
Ethan masuk ke dalam rumah.
Dirinya sangat lelah hari ini. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan kantor yang tertunda akibat sering mengunjungi Laurine.
Setiap hari ia akan memeriksa keadaan Gadis itu. Ia akan kembali setelah Chris datang dan menggantikannya di sana.
Ethan rencananya akan memberitahu Jessica soal ini. Ia tidak ingin menyembunyikan sesuatu pada Jessica, apalagi ini berkaitan dengan Laurine.
Ia juga akan meminta maaf pada Jessica karna tidak memberitahunya sejak awal.
Ia yakin Jessica pasti memaafkannya.
Ethan membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Ia melihat Jessica yang sedang duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya.
"Kak.." ucap Jessica melihat Ethan yang baru pulang dari kantor.
Jessica langsung menyambut Ethan dengan riang dan memberikan pelukan hangat pada Pria itu.
Jessica melepaskan pelukannya dan menatap Ethan dengan wajah berseri.
"Hari ini sepertinya sangat menyenangkan. Apa yang membuatmu tampak sangat bahagia sayang?"
Jessica tersenyum.
"Iya Kak. Aku sangat bahagia hari ini. Ini karena There."
"Ada apa dengan There?"
"There akhirnya menemukan Pria yang dicintainya Kak. Dan Kakak tahu siapa? Kakak pasti terkejut saat mendengarnya."
"Memangnya siapa Pria itu?" tanya Ethan dengan penasaran.
"Kak Jason."
"Jason?" ucap Ethan dengan nada terkejut.
Jessica menganggukkan kepalanya.
"Kakak pasti tidak menyangkanya kan? Awalnya aku juga begitu.
Mereka pasangan yang serasi kan Kak?"
"Tentu saja. Aku juga sangat senang sangat mendengarnya. Dengan begitu, Jason tidak akan memiliki kesempatan untuk mendekatimu lagi."
"Kak.." ucap Jessica dengan nada geli.
"Oh ya Jess, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
"Sesuatu?"
Ethan menganggukkan kepalanya.
"Sebentar. Sebaiknya Kakak mandi dulu. Aku sudah menyiapkan air panas untuk Kakak."
"Tapi Jess.."
"Kakak bisa memberitahunya nanti. Sebaiknya Kakak mandi dulu. Aku tidak mau Kakak sakit.
Jessica mengambil handuk dan memberikannya pada Ethan. Kemudian ia membawa Ethan ke kamar mandi.
Jessica tersenyum pada Ethan.
"Mandilah Kak. Aku akan menyiapkan pakaian Kakak."
ucap Jessica lalu membalikkan badannya.
(Aku bisa memberitahukannya setelah selesai mandi)
Beberapa saat kemudian, Ethan keluar dari mandi dengan memakai handuk di pingganggnya.
Ethan melihat Jessica yang sudah tidur di atas ranjang.
Ethan kemudian memakai bajunya dan menghampiri Jessica. Gadis itu terlihat sangat pulas, ia tidak tega mengganggu tidurnya.
Besok ia akan memberitahu Jessica soal Laurine.
Ethan lalu naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti tubuh mereka berdua.
Seperti biasanya, sebelum tidur Ethan memeluk tubuh Jessica dengan erat.
--
Jessica mengantar Ethan ke depan rumah.
"Selamat bekerja Kak."
Jessica mencium pipi Ethan. Setelah melepaskan ciumannya, semburat merah itu muncul lagi di wajah Jessica.
"Kamu ingin menggodaku? Boleh saja sayang" ucap Ethan dengan nada menggoda.
"Kak.. Pergilah."
"Baiklah Istriku."
Ethan kemudian mencium kening Jessica dan mengecup bibir Jessica.
"Aku mencintaimu sayang." ucap Ethan.
"Aku juga mencintaimu Kak.
Hati-hati di jalan Kak."
"Hem..."
Ethan menganggukkan kepalanya.
Ethan lalu masuk ke dalam mobil dan sebelum pergi ia melambaikan tangannya pada Jessica.
Jessica menatap kepergian mobil Ethan. Ia kemudian masuk ke dalam rumah.
"Oh ya ampun, aku lupa memberikan bekal makan siang Kak Ethan.
Aku akan mengantarnya sendiri ke kantor, sekalian bertemu dengan There."
Mengingat There, Jessica langsung tersenyum geli.
Jessica menjadi tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Ia akan menanyakan apa yang terjadi kemarin saat There bersama Jason.
Di tengah perjalanan, Ethan baru menyadari bahwa ia lupa memberitahu Jessica tadi.
"Nanti malam, aku harus memberitahu Jessica."
Ethan tidak akan menunda-nundanya lagi.
--
Jessica memasuki gedung kantor dengan membawa bekal makan siang untuk Ethan.
Tiba-tiba There memanggilnya.
"Jess..." panggil There dari kejauhan.
"There."
There menghampiri Jessica.
Jessica langsung menyambut There dengan senyuman.
"Kebetulan kamu disini, ayo ikut bersamaku ke kafe." ajak Jessica sambil menarik tangan There.
Sesampainya di kafe.
"Bagaimana? Apa semuanya berjalan lancar?"
There mengetahui arah pembicaraan Jessica. Pasti tentang dirinya dan Jason.
There tersipu malu dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kamu tahu Jess? Kak Jason mengajakku belajar lagi malam ini." ucap There dengan kegirangan.
Jessica menggenggam tangan There.
"Wahh, selamat Re..." ucap Jessica dengan nada gembira.
"Oh ya, apa kamu sudah memberitahukan semua tentangku pada Kak Jason?
Mengapa kamu tidak memberitahuku Jess?"
"Tidak, aku belum mengatakan apa-apa pada Kak Jason."
"Termasuk nama lengkapku?"
Jessica menganggukkan kepalanya dengan yakin.
There mulai merasa aneh. Bukankah Jason mengatakan padanya bahwa Jessica yang memberitahukan nama lengkapnya?
"Ada apa Re?" tanya Jessica yang melihat There tiba-tiba membisu.
Kamu tahu? Aku begitu terkejut saat ia memanggilku dengan nama Clare."
"Tidak, aku tidak memberitahukan Kak Jason sama sekali Re."
Jessica kemudian tersenyum seolah menyadari sesuatu.
"Aku pikir Kak Jason mulai menyukaimu.
Ia pasti sudah mencari tahu segala tentangmu."
There mengerutkan keningnya.
"Diam-diam ia penasaran denganmu Re."
There kemudian tertawa keras.
"Tidak mungkin Jess."
"Mengapa tidak mungkin Re?"
"Dia begitu mencintaimu. Kalaupun ia sudah merelakanmu bersama Kak Ethan, pasti tidak mudah baginya untuk memiliki perasaan pada gadis lain."
"Re.. Tidak ada yang tidak mungkin. Aku begitu mengenal Kak Jason. Sebentar lagi, ia akan segera menyatakan perasaannya padamu."
"Hal itu tidak akan pernah terjadi Jess."
There menundukkan kepalanya.
"Kak Jason akan segera kembali ke Amerika.
Kami tidak akan bertemu lagi.
Aku takut Jess..
Aku takut semakin mencintainya hingga akhirnya saat ia pergi, aku akan terluka.
Sepertinya aku harus membatalkan rencana kita."
"Tidak, jangan Re. Kamu tidak perlu takut.
Yang perlu kamu lakukan adalah melakukan yang terbaik demi cintamu pada Kak Jason.
Gunakan waktu yang tersisa bersama Kak Jason. Karena kelak kamu tidak akan menyesalinya.
Kak Jason mungkin saja membatalkan kepulangannya ke Amerika.
Aku yakin cintamu mampu menghentikannya.
Kamu tidak boleh menyerah Re, semangatlah!"
There meneteskan air matanya.
"Terima kasih Jess."
There memeluk tubuh Jessica.
"Sama sama Re."
Jessica tersenyum sambil mengelus punggung Sahabatnya itu.
--
Jessica berjalan menuju pintu masuk.
Namun ia begitu terkejut melihat Ethan keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Ia ingin memanggil Ethan, namun Pria itu sudah masuk ke dalan mobil.
Ethan melajukan mobilnya.
Jessica kemudian menghentikan taksi dan memutuskan untuk mengikuti Ethan dari belakang.
Jessica melihat jam tangannya.
Ini belum jam makan siang, kemana Ethan akan pergi?
(Komplek ini, bukankah komplek perumahan Mama Rosa berada?
Apa Kak Ethan akan mengunjungi Mama?)
Taksi masih berjalan mengikuti mobil Ethan hingga mobil itu berhenti tepat di depan rumah Laurine.
(Apa yang dilakukan Kak Ethan di rumah Laurine?)
"Di sini saja Pak."
Jessica keluar dari taksi.
Ia berdiri di depan gerbang rumah Laurine.
(Apa Laurine sudah kembali dari rumah sakit?)
Jessica begitu takut. Bagaimana sendainya Laurine memang sudah kembali, dan Ethan sedang berduaan bersamanya saat ini?
Jessica menggelengkan kepalanya.
Ia tidak perlu membenarkan hal itu.
Lagian ia sangat percaya dengan Suaminya.
Sudah 3 Jam Jessica berdiri di sana. Ia masih menunggu Ethan keluar, namun Ethan belum juga keluar dari sana.
Jessica mulai berpikiran yang tidak-tidak.
"Tidak, aku harus mencari tahu."
Jessica memutuskan pergi ke rumah sakit untuk mencari tahu sendiri kebenarannya.
Ia tidak ingin terus berpikiran yang tidak-tidak.
Jessica pergi ke rumah sakit menggunakan taksi.
Ia langsung menuju ke resepsionis.
"Apa pasien yang bernama Laurine Exaudy masih dirawat di sini?"
"Sebentar saya check Bu."
Jessica sangat penasaran dengan kebenarannya.
"Pasien yang bernama Laurine Exaudy sudah pulang ke rumah Bu, sekitar seminggu yang lalu."
Jessica kecewa dengan kebenaran itu. Itu artinya, Ethan sedang bersama Laurine saat ini.
Tiba-tiba Jessica merasakan pening yang luar biasa.
"Apa Ibu tidak apa-apa?" tanya salah seorang perawat.
"Saya tidak apa-apa, terima kasih."
Jessica masih memegang kepalanya. Ia kemudian duduk di kursi rumah sakit.
Jessica berusaha mengontrol dirinya namun ia tidak bisa. Air mata itu berhasil keluar membasahi pipinya.
Saat ini Ia takut, sangat takut.
Sudah 3 jam ia menunggu Ethan di sana namun Pria itu belum keluar juga.
Apa yang mereka lakukan selama berjam-jam?
Seketika ingatan tentang pembicaraan karyawan kemarin terlintas di pikiran Jessica.
Apa benar Ethan masih mencintai Laurine?
Apa tidak ada sedikitpun rasa cinta Ethan padanya?
Apa selama ini Ethan berpura-pura mencintainya?
Jessica memegang erat handphone nya.
Namun hatinya masih tetap percaya pada Ethan, optimis bahwa Ethan mencintainya. Malam ini, Ethan akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ya, Jessica yakin itu.
Ethan tidak mungkin berselingkuh.
Ia mengingat perkataan Ethan tadi pagi yang mengatakan bahwa Pria itu mencintainya.
Jessica akan menunggu penjelasan Ethan. Ia ingin menguji Ethan apakah Pria itu akan tetap menutupinya atau malah memberitahunya. Hingga ia mengetahui kebenarannya, kebenaran tentang Ethan memang benar-benar mencintainya atau berpura-pura mencintainya selama ini.
Apakah selama ini Ethan bermaksud menyakitinya dengan berpura-pura mencintainya karena telah memisahkannya dengan Laurine?
Dan setelah menyakitinya, ia akan kembali lagi bersama Laurine?
Jessica benar-benar tidak siap menerima kenyataan itu.