
Keesokan harinya, Jessica dan Ethan memutuskan kembali ke Jakarta
Jessica juga menyetujui hal itu.
Jessica dan Ethan sedang berada di dalam kapal yang sama. Sementara Sam dan Riana berada di kapal yang lainnya.
Jessica meminta keduanya untuk ikut ke Jakarta. Jessica ingin Riana dan Sam tinggal menetap di Jakarta. Walaupun sempat menolak, namun dengan bujukan Jessica akhirnya Riana setuju dengan permintaan Jessica.
Ethan menggenggam tangan Jessica dengan erat. Senyumnya tidak berhenti dari kemarin seakan-akan kebahagiaannya sudah ia dapatkan kembali.
Ia memperbaiki rambut Jessica yang terhempas angin.
Jessica tersenyum pada Ethan dan kemudian meletakkan kepalanya di bahu Ethan.
"Apa kamu kedinginan Jess?"
Jessica menaikkan wajahnya.
"Tidak Kak."
"Benarkah?"
Ethan memegang pipi Jessica yang terasa dingin.
"Tapi pipimu sangat dingin sayang."
Jessica tersenyum dan memegang tangan Ethan yang menempel di pipinya.
"Kalau begitu, maukah Kakak memelukku agar aku tidak kedinginan?"
"Tentu saja, cantik."
Ethan langsung menarik Jessica ke dalam pelukannya.
Jessica tersenyum di dalam pelukan Ethan.
Beberapa saat kemudian, Ethan melepaskan pelukannya.
"Terima kasih karena telah memberikan kesempatan untukku Jess."
"Aku tahu Kakak layak menerimanya."
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku janji Jess."
Jessica menganggukkan kepalanya.
--
Beberapa jam kemudian, Ethan dan Jessica sudah sampai di rumah.
Ethan membukakan pintu mobil untuk Jessica.
Jessica mengedarkan pandangannya, rumah Ethan tampak sangat gelap dan sepi.
"Ayo masuk Jess." ucap Ethan sambil menarik tangannya.
Mereka masuk ke dalam rumah.
Ethan menyalakan lampu ruang tengah, dan Jessica begitu terkejut melihat banyak orang berada di sana.
Ada Rossa dan Keluarga Jessica, There, Jason, Laurine, Chris bahkan Sam dan Riana juga sudah berada di sana.
Sepertinya mereka semua memang berniat untuk memberikan kejutan pada Jessica.
"Mama, Papa ..." ucap Jessica pada Natalie dan Marcus yang berada di sana.
Jessica juga menatap Rossa yang sedang tersenyum padanya.
"Kalian..."
Ethan memegang erat tangan Jessica.
Perlahan Jessica mendekati mereka satu per satu dengan Ethan berdiri di sampingnya.
"Ma.."
"Sayang.."
Jessica langsung memeluk tubuh Natalie dengan erat.
"Mama bangga padamu sayang."
Jessica melepaskan pelukannya. Air matanya mulai menetes.
"Sekarang kamu sudah menjadi Istri yang baik sayang, Mama sangat bangga."
"Terima kasih Ma."
Jessica kemudian melangkahkan kakinya menuju Rossa.
Ia juga memeluk erat tubuh wanita itu.
Rossa kemudian memegang pipi Jessica dengan lembut.
"Terima kasih sayang. Kamu sudah membuat Ethan menjadi Pria yang dewasa dan bertanggung jawab.
Rossa melihat ke arah Ethan.
"Ethan juga berubah menjadi Suami yang baik karena kamu sayang. Dari awal pilihan Mama memang tidak pernah salah. Mama tahu kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk Ethan."
"Kebahagiaan kalian berdua akan dimulai saat ini. Mama berharap kalian bahagia bersama selamanya."
"Terima kasih Ma." ucap Ethan pada Rossa.
"Berjanjilah untuk selalu membuat Jessica bahagia Ethan. Jangan pernah melukainya lagi."
"Ethan janji Ma. Ethan akan berusaha untuk selalu memberikan kebahagiaan pada Jessica."
Rossa tersenyum puas saat mendengar penuturan Ethan.
Terakhir, Jessica dan Ethan mendekati Laurine yang sedang berdiri di samping Christ.
Jessica tersenyum pada Laurine yang juga tengah tersenyum padanya.
"Jess, maaf jika aku menjadi penyebab kepergianmu dari rumah. Bahkan kamu berniat ingin bercerai dengan Kak Ethan. Kak Ethan sama sekali tidak bermaksud untuk kembali bersamaku Jess. Kami berdua tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
Kak Ethan hanya menganggapku sebagai Adiknya.
Aku sangat minta maaf Jess."
Jessica memegang tangan Laurine.
"Aku tahu Lau. Mungkin saat itu, aku sempat marah karena tidak mengetahui kebenarannya. Tapi sekarang, aku sama sekali tidak menyalahkanmu atau marah padamu Lau. Kak Ethan sudah memberitahuku semuanya."
"Terima kasih banyak Jess.
Oh ya, aku ingin memberikan ini padamu. Seseorang sepertinya sangat malu untuk memberikannya padamu."
Laurine melihat ke arah Ethan yang terlihat salah tingkah saat ini.
Jessica membuka paper bag yang diberikan oleh Laurine padanya.
Jessica mengerlingkan matanya ke arah Ethan.
"Pakailah gaun itu malam ini sayang."
Jessica tidak mengerti apa maksud penuturan Ethan.
Mengapa Ethan menyuruhnya memakai gaun itu malam ini?
Tiba-tiba There menghampiri mereka dan langsung memegang lengan kanannya Jessica.
Ada Jason juga yang barusan datang.
Laurine juga memegang lengan kirinya.
Jessica semakin bingung saat ini.
"Ikutlah bersama kami Jess. Kamu harus memberikan yang terbaik untuk Suamimu."
"Apa maksud kamu Re?"
"Ayolah Jess, nanti kami akan menjelaskannya padamu." ucap Laurine.
Jessica melihat ke arah Laurine dan There satu per satu. Dia masih belum mengerti.
There dan Laurine saling bertatapan dan langsung menarik Jessica pergi dari sana.
Ethan tersenyum melihat kepergian Jessica.
"Sepertinya Jessica masih belum mengerti dengan apa yang terjadi malam ini." ucap Jason.
"Iya. Kalau begitu, semua kejutanku malam ini berhasil."
"Apa kau merencanakan semuanya sendiri?" tanya Christ.
"Tidak, semuanya turut campur membantuku untuk malam ini."
"Sepertinya, aku sama terkejutnya dengan Jessica. Aku juga korban seperti dia, hanya saja aku mengetahuinya terlebih dahulu darinya."
"Apa Laurine tidak memberitahumu? Bukankah kau dekat dengannya selama ini?" tanya Jason.
Ethan mengiyakan hal tersebut dan kemudian menatap Christ.
Christ pikir, Laurine mulai menjaga jarak dengannya akhir-akhir ini. Setiap kali ia memberikan perhatiannya, gadis itu juga pasti akan menolak. Ia sudah berusaha menunjukkan perasaannya pada Laurine melalui tindakannya selama ini. Sepertinya Laurine sangat tidak menyukai hal itu. Laurine memang sama sekali tidak memiliki perasaan padanya.
Oleh karena itu, Christ tidak akan memaksakan kehendaknya pada Laurine. Ia akan berusaha bertindak sebagaimana adanya, layaknya seorang Dokter dengan Pasien umumnya.
"Aku sibuk kerja akhir-akhir ini. Jadi kami jarang bertemu, dan aku pikir Laurine mungkin tidak ingin menggangguku."
Ethan pikir ada yang aneh antara Laurine dan Christ. Sebenarnya dari awal Ethan sudah mengetahui bagaimana perasaan Christ pada Laurine. Dan ia sangat senang sekaligus lega dengan hal itu. Christ adalah Pria yang sangat baik. Ia yakin Christ mampu menjaga Laurine dengan baik. Perhatiannya selama ini pada Laurine, bisa Ethan pastikan bahwa Christ sangat mencintai Laurine.
Jessica masuk ke dalam kamar mereka.
Jessica begitu terkejut melihat kamar mereka yang sudah dihiasai dengan mawar putih.
Semuanya tampak sangat indah. Mata Jessica tertuju pada taburan bunga putih yang membentuk hati pada tempat tidur mereka.
Sangat indah, pikirnya.
Laurine dan There senang melihat Jessica yang tampak mengagumi dekorasi yang direncanakan oleh Ethan.
Mereka berdua menghampiri Jessica dari belakang.
"Kak Ethan melakukan ini semua untukmu Jess."
Jessica membalikkan badannya menatap Laurine.
"Kedatanganmu kembali ke rumah ini sangat spesial untuknya. Ia ingin melakukan semuanya agar kamu bahagia."
Jessica terharu dengan apa yang dikatakan Laurine barusan.
"Ini pertama kali Kak Ethan melakukan hal luar biasa seperti ini. Aku sudah lama mengenalnya, tapi ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya."
Laurine memegang tangan Jessica.
"Kamu yang pertama, dan kamu begitu spesial untuknya Jess."
Jessica meneteskan air matanya.
Ethan melakukan semua ini untuknya. Pria itu sangat mencintainya.
"Eitss, kamu akan membanjiri wajahmu saat kamu mengetahui kejutan yang lainnya." ucap There pada Jessica.
"Kejutan lain? Apa ada kejutan lain selain dari pada semua ini?"
"Tentu saja Jess. Makanya, kamu harus mempersiapkan dirimu untuk menerima kejutan lainnya. Termasuk dengan berdandan secantik mungkin malam ini. Kamu harus membuat Kak Ethan terpesona dan tidak bisa mengalihkan pandangannya darimu."
"Kami akan membantumu berdandan Jess."
Jessica tersenyum.
Kali ini apa yang akan mereka lakukan?
"Kami sudah memanggil salah satu Ahli kecantikan terbaik di Jakarta."
Evelyn masuk ke dalam kamar.
"Evelyn." ucap Jessica saat melihat kehadiran Evelyn di sana.
" Eve akan mendandanimu Jess."
"Saya akan membuat Tuan Ethan semakin mencintai anda Nona."
"Eve..." ucap Jessica dengan tersipu.
"Kami percayakan Jessica padamu Eve. Kami akan menunggu di luar." ucap Laurine.
"Baik Nona."
There mendekati Jessica dan mendekatkan bibirnya pada telinga Jessica.
"Kamu harus melakukan yang terbaik untuk malam ini Jess. Bukankah kalian sudah lama tidak melewatkan malam bersama-sama?" ucap There dengan nada menggoda.
"There..."
There tertawa geli melihat semburat merah pada wajah Jessica, ia kemudian langsung pergi meninggalkan kamar bersama Laurine.
"Duduklah Nona, saya akan mendandani anda"
"Baiklah."
Jessica langsung duduk di kursi meja rias.
Jessica menatap wajahnya di depan cermin. Saat ini, jantungnya berdegup dengan kencang mengetahui bahwa ada kejutan lain yang akan diberikan Ethan untuknya.
Kejutan apa yang akan diberikan Ethan nanti?
Ia berharap penampilannya nanti mampu membalas semua kebaikan Suaminya. Termasuk semua kejutan yang diberikan Ethan malam ini.
Semoga Ethan menyukai penampilannya nanti. Bahkan dengan memikirkan bagaimana ekspresi Ethan saat melihatnya nanti, mampu membuat Jessica tersipu saat ini.