Love You Too Much

Love You Too Much
Kebenaran



Jessica memandang Rossa yang tengah berbaring sambil memegang tangannya.


"Tante, Jessica mohon bangunlah. Jessica sangat sedih melihat Tante seperti ini"


Jesica perlahan meneteskan air matanya.


--


Ethan akhirnya sampai di Rumah Sakit. Ethan langsung menuju Resepsionis untuk menanyakan dimana Ruangan Mamanya dirawat. Ethan kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan Rossa.


Akhirnya Ethan sampai di depan ruangan yang ia tuju.


Ketika membuka pintu, ia melihat seorang wanita yang ia sayangi sedang terbaring di tempat tidur dengan oksigen yang membantu pernapasannya. Sementara di sampingnya, ada gadis yang ia kenali. Gadis itu juga nampak terkejut melihat kehadiran Ethan dan sontak ia langsung berdiri.


"Pak Ethan..., ucap Jessica dengan wajah sangat terkejut.


"Apa kamu yang membawa Mama saya ke rumah sakit?"


Jessica hanya mengganggukkan kepalanya. Dia tidak tahu ingin mengatakan apa. Takdir seakan mempermainkannya. Ia tidak menyangka bahwa Ethan Putra Rossa adalah Ethan Samuel Jeconiah.


"Terima kasih banyak Jessica. Terima kasih telah membawa Mamaku ke rumah sakit."


Jessica melihat kekhawatiran di sorot mata itu. Jessica yakin Ethan sangat menyayangi Mamanya.


--


Jessica berdiri di luar sambil melihat Ethan yang sedang menemani Mamanya. Jessica melihat Ethan mencium tangan Mamanya sambil menangis.


(Bagaimana bisa aku dipertemukan lagi denganmu dengan cara seperti ini? Apa yang harus aku lakukan jika kondisinya begini? Aku akan sulit melupakanmu jika banyak hal-hal di dalam hidupku berhubungan denganmu)


Jessica menangisi takdirnya. Sejauh ini ia sudah melakukan banyak cara untuk melupakan Ethan. Ia mengira bahwa kedatangannya ke Indonesia dapat membuka lembaran baru, namun yang terjadi sebaliknya. Justru masa lalunya semakin hadir di dalam hidupnya.


--


Rossa perlahan membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya. Dan matanya berhenti pada sosok yang sedang tidur sambil menggenggam tangannya. Rossa tersenyum. Ia tahu bahwa putranya itu pasti sangat khawatir saat mengetahui kondisinya.


Dengan kondisi yang masih lemah, Rossa berusaha menggerakkan tubuhnya untuk mengelus kepala Putranya. Namun sebelum melakukan itu Ethan terbangun.


Melihat Rossa yang sudah sadar, Ethan langsung berdiri mendekati ranjang.


"Mama sudah baikan?", katanya dengan senang bercampur lega.


Rossa menganggukkan kepalanya.


Ethan membantu Rossa membuka oksigen yang ia gunakan.


"Apa kamu sangat khawatir sayang?", kata Rossa sambil memegang wajah Ethan dengan lembut.


"Tentu saja Ma. Ethan sampai tidak bisa tidur karna memikirkan Mama. Maafkan perkataan Ethan waktu itu Ma. Ethan janji akan menuruti semua permintaan Mama."


Mendengar hal itu, Rossa berpikir ini kesempatan yang bagus untuk menikahkan Ethan dengan Jessica. Ia juga ingin melihat Ethan menikah secepatnya, mengingat kondisinya yang mungkin saja semakin parah.


"Ethan Mama takut, Mama pergi sebelum melihat kamu menikah."


"Apa yang Mama katakan? Mama pasti akan baik-baik saja. Tolong jangan katakan itu lagi Ma. Ethan janji akan melakukan apa saja agar Mama sembuh."


"Mama hanya punya satu permintaan. Menikahlah dengan gadis pilihan Mama."


Mendengar permintaan Rossa Ethan merasa sangat dilema. Ia tidak akan mungkin menikahi gadis lain selain Laurine. Namun ia juga tidak ingin kehilangan Mamanya. Itu keputusan yang sangat sulit. Ia harus memilih antara Cintanya atau Mamanya.


"Ma.."


Ethan ingin menolak. Namun ia teringat dengan perkataan Dokter kemarin yang mengatakan kepadanya bahwa kemungkinan bangun dari koma ditentukan dari kemauan pasien. Ia tidak bisa membayangkan Rossa akan terbaring koma dalam waktu yang panjang setelah mendengar penolakan Ethan.


"Baiklah Ma. Ethan akan menikah dengan gadis pilihan Mama."


Ethan memutuskan untuk mengorbankan cintanya. Bagaimanapun, ia tidak akan pernah mencintai gadis lain selain Laurine. Ia akan menjalani pernikahan itu demi Mamanya.


"Terima kasih banyak Sayang. Mama yakin kalian akan menjalani pernikahan yang sempurna."


"Ethan, dimana orang yang mengantar Mama ke rumah sakit?", Rossa bermaksud memanggil Jessica dan ingin mengatakan keinginannya juga pada Jessica. Ia yakin Jessica pasti masih berada di rumah sakit. Ia pasti mengkhawatirkan kondisinya juga, sama seperti Ethan.


Dan apa yang dipikirkan Rossa memang benar. Jessica masih berada di rumah sakit. Jessica memutuskan tidak akan pulang sebelum Rossa sadar. Ia sangat mengkhawatirkan Rossa.


"Dia masih ada di ruang tunggu Ma. Dia juga menunggu Mama dari kemarin disini. Ethan udah menyuruhnya pulang, tapi dia bilang dia akan kembali setelah Mama sadar."


"Bolehkan panggil dia kesini sayang? Mama mau ngomong sesuatu padanya."


"Baik Ma."


Ethan pergi ke ruang tunggu dan memanggil Jessica masuk ke ruangan.


Jessica melihat Rossa sadar. Ia tersenyum gembira dan langsung mendekati tempat tidur.


"Tante udah sadar? Jessica senang sekali Tante."


Ethan heran melihat Rossa dan Jessica yang terlihat sangat akrab, seperti sudah mengenal sebelumnya. Dia sebelumnya mengira bahwa Jessica hanya sebatas orang membawa Rossa ke rumah sakit.


"Apa Mama mengenal Jessica?"


Jessica baru menyadari Ethan berada di ruangan yang sama dengannya. Dia sangat malu dengan apa yang dia barusan lakukan tadi.


"Dia gadis yang menemani Mama saat di rumah sakit sayang. Saat Mama menangis, dia datang dan menghibur Mama. Dia gadis yang sangat perhatian. Dan, apa kamu juga sudah mengenal Jessica?"


"Jessica adalah karyawan baru di kantorku Ma."


Jessica dan Ethan sekilas saling bertatapan.


"Jessica", sambil memegang tangan Jessica


"Iya Tan."


"Apa kamu mau menikah dengan Ethan, anak Tante?"


Mendengar hal itu, membuat Jessica tidak percaya. Bagaimana mungkin Rossa ingin menikahkannya dengan pria yang selama ini ia ingin lupakan. Jessica melihat ke arah Ethan. Pria itu juga sama terkejutnya.


"Tante..., dengan nada tidak percaya.


"Maksud Mama, Jessica adalah gadis pilihan Mama yang Mama ceritakan?"


"Iya sayang."


"Jess, Ethan sudah menyetujui pernikahan ini.Tante hanya ingin mendengar keputusan kamu sayang.


Jessica bingung ingin mengatakan apa. Ia masih tidak menyangka ini semua terjadi padanya. Mulai dari bekerja di kantor Ethan, bertemu Rossa yang tak lain adalah Mama Ethan dan sekarang pernyataan bahwa ia akan menikah dengan Ethan.


"Tante... Tolong berikan waktu untuk Jessica mempertimbangkannya Tan."


Tentu saja ia ingin menolak. Walau ia masih memiliki perasaan pada Ethan, ia tidak ingin menjalani pernikahan tanpa cinta. Baginya pernikahan itu kudus, satu kali seumur hidup. Ia juga ingin menikah dengan pria yang mencintainya.


Jessica tahu Ethan sudah mencintai Laurine, akan sulit bagi mereka menjalani pernikahan yang bahagia nanti. Ia akan memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab permintaan Rossa. Ia juga tidak ingin menyakiti perasaan wanita itu. Dia sangat menyayangi Rossa.


"Baiklah sayang. Tante juga tahu kamu pasti terkejut dengan permintaan Tante yang tiba-tiba. Tante berharap kamu mengambil keputusan yang tepat."


---


Ethan mengantarJessica ke pintu keluar. Tiba-tiba suasana di antara mereka berubah menjadi sangat canggung.


"Saya hanya bisa mengantarkan kamu di sini."


"Baiklah, tidak apa-apa Pak."


"Semoga kamu mengambil keputusan yang tepat."


Ethan langsung berbalik dan pergi menuju ruangan Rossa. Raut wajah Ethan menunjukkan bahwa ia sangat tidak menginginkan pernikahan ini. Jessica harus menolak pernikahan ini. Ia tidak bisa memisahkan dua orang yang saling mencintai. Ia tidak ingin menjadi benalu dalam hubungan mereka.