Love You Too Much

Love You Too Much
Gelisah



Keesokan harinya


Jessica tengah sibuk membereskan barang miliknya dan milik Ethan. Hari ini mereka akan kembali ke Jakarta sekaligus Ethan akan ke pergi ke kantor, pria itu ada rapat penting penting dengan karyawannya.


Tampak seorang pria yang keluar dari kamar mandi lengkap dengan setelan jas kantor yang sudah melekat di tubuhnya.


Ethan memakaikan dasinya dengan terburu-buru dan membawa turun kedua koper mereka.


Jessica mengikuti Ethan dari belakang. Seluruh anggota keluarga tengah menunggu mereka di bawah.


"Bukankah kalian pulang terlalu cepat sayang?" ucap Merry dengan nada sedih.


Ethan langsung menghampiri neneknya, dan memeluk tubuh wanita itu.


"Nek.. Ethan dan Jessica sudah seminggu di sini. Kantor sangat membutuhkan Ethan sekarang. Ethan janji kami akan kembali lagi jika Ethan tidak memiliki jadwal apapun di kantor."


"Baiklah sayang, pokoknya kalian harus sering datang kemari."


"Baiklah Nek." ucap Ethan.


"Kamu juga Jess, tolong jaga kesehatanmu ya sayang."


"Baik Nek, Nenek juga jaga kesehatan ya."


Jessica memberikan pelukan pada wanita itu.


"Kami pamit Paman, Bi." ucap Ethan pada Joseph dan Veronica.


"Baiklah sayang, jaga diri kalian."


"Kak..." Ethan pamit pada Joshua.


"Baiklah hati-hati di jalan Ethan."


Kevin berlari memeluk Jessica dengan erat. Anak itu tampak tidak ingin melepaskan kepergian Jessica.


Jessica mengelus kepala anak itu. Anak itu kemudian menengadahkan pandangannya.


"Tante jangan tinggalin Kevin, Kevin tidak ingin Tante pergi", ucap Kevin dengan nada sedih.


Jessica menghapus air mata anak itu. Ia juga sebenarnya tidak ingin berpisah dengan anak itu.


"Tante tidak pergi jauh kok sayang. Kevin kan bisa main-main ke Jakarta. Nanti, kalo Kevin datang ke rumah, Tante janji buatkan Kevin kue yang banyak. Dan satu lagi, es krim kesukaan Kevin. Bagaimana?"


Kevin tetap tidak rela Jessica meninggalkannya.


Ethan kemudian menghampiri anak itu.


"Kevin... Om kan harus bekerja, jadi Om dan Tante harus kembali ke Jakarta sayang. Kalo Om dan Tante tidak kembali, Gimana mendapatkan uangnya dong sayang? Nanti jika Kevin main ke Jakarta, Om akan belikan mainan terbaru buat Kevin. Mau kan?"


Kali ini Kevin menganggukkan kepalanya.


Ethan tersenyum dan mengangkat tangannya kepada Kevin "Tos.."


Kevin membalas tangan Ethan.


Ethan mengelus kepala anak itu dengan lembut.


Ethan dan Jessica pamit kepada Dave.


Ethan tersenyum tipis pada Dave dan memberinya salam. Bagaimanapun pria itu adalah sepupunya dan mereka pernah tumbuh bersama.


"Hati-hati di jalan." ucap Dave dengan tersenyum


Kini giliran Jessica.


"Apa kamu akan memasakkan aku makanan yang lezat jika aku datang ke rumah kalian?"


Jessica tersenyum menanggapi pertanyaan Dave, "Tentu saja Kak. Datanglah, aku akan memasakkan makanan lezat untuk Kakak.


Ethan dan Jessica kemudian menghampiri Rossa.


"Ma.."


Ethan memberikan pelukan pada Rossa.


"Hati-hati sayang."


Kemudian mata Rossa tertuju pada dasi Ethan yang tidak rapi.


"Sayang, kamu kebiasaan tidak pernah memakai dasi dengan rapi. Minta istrimu memakaikannya kembali."


Ethan melihat dasinya yang memang tidak rapi, dari dulu ia tidak pandai memakai dasi. Biasanya ia akan meminta bantuan Laurine untuk memakaikannya.


Ethan menghadap pada Jessica. Jessica melihat ekspresi Ethan yang sedang meminta bantuannya untuk memakaikan dasinya.


Jessica memajukan langkahnya, dan memakaikan kembali dasi Ethan. Ini pertama kalinya ia memakaikan dasi pria itu. Posisi mereka yang begitu dekat membuat aroma parfum Ethan menyeruak ke hidung Jessica. Jessica menyukai bau itu, bau yang sering ia rasakan saat Ethan pergi ke kantor.


Ethan menundukkan kepalanya menatap Jessica yang sedang memakaikan dasinya. Gadis itu sangat telaten.


Semua anggota keluarga begitu bahagia melihat keromantisan Ethan dan Jessica.


Namun tidak dengan Laurine. Ia tidak suka melihat Jessica yang sedang mengambil posisinya sekarang.


(Harusnya aku yang memakaikan dasi Kak Ethan)


Laurine tampak mengeratkan genggaman tangannya.


Jessica selesai memakaikan dasi Ethan. Ia menatap mata Ethan sekilas. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Istrimu memang mahir dalam segala hal", ucap Rossa dengan senyum bangga.


"Oh ya, bukankah Laurine juga kembali hari ini?"


Dave langsung memajukan langkahnya.


"Dave yang akan mengantarnya kembali ke Jakarta Bi."


Ethan tidak mengerti dengan perkataan Dave barusan. Kemarin ia memang berjanji pada Laurine untuk mengantarnya kembali ke Jakarta. Ia berharap gadis itu dapat bergabung dengan mereka. Ia berencana akan mengantarnya setelah mengantar Jessica ke rumah.


Laurine juga bingung dengan perkataan Dave. Dia ingin Ethan yang mengantarnya, namun Dave menghancurkan harapannya.


"Oh baiklah sayang. Itu bagus. Dengan begitu, Laurine tidak akan pergi sendiri." ucap Rossa.


"Baiklah, kalian bisa berangkat bersama-sama saja." ungkap Joseph.


"Baik Pa."


Dave membawa koper Laurine menuju bagasi mobilnya.


"Pergilah sayang. Hati-hati di jalan." ucap Rossa.


Ethan dan Jessica masuk ke dalam mobil, dan Ethan langsung melajukan mobilnya.


Selang beberapa saat Dave kemudian melajukan mobilnya.


---


Jessica melihat ekspresi marah Ethan tadi, saat Dave ingin mengantar Laurine kembali ke Jakarta.


(Apakah Kak Ethan yang seharusnya mengantar Laurine?)


Lagi-lagi ia merasa tidak pernah mendapat tempat di hati pria itu.


Jessica menundukkan kepalanya.


---


Laurine terlihat tidak suka berada di dalam mobil Dave, Dave mengetahui itu dari kaca mobilnya.


"Aku tahu kamu ingin pria lain yang akan mengantarmu."


Laurine hanya diam tidak menjawab pertanyaan Dave.


"Baiklah. Karena aku pria yang baik, aku akan mengantarmu padanya."


Laurine tidak mengerti dengan perkataan Dave barusan tadi. Tiba-tiba Dave melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


Ethan melihat mobil Dave yang berada di belakang mobilnya dari kaca spion. Tiba-tiba mobil itu mendahuluinya dan berhenti tepat di depan mobilnya. Ethan mengerem mobilnya dengan mendadak.


Jessica melihat Dave keluar dari mobilnya.


Ethan kemudian keluar dari mobilnya juga.


"Keluarlah, Ethan yang akan mengantarmu." ucap Dave pada Laurine.


Ethan menghampiri Dave.


"Apa maksudmu dengan semua ini?"


Jessica keluar dari dalam mobil.


"Aku tahu kau sudah berjanji pada Laurine akan mengantarkannya kembali ke Jakarta."


"Sekarang penuhi janjimu. Antar dia kembali ke Jakarta dan aku yang akan mengantar Jessica."


Jessica menaikkan wajahnya.


Dave menuju ke bagasi mobil Ethan dan mengambil koper Jessica


Laurine keluar dari mobil Dave dan megeluarkan kopernya dari sana.


Dave menghampiri Jessica kemudian. mengulurkan tangannya pada gadis itu.


"Ayo Jess, Kakak akan mengantarmu kembali ke Jakarta."


Jessica menatap tangan Dave dan melihat ke arah Ethan. Jessica kemudian mengalihkan pandangannya pada Laurine. Ethan tampak lebih menginginkan Laurine pulang bersamanya dari pada dirinya.


Jessica menerima uluran tangan Dave dan ikut masuk ke dalam mobil pria itu.


Ethan memandang ke arah tangan mereka yang saling berpegangan. Gadis itu sama sekali tidak meminta izin darinya untuk ikut bersama Dave. Ethan mengeratkan genggamannya.


Laurine menghampiri Ethan.


"Kak..."


Ethan menatap Laurine dan kemudian tersenyum pada gadis itu. Ethan kemudian memasukkan kopernya ke dalam bagasi, dan kemudian masuk ke dalam mobil.


---


"Apa kita boleh pergi ke suatu tempat dulu?" ucap Dave dengan nada lemah sambil memegang perutnya.


Jessica melihat Dave yang tampak menahan kesakitan.


"Apa Kakak ingin ke rumah sakit? Baiklah Kak.


"Bukan. Kakak sangat lapar, Kakak tidak sempat sarapan tadi."


Jessica tersenyum geli mendengar penuturan Dave.


"Baiklah Kak. Ayo kita makan terlebih dahulu.


Di dalam mobil, Ethan masih diam memikirkan apa yang akan dilakukan Jessica dan Dave di dalam mobil.


Laurine melihat Ethan yang diam sedari tadi. Ia kemudian memutuskan memutar lagu favorit mereka.


"Apa Kakak masih ingat lagu ini? Kita sering memutarnya sewaktu SMA dulu."


Ethan melihat ke arah Laurine.


"Tentu saja Kakak masih ingat."


Laurine tersenyum menanggapi penuturan Ethan.


---


Dave memakan makanan yang sudah di pesannya.


"Makanan ini tidak seenak masakanmu."


Jessica tersenyum mendengar hal itu.


"Apa kamu baik-baik saja?


"Apa aku tidak bisa baik-baik saja Kak? Kakak selalu mengulangi pertanyaan yang sama dari tadi." ucap Jessica dengan wajah murung.


"Benar juga."


Dave menertawakan dirinya sendiri.


"Kak Dave tenanglah. Kakak sedang makan saat ini. Lihatlah ada nasi menempel di wajah Kakak."


Jessica mengambil nasi yang menempel di wajah Dave itu.


Dave tampak menegang saat Jessica menyentuh wajahnya. Kemudian ia menyunggingkan senyumannya.


---


Ethan tampak tidak fokus saat rapat dengan karyawan. Lagi-lagi ia memikirkan gadis itu. Kali ini dia memikirkan apa Jessica akan memasakkan makanan untuk Dave di rumahnya. Dia mengingat perkataan Dave pada Jessica saat masih di rumah Neneknya.


Akhirnya Ethan menghentikan rapat itu dan kembali ke ruang kerjanya.


Ia memijit keningnya, kemudian ia berdiri.


(Aku harus pulang, aku tidak bisa seperti ini)


Ethan mengambil kunci mobilnya dan memutuskan pulang ke rumah dengan cepat.