Rasa penat mulai menghampirinya kembali.
Jason melihat kegelisahan di wajah Ethan.
Ia langsung mendekati Ethan, ia takut terjadi apa-apa pada Jessica.
"Ada apa Ethan? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Jessica?"
"Jessica..."
Ethan tidak sanggup untuk mengatakannya.
"Jessica pergi meninggalkan rumah."
Jason dan There sangat terkejut mendengar ucapan Ethan.
Jason yang mengira bahwa Ethan kembali menyakiti Jessica, langsung menarik kerah Ethan.
"Apa kau menyakitinya lagi?"
tanya Jason dengan penuh amarah.
Ethan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jason.
"Jawab aku Ethan!"
Jason berteriak marah pada Ethan.
There melihat kemarahan sekaligus kekhawatiran dari wajah Jason.
Pria itu jelas masih memiliki perasaan pada Sahabatnya.
Namun Ethan belum juga memberikan jawaban apapun.
Jason seketika langsung memberikan pukulan pada Ethan.
Ethan sama sekali tidak membalas ataupun menghindar.
Ia bahkan dengan sukarela memberikan dirinya dipukul oleh Jason.
Saat ini, ia merasa seperti tidak memiliki harapan hidup lagi.
Ia ingin mati saja rasanya.
Kehadiran Jessica bagaikan udara yang sangat ia butuhkan di dalam hidupnya.
Sekarang, udara itu sudah pergi.
Akankah ia bisa hidup lama tanpa gadis itu?
"Kak Jason..."
There menghentikan tindakan Jason yang ingin memukul Ethan lagi.
Ethan tampak sangat tidak berdaya saat ini dengan posisi duduk di tanah.
Jason mengepal tangannya dengan erat.
"Aku akan mencarinya sendiri."
Jason melepaskan dirinya dari There dan segera pergi dari sana.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar kalimat Ethan.
"Jessica salah paham. Ia mengira aku masih mencintai Laurine. Memang aku yang bersalah, aku tidak memberitahu Jessica dari awal bahwa aku mengunjungi Laurine.
Tapi aku sama sekali tidak pernah berpikiran untuk kembali dengan Laurine karena aku hanya mencintai Istriku.
Aku sangat mencintai Jessica."
Jason membalikkan badannya.
"Tapi tetap saja kau yang menyebabkan Jessica pergi. Jika kau memang mencintainya, mengapa kau masih peduli dengan Mantan Kekasihmu?
Kali ini aku tidak akan memberi kesempatan padamu.
Nanti, ketika aku menemukan Jessica, aku akan membawanya ke Amerika dan aku berjanji, aku menjauhkannya darimu."
There menatap Jason dengan tatapan kecewa.
Ucapan Jason barusan menyadarkannya bahwa Pria itu benar-benar masih mencintai Jessica. Itu artinya, apa yang ia harapkan selama ini tidak akan pernah terjadi.
Jason tidak akan pernah mencintainya.
Walaupun ia sempat berpikir bahwa Jason akan mencintainya.
Semua perlakuan yang Jason lakukan padanya akhir-akhir ini karena Jason adalah Pria yang baik, bukan karena Jason mulai memiliki perasaan padanya.
Jason pergi meninggalkan tempat itu.
There menghapus air matanya dan kemudian memandang Ethan dengan tatapan senduh.
Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Ethan sangat menderita saat ini.
Ia yakin semua ini hanya kesalahpahaman.
Namun saat ini, ia juga sangat khawatir dengan Jessica.
Gadis itu sama sekali tidak mengatakan apapun padanya.
(Kamu dimana Jess?Mengapa kamu tidak mengatakan apapun padaku?)