
Jessica perlahan membuka matanya.
Sejenak ia menyadari bahwa ia sedang berada di pelukan seseorang, dan orang itu adalah Ethan.
Jessica menaikkan wajahnya, menatap Ethan.
Ia kemudian menyentuh kening Ethan.
Kondisi Ethan sepertinya sudah baik-baik saja, dia sudah tidak demam lagi.
Jessica melepaskan tangan Ethan dari tubuhnya dengan hati-hati.
Bukannya terlepas, pelukan itu malah semakin erat.
Ethan juga menarik tubuhnya semakin dekat padanya.
Jessica membiarkannya selama beberapa menit.
Setelah itu, ia berusaha kembali melepaskan pelukan dari tubuhnya.
Akhirnya berhasil.
Jessica keluar dari tempat tidur secara perlahan.
Ia kemudian pergi ke dapur, memasak bubur untuk Ethan.
Mata Ethan terbuka saat ia mencium aroma yang sangat menggugah selera.
Jujur saja, ia hanya makan roti kemarin.
Perutnya sangat lapar saat ini.
Ia kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
Ethan seketika tersenyum saat menyadari bahwa kemarin ia dan Jessica tidur bersama.
Gadis itu bahkan sangaat khawatir dengan kondisinya.
Sekarang ia tahu, bahwa Jessica masih mencintainya.
Ternyata menjadi "sakit" adalah salah satu senjata yang bagus agar Jessica mau berdekatan dengannya.
Dan perlahan, gadis itu akan segera memaafkannya.
Ethan mengusap kepalanya dan kemudian turun dari tempat tidur.
Ia tersenyum melihat Jessica yang sedang masak di dapur.
Ia kemudian mendekat dan berdiri di belakang Jessica.
Jessica menyadari kehadiran Ethan yang sedang berdiri di belakangnya.
Ia membalikan badannya dan menatap wajah Ethan.
Ethan tersenyum padanya dan Jessica membalasnya dengan senyuman tipis.
Jessica kemudian ingin lanjut memasak, namun suara Ethan menghentikannya.
"Jess.."
Jessica menghadap pada Ethan.
"Terima kasih karena sudah merawatku semalam."
Jessica tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu tidak bekerja hari ini?"
Jessica berpikir sejenak.
"Tidak Kak."
"Apa karena aku?"
"Tidak, aku memang tidak berniat bekerja hari ini Kak. Persediaan bunga juga sudah habis."
"Oh, baiklah Jess."
Jessica langsung melihat ke arah wajan, saat mendengar suara mendidih dari belakangnya.
Jessica kemudian memasukkan bubur itu ke dalam mangkuk dan menghidangkannya ke atas meja.
"Kakak duduklah. Aku sudah masak bubur untuk Kakak."
Ethan kemudian duduk di kursi. Ia menatap Jessica yang sedang mengambil air minum untuknya.
Gadis itu kemudian meletakkan air minum itu di hadapannya.
Ethan melihat makanan yang hanya berjumlah satu porsi. Itu artinya, makanan itu hanya untuknya, dan Jessica tidak ikut makan bersamanya.
"Jess, apa kamu tidak ikut sarapan?"
"Tidak Kak, aku sudah sarapan tadi.
Makanlah Kak, selagi makanannya masih hangat."
"Apa kamu mau menemaniku makan?
Duduklah bersamaku Jess."
Jessica diam sejenak.
Ia pikir, tidak ada salahnya jika ia memberikan kesempatan pada Ethan untuk bersamanya saat ini.
Ini untuk yang terakhir kalinya.
Lusa, ia akan kembali ke Amerika.
Kali ini, ia akan pergi secepatnya.
Ia juga memutuskan untuk tidak bertemu pada Rossa dan Sesil.
Secepatnya mereka akan tahu, dan mengerti keputusannya.
Ia tidak tahan lagi jika harus berlama-lama di Indonesia.
Kehadiran Ethan mulai meruntuhkan pertahanannya.
Mereka berdua akan tetap berpisah.
Nanti, ia akan memberitahu Ethan soal ini.
Jessica kemudian duduk di hadapan Ethan.
Ethan tersenyum bahagia.
Perlahan Jessica mulai membuka hati untuknya...
Jessica melihat Ethan yang begitu lahap memakan bubur buatannya.
Ia tersenyum tipis.
Ethan juga sesekali tersenyum padanya.
Jessica memegang erat gaunnya.
Ia berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
Ethan melihat Jessica yang terlihat aneh saat ini.
Jessica menundukkan wajahnya dan terlihat menahan sesuatu.
Ethan kemudian berdiri dan berlutut di hadapan Jessica.
"Ada apa Jess? Apa ada yang sakit pada tubuhmu?"
Ethan takut terjadi apa-apa pada Jessica.
Mengingat kemarin gadis itu sering mual-mual.
Jessica menatap Ethan yang sedang berlutut di hadapannya.
Seketika dirinya diam membisu melihat perlakuan Pria itu.
"Apa yang sedang terjadi denganmu Jess? Katakan pada Kakak."
Jessica kemudian meneteskan air matanya.
Ethan semakin panik melihat Jessica menangis.
"Apa Kakak menyakitimu lagi? Katakan Jess, Kakak akan memperbaikinya dan tidak akan melakukannya lagi."
Jessica masih tidak menjawab pertanyaan Ethan.
Jessica langsung berdiri dari tempatnya.
Ethan juga ikut berdiri di hadapan Jessica.
"Aku mohon Kakak segera menghabiskan makanannya.
Maaf, aku tidak bisa menemani Kakak.
Aku harus pergi."
Jessica kemudian pergi meninggalkan Ethan.
Ethan menatap kepergian Jessica dengan penuh pertanyaan di dalam pikirannya.
(Apa aku menyakitinya lagi?)
Sore harinya, Ethan mencari Jessica yang dari tadi tidak kelihatan sama sekali.
Ia sudah mencari di rumah Sam, namun Jessica juga tidak berada di sana.
Ethan menungu beberapa jam di rumah.
Namun saat hari mulai malam, Jessica belum kembali juga.
Ethan mengambil jaketnya dan memutuskan mencari Jessica di area pantai.
Ia yakin, Jessica sedang berada di sana.
Gadis itu selalu pergi ke pantai saat hatinya kacau.
Ethan mengedarkan pandangannya ke seluruh area pantai. Namun Jessica belum kelihatan.
Ia kemudian melangkahkan kakinya semakin jauh.
Ethan berkacak pinggang, ia takut terjadi sesuatu pada Jessica.
Jessica pergi sendirian, dan ia adalah seorang wanita.
Sangat tidak baik seorang wanita sendirian di malam hari.
Ethan kembali mencari Jessica.
Beberapa saat kemudian, akhirnya ia dapat menemukan Jessica.
Gadis itu sedang duduk di kursi sambil menatap ke arah pantai yang berada di depannya.
Ethan kemudian menghampiri Jessica dan duduk di sampingnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini Jess?
Kakak mencarimu dari tadi."
Jessica menatap Ethan yang berada di sampingnya.
"Kalau kamu ingin pergi ke sini, kamu seharusnya mengajak Kakak tadi. Tidak baik seorang wanita pergi sendirian. Apalagi saat malam hari seperti ini."
Jessica hanya diam membisu.
Ethan kemudian melepaskan jaket yang dipakainya dan memakainya pada tubuh Jessica.
Ethan tersenyum pada Jessica dan kemudian melihat ke arah pantai.
"Lusa, aku akan kembali ke Amerika Kak."
Ethan sontak melihat ke arah Jessica.
Itu artinya, Jessica memang benar-benar ingin berpisah darinya.
Jessica melihat kekecewaan di mata Ethan.
"Kamu memang benar-benar ingin kita berpisah Jess?
Kamu ingin meninggalkanku?"
Jessica meneteskan air matanya.
Ethan kemudian berdiri dan berlutut di hadapan Jessica.
"Aku bisa jelaskan semuanya padamu Jess.
Aku hanya mencintaimu, aku tidak pernah sekalipun berpikiran untuk kembali pada Laurine. Aku hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Aku memang sangat bersalah, tidak memberitahumu sejak awal.
Ethan mengambil kedua tangan Jessica dan meletakkannya ke wajahnya.
"Aku memang bersalah Jess. Kamu bisa menghukum Kakak. Kamu bisa memukulku.
Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpamu."
Ethan menaupkan wajahnya ke paha Jessica.
Jessica bisa melihat keseriusan Ethan. Namun ia tidak ingin hatinya terluka kembali.
Ia sudah terlalu sering tersakiti dan akhirnya memaafkan Ethan.
Kali ini ia tidak siap untuk tersakiti lagi.
"Maafkan aku Kak, aku tidak bisa."
Ethan menaikkan wajahnya dan meneteskan air matanya saat mendengar jawaban Jessica barusan.
"Jess, apa kamu tidak mencintaiku lagi?
Kalau begitu, katakan bahwa kamu tidak mencintaiku lagi.
Katakan Jess.."
Jessica tidak akan pernah bisa melakukannya.
"Katakan bahwa kamu tidak mencintaiku."
ucap Ethan lagi.
Jessica langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Ethan.
Ethan kemudian mengejar Jessica dan memeluknya dari belakang.
"Aku tahu kamu masih mencintaiku Jess.
Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan kita. Aku janji, tidak akan menyakitimu lagi Jess."
"Aku tidak mencintaimu lagi Kak."
ucap Jessica di balik tubuhnya.
Ethan perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Jessica dan kali ini ia membiarkan Jessica pergi meninggalkannya.
Jessica kemudian berlari menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Jessica langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Ia menangis di atas tempat tidur.
Hatinya sangat berbanding terbalik dengan ucapannya tadi.
Sementara Ethan, ia masih berada di sana.
Ia menundukkan kepalanya sambil menatap cincin yang berada di jarinya.
Ethan meneteskan air matanya.
Ternyata usahanya selama ini untuk membawa Jessica kembali ke rumah sia-sia.
Gadis itu memang tidak ingin bersamanya lagi.
Ia juga tidak bisa memaksa Jessica lagi, itu akan membuat Jessica semakin menderita.
Dia tidak akan pernah menyakiti Jessica lagi.
Ia akan menghormati keputusan Gadis itu.
Lusa, Jessica akan kembali ke Amerika.
Ia sungguh tidak sanggup untuk melihat kepergian Jessica.
Lebih baik besok ia kembali ke Jakarta.
Ini adalah jalan yang terbaik untuk mereka berdua.
Besok, Jessica pasti tidak ingin melihat wajahnya lagi.
Kehadirannya di sini dari awal memang sangat mengganggu Jessica.