
Keesokan Paginya,
Ethan tiba-tiba terbangun saat mendengar Jessica yang sedang memuntahkan isi perutnya.
Ethan langsung menuju kamar Jessica namun pintu kamar itu terkunci.
"Jess, buka pintunya."
ucap Ethan dengan nada khawatir.
Ethan kembali mengetuk pintu kamar itu.
Ia sangat khawatir saat ini.
Jessica memandang wajahnya di depan cermin.
(Apa yang sebenarnya terjadi padaku?)
Akhir-akhir ini, Jessica selalu mual-mual.
Ia kira, ia hanya mengalami masuk angin biasa. Namun ini terasa sangat aneh, ia juga sering kali mual saat mencium aroma tertentu.
Jessica mendengar suara Ethan yang tengah memanggilnya.
Ia kemudian membuka pintu kamarnya.
Sontak, Ethan langsung mendekati Jessica.
"Apa kamu tidak apa-apa Jess?"
ucap Ethan yang sangat khawatir dengan kondisi Jessica.
Jessica menatap tangan Ethan yang berada di pundaknya.
"Aku tidak apa-apa."
Jessica ingin kembali kembali ke kamar mandi, namun Ethan malah memegang tangannya.
"Kamu harus jujur Jess. Kakak tadi dengar kamu muntah. Kakak sangat khawatir padamu.
Ada apa, hem?"
Ethan kini memegang pipi Jessica.
"Aku hanya masuk angin biasa. Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku."
Ucapan Jessica barusan membuat Ethan menurunkan tangannya dari pipi Jessica.
Jessica menatap wajah Ethan sekilas, lalu pergi meninggalkannya.
Ethan menghembuskan napasnya.
Sampai kapan Jessica akan bersikap seperti ini padanya?
Seperti kemarin, Ethan membantu Jessica berjualan bunga. Walaupun Jessica sempat menolak bantuannya, namun Ethan bersikeras untuk membantu Jessica.
Jessica melihat Ethan yang sedang mengangkat barang-barangnya.
Pria itu melakukannya sendirian tanpa beristirahat sedikitpun.
Bahkan Ethan belum makan atau minum apapun dari tadi.
Peluh mulai membasahi wajah Ethan.
Ada rasa tersentuh di hati Jessica.
Namun ia segera menepisnya.
Ethan mengambil kursi untuk Jessica.
"Duduklah, kamu bisa melakukannya dengan duduk di sini." ucap Ethan dengan senyuman mengembang.
Jessica menatap wajah Ethan sejenak.
Wajah itu tampak kelelahan.
Jessica kemudian duduk di kursi itu.
Dan Ethan duduk di sampingnya.
Ethan memandangi Jessica yang sedang merangkai bunga.
Gadis itu tampak sangat cantik dengan wajah seriusnya.
Ethan tersenyum kagum.
Jessica mengalihkan pandangannya pada Ethan yang tengah menatapnya.
Pria itu masih saja menatapnya sambil tersenyum.
Ethan sama sekali tidak bosan rupanya.
Jessica kemudian kembali merangkai bunga yang berada di depannya.
"Makanlah roti ini Jess."
ucap Ethan pada Jessica
Jessica menatap makanan dan minuman yang berada di depannya.
Mengapa Ethan tetap melakukannya?
Bukankah kemarin ia sudah menolaknya?
"Kalau kamu tidak mau memakannya, paling tidak minumlah air itu Jess."
Jessica menatap Ethan yang sedang memakan roti di tangannya.
Ethan kemudian memberikan minuman itu ke tangan Jessica.
"Minumlah Jess, hem?
Kamu harus minum banyak air di kondisi cuaca yang begitu terik seperti ini.
Kalau tidak, kamu bisa sakit."
Jessica menarik tangannya dari tangan Ethan dan kemudian mengambil minuman itu.
Ethan menatap Jessica yang masih tidak menyukai kehadirannya di sana.
Ia tahu, sedari awal Jessica sangat ingin menghindarinya.
Tapi apapun yang terjadi, ia akan tetap berusaha untuk membuat Jessica mau memaafkannya.
--
Sudah tengah malam namun Ethan sama sekali tidak bisa tidur. Sedari tadi ia begitu gelisah di atas sofa.
Kondisi tubuhnya memang sangat tidak mengenakkan saat ini.
Ini mungkin karena Ethan hanya makan roti hari ini.
Ia merasa sedikit meriang dan kedinginan.
Ethan kemudian menatap langit-langit ruang tamu dengan meletakkan tangan kanannya di atas kepalanya.
Jessica juga selalu memasang wajah tidak suka setiap kali menatapnya.
Apa Jessica benar-benar ingin berpisah dengannya?
Apa Jessica tidak mencintainya lagi?
Ethan takut, jika usahanya untuk berbaikan dengan Jessica malah semakin melukai gadis itu.
Jessica bahkan tidak memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan kebenarannya.
Ethan kemudian menutup kedua matanya yang akhirnya terasa berat.
Jessica juga masih belum tidur sedari tadi.
Matanya sama sekali tidak mau tertutup.
Entahlah, hanya saja wajah Ethan hari ini selalu muncul di pikirannya.
Jessica kemudian bangun dari tempat tidur dan memutuskan keluar kamar untuk mengambil air.
Jessica melangkahkan kakinya menuju dapur.
Namun pemandangan Ethan menghentikan langkahnya.
Ethan tampak sangat gelisah di dalam tidurnya.
Jessica segera menghampiri Etham dan meluruhkan tubuhnya di depan Ethan.
Jessica memeriksa suhu tubuh Ethan saat melihat keringat membasahi wajahnya.
Sangat panas, itu yang dirasakan Jessica saat memegang kening Ethan.
Jessica sangat khawatir saat ini.
"Kak Ethan.."
Jessica menepuk pipi Ethan dengan lembut.
Ethan masih belum bangun dari tidurnya.
"Kak Ethan.."
Jessica membangunkan Ethan kembali.
Akhirnya mata itu mau terbuka.
"Jessica..." ucap Ethan dengan nada parau.
Ethan melihat jam di dinding dan kemudian memperbaiki posisinya.
"Kamu mengapa masih belum tidur Jess? Ini sudah tengah malam.
Tidurlah, nanti kamu bisa sakit."
Ethan menatap wajah Jessica yang tampak begitu sedih.
Ethan kemudian memegang pipi Jessica.
"Ada apa Jess? Apa kamu mengalami mimpi buruk?"
Jessica hanya diam membisu dan menatap wajah Ethan.
Jessica menyentuh kening Ethan dengan tangannya.
"Suhu tubuh Kakak sangat panas, apa Kakak tidak menyadarinya?"
"Aku baik-baik saja Jess."
"Kakak demam, bagaimana mungkin Kakak baik-baik saja?"
Ethan bisa merasakan, saat ini Jessica begitu khawatir padanya.
Ethan sangat senang. Ternyata Jessica masih peduli padanya.
Jessica kemudian berdiri.
"Ikutlah bersamaku ke kamar Kak.
Kakak tidak boleh tidur di sini."
Jessica kemudian membantu Ethan untuk berdiri dan membawanya ke kamar.
Jessica menyelimuti tubuh Ethan yang sudah berbaring di atas ranjang.
Mata itu sudah kembali tertutup.
Ethan pasti sangat lelah karena bekerja seharian.
Setelah itu, Jessica pergi ke dapur mengambil kain dan air untuk mengompres Ethan.
Ia kemudian duduk di tepi ranjang dan meletakkan kain itu di kepala Ethan.
Jessica kemudian membersihkan tubuh Ethan dan mengganti bajunya.
"Jangan tinggalkan aku Jess.."
ucap Ethan yang gelisah dalam tidurnya.
Jessica mendekati Ethan.
"Aku mencintaimu.." ucap Ethan lagi.
Jessica meneteskan air matanya.
Jessica duduk di tepi ranjang.
Ia kemudian menggenggam tangan Ethan dan menatap wajah Ethan yang sudah berangsur-angsur tenang.
Suhu tubuh Ethan juga sudah semakin membaik.
Beberapa menit kemudian, Jessica berdiri untuk menyimpan air dan kain yang digunakannya untuk mengompres Ethan.
Ia melepaskan tangannya dari Ethan dengan perlahan.
Saat ingin pergi, tiba-tiba tangan Ethan menahannya.
"Tetaplah bersamaku Jess."
Jessica membalikkan badannya dan melihat Ethan yang menatapnya dengan tatapan memohon.
Jessica meletakkan kembali baskom yang berada di tangannya.
Ia kemudian naik ke ranjang dan tidur di samping Ethan.
Ethan mendekatkan tubuhnya pada Jessica dan menjadikan lengannya sebagai penopang kepala Jessica.
Ia kemudian menarik Jessica ke dalam pelukannya.
Perlahan Jessica membalas pelukan Ethan.
Sesaat mereka mengukir kembali momen kehangatan yang sering mereka lakukan dulu dan melupakan apa yang tengah terjadi pada mereka.