
"Diana, gua mau istirahat sebentar. Dan jangan berani ada yang mengganggu atau bikin keributan." Perintah Keyla kepada Diana sebelum memasuki ruangannya.
"Baiklah Key lo istirahat dulu saja. Sepertinya akhir-akhir ini lo sedang banyak pikiran." Diana bisa melihat raut wajah Keyla yang tidak seperti biasanya.
"Tidak apa-apa Di, gua hanya kurang istirahat saja." Keyla membuka handle pintu ruangan tanpa melihat ke arah Diana terlebih dahulu, dan berjalan menuju ke arah sofa.
"Gue tahu Key sebenarnya lo lagi ada masalah, mungkin saat ini lo belum bisa menceritakannya sama gua." Gumamnya pelan menatap punggung Keyla, sambil menutup kembali pintu ruangan Keyla.
Kini Keyla merebahkan tubuhnya di atas sofa, seraya menghela nafas lega. Setelah mengelilingi perusahaan, Keyla selalu di buat jengkel oleh karyawan yang masih tidak patuh. Belum lagi cerita masalah keluarga Marcel, dia begitu penasaran dengan pria yang menghadang mobil Alex saat akan berangkat menuju ke bandara.
Ternyata Alex bukan ayah kandung Marcel, so Sella pura-pura hamil anak Alex. pikirnya Keyla masih penasaran.
Di depan ruangan, Diana berusaha menahan tangan Ziko yang akan memegang handle pintu ruangan Keyla. Sedangkan Ziko dia menatap tajam ke arah Diana yang sudah berani menahannya untuk memasuki ruangan Keyla.
"Kau berani menahanku." Bentak Ziko kesal, sambil menggeser tubuh Diana dari hadapannya.
"Mohon maaf Pak, karena Ibu Keyla saat ini sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun." Diana terlihat pucat ketika Ziko masih menatapnya dengan tatapan tajam.
Apa betul Keyla sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun, sebenarnya ada apa dengannya. Batin Ziko bertanya-tanya.
"Saya tidak peduli, kau pasti sengaja sedang membohongiku ya." Ziko menatap Diana dengan tatapan menyelidik, dia ingin mengetahui sebenarnya sekertaris Diana sedang membohonginya atau tidak. Akan tetapi dia tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Diana saat ini.
Sebaiknya nanti aku menghubungi Keyla saja. Batin Ziko berfikir.
Dengan rasa kesal Ziko membalikkan tubuhnya, dan berjalan meninggalkan Diana yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan heran.
Aish menyebalkan, dia seenaknya pergi begitu saja. Batin Diana heran.
"Oh iya memangnya dia siapa harus pamit terlebih dahulu kepadaku." Diana terkekeh, sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
Sore hari semua karyawan Wijaya Group melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan, karena waktu bekerja telah selesai.
"Di lo mau pulang bareng sama gua gak." Keyla sedikit membuka pintu ruangan Diana, dan hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Astaga setan." Diana refleks langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Sialan, lo berani ya ngatain gua setan." Decak Keyla kesal menatap tajam ke arah Diana.
"Lagian yang nongol kepalanya doang, gua kan kaget tahu." Dengan santai Diana mengerucutkan bibirnya.
Cih.
"Menjijikan, mau bareng gak nih mumpung gua lagi baik." Keyla memutar kedua bola matanya malas.
"Lain kali saja Key, saat ini banyak dokumen baru yang harus gua cek." Diana kembali menatap dokumen yang berada di atas meja.
"Baguslah karena aku hanya basa-basi menawarimu pulang bersama." Keyla membanting pintu ruangan Diana dengan sengaja.
"Ah jantungku." Diana menatap tajam ke arah pintu, sambil mengatur nafasnya.
Sialan si Key, memangnya gua punya banyak stok jantung apa. Batin Diana kesal.
Keyla akhirnya pulang sendiri mengendarai mobil mewahnya, setelah sampai di apartemen dia tidak sengaja bertemu dengan teman Marcel di dalam lift.
"Sepertinya kita pernah bertemu." Tanya Andrew ketika melihat Keyla yang berada di dalam lift.
"Benarkah." Keyla menyipitkan sebelah matanya menatap ke arah Andrew.
"Oh iya kita pernah bertemu di Summarecon Mall Kelapa gading, lo kan kekasihnya Marcel." Andrew begitu antusias setelah mengatakannya.
Uhuk.. Uhuk..
Raut wajah Keyla berubah menjadi panik, dia baru mengingat kembali bahwa pria ini adalah Andrew temannya Marcel. Akan tetapi Keyla berusaha menetralkan rasa paniknya dengan berpura-pura terkejut.
"Ah iya, lo rupanya Andrew teman sekolah Marcel." Keyla tersenyum ke arah Andrew.
"Iya ini gua, eh tapi kau sedang apa di sini." Selidik Andrew penasaran.
Sialan aku harus mengatakan apa. Batin Keyla kesal.
"Gua lagi-- Tiba-tiba pintu lift terbuka, Keyla tidak meneruskan ucapannya. Dia langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Andrew yang terlihat kebingungan.
"Kenapa dia berada di sini, lantai 3 kan apartemennya Marcel. Atau dia sedang ada janji bersama orang lain di sini." Sejenak Andrew nampak berfikir, tapi tidak berapa lama dia membulatkan matanya.
Ah apa jangan-jangan Keyla lagi mau menemui Marcel di apartemennya. Batin Andrew penasaran.
Andrew dengan cepat berjalan mengikuti langkah Keyla dari arah belakang, saat ini dia tidak peduli jika ketahuan oleh Keyla sedang mengikutinya.
"Apa benar Keyla akan menemui Marcel di apartemennya." Gumamnya pelan, menatap punggung Keyla yang berjalan di depan.
Tidak berapa lama Keyla berhenti di depan pintu apartemennya, dia begitu terkejut mendapati Marcel sedang membuka pintu.
"Mo-- Keyla langsung mencium bibir Marcel dan menutup pintu apartemennya kembali.
"Astaga, ternyata dugaan gua benar dia sedang menemui Marcel." Gumamnya pelan, melihat Keyla dari kejauhan sedang mencium Marcel.
"Ah iya satu lagi, gua baru ingat kalau gua juga pernah beberapa kali lihat dia keluar dari apartemen Marcel. Apa mungkin mereka tinggal bersama." Gumam Andrew nampak sedang berfikir.
Sebenarnya Keyla sudah mengetahui jika Andrew sedang mengikutinya dari arah belakang, akan tetapi dia berpura-pura tidak melihatnya.
Sedangkan Marcel dia begitu terkejut dengan serangan Keyla yang tiba-tiba menciumnya.
"Sayang maafkan, tadi ada Andrew di sini sedang mengikuti Mom." Ucap Keyla menjelaskan, sambil menatap raut wajah Marcel yang sedang terkejut.
Semoga dia tidak salah paham. Batin Keyla.
"Are you okay." Keyla menepuk pelan pipi Marcel.
"Sorry, im okay Mom." Marcel tersenyum membalas ucapan Keyla.
"Oh iya sayang besok Mom harus pergi ke London, ada perjalanan bisnis di sana." Dengan suara lembut Keyla memberitahu Marcel, sambil melangkahkan kakinya memasuki ruang keluarga.
"Berapa hari Mom?!" Tanya Marcel, mengikuti langkah Keyla dari arah belakang.
"Cuma dua hari sayang." Keyla merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Serius Mom." Tanya Marcel lagi, dan duduk di sebelah Keyla.
"Iya sayang, kau mau oleh-oleh apa dari sana." Tanya Keyla tersenyum.
"Tidak Mom, aku hanya ingin kau cepat kembali." Dengan cepat Marcel menjawab, sambil membalas senyumannya.
"Baiklah sayang, Mom akan melakukan pekerjaan dengan cepat di sana." Keyla mencium kening Marcel, lalu berdiri melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Cup.
Akhirnya mendapatkan vitamin. Batin Marcel tersenyum, menyentuh keningnya.
_____________________________
Terimakasih yang sudah mampir❤️
Jangan tinggalkan like, coment dan vote sayang 😉