
Pukul 4 Pagi Jessica sudah bangun. Ia mengawali harinya dengan penuh semangat. Hari ini adalah hari pertamanya berstatus sebagi Istri Ethan. Ia akan melakukan yang terbaik.
Jessica mulai membersihkan kamar Ethan. Setelah selesai, Jessica ingin membersihkan ruang kerja Ethan, namun ia mengurungkan niatnya itu.
"Aku bisa melakukannya nanti, setelah Kak Ethan bangun tidur."
Namun entah mengapa , Jessica ingin sekali masuk ke ruangan itu. Ia membuka pintu dan melihat wajah damai Ethan yang sedang tidur. Posisinya masih sama seperti semalam. Ada rasa bahagia di hatinya walau hanya melihat Ethan sebentar. Kemudian Jessica keluar dan menutup pintu ruangan itu dengan pelan. Ia tidak ingin Ethan terbangun dari tidurnya.
--
Jessica sudah membersihkan seluruh bagian rumah. Walau dengan kondisi rumah Ethan yang sangat luas, Jessica tetap melakukannya dengan semangat. Ia tidak merasa lelah sama sekali.
Kali ini ia akan memasak. Semua bahan bahan memasak sudah lengkap di dalam kulkas. Jessica teringat dengan perkataan kakaknya bahwa perasaan paling bahagia seorang istri adalah ketika suaminya memakan masakannya. Jessica tersenyum. Ia harus masak makanan yang paling enak untuk Ethan. Ia akan mengeluarkan keahlian memasaknya.
--
Pukul 6.30 Pagi masakan Jessica telah terhidang sempurna di atas meja. Jessica yakin Ethan akan menyukainya. Banyak orang yang menyukai masakannya.
Tiba-tiba seorang pria turun dari tangga dengan pakaian kerjanya. Jessica melihat Ethan yang sedang memakaikan dasinya.
Bukankah Kak Ethan sedang cuti?, tanyanya di dalam hati.
Jessica menghampiri suaminya dengan senyuman. Ia akan mengajak Ethan Sarapan Pagi.
"Apa Kakak akan pergi ke kantor?"
Ethan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Jessica.
"Sebelum berangkat, makanlah dulu Kak. Aku sudah masak sarapan pagi untuk kita berdua."
"Tidak perlu. Aku akan sarapan di kantor", ungkap Ethan dengan nada datar.
Ethan langsung pergi tanpa melirik ke arah Jessica.
Ada rasa sedih di hati Jessica. Tapi ia tetap tersenyum dan optimis bahwa mungkin Ethan sedang terburu-buru ke kantor, jadi ia tidak sempat sarapan di rumah.
--
"Apa belum ada kabar sama sekali dari Laurine?", tanya Ethan pada orang suruhannya yang selama ini mencari informasi tentang keberadaan Laurine.
"Belum ada Pak."
"Baiklah. Tetap lakukan pencarian."
Pria itu keluar dari ruangan Ethan.
Ethan menatap fotonya bersama Laurine yang berada di atas meja kerjanya.
"Apa yang harus kulakukan Laurine agar kamu mau kembali lagi ke sisiku?"
Ethan merasa sangat hampa saat Laurine tidak berada di sisinya. Selama ini, ia dapat menjalani hidupnya penuh dengan semangat karena Laurine. Dukungan dan dorongan gadis itu sangat berarti baginya.
--
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 Siang. Jessica mulai bosan karena dari tadi ia hanya membaca buku dan menonton. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi.
"Apa aku mengantar bekal makan siang Kak Ethan saja? Tidak mungkin, orang kantor akan bertanya-tanya mengapa aku memberikan makanan pada Kak Ethan. Lagian aku sudah tidak bekerja lagi di sana", ungkap Jessica dengan wajah sedikit murung.
Tiba-tiba Bel rumah berbunyi, Jessica langsung melihat ke arah sumber suara.
"Apa itu Kak Ethan?", ungkap Jessica dengan perasaan bahagia.
Jessica langsung membuka pintu dengan semangat.
Namun bukan Ethan yang datang, melainkan seorang kurir yang membawa bingkai Foto yang besar. Dibelakangnya tiba-tiba muncul Rossa.
"Mama..."
"Hai sayang."
" Tolong, masukkan ke dalam saja Pak."
Rossa mengarahkan kurir itu untuk meletakkan bingkai foto ke kamar Ethan. Jessica mengikuti dari belakang.
Kini bingkai foto pernikahannya bersama Ethan sudah terpajang sempurna di dalam kamar. Jessica tersenyum menatap fotonya bersama Ethan yang saling berpegangan tangan.
"Kalian sangat romantis disana", ungkap Rossa sambil menunjuk pada foto Ethan yang sedang mengikatkan tali sepatu Jessica.
"Mama juga sudah mendokumentasikan foto pernikahan kalian di dalam buku ini."
"Apa ini Ma?"
"Ini buku yang berisi foto-foto Ethan sejak bayi."
Mereka duduk di sofa sambil melihat foto-foto Ethan.
"Apa aku boleh menyimpannya foto ini Ma?", unjuk Jessica pada foto Ethan saat balita. Ethan sangat lucu dan menggemaskan saat itu.
"Tentu saja Sayang. Kamu adalah Istri Ethan, kamu berhak memiliki apapun yang berhubungan dengan Ethan."
"Ngomong-ngomong Ethan dimana sayang?"
"Kak Ethan sedang Kantor Ma."
"Apa? Bagaimana bisa dia ke kantor saat ini? Lagian dia sudah mengajukan cuti. Anak itu benar-benar,"ungkap Rossa dengan nada kesal.
"Ma, sepertinya ada masalah penting makanya Kak Ethan harus pergi ke kantor."
"Bukan begitu sayang, kamu saja tidak pergi ke kantor. Sementara dia meninggalkan kamu di rumah sendirian."
"Sebenarnya Jessica sudah berhenti bekerja Ma."
Jessica menundukkan kepalanya dan hanya diam. Rossa langsung paham maksud Jessica.
"Apa tidak apa-apa jika kamu melepaskan pekerjaanmu sayang? Mama bisa meminta Ethan untuk membatalkannya."
"Tidak apa-apa Ma. Jessica pikir dengan berhenti bekerja, Jessica lebih memiliki waktu yang banyak untuk belajar menjadi istri yang baik untuk Kak Ethan", ungkap Jessica dengan senyuman sambil memegang tangan Rossa.
"Mama memang tidak salah memilih kamu sebagi istri Ethan",Rossa mengelus lembut wajah Jessica.
--
Pukul 6 Sore Ethan pulang ke rumah. Ia memasukkan mobilnya ke garasi. Ia membuka pintu rumah. Samar-samar ia mendengar suara tawa yang berasal dari rumah.
Ia masuk, dan melihat Mamanya sedang memasak bersama Jessica. Baru kali ini ia melihat tawa lepas Mamanya. Rossa sangat tampak bahagia bersama Jessica.
"Apa Mama tidak apa-apa?", Jessica langsung mendekati Rossa.
"Mata Mama kelilipan sayang."
"Coba Jessica lihat Ma."
"Mama tidak apa kok sayang. Mama hanya ingin mengerjaimu. Kamu terlihat sangat serius tadi."
"Mama.."
Tanpa Ethan sadari, ia tersenyum melihat kedekatan Rossa dengan Jessica.
Jessica dan Rossa tertawa bersama. Senyuman Jessica mulai menipis saat melihat Ethan sedang berdiri tak jauh dari mereka. Ia terlihat baru pulang dari Kantor.
Rossa mengikuti arah pandang Jessica dan mendapati Ethan sedang berdiri di depan meja makan.
"Kamu sudah pulang rupanya", ungkap Rossa dengan nada kesal.
Mandilah. Kita akan makan malam bersama."
"Baik Ma."
Ethan langsung menuju kamarnya. Setelah selesai mandi, ia turun menuju ruang makan. Sebenarnya ia berencana makan di luar tadi, namun karena Rossa, ia memutuskan makan di rumah.
"Duduklah Ethan."
Semua makanan sudah terhidang di meja makan. Mereka bertiga makan bersama.
"Bagaimana rasanya? Enak kan?"
Ethan hanya menganggukkan kepalanya.
"Istrimu memang koki yang hebat."
Jessica tersenyum menanggapi pernyataan Rossa. Sementara Ethan, hanya diam menikmati makannya.
"Oh ya, kapan kalian berdua bulan madu?"
Jessica langsung menatap Ethan.
"Ethan masih sibuk Ma. Banyak kerjaan penting yang menumpuk."
"Kamu bisa menunda pekerjaanmu Ethan. Bahkan kamu juga bisa menyuruh orang lain mengerjakannya."
"Ethan masih belum memikirkannya Ma."
"Ayolah Ethan. Kalian baru menikah. Apa kata orang nanti melihat Bossnya bekerja sehari setelah pernikahannya? Kamu juga harus membawa jalan-jalan istrimu."
"Jika kalian tidak ingin ke luar negeri, bagaimana jika kamu membawa Jessica ke Villa kita yang di Bandung? Lokasinya juga dekat dengan pantai. Kamu bilang, kamu suka pantai kan sayang? tanya Rossa pada Jessica.
Jessica tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sangat tepat jika kalian pergi ke sana. Menurut Mama lebih baik kalian berangkat besok."
"Kami akan berangkat minggu depan Ma. Besok Ethan ada rapat penting."
"Baiklah. Yang penting kalian jadi bulan madu. Mama tidak sabar menunggu kabar baik dari kalian", ungkap Rossa dengan nada menggoda.
Setelah Rossa pulang, Ethan langsung menuju ruang kerjanya, sementara Jessica menuju kamar mereka.
Ethan sedang mengangkat teleponnya.
"Halo. Apa? Baiklah. Pastikan ia tetap berada di sana."
Ethan menutup panggilannya.
"Akhirnya aku menemukanmu Laurine."
Ethan mendapatkan informasi bahwa Laurine berada di Villa mereka yang berada di Bandung. Lokasinya sangat berdekatan dengan Villa keluarga Ethan.
Ethan langsung menutup ruang kerjanya. Dia menghampiri seorang gadis yang sedang duduk di meja rias.
Mengetahui Ethan menghampirinya, Jessica langsung berdiri menghadap Ethan.
"Ada apa Kak?", dengan senyuman tipisnya.
"Besok kita akan berangkat ke Bandung. Aku berubah pikiran."
Jessica ingin bertanya apa alasan mengapa Ethan berubah pikiran, tapi ia tidak ingin Ethan salah paham.
"Baiklah Kak."
Jessica akhirnya mengiyakan.