
Ethan dan Jessica membawa barang-barang mereka ke bawah. Hari ini mereka akan kembali ke rumah Ethan.
"Jangan sampai ada barang yang ketinggalan sayang." ucap Rossa.
"Semua barang-barang kami sudah ada di dalam koper Ma. ", ucap Ethan.
Rossa tersenyum.
"Oh ya, Mama punya 2 tiket taman wisata romantis untuk kalian berdua. Kalian boleh pergi besok ke sana. Jangan ditunda-tunda lagi, okey?", ucap Rossa dengan nada memperingati.
"Baiklah Ma. Besok kami akan pergi ke sana."
Rossa tersenyum senang mendengar perkataan Ethan.
Rossa mendekati Jessica dan memegang tangan gadis itu.
"Sayang, tolong jaga dirimu ya."
"Mama juga jaga kesehatan Mama ya."
"Baik sayang."
"Kamu juga Ethan, Mama mohon kamu jangan sering pulang terlalu malam. Kasihan Jessica menunggumu pulang dari kantor."
"Baiklah Ma." ucap Ethan pada Rossa.
"Mama akan mengantar kalian ke luar."
Sesampainya di luar rumah, Ethan langsung memasukkan koper mereka ke dalam bagasi mobil.
"Kami pergi dulu ya Ma." ucap Jessica pada Rossa.
"Hati-hati sayang."
Jessica dan Ethan masuk ke dalam mobil. Ethan membuka kaca mobilnya dan tersenyum pada Rossa.
Rossa melambaikan tangannya pada mereka.
Beberapa waktu kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah.
Ethan mengangkat koper mereka. Jessica mendekati Ethan.
"Aku akan mengangkat koperku sendiri Kak. Kakak masuklah ke dalam kamar Kakak." ucap Jessica dengan senyuman.
Ya, Ethan baru menyadari bahwa mereka sudah lama tidak sekamar lagi.
"Baiklah." ucap Ethan lalu mengangkat kopernya menuju kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 Sore. Jessica berencana akan masak makan malam.
Ethan menuruni tangga dan melihat Jessica di dapur.
Jessica mengalihkan pandangannya pada Ethan yang berada tidak jauh padanya.
"Apa Kakak lapar? Aku akan memasak makan malam untuk kita."
Ethan menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyuman tipis pada Jessica.
Beberapa menit kemudian makanan sudah terhidang di atas meja.
Ethan tersenyum melihat makanan kesukaannya dimasak oleh Jessica.
Ethan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, rasanya sangat lezat dan persis dengan buatan Rossa.
"Oh ya, besok kita akan pergi jalan-jalan namun setelah aku pulang dari kantor. Apa kamu mau menungguku pulang?" tanya Ethan pada Jessica.
"Ya, aku mau menunggu Kakak." ucap Jessica dengan senyuman.
"Ngomong-ngomong dari mana kamu tahu bahwa semua ini adalah makanan kesukaanku?"
"Mama yang memberitahuku Kak."
"Bahkan rasanya persis dengan buatan Mama."
"Benarkah Kak?"
Ethan menganggukkan kepalanya dengan lembut.
Jessica senang akhirnya Ethan mau menyantap masakannya dan bahkan menyukainya. Jauh berbeda dengan dulu, Ethan lebih memilih makan di luar.
--
Keesokan harinya,
Seperti biasa Jessica akan memasangkan dasi Ethan. Entah mengapa itu sudah menjadi kebiasaannya saat Ethan pergi ke Kantor.
Ethan juga senang Jessica memasangkan dasinya.
Jessica kemudian mengantar Ethan ke depan.
"Jika aku lama kembali dari kantor, kamu bisa langsung menungguku di sana.
"Aku akan memberimu pesan agar kita bertemu di sana." Ethan menambahkan.
"Baiklah Kak."
Ethan tersenyum kepada Jessica.
"Aku pergi dulu."
Jessica menganggukkan kepalanya dengan lembut.
Ethan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
--
Jessica melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 Pagi, Ethan belum juga kembali dari kantor.
Ia kemudian mengingat pesan Ethan yang menyuruhnya untuk menunggunya di sana.
Jessica kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi, ia akan bersiap-siap.
Di kantor,
Laurine pergi ke Kantor Ethan. Ia berencana makan siang bersama Pria itu.
Ia masuk ke dalam ruangan Ethan namun pria itu tidak ada di ruangannya.
Laurine menghampiri Sekretaris Ethan, Sarah.
"Sarah, apa kamu melihat Kak Ethan?"
"Pak Ethan sedang berada di ruang rapat Bu.
Sepertinya sebentar lagi rapatnya akan selesai Bu."
"Baiklah, saya akan menunggu di ruangannya." ucap Laurine lalu membalikkan badannya masuk ke dalam ruangan Ethan.
Laurine sudah menunggu Ethan selama 15 Menit, namun pria itu belum juga datang.
Laurine berdiri dan melihat ke arah luar gedung, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada foto mereka berdua yang berada di meja kerja Ethan.
Laurine tersenyum dan menghampiri meja Ethan.
Ethan masih menyimpan foto itu, foto saat mereka baru jadian.
Laurine tersenyum senang.
(Ya, foto pernikahan kalian tidak akan pernah bisa menggantikan foto kita berdua Kak)
Kemudian Laurine melihat ada 2 buah tiket masuk taman wisata romantis. Ia mengambil tiket itu dan melihatnya dengan tatapan heran.
"Apa ini milik Kak Ethan?
Apa jangan-jangan Kak Ethan akan pergi bersama gadis itu?"
"Tidak, aku harus menahan Kak Ethan agar tidak pergi ke sana."
--
Jessica sudah selesai berdandan. Ia akan melakukan yang terbaik hari ini, termasuk membuat penampilannya berbeda. Karena hari ini adalah kencan pertamanya dengan Ethan.
Jessica tersenyum melihat dirinya di depan cermin. Ia merapikan dress merah maroonnya dan mengambil tas dengan warna senada.
Jessica mengambil sepatunya.
Ia kemudian tersipu mengingat Ethan yang sudah dua kali membantunya memakaikan tali sepatunya.
Kali ini ia tidak mengalami kesulitan.
Jessica memeriksa penampilannya kembali dan kemudian keluar dari kamar. Ia tidak mau Ethan menunggu lama.
--
Ethan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 pagi.
Satu jam lagi ia akan pergi bersama gadis itu.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangannya. Ia akan mengambil tiket dan jasnya.
Ethan membuka pintu ruangannya. Ia begitu terkejut melihat Laurine yang sedang terbaring di sofa dengan memakai selimut.
Ethan menghampiri Laurine dengan cepat.
"Ada apa Lau? Apa kamu sakit?"
Laurine menganggukkan kepalanya dengan lirih.
"Kepalaku sangat sakit Kak.
Sepertinya aku akan demam", ucap Laurine dengan nada lemah.
"Tunggu di sini sebentar. Kakak akan mengambil kotak obat dulu."
Ethan membalikkan badannya untuk mengambil kotak obat dan air minum.
Ethan kembali dan membantu Laurine minum obat.
"Istirahatlah." ucap Ethan setelah Laurine minum obatnya.
"Kakak akan meninggalkanku?"
Ethan kemudian berpikir sejenak. Ia pikir tidak ada salahnya menunggu Laurine sebentar. Ia akan pergi setelah Laurine baikan.
"Kakak akan menunggu kamu di sini. Istirahatlah."
Laurine menganggukkan kepalanya.
Ethan menaikkan selimut pada tubuh Laurine.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 Siang. Ethan melihat Laurine yang sudah tidur.
Ia kemudian melepaskan tangannya dari tangan Laurine dengan hati-hati.
Ethan berdiri, namun Laurine terbangun dan menarik tangannya.
"Jangan tinggaalkan aku Kak. Tetaplah di sini." ucap Laurine dengan lirih.
Ethan melihat raut wajah Laurine yang tidak ingin dirinya pergi.
Ethan tidak tega meninggalkan Laurine yang sedang memerlukannya. Ia kemudian duduk di samping gadis itu.
Laurine tersenyum dan memegang tangan Ethan kembali.
Gadis itu menutup matanya sambil tertawa puas di dalam hati. Rencananya berjalan dengan sukses.
Sementara Jessica menunggu Ethan di kursi dekat pintu masuk.
Ia melihat jam tangannya namun Ethan belum juga datang padahal Ethan mengatakan padanya bahwa mereka akan pergi pukul 12 Siang.
Jessica melihat sudah banyak pengunjung yang berdatangan.
Laurine melihat Ethan yang tidur di sampingnya. Gadis itu tersenyum puas.
Laurine kemudian berdiri dengan hati-hati dan menyelimuti tubuh Ethan. Ia memandang wajah pria itu sebentar.
Laurine mengambil handphonenya, ia akan menelpon Jessica untuk melanjutkan rencananya.
(Apa Kak Ethan tidak bisa datang?)
Tiba-tiba handphonenya berdering. Ada panggilan baru yang masuk.
Jessica menganggkat panggilan itu.
"Halo..."
"Halo, ini aku Laurine."
Jessica begitu terkejut mengetahui bahwa Laurine yang sedang menelponnya.
"Aku ingin memberitahumu bahwa Kak Ethan tidak akan pergi ke sana. Ia sedang berada bersamaku saat ini.
Dia memintaku untuk memberitahukannya padamu.
Aku pikir sebaiknya kamu pergilah dari tempat itu, aku kasihan padamu karena menunggunya."
Jessica begitu terkejut mendengar penuturan Laurine. Ia diam membisu tidak menjawab Laurine sampai panggilan itu terputus.
Jessica menurunkan tangannya dengan perlahan.
Ia meneteskan air matanya. Ia kemudian menghapus air matanya.
Ia memutuskan akan tetap menunggu Ethan sampai pria itu datang.
Entah mengapa ucapan Laurine tidak membuatnya pergi dari tempat itu.
Ia yakin Ethan akan datang.
Pria itu sudah mulai peduli padanya, Jessica yakin Ethan tidak mungkin tidak memberikan penjelasan apa-apa padanya.
Yang ia inginkan adalah pria itu datang, ia ingin membuktikan bahwa perkataan Laurine tidaklah benar.
"Aku akan menunggumu Kak." ucap Jessica dengan lirih.
Ethan terbangun dari tidurnya. Ia begitu terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 Sore. Ia melupakan janjinya pada gadis itu. Bahkan ia belum menghubunginya sama sekali.
Ia kemudian berdiri dan mengambil jasnya.
Tiba-tiba Laurine masuk ke ruangannya.
Laurine tersenyum melihat Ethan.
"Kakak sudah bangun rupanya."
"Aku akan pergi Laurine." ucap Ethan lalu meninggalkan Laurine.
Ethan keluar dari ruangannya.
Laurine kemudian mengikuti Ethan.
Ethan hampir menuju Lift namun Sarah menghentikannya.
"Pak, Bapak Hartono ingin bertemu dengan Bapak. Beliau sedang dalam perjalanan saat ini."
Laurine menghampiri Ethan dan Sarah. Ia senang bahwa pada akhirnya Ethan tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan gadis itu.
Mereka akhirnya kembali lagi ke ruangan Ethan.
Laurine menghampiri Ethan yang sedang duduk di meja kerjanya sambil memeriksa berkas.
"Kak, aku pulang dulu."
"Apa kamu sudah baikan?", tanya Ethan.
"Sudah Kak."
"Baiklah. Hati-hati Lau."
Laurine menganggukkan kepalanya.
"Selamat bekerja Kak."
Laurine langsung meninggalkan ruangan Ethan.
Ethan tetap tidak bisa fokus saat ini. Pikirannya masih tertuju pada Jessica. Ia khawatir dengan gadis itu.
Ethan kemudian keluar dari ruangannya.
"Sarah, katakan pada Pak Hartono bahwa aku tidak bisa bertemu dengannya hari ini." ucap Ethan lalu melangkahkan kakinya.
"Tapi Pak..." Sarah melihat Ethan yang sudah pergi jauh.
Ethan melajukan mobilnya. Ia yakin Jessica masih menunggunya di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, namun Ethan belum datang juga.
Ia sudah menunggunya selama 7 jam di sana. Ternyata apa yang dikatakan Laurine padanya benar bahwa pria itu tidak akan datang.
Jessica menatap sekelilingnya
Tempat itu sudah tutup, angin juga sangat kencang saat ini.
Tiba-tiba gerimis datang dan berganti menjadi hujan deras.
Jessica pergi dari tempat itu. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang basah kuyup.
Jessica berjalan di tengah hujan deras.
Ia memeluk tubuhnya dengan erat
Ia memikirkan perasaannya saat ini. Hatinya sangat sedih mengingat ia yang begitu mencintai pria itu. Padahal Ethan tidak akan pernah mencintainya.
Hari ini adalah bukti dari harapannya selama ini. Mengapa ia begitu berharap pada pernikahan mereka? Bukankah Ethan pernah mengatakan bahwa ia tidak boleh menganggap serius pernikahan ini?
Jessica menangis sejadi-jadinya.
Ia baru menyadari bahwa usaha yang ia lakukan selama ini sia-sia. Pada akhirnya dirinya yang salah, ia terlalu memaksakan hubungan ini.
Beberapa lama kemudian Ethan sudah sampai di tempat itu.
Ia keluar dari mobil tanpa memakai payung.
Ethan mengelilingi tempat itu untuk mencari keberadaan Jessica namun ia sama sekali tidak menemukan Jessica di sana.
Kemudian seseorang menghampirinya.
"Apa Mas mencari Nona yang dari tadi menunggu di sini?"
Ethan langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya Pak."
"Oh, Nona itu sudah pergi beberapa menit yang lalu Mas.
Sepertinya Nona itu sudah menunggu Mas selama 7 Jam di sini.
Saya juga sudah menyuruhnya pulang, namun Nona itu tetap saja menunggu Mas di sini."
Rasa bersalah mulai melingkupi hati Ethan. Gadis itu selalu menunggunya walaupun ia tidak pernah menepati janjinya.
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama Mas."
Jessica sudah berada di kamarnya. Ia duduk di lantai sambil memeluk erat tubuhnya yang masih basah. Ia sama sekali belum mengganti pakaiannya.
Jessica kemudian membenamkan wajahnya ke dalam lututnya.
Ethan masuk ke dalam rumah. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar Jessica.
Ia kemudian mengetuk pintu kamar Jessica.
"Jess..."
Jessica sontak menaikkan wajahnya. Ia mendengar suara Ethan memanggilnya dari luar.
Saat ini ia tidak berniat membukakan pintu untuk Ethan.
Ethan mengetuk lagi.
" Jess, aku mohon bukalah pintunya."
Ethan tidak menyerah sama sekali.
Ia ingin bertemu dengan Jessica.
Jessica kemudian berdiri dan membuka pintu. Ia pikir, ia harus menyelesaikan semua ini dengan Ethan.
Ethan melihat wajah sembab Jessica.
Ethan mendekati Jessica namun Jessica menjauhinya.
"Jess, aku minta maaf." ucap Ethan dengan nada merasa bersalah.
"Kakak tidak perlu minta maaf. Aku yang salah karena menunggu Kakak di sana."
Ethan mendekati Jessica lagi namun Jessica tetap menjauhkan tubuhnya.
"Kak, aku mohon...
Kita tidak bisa terus begini." ucap Jessica dengan nada lirih.
Jessica menatap Ethan dan meneteskan air matanya.
"Mulai sekarang sebaiknya kita mulai menjaga jarak Kak. Kita hanya orang asing satu sama lain dan pernikahan ini memang tidak berarti apa-apa.
Maafkan aku yang selama ini sangat egois Kak.
Aku selalu mengusik Kakak walaupun Kakak sering memintaku untuk berhenti. Aku mengingkari janjiku waktu itu...
Maaf...", Jessica menangis di hadapan Ethan.
"Jess..." ucap Ethan dengan lirih.
Tubuh Jessica bergetar hebat, Ethan sangat ingin memeluk tubuh Jessica.
"Kakak juga bebas berhubungan dengan Laurine. Aku tidak akan melarang Kakak ataupun memberitahukan Mama soal itu."
Jessica menatap Ethan kembali.
"Aku benar-benar melepaskan Kakak."
Air mata itu menetes lagi.
Jessica kemudian mengulurkan tangannya pada Ethan dan memberikan senyuman pada pria itu.
"Mari kita menjalani kehidupan kita masing-masing Kak.
Tujuan kita menikah juga adalah karena permintaan Mama.
Tidak ada cinta di antara kita."
Ethan masih menatap wajah Jessica. Dibalik senyum itu ada luka di sana. Ia lagi-lagi melukai gadis itu, sosok yang selalu memberinya perhatian walaupun ia sering berbuat kasar padanya.
Ethan tidak membalas uluran tangan Jessica. Rasanya ia begitu tidak ingin Jessica melepaskannya. Namun melihat air mata itu membuatnya tidak tega melukai gadis itu lagi.
Dengan berat hati, Ethan membalas uluran tangan Jessica.
Mereka bertatapan sebentar kemudian Jessica melepaskan tangannya.
Jessica lalu menutup pintu kamarnya.
Jessica menangis lagi. Badannya perlahan terluruh ke lantai.
Ethan masih berdiri di depan pintu kamar Jessica. Ada rasa perih di hatinya saat gadis itu memintanya untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Ethan mendengar suara tangisan Jessica dari balik pintu. Ia melangkahkan kakinya mendekati pintu. Ingin rasanya ia masuk ke dalam sana untuk menenangkan Jessica.
Tapi ia tidak bisa. Ia harus memberikan waktu pada Jessica untuk sendiri.
Lama Ethan berdiri di depan pintu kamar Jessica, ia akhirnya pergi dari sana. Ia berharap besok semua akan baik-baik saja.