
Laurine menatap sosok di yang tengah berjongkok di hadapannya tanpa berkedip sekalipun.
Ia masih tidak percaya bahwa sosok yang di depannya adalah Chris.
Bukankah Chris sudah pergi tadi?
"Laurine..."
Ya, Chris yang di depannya memang nyata, dia sedang tidak bermimpi saat ini.
Laurine seketika langsung memeluk tubuh Chris dengan erat.
Ia menangis di pelukan Chris.
"Aku mencintaimu Kak..
Aku mencintaimu."
Chris begitu terkejut mendengar pernyataan cinta Laurine padanya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku Kak."
ucap Laurine dengan terbata-bata.
Chris mengurai tubuhnya dari Laurine.
Kini ia bertatapan dengan Laurine yang mengeluarkan banyak air mata.
"Laurine, kamu..
Kamu mencintaiku?"
Laurine tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Apa sudah terlambat untuk mengakui perasaanku Kak?"
Chris tersenyum pada Laurine.
Ia kemudian menghapus air mata Laurine.
"Tentu saja tidak Lau.
Bahkan selamanya aku akan tetap menunggumu jika kamu belum juga mencintaiku."
Chris menarik Laurine ke dalam pelukannya dan mengelus kepala Laurine dengan lembut.
Laurine membalas pelukan Chris.
Ia tersenyum bahagia.
Akhirnya ia masih memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaanya pada Chris.
Laurine memandang Chris yang sedang mengobati kakinya.
Pria itu memberikan obat luka pada kakinya yang sedikit lecet akibat berlarian tadi.
"Apa ini sakit?" tanya Chris pada Laurine.
"Sedikit Kak."
"Apa yang kamu lakukan sehingga kamu bisa mendapatkan luka ini Lau?
Terus, mengapa kamu duduk di depan pintu masuk tadi?"
Chris selesai mengobati luka Laurine dan kemudian duduk di sampingnya.
"Sebenarnya aku..."
Begitu memalukan jika sekarang harus mengakuinya pada Chris.
Hanya karena kecemburuannya yang konyol ia rela melakukan itu semua.
Karena saat itu ia takut Chris berpaling pada Gadis SMA itu.
"Sebenarnya apa Lau?"
"Aku tadi berlari mengejar Kakak."
"Berlari dengan kondisi kaki seperti ini?"
"Aku mendengar pembicaraan Gadis SMA itu bahwa ia akan mengajak Kakak ke pesta malam ini. Dan dia juga akan menyatakan perasaannya pada Kakak."
"Terus?"
"Kakak menerima ajakannya. Jadi aku takut Kakak juga akan menerima perasaan Gadis itu.
Aku berusaha agar dapat bertemu dengan Kakak lebih dahulu dari Gadis itu.
Aku berlari sehingga aku terjatuh dan mendapatkan luka ini."
"Kamu bodoh Lau."
ucap Chris dengan senyuman geli di wajahnya.
"Hem..?"
Laurine mengerutkan keningnya.
"Tapi aku begitu menyukainya."
Laurine memandangnya dengan tatapan bingung.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu? Sangat sulit bagiku untuk melupakanmu dan berpaling pada Gadis lain."
"Tapi Kakak menerima ajakannya."
Laurine mengerucutkan bibirnya.
"Siapa bilang aku menerima ajakannya?
Memang awalnya aku berniat untuk menerima ajakannya, tapi ada hal penting lain yang membuatku akhirnya tidak jadi pergi."
"Hal penting? Apa hal penting itu Kak?"
"Kamu, kamu Lau.
Monica memberitahuku bahwa kakimu terluka akibat jatuh di kamar mandi. Mendengar hal itu, aku langsung membatalkannya dan berniat untuk menemuimu. Namun saat aku ingin menuju ruanganmu, aku melihatmu duduk di depan pintu masuk."
Chris memegang pipi Laurine.
"Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dengan Tania Lau."
Laurine kembali meneteskan air matanya.
Ia sedih setiap kali mengingat kedekatan Chris dengan Gadis itu.
"Aku dekat dengan Tania hanya sebagai Dokter dengan Pasien Lau. Dia juga sudah kuanggap seperti Adikku.
Aku senang kamu cemburu."
"Ya, aku memang cemburu Kak.
Aku juga akhirnya menyadari perasaanku saat aku cemburu melihatmu bersama Gadis itu."
"Bukankah kita harus berterima kasih pada Tania?"
"Hem?"
"Karna dia kamu akhirnya menyadari perasaanmu. Dan kita bisa saat ini, karena dia juga bukan?"
Laurine menganggukkan kepalanya.
"Dan ini juga berkat Monica Kak. Dia yang meyakinkanku bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama untuk Kakak.
Kita harus berterima kasih padanya juga."
"Iya sayang, besok aku akan mengucapkan terima kasih padanya."
Mendengar kata "sayang" dari Chris membuat Laurine begitu gugup. Semburat merah perlahan muncul di ke dua pipinya.
"Apa kamu sudah makan?"
Laurine menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kita pergi keluar mencari makanan?"
Laurine tersenyum merekah.
"Aku mau Kak.
Aku juga jarang pergi keluar."
Laurine teringat terakhir kali ia pergi keluar membuat Chris marah besar padanya.
"Kamu boleh pergi keluar asalkan pergi dengan Kakak, mengerti?"
Chris mengelus kepala Laurine.
"Aku mengerti Kak."
"Tunggu sebentar Lau. Aku akan mengambil kursi roda untukmu."
Beberapa saat kemudian, Chris kembali dengan membawa kursi roda untuk Laurine.
Chris meletakkan tubuh Laurine ke atas kursi roda.
"Baiklah, ayo kita pergi keluar."
"Ayo Kak."
"Sebentar, kamu harus memakai jaket terlebih dahulu Lau."
Chris mengambil jaket Laurine yang berada di atas sofa dan kemudian memakaikannya ke tubuh Laurine.
Laurine hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan manis dari Chris.
"Ayo.."
Chris mendorong kursi roda Laurine.
Selama makan malam, Laurine selalu mendapat perlakuan manis dari Chris.
Mulai dari memotong steak yang berada di piringnya hingga membersihkan bibirnya yang belepotan akibat terkena saus.
Chris juga begitu bahagia bisa memberikan perlakuan manis pada Laurine.
Dia masih tidak menyangka bahwa Laurine juga mencintainya.
Hari ini adalah salah satu momen terbaik di dalam hidupnya, saat Gadis yang ia cintai mengatakan bahwa ia juga mencintainya.
Rasanya seperti mimpi, jika mengingat kejadian tadi.
Karena sebenarnya, ia juga tidak terlalu banyak berharap pada Laurine.
Satu alasan terbesarnya adalah karena tidak ingin menambah penderitaan pada Gadis itu.
Laurine sudah cukup menderita di dalam hidupnya.
Jika ia tidak bisa menjadi Pria yang dicintai oleh Laurine, paling tidak ia bisa menjadi Teman yang baik untuknya.
Itu yang ia pegang semenjak ia menyatakan perasaanya pada Laurine malam itu.
Gadis itu sempat menolak, jadi ia pikir ia tidak memiliki kesempatan lagi.
Dan lihat!
Sekarang Gadis itu tengah duduk di hadapannya. Memandangnya dengan penuh senyuman. Senyuman yang selama ini ia harapkan selalu muncul di wajah cantik itu.
"Aku mencintaimu Lau."
Laurine diam sesaat hingga ia menampilkan senyumnya kembali.
"Aku juga mencintaimu Kak."
Chris menggenggam tangan Laurine dengan erat.
Mereka berdua bahagia.
Bukan, malah bisa dikatakan sangat bahagia.
Kerena kebahagiaan terbesar adalah bersama orang yang kita cintai, bukan?
😊😊😊
Note:
*Ci*nta sejati adalah cinta yang tidak pernah berpikir untuk mendapatkan balasan.
Karena kebahagiaan orang itu adalah yang terpenting.