
Ethan memarkirkan mobilnya ke dalam bagasi. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan cepat.
Ia melihat tidak ada siapapun di dalam rumah. Ia memeriksa kamar gadis itu, namun gadis itu juga tidak ada di sana.
Ethan berkacak pinggang karena tidak menemukan Jessica.
(Apa ia pergi bersama Dave lagi?)
Ethan mencari keberadaan Jessica lagi, telinganya samar-samar mendengar suara senandung seorang gadis. Ia mencari sumber suara itu.
Akhirnya Ethan menemukan Jessica di pekarangan yang terletak di samping rumah. Gadis itu sedang asyik menyirami tanamannya.
Ethan menarik napas lega.
Ia masih menatap gadis itu dari kejauhan.
Jessica meletakkan teko airnya, ia sudah selesai menyiram tanamannya.
Ia kemudian membalikkan tubuhnya. Jessica terkejut melihat Ethan berdiri di sana.
(Tumben Kak Ethan cepat pulang)
Jessica lalu melangkahkan kakinya menghampiri Ethan.
"Apa Kakak pulang cepat hari ini?" ucap Jessica dengan tersenyum.
Ethan hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka diam sesaat dengan posisi yang masih sama.
Mereka saling bertatapan sesekali dan kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ethan membuka suara, "Apa Dave sudah kembali?"
Jessica menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah Ethan.
"Apa Kakak membutuhkan sesuatu dariku?"
Ethan memahami pertanyaan Jessica yang sepertinya menanyakan alasan mengapa ia berada di tempat yang sama dengan gadis itu.
"Tidak, aku hanya mengangkat telepon tadi."
Ethan menatap Jessica, "Aku akan kembali ke dalam kamar."
"Baik Kak." ucap Jessica dengan senyuman tipis.
Ethan lalu pergi meninggalkannya dan masuk ke dalam rumah.
Jessica juga kemudian masuk ke dalam rumah.
---
Ethan berada di ruang kerjanya. Ia mengerjakan pekerjaan kantor di rumah mengingat ia pulang dengan cepat tadi.
Tiba-tiba perut Ethan berbunyi, ia kemudian menyadari bahwa Ia belum sempat makan siang tadi. Ethan memegang perutnya yang sangat kelaparan.
Ethan memutuskan turun ke bawah mencoba memasakkan sesuatu untuknya. Ia mengambil telur di dalam kulkas dan meletakkan wajan di atas kompor.
Ia mulai memasak.
Kebetulan Jessica ke dapur untuk mengambil air minum, ia melihat Ethan yang sedang memasak telur.
Jessica tertawa geli melihat pria itu yang begitu lucu saat menghindari cipratan minyak. Warna telur yang ia masak juga sudah bewarna hitam kecoklatan.
"Aku akan memasakkannya untuk Kakak."
Ethan mematikan kompor dan menggeser posisinya.
Tiba-tiba suara perut Ethan berbunyi lagi. Refleks Jessica tertawa. Melihat Jessica yang menertawakannya, Ethan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia malu saat gadis itu tahu bahwa dia sedang kelaparan.
"Duduklah Kak, aku akan memasaknya dengan cepat." ucap Jessica dengan memberikan senyuman pada Ethan.
Ethan tidak menjawab apa-apa, ia kemudian duduk di kursi meja makan.
Jessica mengambil celemek dan memakaikannya ke tubuhnya.
Ethan melihat Jessica yang begitu serius memasakkan makanan untuknya. Gadis itu juga menggerakkan tubuhnya dengan cepat. Ethan tahu Jessica melakukannya karena dirinya yang sedang kelaparan.
Dalam waktu 15 Menit masakan Jessica sudah terhidang di atas meja. Gadis itu masak nasi goreng telur untuk Ethan.
Ethan menatap masakan itu. Jessica juga masih berdiri di sana.
Jessica bermaksud meninggalkan Ethan dan kembali ke kamar, ia tidak ingin membuat selera makan pria itu menjadi tidak baik.
"Duduklah, temani aku makan."
Ucapan Ethan menghentikan langkah Jessica.
Jessica membalikkan tubuhnya, ia terkejut mendengar perkataan Ethan. Ia menatap Ethan yang juga sedang menatapnya. Ia lalu menggeser kursi dan duduk di samping Ethan.
Jessica mengamati Ethan yang sedang menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan perlahan.
(Apa rasanya kurang lezat?)
Ethan tiba-tiba melihat Jessica yang sedang mengamatinya. Jessica langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Rasanya sangat lezat." ucap Ethan ketika mengetahui bahwa gadis itu sangat penasaran dengan pendapatnya terhadap masakannya.
Jessica langsung menatap Ethan dengan senyuman setelah mendengar perkataan pria itu yang memuji masakannya.
Jessica begitu senang, hal itu cukup membuatnya bahagia.
Ethan tersenyum geli melihat wajah Jessica yang mengeluarkan semburat merah ketika ia memuji masakan gadis itu.
Bodoh, pikirnya.
Jessica mencuci piring yang digunakan Ethan tadi sementara Ethan masih duduk di meja makan.
Setelah selesai, Jessica langsung mengeringkan tangannya dengan sapu tangan.
Ethan tampak berdiri dan berhadapan dengan Jessica.
Jessica diam sesaat melihat Ethan yang berdiri di hadapannya.
"Terima kasih." ucap Ethan pada Jessica.
Jessica menaikkan wajahnya dan menganggukkan kepalanya pada Ethan. Pria itu langsung naik ke kamarnya.
Jessica memandangi punggung pria itu yang semakin tidak kelihatan. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar.
Jessica duduk di depan meja rias, ia memegang wajahnya yang begitu memerah dan kemudian memegang dada kirinya yang begetar sangat kencang.
"Mengapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri? Mengapa perasaanku masih sangat banyak untuknya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Walaupun Ethan sering menyakitinya, entah mengapa Jessica tidak bisa berhenti mencintai Pria itu. Baik dulu, maupun sekarang.