Love You Too Much

Love You Too Much
Putus



Ethan memandangi Jessica yang sedang memakaikan dasinya. Ia senang karena akhirnya gadis itu melakukan hal itu lagi setelah beberapa hari menjauh darinya.


Jessica memundurkan langkahnya dan menatap wajah Ethan dengan tersenyum.


"Terima kasih." ucap Ethan dengan nada lembut.


"Berangkatlah Kak, hari ini Kakak ada rapat penting kan?"


Ethan menganggukkan kepalanya dan kemudian menarik Jessica ke dalam pelukannya.


"Mulai hari ini aku akan pulang cepat, aku tidak akan membuatmu menunggu lagi."


Jessica tersenyum dalam pelukan Ethan.


Ethan kemudian melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Jessica.


Jessica merapikan dasi Ethan.


Ethan tersenyum dan mencium kening gadis itu.


"Kalau seandainya tidak ada rapat penting hari ini, aku tidak akan pergi ke kantor."


Jessica begitu terkejut mendengar penuturan Ethan.


"Kenapa Kak?"


Ethan tersenyum.


"Kamu pelakunya."


"Aku?" ucap Jessica dengan nada penasaran.


"Kamu membuatku tidak ingin pergi kemanapun. Aku hanya ingin selalu di sini bersamamu."


Jawaban Ethan berhasil membuat Jessica tersipu.


Ethan mengambil tangan Jessica dan menaruhnya ke dadanya.


"Kamu bahkan membuat jantungku berdetak tidak normal."


Jessica merasakan jantung Ethan yang berdetak sangat cepat pada tangannya.


"Kamu harus mendapatkan hukuman atas perbuatanmu itu."


Jessica menaikkan wajahnnya.


Ethan mulai memajukan wajahnya pada Jessica.


Bibir mereka hampir bersentuhan namun dering Handphone Ethan menghentikan aksinya.


Mereka bertatapan sekilas dan kemudian saling tersenyum.


Ethan kemudian mengambil Handphonenya. Itu panggilan dari Sekretarisnya.


"Iya, halo Sarah."


"Pak, Pak Jason sudah berada di kantor. Beliau sedang menunggu anda di ruang rapat."


Ethan melihat jam tangannya. Ya, ia melupakan jam berangkat ke kantor. Ia melupakan segalanya karena Jessica. Gadis itu mulai menguasai dirinya.


Ini pertama kalinya Ethan terlambat berangkat ke kantor.


Ethan memasukkan kembali Handphonenya dan kembali pada Jessica.


"Kak, Kakak terlambat. Maafkan aku Kak." ucap Jessica dengan nada merasa bersalah.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku rasa terlambat sekali menyenangkan juga."


Jessica tersenyum mendengar penuturan Ethan.


"Aku akan mengantar Kakak ke depan."


Ethan menganggukakan kepalanya dengan lembut.


Ethan mencium kening Jessica lagi dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Jessica melambaikan tangannya pada Ethan.


--


Ethan sampai di kantor dan melangkahkan kakinya menuju ruang rapat.


Di sana sudah berkumpul Jason dan Direksi-Direksi penting.


"Maaf saya terlambat." ucap Ethan dan langsung duduk di kursi Utama.


Rapat sudah selesai. Semua Direksi sudah meninggalkan ruang rapat, tinggallah Jason dan Ethan di dalam ruangan.


"Persentasimu sangat bagus tadi.


Padahal kau datang terlambat. Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia hari ini?" tanya Jason pada Ethan.


Ethan tersenyum.


"Ada. Seseorang membuatku melakukannya dengan baik."


"Kekasihmu?" tanya Jason lagi.


"Ya, wajar saja kau sangat mencintai Nona Laurine. Dia pasti selalu mendukung apa yang kau lakukan selama ini."


Ethan menatap wajah Jason.


Bukan Laurine orangnya melainkan Jessica.


Ethan berniat memberitahukan Jason kebenarannya. Namun terhenti saat Laurine tiba-tiba masuk ke ruangan.


"Kak.." ucap Laurine.


"Ini dia Gadis itu." ucap Jason.


Laurine tidak mengerti apa maksud dari perkataan Jason.


Ia memasang wajah bertanya-tanya.


"Oh, baiklah. Aku rasa kalian perlu waktu untuk berdua. Aku pergi Ethan." ucap Jason lalu berdiri.


"Baiklah, terima kasih untuk Rapat hari ini." ucap Ethan sambil bersalaman dengan Jason.


Jason menganggukkan kepalanya dan kemudian meninggalkan ruangan.


--


Ethan mengajak Laurine ke dalam ruangannya.


Laurine mendekati Ethan dan memeluk tubuh pria itu.


Ethan tampak risih dan melepaskan pelukan Laurine dengan lembut.


Ia harus memutuskan hubungannya dengan Laurine secara baik-baik. Bagaimanapun Laurine adalah gadis yang pernah mengisi hatinya.


"Ada apa Kak?" tanya Laurine dengan nada kecewa. Ethan tadi tampak menghindari pelukannya.


"Kakak ingin memberitahukanmu sesuatu."


"Sesuatu? Apa itu Kak?"


Laurine sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan Ethan padanya. Perasaanya tidak enak, tidak biasanya Ethan bertingkah seperti itu.


Ethan memandang wajah Laurine. Ia merasa ini adalah waktu yang tepat.


"Kakak pikir hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi Lau."


Laurine begitu terkejut dengan perkataan Ethan.


Apa maksud pria itu mengatakan seperti itu padanya?


Laurine kemudian tertawa. Ia merasa Ethan sedang bercanda padanya.


"Berhenti menggodaku Kak."


"Kakak tidak bercanda Lau." ucap Ethan dengan nada serius.


Raut wajah Laurine berubah setelah melihat keseriusan Ethan.


"Maksud Kakak kita putus?" ucap Laurine dengan nada lirih.


Ethan mengaggukkan kepalanya.


"Kakak pikir, Kakak hanya akan semakin menyakitimu jika hubungan kita berlanjut."


"Kakak tidak menyakitiku. Sama sekali tidak.


Aku akan setia menunggu Kakak sampai Kakak berpisah dengannya."


Laurine mencoba meyakinkan Ethan.


"Aku tidak bisa berpisah dengannya Lau."


Penuturan Ethan barusan seakan pisau yang menusuk hati Laurine.


Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak sanggup untuk mendengar pernyataan Ethan selanjutnya.


"Aku mencintainya."


Air mata lolos di wajah Laurine. Laurine berusaha mengontrol dirinya.


Ethan mendekati tubuh Laurine dan memegang pundaknya.


"Kamu gadis yang baik Lau, kamu pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku"


Laurine kemudian melepaskan tangan Ethan dari pundaknya dan kemudian menutup telinganya dengan erat.


"Tidak, aku tidak mendengar apapun." ucap Laurine.


"Lau.."


Laurine mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Ethan.


Ethan memijit kepalanya. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Keputusannya pasti sangat menyakiti gadis itu. Tapi bagaimanapun ia harus memilih dan melepaskan salah satu diantara mereka.


Ia sudah memutuskan untuk memilih Jessica dan harus melepaskan Laurine.