Love You Too Much

Love You Too Much
Menguatkan Diri



Hari-hari dijalani Laurine dengan penuh rasa gelisah dan perasaan bersalah.


Ia masih mengingat kejadian malam itu, saat Chris keluar dari ruangannya dengan raut wajah begitu kecewa.


Sejak saat itu, Laurine dan Chris tidak pernah bertemu di rumah sakit.


Bahkan Pria itu tidak pernah lagi datang ke ruangannya saat tengah malam.


Chris pasti sangat kecewa padanya.


Perkataan Chris saat itu berhasil membuat Laurine menangis setiap kali mengingatnya.


Laurine tidak menyangka bahwa apa yang ia lakukan saat itu bisa menyebabkan hal seperti ini.


Padahal ia tidak bermaksud membuat Chris salah paham dengannya.


"Apa yang harus kulakukan?" ucap Laurine dengan nada lemah.


Laurine membawa peralatan menyulamnya.


Ia berencana akan menyulam di taman rumah sakit.


Namun saat ia hendak menutup pintu ruangannya, ia bertemu dengan Chris yang barusan keluar dari ruangan Gadis itu.


Mereka berdua saling bertatapan.


Mata itu, masih memancarkan rasa kecewa di sana.


Diam-diam hati Laurine begitu bahagia melihat sosok yang sedang berdiri di hadapannya.


Ia begitu merindukan Chris setelah beberapa hari tidak bertemu.


Ya, Laurine mulai mengakui perasaannya.


Walaupun ia belum tahu apa maksud dari perasaan rindunya itu.


Tiba-tiba kedatangan seorang Gadis memecahkan keheningan mereka berdua.


"Dokter...


Mengapa Dokter tidak menungguku?"


Gadis itu melihat arah tatapan Chris yang masih tertuju pada Laurine.


Gadis itu semakin mendekatkan tubuhnya pada Chris. Bahkan ia tidak segan-segannya memeluk lengan Chris.


Laurine melihat hal itu.


Ia begitu sakit hati melihat tangan itu memeluk lengan Chris dengan begitu intens.


Chris juga sama sekali tidak menolak perlakuan Gadis itu.


"Dok..


Ayo kita pergi. Bukankah kita tadi mau jalan-jalan? Dokter sudah berjanji menemaniku. Ayolah Dok." ucap Gadis itu dengan nada manja.


Gadis itu kali ini menarik tubuh Chris untuk berpindah dari tempatnya.


Tidak tahan melihat pemandangan di depannya, Laurine langsung pergi dari sana.


Ia meninggalkan Chris yang masih menatap kepergiaannya.


Sebenarnya Chris juga begitu merindukan Laurine.


Ia bahkan berniat untuk datang ke ruangan Laurine saat tengah malam


Namun ia menghapus niatnya itu setiap kali ia mengingat kejadian hari itu, saat Laurine pergi tanpa memberitahunya.


Ia sadar, bahwa kehadirannya sama sekali tidak berarti apa-apa untuk Laurine.


Bahkan Laurine akan hidup bahagia tanpa dirinya.


Laurine termenung di bangku taman.


Pikirannya masih tertuju pada Chris dan Gadis itu.


Apa mereka berdua sudah menjalin hubungan?


Mereka sangat dekat tadi.


Sebegitu mudahkah perasaan Chris padanya hilang begitu saja?


Ya, Laurine tahu ini semua salahnya.


Dirinya sendiri yang membuat Chris menjauh darinya.


--


Hari sudah mau gelap, Laurine memutuskan kembali ke ruangannya.


Saat ia melewati lorong rumah sakit, ia mendengar pembicaraan para perawat yang sedang asyik mengobrol.


"Kamu tahu? Gadis itu semakin lengket dengan Dokter Chris. Bahkan ia bertindak layaknya bukan seorang Pasien." ucap salah satu perawat itu.


"Iya, aku setuju denganmu. Padahal ia masih SMA, tapi berani-beraninya ia menggoda Dokter Chris yang jauh lebih dewasa darinya." ucap Perawat yang lainnya.


"Eh, aku pikir Dokter Chris terlihat menikmati perlakuan Gadis itu. Apa Dokter Chris sudah tidak mencintai Nona Laurine lagi?"


"Aku juga bingung. Tapi menurutku, Dokter Chris mencintai Gadis itu. Ia pasti sudah tidak memiliki perasaan pada Nona Laurine lagi. Karena aku dengar-dengar Nona Laurine tidak mencintai Dokter Chris."


"Ya bisa Jadi Dokter Chris sudah menyerah dan akhirnya jatuh cinta dengan Gadis itu."


"Tapi bukankah ini terlalu cepat? Dokter Chris melupakan perasaannya pada Nona Laurine dan sekarang mencintai Gadis lain?"


Laurine memegang erat bajunya.


Perkataan para perawat itu begitu menyakiti hatinya.


Laurine melanjutkan langkahnya dengan tatapan kosong.


Ia terus berjalan tanpa menyadari bahwa ia sudah berjalan sangat jauh.


Ia telah melewati ruangannya.


(Aku mencintaimu Lau. Aku sangat mencintaimu.)


Pernyataan cinta itu memenuhi pikiran Laurine.


Namun ia kembali teringat dengan momen tadi Pagi, saat Gadis itu memeluk lengan Chris dengan erat.


Laurine menghentikan langkahnya.


Tangannya memegang erat dinding yang berada di dekatnya seakan ia tidak sanggup untuk menahan tubuhnya.


Kaki Laurine terasa lemah sehingga butuh pegangan untuk berdiri.


Ingatan saat Ethan meninggalkannya muncul kembali di pikirannya.


Laurine meluruhkan tubuhnya ke lantai.


Ia memegang erat dadanya sambil menangis tersedu-sedu.


Mengapa perasaan sakit itu datang lagi?


Perasaan yang sama dengan perasaan saat Ethan meninggalkannya dulu.


Sekarang ia tidak memiliki siapa-siapa lagi.


Dulu ia mampu bertahan karena kehadiran Ethan di sisinya


Saat Ethan memilih meninggalkannya, ia sudah tidak harapan hidup lagi. Bahkan ia sering mencoba bunuh diri.


Namun, sosok itu hadir di dalam hidupnya.


Sosok yang mulai mengisi hari-harinya.


Menghiburnya di kala ia sedih, dan selalu ada di saat ia benar-benar tidak memliki siapapun lagi.


Dan kini, Chris akan meninggalkannya juga.


Ia tahu bahwa ini memang karena kesalahannya sendiri.


Tapi, ia mulai sadar bahwa tidak ada seorangpun yang akan bertahan di sampingnya.


Bahkan kedua orang tuanya sendiri sama sekali tidak peduli dengan kondisinya.


Ia akan sendiri selamanya.


Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kebahagiaan yang dimiliki anak lain pada umumnya.


Orang tua ataupun kerabatnya sama sekali tidak peduli dengannya. Mereka malah sibuk bekerja dengan alasan bahwa semua itu dilakukan untuk dirinya.


Untuk kehidupan yang layak.


Tapi apa artinya memiliki hidup yang layak namun hidup tanpa cinta?


Laurine menatap ke arah kain hasil menyulamnya hari ini.


Rossa yang mengajarkannya menyulam saat ia SMP.


Rossa menyarankannya untuk menyulam saat ia merasa sedih ataupun kesepian.


Ia rasa, perasaan sedih dan kesepian itu akan menyelimutinya selamanya.


--


Laurine kembali ke ruangannya.


Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya yang ia yakini begitu menyedihkan saat ini.


Namun saat kembali dari kamar mandi, Laurine tidak memperhatikan langkahnya sehingga membuatnya terpeleset dan jatuh ke lantai.


"Akh..."


Laurine memegang kakinya yang terasa sangat sakit saat digerakkan.


Sepertinya kakinya terkilir saat ini.


Laurine berusaha untuk berdiri namun ia kembali terjatuh.


Laurine tetap tidak menyerah sampai ia akhirnya bisa berdiri dengan satu kakinya yang masih sakit saat digerakkan.


Laurine mengambil kotak obat untuk mengobati kakinya.


Ia memberikan perban di kakinya setelah memijit dengan hati-hati.


Laurine menarik napas panjang.


Mulai saat ini, ia harus kuat walau dalam keadaan sesulit apapun.


Ia harus berjuang untuk dirinya sendiri.


Ia tidak harus mengandalkan orang lain.


Ia harus bisa menjalani hari-harinya sendiri.


Hanya ada dia, tidak ada seorang pun...


Laurine menghapus air mata yang kembali lolos dari pelupuk matanya.


Ia berusaha menguatkan dirinya.