
"Apa yang kau lakukan pucat." Gerutu Diana kesal ketika Rangga menarik tangannya menuju kamar yang berada di sebelah.
"Apa kau ingin berdiri di situ terus, dan apa kakimu tidak sakit hah." Rangga melepaskan tangan Diana ketika sudah sampai di dalam kamar.
"Huft sebenarnya sakit juga sih, apa kau tidak ada niatan untuk memijat kakiku." Goda Diana mengedipkan sebelah matanya ke arah Rangga.
Glek.
Rangga hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah, ketika melihat paha Diana yang putih dan mulus mengenakan rok pendek sedang berselonjoran di atas ranjang.
"Apa bayarannya setimpal." Rangga tersenyum menyeringai menatap ke arah Diana, sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Jika pijatanmu enak aku akan membayar mahal untukmu." Tantang Diana menahan tawanya, ketika melihat
Rangga yang mulai merangkak mendekat ke arahnya seperti seekor bayi yang sedang meminta untuk di gendong.
"Kau jangan mendekat terus." Diana mendorong dada bidang milik Rangga ke belakang, akan tetapi tenaganya kalah dengan tenaga Rangga yang lebih kuat.
"Pucat kau mau membunuhku ya, sesak tahu." Decak Diana kesal karena Rangga terus mendekatkan tubuhnya sehingga dia tidak bisa bernafas, bahkan kini dua bukit kembarnya sudah menempel dengan dada bidang milik Rangga.
Oh **** kau jangan dulu berdiri batang hanya gara-gara benda kenyal ini. Batin Rangga menahan hasratnya.
"Ranggaaaa." Teriak Diana kesal di dekat telinga Rangga, sambil mencoba mendorong kembali tubuh Rangga yang berada di atas tubuhnya.
"Kau kenapa harus berteriak." Rangga mengusap telinganya dan mulai menjauhi Diana yang sedang siap-siap untuk menyerangnya.
"Kau juga kenapa harus menempel di dadaku." Diana menutup kedua bukit kembarnya menggunakan bantal.
Haha.. Haha..
"Punyamu itu sama sekali tidak ada menggodanya, sudah kecil seperti pentol baso dan aku sama sekali tidak bernafsu denganmu." Ucap Rangga di sela tawanya, sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Sialan kau ngatain si dua bukit gue seperti pentol baso." Gerutu Diana kesal meletakkan kembali bantal yang menutupi dua bukit kembarnya di atas ranjang, dengan perlahan dia mulai meremas dua bukit kembar tersebut di hadapan Rangga tanpa ada rasa malu sambil menggigit bibir bawahnya.
"Hmmm, apa kau masih tidak tergoda hah." Goda Diana dengan nada sensual yang masih meremas dua bukit kembarnya.
Sialan dari tadi aku menahan si batang, dia malah menggodaku. Batin Rangga mulai prustasi.
"Rangga lihat gue." Diana mulai membuka pakaian yang dia kenakan, sehingga hanya menampakkan bra hitam dengan ****** *****.
Glek.
Lagi-lagi Rangga memalingkan wajahnya ke arah samping, dan mengumpat dalam hatinya yang bodoh sudah menghina si dua bukit yang berujung dengan ketegangan.
Oh **** jangan sampai aku kelepasan menerkamnya. Batin Rangga tegang.
Tolonglah batang kau harus bisa di ajak kompromi ya. Batin Rangga mulai memelas.
Sialan dia masih tidak tergoda dengan tubuh sexyku, baiklah sekarang apa kau masih tidak tergoda Rangga. Batin Diana tersenyum menyeringai.
"Stop diam disitu." Bentak Rangga menatap tajam ke arah Diana yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kenapa? Apa kau sudah mulai tergoda dengan tubuhku yang sexy ini." Ucap Diana dengan nada sensual, sambil berpose bak model majalah dewasa.
Sialan dia malah berpose seperti itu. Batin Rangga mulai terangsang melihat tubuh Diana.
Rangga yang sudah tidak tahan melihat Diana berpose bak model majalah dewasa dengan langkah panjang dia berjalan menghampiri Diana dan mencium bibirnya dengan rakus. Diana hampir terkena serangan jantung akibat ulah Rangga yang mendadak mencium bibirnya.
Astaga ciuman pertamaku sudah ternodai oleh si pucat. Batin Diana terkejut sekaligus merasa senang karena dia berhasil membuat Rangga akhirnya tegoda juga.
"Hmmpft, Rangga." Desah Diana ketika Rangga mencium bibirnya dengan lembut dan salah satu tangannya meremas si dua bukit kembar.
Diana pun tak kalah aktif kini tangannya mulai meraba kemana-mana, bahkan tanpa sadar kini tangannya sudah berada di atas si batang yang sudah berdiri dan mengeras sejak tadi.
"Arrrggghh." Erang Rangga memejamkan kedua matanya, dengan bibir yang masih berciuman dengan Diana.
Katanya tidak tergoda dengan tubuhku, tapi buktinya si batang sudah berdiri dengan tegak dan mengeras seperti ini. Batin Diana terkekeh yang masih mengelus si batang.
Tidak berapa lama Rangga melepaskan ciumannya dan setelah itu dia tersenyum kepada Diana.
"Maafkan aku yang sudah tidak bisa menahan hasratku Di." Rangga mengusap bibir Diana yang basah dan bengkak, sambil tersenyum.
"Iya tidak apa-apa lagian aku menyukainya sayang." Tanpa sadar Diana menyebutkan kata yang selalu dia sebutkan di dalam hatinya untuk Rangga.
"Apa aku tidak mendengarnya, coba sekali lagi aku ingin mendengarnya dari bibirmu ini." Goda Rangga menyentuh bibir Diana, sambil tersenyum.
"S-a-y-a-ng." Tanpa rasa malu Diana memperjelas ucapannya sambil mengeja huruf tersebut di hadapan Rangga, dengan tangan yang mulai melingkar di leher Rangga.
"Kau sudah berani ya sekarang." Rangga memulai kembali aksinya sambil melempar tubuh Diana ke atas ranjang, dan melucuti semua pakaian yang dia kenakan di hadapan Diana.
Oh **** Sudah tampan dan tubuhnya pun begitu atletis, apalagi si batangnya sangat besar dan panjang. Batin Diana menelan salivanya dengan susah payah.
"Apa kau sudah siap sayangku." Rangga mulai menindih tubuh Diana dan membuka bra serta ****** ********, sehingga tubuh mereka berdua polos tanpa ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
"Iya sayang aku siap." Jawab Diana tersenyum lembut.
Kini di apartemen Keyla ada dua sepasang kekasih yang sedang bercinta dengan kamar yang berbeda, dan saling menyatukan rasa cintanya masing-masing tanpa ada rasa terpaksa dari mereka.
____________________
Terimakasih yang sudah mampir❤️
Jangan lupa tinggalkan like, coment dan vote ya🙏