Love You Too Much

Love You Too Much
Jason dan Clare



Jessica dan There sedang menunggu kedatangan Jason di kafe.


Ini adalah salah satu cara Jessica untuk mendekatkan There dan Jason.


"Jess kamu yakin Kak Jason akan datang?" ucap There dengan nada gusar.


Jessica tersenyum pada There.


"Kamu tenanglah Re, aku yakin Kak Jason pasti datang."


There berusaha mengontrol detak jantungnya.Ia sangat gugup saat ini.


Bagaimana tidak?


Ia akan bertemu dengan Pria yang dicintainya.


Memang terlihat konyol jika dikatakan cinta, mengingat ia baru mengenal Jason. Namun entah mengapa, There sudah jatuh cinta dengan Pria itu sejak pertama kali bertemu.


"Itu Kak Jason." ucap Jessica.


Sontak There mengalihkan matanya dan melihat Jason yang menghampiri mereka.


Ia menyunggingkan senyumnya.


"Apa kalian sudah lama menunggu?" tanya Jason.


"Tidak Kak, kami juga barusan sampai." ucap Jessica.


"Syukurlah."


Jason duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan There.


Jessica menyenggol siku There untuk melakukan rencana yang sudah ia katakan tadi. Namun There belum mengerti juga.


"Re.." ucap Jessica dengan nada pelan.


There langsung tersadar.


Ia menatap Jessica yang sedang memberikan tanda padanya.


"Kak Jason..." ucap There dengan nada gugup.


"Iya?" jawab Jason.


"Kak..."


Entah mengapa There tidak bisa melanjutkan kalimatnya, bibirnya sangat keluh.


Jason masih menunggu apa yang akan dikatakan There padanya.


Jessica tersenyum geli melihat ekspresi Sahabatnya itu. Sepertinya There memang begitu menyukai Jason.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jason dengan menyentuh tangannya.


Sentuhan itu mampu membuat There sangat bahagia.


Rasanya ia ingin melompat girang saat ini.


"Aku.. Aku tidak apa-apa Kak.


Sebenarnya aku ingin meminta bantuan Kakak."


"Bantuan apa There?"


There tidak menjawab pertanyaan Jason. Ia masih belum berani untuk mengatakannya.


Jessica menyadari hal itu.


"Oh begini Kak, sebenarnya There ingin meminta bantuan Kakak untuk mengajarinya di bidang Pemasaran. Ada pekerjaan kantor yang There kurang mengerti. Kebetulan aku tahu Kakak mahir di bidang itu, jadi aku menyarankannya pada There.


Bolehkan Kak?"


Jason tersenyum.


"Tentu saja boleh.


Aku akan mengajarimu There."


There menyunggingkan senyumnya.


"Terima kasih banyak Kak." ucap There dengan semangat.


"Bagaimana kalau Kakak dan There belajarnya mulai hari ini?


There sudah membawa buku-buku tentang pemasaran Kak."


"Benarkah? Kamu sudah membawanya?" tanya Jason pada There.


There menganggukkan kepalanya dengan gugup.


"Baiklah, kita akan belajar mulai hari ini."


Jessica dan There saling bertatapan.


Jessica sangat senang, ia berharap ini bisa menjadi awal yang baik untuk hubungan There dengan Jason.


There mengeluarkan buku-buku yang dibawanya.


Jason kemudian mengambil satu buku dan melihat isinya.


"Oh ya Kak, There..


Sepertinya aku harus pergi, soalnya aku harus mengantar bekal makan siang Kak Ethan.


Kak aku titip There ya.."


Jessica memberikan senyuman pada There.


"Iya Jess." ucap Jason.


Jessica menatap There lagi, dan kemudian pergi dari sana.


(Terima kasih Jess)


There menatap kepergian Jessica dengan senyuman.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Jason.


Pria itu sudah memakai kaca mata sambil membaca buku.


Jason terlihat sangat tampan saat ini.


There terus menatap wajah itu.


Hingga suara Jason menghentikan kegiatannya.


"Apa yang tidak kamu mengerti terkait pemasaran Nona Clare?"


"Clare?"


There begitu terkejut mendengar Jason menyebut nama tengahnya.


"Bukankah namamu Theresia Clarevika Wijaya?"


"Bagaimana bisa Kakak mengetahuinya?


Jason tidak menjawab pertanyaan There.


"Apa Jessica yang memberitahu Kakak?"


Jason mengiyakan pertanyaan There.


(Apa Jessica sudah memberitahu segalanya tentangku pada Kak Jason?


Mengapa tadi ia tidak memberitahuku?)


"Apa aku boleh memanggilmu dengan nama Clare?" tanya Jason.


There tersenyum pada Jason.


"Tentu saja boleh Kak."


"Jadi apa yang tidak kamu mengerti Clare?"


Jason terlihat sangat manis saat menyebutkan namanya, There begitu menyukainya.


"Semuanya Kak."


Jason begitu terkejut.


"Semuanya?"


"Sebenarnya dari awal aku kurang mengerti soal pemasaran Kak. Hanya saja, Seniorku selalu membantuku menyelesaikan pekerjaan kantor. Aku pikir, aku tidak boleh bergantung padanya terus."


Sebenarnya ini bagian dari rencananya Jessica. Memang benar, There terkadang kurang mengerti tentang pemasaran, namun dia bisa saja meminta orang lain untuk mengajarinya. Ini hanya sebuah alasan saja.


"Baiklah aku akan mengajarimu dari awal.


Sekarang aku adalah Gurumu. Jadilah Murid yang baik, hem?"


"Siap Kak.


Jason mulai menerangkan tentang pemasaran dari awal pada There.


Sementara There, ia hanya memandang wajah tampan itu sedari tadi. Ia memang mendengar namun semuanya terlewat begitu saja.


"Sampai materi ini, kamu sudah mengerti?" tanya Jason tiba-tiba.


"Hem?


Aku belum mengerti Kak. Apa Kakak bisa mengulanginya sekali lagi?"


Jason menerangkannya kembali.


"Kamu sudah mengerti Clare?


Bisakah kamu mengulangi apa yang sudah aku jelaskan tadi?"


"Hah?"


Jason mencelupkan jarinya ke dalam dalam wadah saus dan kemudian menyentuh hidung There.


"Ehh.." ucap There saat merasakan hidungnya sudah terkena saus.


"Mulai saat ini, jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaan Kakak, kamu akan dihukum.


Kamu mengerti?"


"Baiklah Kak."


"Jangan dibersihkan." ucap Jason dengan nada memperingati.


Jason menerangkannya kembali. Kali ini There mendengarkan dengan serius walaupun sesekali ia melihat ke arah Jason.


Jason tersenyum geli dalam hati. Ia tahu, jika There memandanginya dari tadi. Hingga satu ide muncul di pikirannya untuk menjahili There.


Gadis lucu, itu penilaiannya tentang There.


Mereka belajar seharian. Bahkan mereka makan malam di tempat itu juga.


"Makanlah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang."


There tersipu dan kemudian makan makanan yang sudah terhidang di atas meja.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 Malam.


Walaupun cukup lama, namun bagi There itu adalah waktu yang sebentar. Ia ingin bersama Jason lagi dan lagi.


Jason dan There keluar dari tempat itu menuju ke parkiran.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil Jason.


Selama perjalanan tidak ada percakapan di sana.


There sesekali melihat ke arah Jason. Pria itu tampak sibuk menyetir.


"Apa Kakak sudah lama mengenal Jessica?" ucap There untuk memulai pembicaraan.


Jason menolehkan tatapannya pada There.


"Aku mengenalnya sudah hampir 6 tahun.


Kami bertemu saat di Amerika, Jessica adalah Junior di kampusku."


There tersenyum tipis.


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi?"


"Hem?


Oh, apa Kakak akan kembali ke Amerika?"


"Tentu saja Clare.


Aku Warga Negara Amerika dan keluargaku juga tinggal di sana."


"Apa Kakak akan kembali dalam jangka waktu dekat?"


Jason menganggukkan kepalanya.


"Setelah kerja samaku dengan Perusahaan Ethan selesai, aku akan kembali ke Amerika."


There sedih mendengar penuturan Jason. Itu artinya, sebentar lagi ia akan berpisah dengan Pria itu. Ia tidak akan bertemu Jason lagi.


There menundukkan wajahnya.


"Ada apa hem?" tanya Jason.


There menaikkan wajahnya menatap Jason.


"Tidak, tidak apa-apa Kak."


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan Apartemen There.


There masih menundukkan wajahnya.


Ia masih memikirkan hal tadi.


Setelah tersadar bahwa mereka sudah sampai, There membuka seatbelt nya, namun ia tidak bisa membukanya.


Ia berusaha lagi, namun tetap tidak bisa.


Hatinya yang kalut membuatnya tidak bisa melakukan apapun saat ini.


Melihat There yang kesulitan membuka seatbelt, Jason mendekati There dan mencoba membantu Gadis itu.


Tangan mereka saling bersentuhan membuat Jason menghentikan kegiatannya.


Ia menatap wajah There yang sedang menundukkan wajahnya.


There melepaskan tangannya dari sana.


Setelah berhasil membuka seatbelt, Jason kembali ke posisi duduknya.


There menatap Jason.


"Terima kasih banyak untuk hari ini Kak."


Jason tersenyum pada There.


"Sama-sama Clare."


There kemudian keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju apartemennya. Namun suara itu menghentikan langkahnya.


"Clare.." panggil Jason yang sudah keluar dari mobil.


There membalikkan tubuhnya.


"Besok aku akan mengajarimu lagi."


There menatap Jason


"Di tempat yang sama."


"Jangan lupa membawa buku beserta catatan tadi. Aku akan menghukummu jika kamu tidak membawanya."


There tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Dan jangan terlambat, aku tidak suka dengan gadis yang suka terlambat."


"Iya Kak, besok aku tidak akan terlambat."


"Baiklah.


Selamat Malam." ucap Jason.


"Selamat Malam Kak."


Jason membalikkan tubuhnya.


"Kak.." panggil There dan membuat Jason berbalik dan menatapnya.


"Iya?"


"Hati-hati di jalan."


Jason tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Ia langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


Jason membunyikan klakson mobilnya saat melewati There yang masih berada di tempatnya tadi.


There menatap kepergian Jason.


Ia merasakan cemas saat ini.


Ia takut ia akan semakin jatuh cinta dengan Jason sementara Pria itu akan pergi meninggalkannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucap There dengan nada lemah.