Love You Too Much

Love You Too Much
Malam pertama



Laurine duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepalanya


Ia masih belum tidur dari tadi.


Ia memikirkan perubahan dalam diri Ethan.


Mengapa Ethan bersikap seperti itu?


Apa Pria itu tidak peduli lagi pada dirinya?


Chris berdiri di depan pintu ruangan Laurine. Ia ingin memeriksa keadaan gadis itu.


Chris membuka pintu itu.


Ia terkejut melihat Laurine yang belum tidur. Padahal jam sudah menunjukkan Pukul 10 Malam.


Chris menghampiri Laurine.


"Laurine.."


Sontak hal itu membuat Laurine menaikkan wajahnya dan melihat ke arah sumber suara.


Chris melihat wajah sedih itu.


"Mengapa kamu belum tidur?"


"Aku hanya tidak bisa tidur Kak."


"Apa ada sesuatu yang terjadi? Kamu merasakan sakit?"


Laurine tersenyum pada Chris.


"Aku tidak apa-apa Kak. Hanya tidak bisa tidur saja."


"Oh baiklah.


Bagaimana jika aku mengajakmu menontom film?


Laurine mengernyitkan keningnya.


"Aku yakin setelah kamu menonton, kamu pasti bisa tidur."


Laurine tersenyum mendengar penuturan Chris.


"Kamu mau menonton film bersamaku?"


Laurine menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Chris mengambil laptopnya dan meletakkannya di atas meja.


Laurine duduk di atas sofa dan Chris duduk di sampingnya.


Film yang mereka tonton bergenre Horror. Sebenarnya Laurine takut menonton film Horror, namun kali ini ia berusaha memberanikan dirinya.


Saat menegangkan membuat Laurine menggenggam erat bajunya.


Tiba-tiba Hantu dalam film itu muncul, membuat Laurine refleks bersembunyi di bahu Chris.


Chris tersenyum melihat hal itu.


Sebenarnya Chris tahu Laurine ketakutan dari tadi.


Menyadari kebodohannya, perlahan Laurine mengangkat wajahnya.


Matanya bertemu dengan mata Chris.


Ia begitu malu saat ini.


"Maaf Kak.


Aku tidak bermaksud melakukannya." ucap Laurine dengan nada lembut.


"Tidak apa-apa.


"Aku sudah mengantuk Kak. Aku ingin tidur."


Laurine langsung beranjak dari duduknya menuju ke tempat tidur. Ia ingin menghindari tatapan Chris. Pria itu tidak boleh tahu bahwa ia sangat malu saat ini.


Ia menghentikan langkahnya. Seharusnya ia tidak boleh begini, ia tidak sopan jika meninggalkan Chris menonton sendirian.


Laurine membalikkan tubuhnya.


"Maaf Kak.


Apa boleh jika kita melanjutkan filmnya di lain hari lagi?"


Chris berdiri dan tersenyum pada Laurine.


"Tentu saja, kita bisa melanjutkan filmnya di lain hari.


Kamu tidurlah. Bagus jika kamu sudah mengantuk. Aku akan keluar sekarang."


Chris mengambil laptopnya dan mengangkatkatnya.


"Selamat tidur." ucap Chris pada Laurine.


Laurine tersenyum pada Chris.


Chris kemudian keluar dari ruangan Laurine.


Sesampainya di depan ruangan Laurine, Chris tersenyum. Ia senang bisa membuat Laurine tersenyum kembali.


Sementara Jessica sedang berada di ruang kerja Ethan. Ia menunggu Ethan menyelesaikan pekerjaannya.


Jessica duduk depan meja Ethan. Ia tersenyum melihat Ethan yang tampak sangat tampan dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.


Ethan menyadari Jessica yang memandanginya dari tadi.


Ia kemudian menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya pada Jessica.


Gadis itu tampak gugup saat ia ketahuan sedang menatap wajah Ethan.


Ethan tersenyum geli melihat Jessica yang sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kemarilah." ucap Ethan pada Jessica.


Jessica menatap Ethan sebentar kemudian berjalan mendekatinya.


Ethan menarik Jessica ke pangkuannya. Posisi mereka sangat dekat saat ini.


"Aku tahu tahu kamu memandangiku dari tadi


Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?


Katakanlah."


Jessica tidak menjawab pertanyaan Ethan. Ia berusaha mengontrol dirinya sendiri. Ia tidak bisa berpikiran apapun dengan posisi seperti itu.


"Apa kamu bermaksud menggodaku hem?"


"Kak Ethan, aku tidak.."


ucapan Jessica terhenti saat Ethan mengecup bibirnya.


Ethan perlahan melepaskan ciumannya.


Mereka saling bertatapan


Ethan kemudian mengelus pipi Jessica dengan lembut. Ia begitu mengagumi kecantikan Istrinya itu. Ia menyesali perbuatannya yang pernah membuat gadis itu terluka.


"Aku sangat mencintaimu Jess." ucap Ethan dengan lembut.


Jessica tersenyum bahagia mendengar ungkapan perasaan Ethan padanya.


Ethan sangat bahagia mendengar hal itu.


Selamanya gadis itu hanya akan jadi miliknya.


Ethan mencium kening Jessica dengan lembut. Kemudian berganti ke hidung dan berakhir di bibir Jessica.


Ethan menyesap bibir itu dengan lembut. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut namun tidak menghilangkan kesan lembut di sana.


Ethan menarik tangan Jessica dan mengalungkannya ke lehernya. Ia menarik pinggang Jessica lebih dekat dengannya.


Kini rasa cinta menambah perasaan birahi di antara mereka.


Ethan begitu menyukai rasa bibir itu. Ia ******* bibir Jessica seakan tidak ada hari esok.


Namun Ethan harus melepaskan ciumannya saat menyadari Jessica sulit untuk bernapas.


Ethan dan Jessica saling menempelkan kening mereka, napas mereka juga belum teratur seutuhnya.


Ethan mengelus bibir Jessica yang tampak bengkak akibat ulahnya.


Ia tersenyum bahagia.


Kemudian Ethan mengangkat tubuh Jessica menuju kamar mereka. Refleks, Jessica mengalungkan tangannya pada leher Ethan.


Ethan meletakkan tubuh Jessica ke ranjang dan kemudian naik dan duduk di hadapan Jessica.


"Aku menginginkanmu Jess."


Jessica melihat wajah itu, wajah yang sangat ingin menyentuhnya saat ini.


Jessica menganggukkan kepalanya dengan lembut. Sebagai sebagai Suami Istri, sudah sewajarnya mereka melakukannya.


Jessica juga sangat mencintai Ethan, ia akan memberikan dirinya pada Ethan.


Ethan mendekatkan dirinya pada Jessica.


Ia mencium bibir Jessica dengan lembut.


Tangannya bergerak membuka kancing gaun tidur Jessica satu per satu.


Gaun itu ia jatuhkan ke bawah lantai. Sekarang hanya tersisa bra bewarna hitam dan celana dalam dengan warna senada yang melekat di tubuh Jessica.


Sejenak Ethan menghentikan kegiatannya. Ia terpukau dengan pemandangan di depannya.


Tubuh itu, miliknya.


Ethan membuka kaus yang melekat di tubuhnya. Ia bertelanjang dada saat ini.


Ethan menatap wajah Jessica dan kemudian tersenyum pada gadis itu.


"Aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu Jess. Aku mencintaimu."


Jessica membalas Ethan dengan senyuman. Ia tidak merasakan takut ataupun gugup saat ini. Yang ia rasakan saat ini adalah kebahagiaan.


Ethan mencium bibir itu lagi lalu menuju ke leher Jessica. Untuk pertama kalinya, Jessica mendesah saat Ethan mencium dan menghisap lehernya. Tidak ada rasa kegelian di sana.


Pria itu sesekali menggigit kecil area itu sehingga meninggalkan tanda di sana.


Ciuman itu beralih ke dada Jessica yang masih terbungkus sempurna.


Ethan perlahan membuka kancing bra Jessica dan menampilkan dua gundukan yang begitu sempurna.


Ethan langsung mencium gundukan itu.


Ia menjilat dan kemudian melahapnya seperti seorang bayi yang sedang kelaparan.


Jessica semakin mendesah saat Ethan meremas keduanya.


"Ah..."


Suara itu lolos dari bibir Jessica.


Ethan perlahan menautkan tangannya pada tangan Jessica yang berada di atas. Tangannya menggenggam erat tangan itu.


Ethan kemudian mencium perut rata Jessica.


Di sanalah bayi mereka akan tumbuh nanti.


Ia tersenyum dan kembali menciumnya.


Ia kemudian menurunkan pandangannya pada bagian bawah Jessica.


Ia membuka benda di sana dan melepaskannya dengan perlahan.


Sangat indah, pikirnya.


Tidak ingin berlama-lama, Ethan langsung membuka celannya.


Mereka berdua sama-sama telanjang saat ini.


Tidak ada pakaian yang melapisi tubuh polos mereka.


Ethan naik ke atas tubuh Jessica.


Ia perlahan menempelkan juniornya pada alat vital Jessica.


Ia kemudian menatap wajah Jessica dengan lembut.


"Kamu boleh meminta Kakak berhenti jika kamu kesakitan, hem??


Jessica menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Ethan.


Jessica merasakan kesakitan luar biasa saat benda itu perlahan masuk ke dalam dirinya.


Ethan merupakan yang pertama baginya, Ia menyerahkan Mahkotanya pada Suaminya.


Ethan menyadari hal itu.


Ia kemudian mencium bibir Jessica dengan lembut.


Ethan perlahan menggerakkan tubuhnya.


Jessica menggenggam tangan Ethan dengan erat. Peluh mulai membasahi tubuh keduanya.


Ethan memeluk tubuh Jessica dan mencium kening gadis itu dengan lembut.


"Terima kasih Sayang.


Apa tadi aku menyakitimu?"


Jessica perlahan menggelengkan kepalanya.


"Kakak tidak menyakitiku sama sekali."


"Aku tahu ini yang pertama bagimu, rasanya pasti sangat sakit kan?"


"Tidak, tidak sama sekali.


Karena Cinta Kakak menghilangkan rasa kesakitanku tadi."


"Benarkah?" .


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Aku mencintaimu." ucap Ethan dan mengecup bibir Jessica sekilas.


Ethan kemudian menarik Jessica ke dalam pelukannya.


Ia berharap Jessica segera mengandung anak mereka.