
Akhirnya hari pernikahan Ethan dan Jessica tiba. Saat ini rasa gugup sedang melanda Jessica. Ia juga sangat gelisah dan tanggannya begitu dingin.
"Apa kamu gugup sayang? Tenanglah, Kakak dulu juga mengalaminya saat menikah dengan Nicho. Tapi kegugupan Kakak hilang setiap Kakak mengingat bahwa Kakak akan menikah dengan sosok yang begitu Kakak cintai. Kamu bisa memikirkan Ethan."
Ya, dia memang mencintai Ethan. Walaupun Ethan tidak mencintainya, namun ada perasaan bahagia di hati Jessica. Dia akan menikah dengan sosok yang ia cintai.
Entah mengapa, ia tidak bisa lagi membohongi perasaannya. Walaupun awalnya ia tidak percaya bahwa ia akan kembali memiliki perasaan pada Ethan, mengingat perjuangannya untuk melupakan pria itu.
Semuanya lenyap begitu saja.
"Jess..."
"There..."
Jessica sangat senang melihat sahabatnya datang pada pernikahannya. Pernikahan Ethan dan Jessica tergolong tertutup, hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja. Bahkan rekan bisnis Ethan juga tidak diundang. Ethan yang memintanya, dan semua anggota keluarga menyetujuinya.
"Kamu sangat cantik Jess. Aku yakin siapapun akan pangling saat bertemu denganmu. "
"Terima kasih Re. Terima kasih juga sudah datang ke pernikahanku."
"Aku tidak mungkin tidak datang Jess. Kamu adalah sahabat terbaikku."
There mendekat ke Jessica dengan raut wajah sedih bercampur senyuman.
"Jess, apapun tang terjadi di pernikahanmu nanti, aku mohon beritahu aku. Aku siap berbagi denganmu Jess. Tetaplah tersenyum sahabatku, aku akan selalu berada di sampingmu Jess."
"Pasti Re. "
Mereka saling berpelukan satu sama lain.
--
Tiba waktunya menuju altar. Tangan kiri Jessica memegang lengan Papanya. Semua mata tertuju pada Jessica. Seorang gadis cantik dengan Gaun putih yang memegang bunga di tangan kanannya. Walaupun wajahnya ditutupi oleh Veil, namun itu tidak menutupi wajah cantiknya. Marcus menyerahkan tangan Jessica pada Ethan.
"Tolong jaga Putriku. Dia gadis yang baik. ", ucap Marcus saat menyerahkan tangan Jessica pada Ethan.
Ethan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Marcus.
Mendengar penuturan Papanya, Jessica meneteskan air matanya.
Mereka berdua kini berhadapan dan saling berpegangan tangan untuk mengucapkan Janji Suci Pernikahan di depan Pendeta dan seluruh Jemaat.
"Saya Ethan Samuel Jeconiah. Aku mengambil engkau Jessica Ornetha menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Mendengar penuturan Ethan, Jessica menyadari bahwa pernikahan mereka tidak hanya disaksikan oleh Pendeta dan seluruh jemaat tetapi disaksikan juga oleh Tuhan. Pernikahan ini sangat kudus. Dan di altar ini ia sedang berjanji pada Tuhan bahwa ia akan selalu mencintai Ethan sebagai suaminya walau apapun yang terjadi.
Kini giliran Jessica mengucapkan Janji Suci Pernikahan. Ia mengucapkannya dengan nada sedikit menangis.
Saya Jessica Ornetha, aku mengambil engkau Ethan Samuel Jeconiah menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Seluruh Jemaat menangis terharu. Terutama orang tua Ethan dan Jessica.
Setelah mengucapkan Janji Suci Pernikahan, Ethan dan Jessica saling memasangkan cincin. Kemudian Pendeta memberkati pernikahan mereka di hadapan semua jemaat.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Anda bisa mencium Istri anda sekarang."
Ethan membuka penutup kepala Jessica. Ethan melihat wajah Jessica yang sedang menatapnya dengan meneteskan air mata.
Ethan mencium kening gadis itu. Ia bisa merasakan bahu Jessica bergetar saat ia menciumnya.
Seluruh jemaat bertepuk tangan dengan meriah.
--
Setelah acara pemberkatan selesai, mereka berkumpul di kediaman keluarga Ethan.
"Apa kalian berdua tidak tinggal di sini saja untuk sementara sayang?"
"Ma, bukankah kita sudah membicarakannya? Ethan ingin tinggal berdua di rumah kami sendiri Ma."
"Rossa, apa yang dikatakan Ethan benar. Bagaimanapun mereka adalah pengantin baru. Mereka perlu waktu berdua." ungkap Merry kepada Rossa.
"Baiklah sayang, Mama setuju. Tapi berjanjilah kalian akan sering mengunjungi Mama."
"Jessica dan Kak Ethan berjanji Ma. Jika Kak Ethan sibuk, Jessica bisa sendiri mengunjungi Mama", ungkap Jessica.
Jessica dan Ethan berpamitan dengan seluruh anggota keuarga.
Natalie mendekati Jessica dan memeluknya
"Jessica berjanji Ma."
"Pa..
Jessica memeluk Marcus.
"Tolong jaga dia dengan baik Ethan." ucap Marcus kepada Ethan.
"Siap Pa."
"Jessica gadis yang kuat, tapi ia sangat mudah menangis. Kamu harus membuat dia selalu tersenyum ya, "kata Sesil dengan nada memperingati.
"Adikku sudah menjadi istri rupanya. Kakak mohon jangan memiliki anak dulu sebelum Kakak menikah", ungkap Sera dengan nada bercanda.
"Baik Kak."
Kini giliran Rossa mengatakan sesuatu pada Jessica.
" Sekarang kamu sudah menjadi menantu Mama. Mama senang sekali. Apapun yang terjadi nanti, tolong pertahankan pernikahanmu dengan Ethan ya Jess. Mama yakin kamu bisa meluluhkan hatinya."
"Baiklah Ma."
Jessica dan Ethan sudah masuk ke dalam mobil.
Mereka kemudian melambaikan tangan pada semua kelurga.
"Hati-hati sayang", ungkap Rossa saat mobil mereka sudah melaju.
--
Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan sama sekali antara Jessica dan Ethan. Jessica memegang erat Dress pengganti gaun pengantinnya. Sementara Ethan masih memakai Baju pengantinnya. Hanya saja Jasnya sudah ia lepaskan, tersisa kemeja yang saat ini masih ia gunakan.
Beberapa lama kemudian, mobil mereka sampai di rumah besar yang sangat mewah. Jessica menyunggingkan senyuman saat melihat rumah itu. Rumah yang memiliki taman yang sangat indah, namun masih sedikit bunga yang tertanam di sana.
"Masuklah", kata Ethan.
Rumah ini tergolong terlalu besar untuk mereka berdua tempati. Perabotannya beserta perlengkapannya juga sudah lengkap. Jessica mengikuti kemana Ethan pergi. Mereka berhenti di depan kamar yang sangat besar. Jessica yakin ruangan itu adalah Kamar Ethan.
"Mandilah. Setelah itu kita akan berbicara."
"Baik Kak."
Setelah selesai mandi, Ethan dan Jessica duduk di sofa kamar Ethan.
"Aku minta kamu tidak usah bekerja lagi."
Jessica sangat terkejut dengan pernyataan Ethan.
"Aku akan memberimu uang jika kamu ingin berbelanja atau ingin membeli sesuatu. Aku tidak ingin satupun karyawan di kantor tahu jika kita sudah menikah. Kecuali There. Dan tolong beritahu dia untuk tidak memberitahukan siapapun."
Jessica memegang erat baju llyang ia pakai. Ia ingin menolak permintaan Ethan untuk berhenti bekerja. Bagaimanapun ia sangat menyukai pekerjaannya. Tapi, ia sudah berjanji pada Mamanya bahwa ia akan menuruti semua perintah suaminya.
"Dan tolong jangan menganggap serius pernikahan ini. Kita sepakat menikah hanya demi memenuhi permintaan Mama. Kita sama-sama memiliki urusan pribadi. Jadi biarlah seperti itu adanya, sama seperti sebelum kita menikah. Kamu bebas melakukan apapun sebagai istriku, tapi tidak untuk masalah pribadiku. Apa kamu mengerti?"
"Baik Kak."
Jessica ingin menangis saat ini. Tapi ia berusaha menahannya. Ia tidak akan menyerah. Ia akan melakukan yang terbaik untuk pernikahannya. Ia sudah berjanji pada Tuhan dan orang-orang yang dicintainya bahwa ia akan menjadi istri yang baik bagi Ethan dalam kondisi apapun. Jessica tahu itu pasti sulit, tapi ia akan mencobanya.
--
Ethan tadi masuk ke ruangan khusus yang berada di dalam kamarnya dan belum keluar dari sana.
Jessica meyakini bahwa itu adalah ruangan kerja Ethan. Dia sepertinya sedang bekerja, pikirnya.
Hingga pukul 12 Malam, Ethan belum juga kembali. Jessica tidak bisa tidur. Ia ingin memeriksa keadaan Ethan dengan masuk ke ruangan itu. Sedikit keraguan dihatinya saat membuka pintu ruangan itu, tapi ia berusaha memberanikan dirinya. Ia masuk ke dalam ruangan itu. Tempat itu memang Ruang Kerja Ethan. Ada laptop dan banyak berkas-berkas di sana. Ia melihat Ethan sedang tidur di sofa dengan tangan terlipat. Jessica mengambil selimut dan memakaikannya pada Ethan.
Diam-diam Jessica memperhatikan wajah Ethan yang terlihat sangat damai saat tidur. Jessica menyunggingkan senyumannya. Saat ia ingin kembali, ia melihat foto mesra Ethan bersama Laurine di atas meja kerja Ethan. Ada rasa sedih di hatinya. Foto itu seolah-olah mengingatkannya bahwa Ethan hanya mencintai satu wanita, yaitu Laurine.
Ya, bukankah Ethan sudah mengatakan, bahwa pernikahan ini tidak berpengaruh sama sekali padanya?
Jessica kemudian mengalihkan pandangannya dan keluar dari ruangan itu penuh hati-hati.
Jessica kembali ke tempat tidur.
Walaupun masih belum bisa tidur, ia berusaha menutup kedua matanya.