
Ethan masuk ke dalam kamar.
Ia melihat Jessica yang sedang berada di depan cermin.
(Apa aku harus mengatakan pada Jessica?
Aku pikir tidak perlu)
Ethan menghampiri Jessica dan berdiri di belakang sambil ikut memandang wajah Jessica di depan cermin.
"Bagaimana pekerjaan Kakak hari ini?"
"Hemm, terasa kurang menyenangkan."
Jessica membalikkan tubuhnya.
"Kenapa Kak?"
"Karena tidak ada dirimu di kantor."
"Kak..
Aku kira ada sesuatu yang terjadi di kantor."
Ethan tersenyum pada Jessica.
"Besok aku akan membawamu ke kantor untuk mengumumkan pada semua orang bahwa kamu adalah Istriku."
"Besok Kak?" tanya Jessica
"Hemm.
Ada apa Jess? Kamu belum siap?"
"Tidak Kak. Aku siap."
"Mandilah Kak. Aku akan menyiapkan Kakak makan malam."
Jessica beranjak dari kursi.
Namun tangan Ethan menghentikannya.
"Jess, Kakak sudah makan malam."
ucap Ethan dengan senyuman.
"Makan dimana Kak? Dan bersama siapa?"
"Kakak makan di luar bersama teman-teman kuliah.
Tadi mereka mengajak Kakak makan bersama."
"Oh baiklah Kak.
Kalo begitu aku akan menyiapkan teh hangat untuk Kakak."
Jessica keluar dari kamar.
Ethan menatap kepergian Jessica.
(Maaf karena telah berbohong padamu Jess)
Secepatnya ia akan memberitahu Jessica soal Laurine.
--
Ethan dan Jessica memasuki gedung kantor.
Ethan menggenggam tangan Jessica dengan erat.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan oleh Sarah.
Semua mata tertuju pada Jessica dan Ethan, termasuk There. Ia begitu senang melihat senyum di wajah sahabatnya.
"Selamat Pagi." Ethan mulai berbicara.
"Selamat Pagi Pak." jawab semua karyawannya.
"Mungkin kalian baru mengetahui tentang pernikahan kami.
Sebenarnya pernikahan kami sudah berlangsung selama 9 Bulan.
Aku menikahi Jessica setelah ia bekerja di perusahaan ini."
Ethan menghela napasnya.
"Kami memang menikah atas perjodohan dari Ibu Saya dan saya belum mencintai Jessica pada saat itu. Oleh karena itu, saya berusaha untuk menyembunyikan pernikahan kami.
Ethan menatap wajah Jessica.
"Namun sekarang Saya tidak ingin menyembunyikannya lagi.
Saya sangat mencintai wanita ini."
Jessica terharu dengan ucapan Ethan barusan.
"Dia Jessica Ornetha, Istri Saya.
Aku sangat mencintaimu Sayang."
Ethan mencium tangan Jessica.
Semua karyawan bertepuk tangan dengan riuh. Mereka ikut merasakan kebahagiaan di wajah Boss mereka, mengingat sebelumnya Ethan sempat menjalin hubungan dengan Laurine.
(Aku sangat senang melihat kamu bahagia Jess. Akhirnya kamu bisa hidup bersama dengan Pria yang kamu cintai sejak dulu.)
There meneteskan air matanya.
Jessica melambaikan tangannya pada There.
There tersenyum dan kemudian membalas lambaian Jessica.
"Saya minta maaf Bu Jessica. Saya sudah bertindak tidak sopan selama ini." ucap Sarah pada Jessica.
Jessica tersenyum pada Sarah.
"Tidak, Sarah. Kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.
Lagian tidak ada yang berubah, kamu akan tetap menjadi teman baikku.
Oh ya, jangan panggil aku dengan sebutan Ibu."
"Baiklah Jess."
Setelah itu, mereka semua makan bersama. Ethan yang merencanakan itu semua.
Ia melakukannya agar semua Karyawannya terbiasa dengan status Jessica sebagai Istrinya.
Jessica dan There duduk bersama.
"Aku sangat senang Jess.
Aku tidak menyangka Kak Ethan bisa seromantis itu padamu."
Jessica tersenyum pada Sahabatnya itu.
"Kamu juga harus segera menemukan Pria yang baik Re.
Kebahagiaanku akan bertambah saat melihatmu menikah."
"Aku hanya belum menemukannya Jess.
Aku memang sedang menyukai satu Pria, tapi sepertinya itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin Re?
Ngomong-ngomong Siapa Pria itu? Apa aku mengenalnya?"
(Bahkan kamu sangat dekat dengannya Jess.
Makanya aku tidak yakin aku bisa menikah dengannya.)
There terlihat sangat salah tingkah saat ini.
Jessica melihat perilaku yang mencurigakan dari There.
Sepertinya ia mengetahui siapa Pria itu.
"Kak Jason?"
Sontak There langsung membelalakkan matanya. Wajahnya juga memerah seketika, seakan-akan ia sedang tertangkap basah saat ini.
Jessica tersenyum geli pada There.
"Kenapa kamu tidak yakin dengan Kak Jason Re?"
"Hem... Kamu tahu sendirikan Kak Jason mencintaimu Jess."
"Tapi kamu juga tahu Re, kalau aku sama Kak Jason tidak mungkin bersama.
Kalian sangat serasi menurutku.
Kamu Sahabatku dan Kak Jason sudah kuanggap seperti Kakak aku sendiri."
"Apa aku perlu membantumu agar kamu bisa menjalin hubungan dengan Kak Jason?"
"Jessi..."ucap There dengan gugup.
"Aku akan membantu hubungan kalian." ucap Jessica pada There.
"Aku juga ingin melihatmu bahagia Re.
Aku yakin Kak Jason adalah Suami yang baik untukmu."
"Terima kasih Jessi."
"Tidak ada kata terima kasih untuk Sahabat."
"Iya iya Jessi."
Mereka tertawa bersama.
--
Malamnya Jessica dan Ethan berencana mengunjungi Sesil dan Nicho.
Sudah lama Jessica tidak bertemu dengan Kakaknya. Ia juga begitu merindukan keponakannya, Rachel.
Ethan memarkirkan mobilnya di depan rumah Sesil.
Jessica dan Ethan keluar dari mobil.
Jessica tersenyum melihat Sesil dan Nicho yang sudah menunggu di depan rumah.
Mereka menghampiri Sesil dan Nicho.
"Halo Kak.." ucap Jessica.
"Halo sayang..."
Jessica langsung memeluk Sesil.
"Aku begitu merindukan Kakak.
Maaf aku jarang mengunjungi Kakak dan Kak Nicho."
Sesil mengelus punggung Jessica.
"Tidak apa-apa sayang."
Jessica melepaskan pelukannya.
"Kak Nicho..."
Jessica juga memberikan pelukan pada Kakak Iparnya.
Begitu juga dengan Ethan.
"Rachel dimana Kak?"
"Rachel ada di kamar Jess."
Jessica menggendong Rachel di pelukannya. Anak itu tampak sangat menggemaskan.
Ethan juga sedari tadi mencubit pipi anak itu. Ia begitu menyukai Rachel.
Sesil dan Nicho hanya bisa tersenyum melihat keduanya.
Mereka juga sesekali saling bertatapan melihat tingkah lucu Ethan dan Jessica.
"Apa Kakak mau menggendong Rachel?"
Ethan menganggukkan kepalanya dan langsung mengambil Rachel dari Jessica.
"Sayang..." ucap Ethan.
Jessica melihat raut gembira di wajah suaminya.
Ia tahu bahwa Ethan juga menyukai anak-anak.
Ia yakin Suaminya akan menjadi Papa yang luar biasa untuk anaknya nanti.
Jessica melihat ke arah perutnya.
Ia berharap ia bisa memberikan anak pada Ethan secepatnya.
--
Jessica dan Sesil sedang berada di kamar.
Sesil sedang menidurkan Rachel di box bayi.
Sementara Ethan, Pria itu sedang berada di ruang tamu bersama Nicho. Mereka sedang mengobrol.
Melihat Rachel sudah tertidur pulas, Sesil menghampiri Jessica.
"Sepertinya Ethan sangat menyukai anak-anak Jess."
Jessica tersenyum menanggapi penuturan Sesil.
"Apa belum ada tanda-tanda kamu mengandung Jess?"
Jessica menggelengkan kepalanya.
"Belum Kak."
"Sabarlah sayang. Kakak doakan semoga kamu bisa mengandung secepatnya."
"Terima kasih Kak."
"Oh ya Kak, bagaimana rasanya saat Kakak mengetahui bahwa Kakak sedang mengandung?"
"Kakak sangat senang pastinya sayang.
Kakak merasa Tuhan memberikan Kakak kesempatan untuk menjadi seorang Ibu sekaligus Istri yang baik.
Kak Nicho juga sangat menginginkan Anak. Saat ia mengetahuinya, ia begitu terharu sampai-sampai ia menangis."
Sesil memegang tangan Jessica.
"Kelak, kamu hal itu akan terjadi padamu sayang. Kakak juga yakin kamu bisa menjadi Ibu yang baik nanti."
Jessica tersenyum pada Sesil.
Ya, ia juga berharap hal itu terjadi secepatnya. Ia ingin memberikan anak pada Suaminya.
--
Jessica berdiri di depan jendela kamar.
Tiba-tiba rasa sakit kepala menimpanya.
"Ah.." Jessica memegang kepalanya.
Memang akhir-akhir ini ia sering pusing dan tubuhnya juga mudah lelah.
"Ada apa sayang?"tanya Ethan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Tidak apa-apa Kak.
Aku hanya pusing."
"Kamu yakin sayang?"
Jessica menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita tidur."
Ethan membimbing Jessica ke tempat tidur dan berbaring di sana.
Ethan menarik selimut ke tubuh mereka berdua dan kemudian memeluk tubuh Jessica dengan erat.
"Apa masih sakit?"
Jessica menggelengkan kepalanya.
Ethan tersenyum dan kemudian mencium kening Jessica dengan lembut.
"Selamat Tidur sayang."
"Selamat tidur Kak."