
"Hmm sayang aku ingin makan bakso yang berada di depan perusahaan kita." Rengek Keyla memperlihatkan puppy eyes nya kepada Marcel.
"Di depan perusahaan kita? Maksud Mom yang-- Marcel menatap tajam ke arah Keyla, karena yang di maksud sang istri tempat makan bakso itu berada di pinggir jalan bukan sebuah resto.
"Iya sayang kamu benar yang itu." Mata Keyla berbinar ketika sang suami mengetahui tempat makan bakso yang dia inginkan.
"Aku tidak akan membelikan bakso itu, kecuali jika makan bakso di tempat lain. Sebentar Mom aku telepon Andrew suruh dia membawakan bakso dari restoran ternama di Jakarta." Marcel menelpon Andrew tapi belum sempat Marcel membuka suara, ponselnya sudah di rebut oleh Keyla.
"Aku tidak mau, bakso yang di pinggir jalan lebih enak di banding makan bakso yang berada di restoran." Jawab Keyla kesal tanpa menatap ke arah Marcel.
"Tapi di sana--" Marcel belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah di potong terlebih dahulu oleh Keyla.
Contoh visual Marcel.
"Sayang, pedagang di pinggir jalan juga dia tetap menjaga kebersihan untuk pembelinya jadi tidak usah khawatir. Lagi pula aku pernah mendengar dari para karyawan jika bakso yang berada di depan perusahaan kita itu bersih dan enak." Keyla terus meyakinkan suaminya agar dia bisa makan bakso yang berada di depan perusahaannya.
"Baiklah sekarang aku akan menyuruh Andrew untuk membelikan satu mangkok bakso itu." Marcel pasrah ketika melihat istrinya memohon, mungkin ini kemauan bayinya dan dia bisa menyebutnya dengan nama ngidam. Seperti yang pernah dia baca di internet tentang ibu hamil sebelumnya.
"Jangan." Cegah Keyla menahan tangan Marcel yang akan menekan tombol hijau. Sementara Marcel mengerutkan keningnya manatap istrinya dengan tatapan bingung.
"Aku ingin makan di sana." Jawab Keyla dengan santai sambil tersenyum lembut ke arah Marcel.
"APA??" Lagi-lagi Marcel terkejut dengan ucapan sang istri, dan melupakan suaranya yang menggema di dalam ruangan.
"Astaga sayang kamu membuat jantungku diam di tempat." Keyla menatap tajam ke arah Marcel, sambil mengelus perutnya.
"Jantung? Bukannya itu perut ya Mom." Marcel melupakan kekesalannya, sambil menahan tawa ketika melihat kelakuan istrinya.
"Hah? Eh iya ya hmm maksud aku tuh jantung anak kita." Keyla tidak mau terlihat bodoh di hadapan Marcel, akan tetapi hal tersebut malah membuat dirinya terlihat semakin bodoh di hadapan Marcel.
"Memang anak kita sudah ada jantungnya Mom." Lagi-lagi Marcel menahan tawanya agar tidak pecah.
Astaga kenapa aku bodoh sekali sih, ya mana mungkin dia sudah memiliki jantung. Mungkin seperti biji saja dia belum tumbuh. Batin Keyla merutuki kebodohannya.
"Ah ayo sayang, bayi kita sepertinya sudah tidak sabar ingin makan bakso di sana." Keyla mengalihkan pembicaraan dan mulai berdiri sambil meregangkan ototnya yang terasa pegal.
Haha.. Haha .. Haha.
Tidak tahan dengan tingkah Keyla, akhirnya tawa Marcel pun pecah juga yang sedari tadi dia tahan, dan sesekali dia mengusap kedua sudut matanya yang basah.
Contoh visual Keyla.
"Ck,,ck sungguh menyebalkan." Keyla melipat salah satu tangannya di atas dada, dan menatap tajam ke arah Marcel yang masih tertawa. Marcel yang menyadari jika saat ini sang istri marah kepadanya, dia segera berdehem menetralkan suaranya sambil membalas tatapan Keyla dan tersenyum lembut.
"Sebentar sayang aku ada sedikit pekerjaan yang harus di tanda tangani, kamu bisa duduk dulu ya di atas sofa." Titah Marcel dengan suara lembut.
"Hmm aku lebih baik duluan aja ya ke tempat bakso nya sayang." Jawab Keyla tersenyum lembut.
"Sayang tempat baksonya ada di depan perusahaan kita gak jauh, jadi jangan khawatir ya." Jelas Keyla dengan suara lembut.
"Tapi yang."
"Jangan kebanyakan tapi deh perutku sudah lapar nih, bye Daddy." Sebelum pergi Keyla mencium pipi Marcel, dan setelah itu dia berjalan meninggalkan ruangan suaminya.
"Daddy."
"Daddy."
Ucapan Keyla masih teringat jelas di kepala Marcel yang menyebut dirinya dengan sebutan Daddy, tanpa sadar bibirnya terus tersenyum dengan gerakan tangan yang lincah dia menandatangani berkas-berkas.
🖤🖤🖤🖤
Sementara di tempat lain.
Keyla yang sedang berjalan tiba-tiba mendengar nama dirinya di sebut, dengan rasa penasaran dia berhenti tepat di depan pintu ruangan manager.
"Eh tahu gak ternyata si Ibu Keyla tuh lagi hamil, kalian tahu sendiri kan pernikahannya saja baru kemarin di gelar eh udah hamidun aja dia." Ucap salah satu wanita itu dengan serius.
"Iyalah orang dia serumah sebelum menikah sama Pak Marcel." Timpal salah satu wanita yang menjabat sebagai manager keuangan.
"Kok Pak Marcel mau ya sama Bu Keyla secara dia itu kan ibu angkatnya, gak kebayang mereka ketika malam pertamanya tuh gimana." Timpal salah satu wanita lain, sambil tertawa dan di ikuti oleh karyawan lain.
"Pasti lah Pak Marcel sangat puas dengan service Bu Keyla, secara bodynya aja seperti gitar spanyol aku saja ngiler lihatnya." Ucap pria itu di sela tawanya.
Brakkk.
"Kenapa kalian berhenti membicarakan Keyla dan Marcel hmm." Ucap Keyla dengan suara lembut, sambil berjalan mengelilingi meja kerja para manager.
"Bukankah lebih bagus ketika ada orangnya ya, jadi orang yang kalian bicarakan bisa langsung berintropeksi diri." Keyla menekan kata berintropeksi dan menatap tajam satu persatu managernya.
"Ah tadi saya mendengar jika saya sudah hamil padahal baru kemarin saya menggelar pesta pernikahan, kalian mau tahu kenapa? Karena saya sama suami saya memang sudah bercinta terlebih dahulu. Saya tidak munafik seperti kalian dan saya juga tahu rahasia semua manager kesayanganku ini." Jelas Keyla dengan santai, sambil tersenyum tipis.
"Apalagi ya, ah tadi kalian bilang kalau Pak Marcel kok mau ya sama Ibu Keyla. Kalian mau tahu kenapa? Karena cinta yang tulus itu tidak akan pernah melihat seseorang dari segi apapun, apalagi jika takdir sudah berkehendak." Keyla berdiri tepat di hadapan wanita yang bertanya tentang perasaan Marcel, sementara raut wajah wanita itu sudah sangat pucat dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Dan kau, sudah berani menyamakan saya dengan para ****** yang sering tidur denganmu. Mulutmu ini berani sekali ya berbicara seperti itu atau mungkin kau sudah bosan berada di perusahaan Wijaya?" Tunjuk Keyla kepada pria yang sudah menatap dirinya dengan tatapan melecehkan dan menyamakan dirinya seperti ******.
"Maaf bu saya masih ingin bekerja di perusahaan ini." Jawab pria itu sambil menundukkan kepalanya. Dan begitupun para manager yang lain mengikuti ucapan pria tersebut.
"Begitu mudahnya ya mulut kalian berbicara minta maaf, uh tapi aku sangat menghargai itu. Dan maaf jika saya tidak bisa membantu kalian untuk tetap berada di perusahaan Wijaya Group karena kalian tahu jika saat ini CEO Wijaya adalah Pak Marcel." Jelas Keyla dengan lembut, dan beralih menatap seorang pria yang sedari tadi berada di depan pintu ruangan manager.
**Terimakasih yang sudah mampir jangan lupa seperti biasa LIKE COMENT DAN VOTE ya !! **
Salam manis dari mas Andrew.