
Jessica perlahan membuka matanya.
Ia merasa ada beban di perutnya.
Ia melihat ke bawah dan melihat tangan Ethan berada di sana.
Ia tersenyum dan kemudian menaikkan wajahnya.
Jessica memandang wajah damai itu. Wajah yang menjadi pemandangan favoritnya setiap pagi.
Sekilas ingatan tentang apa yang mereka lakukan kemarin terbesit di pikiran Jessica.
Ia sangat bahagia mengingat hal itu. Akhirnya ia bisa menjadi Istri yang seutuhnya untuk Ethan.
Ia akan selalu memberikan yang terbaik untuk Ethan.
Jessica merabah perutnya, ia berharap janin akan segera tumbuh di sana.
Ia ingin memberi Ethan anak, sebagi bukti bahwa ia sangat mencintai Pria itu. Seseorang yang sudah memiliki tempat di hatinya saat ia duduk di bangku SMA.
Ya, Ethan Cinta Pertamanya dan akan menjadi Cinta Terakhir Jessica juga.
Jessica menatap wajah Ethan lagi.
Ia perlahan memajukan wajahnya dan mencium bibir Ethan.
Jessica melepaskan ciumannya.
(Terima kasih Kak.
Terima kasih telah mencintaiku. Aku akan selalu menjadi Istri yang baik untuk Kakak.)
Jessica meneteskan air matanya dan kemudian menghapusnya.
Mata itu perlahan terbuka seolah-olah ciuman Jessica membangunkan tidurnya.
Ethan tersenyum saat melihat Jessica menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya.
Gadis itu tersenyum padanya.
Tidak, Jessica tidak gadis lagi mengingat ia sudah menjadikannya menjadi miliknya seutuhnya.
Ethan tersenyum mengingat apa yang mereka lakukan semalam.
"Selamat Pagi."
"Pagi Kak.."
"Apa tidurmu nyenyak?"
Jessica menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Ethan.
"Benarkah?" ucap Ethan dengan nada menggoda.
Jessica tersenyum mendengar pertanyaan Ethan.
Ethan merapikan rambut Jesssica yang berada di keningnya.
"Aku pikir semakin lama kamu semakin cantik.
Jessica tersipu mendengar penuturan Ethan.
"Aku begitu menyukainya." Ethan membisikkan kalimat itu pada Jessica.
Jessica tahu Ethan sedang mencoba menggodanya.
Hal itu berhasil membuat semburat merah di wajahnya.
"Bolehkah kita melakukannya lagi?"
Jessica menatap wajah Ethan yang sangat dekat dengannya.
Ethan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak, hari ini kita akan pergi ke kantor.
Dan..."
"Kita tidak perlu pergi ke kantor hari ini. Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu."
"Kak, sebagai Sekretaris Kakak aku harus mengingatkan Kakak kalau hari ini ada rapat penting.
Ethan tertawa geli mendengar penuturan Jessica.
Dasar Istriku ini, pikirnya.
"Kita harus pergi ke kantor Kak." ucap Jessica lagi.
"Baiklah baiklah.
Kita pergi ke kantor hari ini.
Tapi, asalkan kita..."
Ethan langsung menaikkan selimut ke seluruh tubuh mereka berdua dan kemudian melancarkan aksinya.
Jessica tidak bisa melakukan apa-apa saat ini selain menerima perlakuan Ethan.
Pagi itu kembali dihiasai dengan percumbuan panas mereka.
--
Di Kantor
Jessica mempersiapkan bahan rapat hari ini.
Jessica menghentikan kegiatannya sebentar.
Ia harus mempersiapkan dirinya saat bertemu dengan Jason nanti.
Jason pasti terkejut saat melihatnya kembali bekerja di kantor Ethan dan bahkan bekerja sebagai Sekretaris baru Ethan.
Jessica kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan Ethan.
Ethan tersenyum melihat Jessica masuk ke dalam ruangannya.
Jessica membantunya memakaikan jas nya.
"Apa bahan rapatnya sudah selesai Jess?"
"Sudah Kak."
"Secepatnya aku akan memberitahukan Jason tentang pernikahan kita."
Jessica tersenyum mendengar hal itu.
"Aku tidak ingin dia mendekatimu lagi Jess."
Jessica menaikkan wajahnya dan menatap Ethan.
"Aku sangat cemburu."
Jessica menganggukkan kepalanya pada Ethan.
Ethan kemudian menarik Jessica ke dalam pelukannya.
Sesekali ia mencium puncak kepala Jessica.
Jason memasuki ruang rapat.
Ia bersalaman dengan Ethan dan Direksi lain yang sudah menunggunya.
Namun ia sangat terkejut melihat Jessica di sana.
Jessica mengulurkan tangannya. Jason tidak membalas uluran Jessica sebentar. Namun ia kemudian membalas uluran tangan itu dengan wajah yang menatap Jessica dengan kebingungan.
Selama rapat Jason tidak fokus sama sekali.Pikirannya hanya tertuju pada Jessica.
Sesekali ia melihat gadis itu.
Ia pikir ia terlalu melewatkan informasi tentang Jessica. Memang akhir-akhir ini ia tidak memerintahkan suruhannya untuk mencari informasi tentang Jessica.
Ia pikir Jessica sudah bahagia dengan Ethan. Jadi ia tidak perlu malakukan hal itu lagi.
Ia sedih, pasti. Namun kebahagiaan Jessica adalah hal yang terpenting baginya.
Ia bahagia melihat Jessica bahagia wlaupun tidak bersamanya.
Rapat selesai, Jason keluar bersama Ethan dan Jessica.
"Terima kasih untuk rapat hari ini Ethan.
"Sama-sama.
Jangan lupa, lusa kita akan melaksanakan rapat lagi."
"Baiklah."
Jason mengalihkan tatapannya pada Jessica.
Mengetahui apa yang akan dikatakan Jason, "Jessica Sekretaris baruku."
"Benarkah?
Selamat atas pekerjaan barumu Jess."
Jessica tersenyum pada Jason.
"Terima kasih Kak."
Ethan tidak suka melihat Jessica tersenyum pada Jason.
"Oh ya, mohon maaf Jason. Kami akan kembali ke ruangan. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan hari ini.
"Baiklah Ethan. Sampai jumpa di pertemuan rapat selanjutnya."
Ethan menganggukkan kepalanya dan kemudian menatap Jessica seolah ingin mengajak gadis itu pergi dari sana.
Jessica tersenyum pada Jason sekilas dan menuruti ajakan Ethan.
Mereka berdua pergi dari sana.
Sementara Jason, masih menatap kepergian Ethan dan Jessica.
Ia tahu dengan jelas kalau Ethan sengaja melakukannya. Pria itu tidak ingin ia mendekati Jessica.
Jason tersenyum geli.
Sampai kapan kalian akan menyembunyikan pernikahan kalian?
Aku akan membuatmu mengakuinya sendiri Ethan, ucap Jason di dalam hatinya.
Ethan menarik tangan Jessica menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, Ethan mendekati Jessica dan mencubit pipi Jessica dengan gemas.
"Aku sudah mengatakan padamu Jess untuk tidak sembarangan tersenyum pada pria lain."
" Jadi, senyuman bagaimana yang Kakak inginkan aku berikan pada pria lain?"
"Begini."
Ethan mencontohkan bagaimana seharusnya Jessica tersenyum.
Itu namanya bukan tersenyum Kak, Jessica tersenyum geli di dalam hati.
Ethan tidak tersenyum sama sekali. Itu artinya Ethan menyuruh Jessica memandang datar Pria lain.
"Kamu bisa kan?"
Jessica mengalihkan padangannya ke arah lain dan diam-diam tertawa.
Ethan melihat Jessica yang mencoba menahan ketawanya.
Ia kemudian menarik tubuh Jessica mendekat kepadanya.
"Kamu mulai nakal pada Kakak."
Jessica menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus mendapatkan hukuman."
Ethan memajukan wajahnya pada Jessica.
Namun suara pintu terbuka menghentikannya.
Mereka berdua langsung menjauhkan diri satu sama lain.
"Maaf Pak." ucap salah seorang Karyawan Ethan.
"Mengapa kamu tidak mengetuk pintu dulu?"
"Maaf Pak, tapi saya sudah mengetuk pintu dari tadi.
Saya khawatir, jadi saya masuk Pak.
Sekali lagi, saya minta maaf Pak."
"Baiklah.
Ada apa?"
"Saya ingin menyampaikan Laporan Keuangan Perusahaan kita Pak."
"Duduklah."
Jessica belum pergi dari sana.
Ia menghirup napas lega.
Ia kemudian menatap Ethan yang sedang berbicara dengan Pak Tony.
Sesekali Ethan melihat Jessica.
Ia juga tersenyum pada Jessica. Pria itu tidak peduli dengan keberadaan Pak Tony di sana.
--
Chris melihat Laurine duduk sendirian di bangku taman rumah sakit.
Ia menghampiri Laurine dan duduk di sebelahnya.
"Mengapa kamu duduk sendirian?"
Laurine menatap Chris yang duduk di sebelahnya dan kemudian tersenyum pria itu.
"Aku memang selalu sendiran Kak"
Chris memandang wajah senduh itu.
Sejak kecil aku selalu sendirian.
Orang tuaku juga selalu sibuk bekerja. Mereka tidak pernah memiliki waktu untukku.
Laurine menghentikan ucapannya dan kemudian menatap ke depan.
"Aku berbeda dengan anak lain yang hidup bahagia bersama kedua orang tuanya."
Chris sekarang mengerti mengapa Ethan sangat berarti untuk Laurine. Pria itu adalah pelindung Laurine sejak kecil.
Kedua orang tua Laurine juga belum mengunjungi Laurine sama sekali.
Gadis ini pasti menderita, pikirnya.
Entah mengapa, ia ingin menjadi pelindung Laurine saat ini. Ia tidak akan membiarkan Laurine hidup kesepian.
Chris kemudian berdiri dan menarik tangan Laurine.
Laurine sontak terkejut saat Chris memegang tangannya.
"Pergilah bersamaku Lau, aku akan mengajakmu jalan-jalan."
Laurine masih tidak mengerti dengan ucapan Chris.
Namun pria itu memaksanya berdiri dan mengikuti langkahnya.
Chris membuka pintu mobilnya dan menyuruh Laurine masuk.
Laurine menuruti Chris.
Ia tidak tahu Chris akan membawanya kemana.
Dan benar, setelah beberapa menit di perjalanan Chris membawanya ke pantai.
Pria itu seakan tahu bahwa Laurine sangat menyukai pantai.
Laurine tersenyum bahagia.
ia melangkahkan kakinya ke area pantai dan menghirup udara segar di sana.
Chris senang melihat Laurine tersenyum.
Itu adalah hal yang ia inginkan.
Ia kemudian menghampiri gadis itu.
Mereka mengobrol dan sesekali tertawa bersama.
Mereka menikmati keindahan pantai bersama.
Laurine melihat ke arah Chris.
Pria itu orang yang baik. Chris selalu datang di saat ia benar-benar membutuhkan seseorang.
(Terima kasih Kak)