
Matahari pagi membangunkan pria yang bergelut di bawah selimut. Ethan membuka matanya dan memegang kepalanya yang begitu sakit. Sebuah sapu tangan basah menempel di kepalanya. Dia mengambilnya dan melihat ke sekelilingnya. Ia bingung mengapa ia bisa tidur di ranjang, karena ia biasanya tidur di sofa ruangan kerjanya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Ia kemudian menyadari apa yang terjadi, mulai dari Laurine yang mengakhiri hubungan mereka sampai ia pulang ke rumah. Ya, iya ingat kejadian saat ia mengucapkan kata-kata kasar pada gadis itu.
Ia kemudian melihat baju yang dipakainya bukan baju yang ia kenakan semalam.
(Apa gadis itu yang mengganti bajuku?)
Ethan sangat lapar dan haus, ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Ethan menuruni anak tangga, rumah sangat sepi tidak ada siapa-siapa. Biasanya setiap pagi gadis itu menyapanya dengan senyuman dan menawarkannya sarapan pagi.
Ethan melihat di atas meja ada bubur dan kotak obat. Dia memakan bubur itu dengan lahap, kondisi membuatnya tidak bisa menolak. Kemudian ia mengambil air minum dan meminum obat itu.
Ethan kemudian menatap sekelilingnya. Dekorasi yang ia lihat kemarin sudah tidak ada lagi. Ya, gadis itu sudah melepaskannya. Ada rasa bersalah di dalam hatinya, gadis itu pasti sudah mempersiapkan segalanya kemarin. Ia bahkan masih sempat menyiapkan bubur dan obat meskipun Ethan sudah memarahinya semalam.
Setelah selesai makan, Ethan mencuci tempat bubur tadi, dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ethan membersihkan dirinya dan segera berpakaian. Hari ini dia akan rapat dengan Client.
--
Jessica sedang duduk di ranjang sambil memandang ke luar jendela.
"Apa ia akan membuang bubur itu?"
Ia memikirkan pernikahannya yang sangat rumit. Ia pernah berjanji akan tetap melakukan tugasnya sebagai istri, tapi jika Ethan memintanya berhenti, apa yang harus ia lakukan? Dia juga tidak bisa egois dan membuat Ethan semakin membencinya. Ia meneteskan air matanya lagi. Ia kemudian memutuskan keluar rumah untuk menghirup napas segar. Pada saat mengunci rumah, seseorang memanggil namanya.
"Eh Non Jessica."
"Ibu Ima, "Jessica menghampiri Ibu Rossa dan mencium tangannya.
"Sudah lama tidak bertemu Nona."
"Iya Bu, saya juga baru kembali dari Amerika sekitar 3 bulan yang lalu."
"Iya, saya juga udah dengar dari Bapak saat Nona kembali waktu itu."
"Oh ya, Ibu mau kemana?"
"Saya mau ke pekarangan Non. Mau nanam bunga."
"Tentu saja Non."
--
Jessica dan Irma sedang menanam bunga di pekarangan.
"Saya dengar Nona sudah menikah. Bagaimana kabar pernikahan Nona?"
"Sebelumnya Jessica minta maaf karna tidak mengundang Ibu ke pernikahan kami. Pernikahan Jessica baik-baik saja Bu."
"Tidak apa-apa Non. Nona menikah saja, udah membuat Ibu bahagia. Ibu masih ingat sewaktu kecil Nona sering bermain di sini. Eh sekarang Nona bahkan sudah memiliki keluarga."
"Apa Suami Nona ikut?"
Jessica menatap Ima dan kemudian tersenyum tipis, "Tidak Bu, Suami saya sedang bekerja. Jadi ia tidak sempat kemari. Lagian saya cuma sehari di sini Bu. Kamis saya sudah kembali ke Jakarta."
"Oh begitu. Semoga Nona sampai di Jakarta dengan selamat."
"Amin Bu. Sampaikan salam saya pada Bapak dan Keluarga."
"Baik Non, nanti saya sampaikan."
--
Pukul 8 Malam Ethan sudah kembali ke rumah. Lagi-lagi ia tidak melihat gadis itu. Biasanya ia akan menunggu Ethan pulang.
Apa ia melarikan diri?, tanyanya di dalam hati.
Ia memeriksa lemari pakaian dan ternyata pakaian Jessica masih ada di dalam lemari.
"Apa aku harus menelpon There? Aku yakin dia pasti berada di sana. Tidak, tidak. Aku akan menunggu sampai besok, dia pasti akan kembali. Ethan kemudian pergi ke ruangan kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan tadi di kantor.