
"Mafia salvatrucha dari Los Angeles, dia sangat iri melihat kesuksesan mendiang ayahmu Key. Semenjak kuliah dia dan ayahmu selalu bersaing dalam hal apapun termasuk merebutkan salah satu wanita yang sudah menjadi ibumu." Jelas Alex menatap Keyla yang terlihat sangat shock.
"Dan setelah tahu ayahmu mempunyai seorang anak dari wanita yang dia cintai, jiwa seorang psychopath tumbuh dalam dirinya hingga membuat kedua orangtuamu meninggal. Sejak saat itu aku di jadikan alat untuk membalaskan dendamnya terhadap keluarga Wijaya, bagi dia balas budi yang sudah merawat ku sejak kecil harus di balas dengan membunuh orang yang ia benci termasuk saat ini sasarannya adalah kamu dan keluarga kecilmu." Jelas Alex sekilas melirik ke arah Marcel yang sedang mencoba untuk menenangkan sang istri.
"Boy lindungilah istrimu dan anakmu jika nanti terjadi sesuatu terhadap mereka, karena dia tidak akan mudah untuk menyerah hingga dendamnya terbalaskan." Alex menatap lekat wajah Marcel.
"Terimakasih Dad sudah mengkhawatirkan keluargaku." Balas Marcel tersenyum.
"Jadi apa kau sudah tahu rencana dari mafia itu?" Tanya Rangga kepada Alex.
"Dia sangat rapih untuk menyembunyikan rencananya, tidak semudah itu untuk memberitahukan rencana yang sudah ia susun kepada orang lain termasuk orang kepercayaannya sendiri." Jawab Alex.
"Mungkin dia sudah mengetahui tempat ini sekarang, karena chip yang dia pasang di tubuhku." Jelas Alex mulai khawatir karena anak buah Mafia salvatrucha selalu bergerak dengan cepat.
"Cepat buka semua ikatan rantai kedua orang ini." Perintah Marcel kepada anak buahnya.
"Tapi son--" Rangga masih ragu dengan penyesalan Alex.
"Semuanya akan baik-baik saja yah." Marcel meyakinkan Rangga jika tidak akan terjadi sesuatu.
"Baiklah ayah percayakan padamu son." Rangga hanya bisa mendukung keputusan yang di buat oleh Marcel, karena ia tahu jika Marcel sudah mempunyai rencana selanjutnya.
"Vino apa kau bisa mengeluarkan chip yang ada di tubuh Daddy ku." Marcel kini beralih bertanya kepada dokter Vino.
"Bisa cuma itu butuh waktu yang sangat lama--" Belum sempat Vino menyelesaikan ucapannya sudah di potong terlebih dahulu oleh Marcel.
"Ok kau bersiaplah ikuti anak buahku dan aku ingin dalam 1 jam keluarkan chip yang berada di dalam tubuh Daddy ku jika tidak bisa nyawamu yang jadi taruhannya." Marcel menatap tajam ke arah Vino, setelah itu ia pergi mengajak sang istri meninggalkan ruangan bawah tanah. Marcel sangat cemas saat melihat raut wajah Keyla terlihat sangat pucat, dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepada sang istri dan calon anaknya.
"Ba--ik akan aku usahakan." Vino terlihat sangat ragu dengan waktu yang di berikan oleh Marcel, pasalnya ia melakukan itu semua sendirian biasanya ia di bantu oleh perawat lain.
"Waktu semakin berjalan, cepat selesaikan tugasmu." Lucas membuyarkan lamunan Vino setelah kepergian Marcel, untuk mengikuti langkahnya.
Setelah sampai di dalam ruangan yang di tunjukkan oleh Lucas, Vino sangat terkejut ternyata di dalam ruangan ini semua peralatan medis sangat lengkap bahkan ada satu dokter dan dua perawat berada di sana. Kini ia bisa bernafas lega setelah melihat dokter dan dua orang perawat.
Huft.
"Bergeraklah dengan cepat ingat nyawamu berada di tanganku." Sebelum menutup pintu Lucas memberikan ancaman kepada Vino.
Tanpa menjawab ucapan Lucas, dengan cepat Vino mulai memberikan anestesi di bagian tubuh Alex yang terdapat chip.
Tidak terasa waktu terus berjalan hingga waktu satu jam yang di berikan oleh Marcel sudah habis, dan chip yang berada didalam tubuh Alex kini sudah berada di dalam toples yang di sediakan oleh perawat.
Semua orang yang berada di dalam ruangan bernafas dengan lega akhirnya mereka berhasil mengeluarkan chip dengan cepat tanpa melukai tubuh Alex.
Tidak berapa lama Lucas kembali bersama Marcel untuk membawa chip yang sudah di keluarkan oleh Vino.
"Bawa chip itu keruangan bawah tanah dan pasangkan di salah satu tahanan kita yang mirip dengan Daddyku tubuhnya, berikan juga kain hitam untuk menutupi wajahnya." Perintah Marcel kepada Lucas.
"Baik Ketua." Sebelum pergi Lucas membungkuk hormat kepada Marcel.
"Dad apa kau baik-baik saja sekarang." Marcel berjalan ke arah Alex yang masih berada di atas brankar.
"Yes boy." Ucap Alex tersenyum.
"Dan untuk kau maaf harus di sini." Marcel mengarahkan pistol kepada Vino.
Dor..
Dor..
"Kenapa kau membunuh Vino boy?" Tanya Alex terkejut dengan aksi Marcel yang tiba-tiba membunuh anak buahnya.
"Nanti aku jelaskan Dad, lebih baik kita pergi dari tempat ini." Jelas Marcel sambil membantu Alex berjalan untuk meninggalkan ruangan.
Akhirnya Marcel dan Alex sudah tiba di atap markas bersama dokter dan kedua perawat kepercayaan Mafia Laxia's. Alex bisa melihat di sana sudah ada dua helikopter yang siap untuk terbang meninggalkan markas Laxia's.
Sementara anak buah Laxia's yang berada di sana sebagian Marcel dengan cepat menyuruh mereka meninggalkan markas, ia hanya menyuruh anak buah yang ahli dalam menangkap musuh berada di markas. Tak lupa ia menyuruh detektif Laxia's untuk mengawasi dari kejauhan.
Dan benar saja setelah 10 menit meninggalkan markas Laxia's ipad yang di pegang oleh Marcel berbunyi tanda bahaya sudah mendekat.
Huft telat sedikit saja semuanya pasti dalam bahaya. Batin Marcel menghela nafas akhirnya rencana yang dia susun berjalan dengan lancar.
"Kau memang hebat Dad." Ucap Keyla tersenyum ke arah Marcel yang sedang memperhatikan layar ipad.
"Tentu saja suamimu ini sangatlah hebat dalam segala hal." Balas Marcel mengedipkan matanya.
"Huh sombong." Keyla memutar kedua bola matanya malas.
Haha ..
Haha ..
Marcel terkekeh sambil membawa Keyla ke dalam dekapannya, sesekali ia menciumi pucuk kepala sang istri dengan mata yang terpejam. Dan tanpa mereka berdua sadari Alex memperhatikan tingkah Marcel bersama istrinya.
"Hemm." Alex berdehem memecah keheningan, sambil melihat respon suami istri tersebut.
"Mengganggu saja Dad." Dengan sinis Marcel menjawab tanpa melihat ke arah Alex.
Sementara Keyla berusaha melepaskan pelukannya dari Marcel, ia masih sangat malu jika berpelukan di hadapan orang lain.
"Daddy tidak merasa tuh." Jawab Alex terkekeh melihat Marcel yang sedang menatap kearahnya dengan sinis.
Cih.
"Biarkan saja sayang, dia pasti sangat iri dengan kemesraan kita karena terlalu lama menjomblo." Ucap Marcel terkekeh sambil mempererat pelukannya.
"Daddy jomblo karena sangat setia dengan Mommymu." Alex memejamkan matanya mengingat mendiang istrinya.
"Cih tapi celap celup sana sini." Marcel berdecih sekilas melirik ke arah Alex.
"Itu karena kebutuhan biologis boy, sebentar kenapa kau mengetahui jika Daddy sering celap celup sana sini. Jangan bilang jika kau memperhatikan gerak-gerik Daddy selama ini?" Selidik Alex menatap ke arah Marcel.
Dalam hati Alex ia sangat bahagia karena anak angkatnya memperhatikan gerak-gerik nya selama ini, walaupun ia tidak tahu apa maksudnya.