
"Dari mana saja kalian ini sudah jam berapa, oh ya ampun katanya mau membeli makanan dan ternyata tangan kalian kosong. Jadi sebenarnya dari mana kalian sudah satu jam kami menunggu di sini." Keluh Diana kesal yang berharap Rangga bersama Marcel membawa makanan dari luar untuk dirinya dan Keyla, bukan khas makanan rumah sakit yang ingin dia makan saat ini.
"Sayang." Suara lembut Keyla memanggil Marcel untuk menjelaskan, dia sangat hafal dengan tingkah Marcel seperti ada hal yang ia sembunyikan darinya. Tidak biasanya ia sekarang gugup ketika berhadapan dengannya.
"Maaf sayang sebenarnya tadi--" Belum sempat Marcel menyelesaikan ucapannya Rangga merangkul bahu Marcel dan berkata, bahwa mereka tidak sengaja bertemu dengan rekan bisnisnya saat keluar dari ruangan dan asik mengobrol sehingga mereka lupa jika akan membeli makanan.
"hmmm menyebalkan." Gerutu Diana yang masih kesal mendengar penjelasan dari Rangga karena ia kini masih lapar, sementara Keyla ia tidak percaya begitu saja dengan ucapan mertua nya karena dia yakin mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
Rangga yang melihat calon istrinya masih marah mungkin ini juga yang di namakan hormon dari ibu hamil pikirnya jadi wajar, ia hanya menghela nafas dan menghampiri Diana untuk membujuk wanita itu.
Sementara Marcel yang melihat istrinya tidak ada raut marah di wajahnya hanya bisa bernafas lega karena Keyla kini hanya tersenyum kepada suaminya sambil mendengarkan perdebatan kecil antara Diana dengan Rangga.
"Sayang apakah kamu ingin sesuatu atau masih lapar?" Tanya Marcel menghampiri Keyla yang tengah duduk di atas sofa.
"Tidak hanya saja aku ingin pulang sayang, rasanya aku sedikit mual dan pusing jika berada di rumah sakit." Keyla yang tengah memeluk Marcel ia terus menghirup parfum suaminya yang kini sebagai penghilang bau khas rumah sakit.
"Baiklah kita pulang sekarang lagi pula cukup satu malam kita menginap di sini untuk menemani Aunty Di." Marcel tak tega melihat istrinya yang setia menemani Diana menginap di rumah sakit, padahal ia kini tengah berbadan dua.
Setelah kepergian Keyla dan Marcel, ternyata Diana masih saja menyalahkan Rangga karena dia tidak membawakan makanan untuk nya.
Ternyata menghadapi ibu hamil sungguh m-e-n-j-e-n-g-k-e-l-k-a-n. Batin Rangga hanya bisa pasrah sekarang.
"Hmm sebagai gantinya dan permintaan maaf kamu ingin apa sayang?" Rangga mencoba bernegosiasi dengan Diana.
"Aku ingin kita pulang dan menginap di mansion Keyla selama mempersiapkan pernikahan, satu lagi sebelum pulang aku ingin kamu membeli ice cream dua rasa coklat dan setelah itu kita pergi ke atap gedung rumah sakit ini untuk memakan ice cream." Dengan tersenyum membayangkan Diana mengatakan hal itu kepada Rangga, yang hanya di balas dengan anggukan oleh Rangga tanpa ingin menjawabnya.
Aneh.
Hanya kata itu yang keluar dari dalam hatinya tanpa berniat untuk mengatakannya langsung.
"Tunggu apalagi aku kasih 10 menit ayo cepat pergi sayang." Rengek Diana menatap tajam ke arah Rangga yang masih di tempat tak bergeming.
"Iya tunggu sebentar sayang." Dengan cepat Rangga keluar dari ruangan Diana untuk membeli dua ice cream rasa coklat yang di minta oleh calon istrinya.
🖤🖤🖤🖤
Mansion Wijaya.
Keyla kini sudah terlelap di dalam dekapan sang suami, sementara sebelah tangan Marcel mengirimkan pesan kepada Andrew untuk segera datang ke mansionnya.
Tidak butuh waktu lama kini Andrew sudah berada di mansion keluarga Wijaya menunggu kedatangan Marcel di ruang kerja, hampir satu jam ia menunggu kedatangan sahabatnya dan sekarang lebih tepatnya dia di panggil bos.
"Menikahlah supaya tahu bagaimana rasanya mempunyai seorang istri." Tiba-tiba dari arah pintu suara berat Marcel berhasil membuat Andrew akhirnya bernafas lega, pasalnya ia sudah mulai bosan dan jamuran menunggu kedatangan Marcel.
Sementara Andrew yang mendengar ucapan Marcel hanya memutar kedua bola matanya malas, ia sangat malas jika sudah di suruh untuk menikah.
"Jadi apa yang ingin lu katakan Cel." Tanya Andrew sudah tidak sabar apa yang ingin di katakan oleh Marcel.
"gue mau lu menyiapkan anak buah sebanyak mungkin untuk menjaga Keyla selagi gue membunuh keparat Alex, gue tidak mau ada korban selanjutnya di tangan dia." Dengan sorot mata yang tajam Marcel mengatakan hal itu kepada Andrew.
"Korban selanjutnya?" Andrew menatap bingung ke arah Marcel pasalnya ia
belum mengetahui jika Ziko sekarang sedang berada di rumah sakit oleh ulah Alex.
"Semalam Alex mencelakai uncle Ziko hingga kini ia terbaring lemah di rumah sakit dengan luka yang cukup parah." Jelas Marcel dengan sorot mata yang masih tajam.
"APA? Ternyata kita kalah cepat dengannya." Andrew tak menyangka jika Alex bergerak lebih cepat dari pada dugaannya.
"Andrew bagaimana dengan tempat persembunyian kita apa masih tidak ada orang yang mengetahui tempat itu?!" Tanya Marcel beralih menatap ke arah Andrew.
"Ya tempat itu masih aman dan tidak ada orang yang bisa melacak keberadaannya."
"Baguslah, besok gue akan bawa Keyla dan Aunty Di bersembunyi di sana saat gue membunuh keparat Alex." Jelas Marcel tersenyum menyeringai.
"Good lebih cepat lebih baik rasanya gue juga gatal ingin memotong jari jemarinya yang kurang ajar itu sudah berani mau membunuh keluarga Wijaya." Andrew ikut geram dan dia sudah yakin dengan keputusan nya jika akan ikut membunuh paman Renata wanita yang ia cintai, Andrew tidak peduli jika nanti ia di hadapkan dengan Renata saat membunuh Alex bagi dia jika salah dan menyangkut nyawa seseorang dia harus menyelamatkan nya.
"Sekarang lu bawa dokter yang bernama Vino ke markas kita, dan ingat lu bikin orang lain mengira dia mengundurkan diri dari rumah sakit tempat ia bekerja untuk pergi bekerja di luar negeri." Jelas Marcel dia tidak ingin jika nanti saat menghabisi dokter Vino ada jejak yang tercium oleh orang lain.
"Siap bos laksanakan, saya permisi undur diri." Andrew berdiri sambil membungkuk hormat sebelum ia pergi meninggalkan mansion Wijaya untuk menangkap dokter Vino.
"Jangan harap hidup kalian bisa tenang setelah mengusik keluarga dan orang terdekat ku, ingat aku bisa lebih kejam dari kalian dan menghabisi tanpa ampun sampai ke akar-akarnya." Marcel tersenyum menyeringai membayangkan musuhnya mati di tangannya dengan kondisi yang memprihatinkan.
Pasti kalian penasaran dengan sisi lain dari hidup Marcel Wijaya 😁
Tempat tersembunyi?
Markas?
Kenapa Marcel menyebutkan kata itu apa sebenarnya Marcel 😲.
Yuk simak terus cerita dari hot mommy yang membuat kalian semakin penasaran dan tidak akan bosan untuk menunggu kelanjutan nya.