
Keyla mendorong tubuh Marcel agar bisa melepaskan ciumannya, dia merasa malu jika harus melakukan hal seperti ini di hadapan Rangga.
"Why Mom?" Tanya Marcel kesal dia tidak terima dengan penolakan istrinya.
"Istrimu itu menghargai jika ada ayah masih di sini." Timpal Rangga dengan santai, sambil tersenyum menyeringai ke arah Marcel.
Sementara Keyla hanya tersenyum kikuk, dia masih merasa malu berhadapan dengan Rangga. Yang awalnya hanya rekan bisnis dan pernah terjebak skandal juga, itu membuat dirinya merasa canggung sebagai menantunya sekarang.
"Sebenarnya tujuan ayah ke sini ada hal penting yang harus kita bahas son tapi--" Belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah di potong terlebih dahulu oleh Marcel.
"Baiklah kita bahas di ruang kerjaku." Jawab Marcel yang mengetahui arti tatapan sang ayah.
"Sayang maaf ya aku tinggal sebentar, jangan merindukanku aku tidak akan lama di sana." Sebelum mengikuti Rangga ke ruang kerjanya, Marcel masih sempat-sempatnya menggoda sang istri.
"Hmm iya iya, cepat sana kasihan nanti ayahmu menunggu lama di sana." Keyla mendorong tubuh Marcel agar segera berjalan menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di ruang kerja, Marcel langsung menghampiri Rangga yang sedang duduk di atas sofa sambil menatap kosong ke arah depan.
"Sebenarnya ada hal penting apa yang ingin ayah bicarakan kepadaku." Tanya Marcel to the point dengan nada suara serius.
"Hmm sekarang Alex sedang merencanakan hal buruk untuk membunuh anakmu." Jawab Rangga dengan rahang yang mengeras.
"APA??" Marcel terkejut dengan ucapan Rangga, pasalnya dia baru saja mendengar lagi nama Alex yang tak lain adalah Daddy angkatnya.
"Kenapa dia bisa mengetahui jika istriku sedang hamil yah?" Dengan raut wajah yang lesu Marcel mengatakan hal itu kepada Rangga, sambil mengacak rambutnya prustasi.
"Ayah juga tidak tahu, Caca sama Ziko hanya mengatakan jika Alex sedang merencanakan akan membunuh anakmu. Kamu tahu kenapa? Karena keponakannya Alex melakukan percobaan bunuh diri dan mungkin dia tidak terima jika keponakannya bunuh diri gara-gara kamu." Jelas Rangga panjang lebar.
"Gara-gara aku, apa maksud ayah." Marcel mengerutkan keningnya.
"Mungkin cintanya tak terbalas dan tidak terima kamu bahagia dengan istrimu." Jawab Rangga mengangkat bahunya tidak tahu.
"Dan sekarang ayah juga sedang menyusun rencana untuk menangkap Alex." Rangga kini kembali memasang raut wajah serius.
"Apa rencanamu?" Tanya Marcel dengan raut wajah yang tak kalah serius.
"Kita akan menunggu dia lengah." Dengan santai Rangga mengatakan hal itu kepada Marcel, sambil menyandarkan tubuhnya di atas sofa.
"Sampai kapan yah?" Marcel merasa lama jika dia harus menunggu Alex lengah.
"Nanti kamu juga tahu sendiri." Rangga tersenyum menyeringai.
"Baiklah aku percayakan semuanya padamu yah, kalau begitu aku ingin menemui istriku dulu sepertinya aku merindukan dia." Marcel berdiri sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Rangga.
"Kamu di sini baru 5 menit, dan sekarang udah merindukan dia? Astaga ayah gak kebayang seperti apa kamu jika suatu hari tidak bisa bertemu lagi dengan istrimu." Dengan asal Rangga mengatakan hal itu kepada Marcel, sementara Marcel yang sudah berada di depan pintu dia hanya bisa mematung mendengarkan ucapan ayahnya.
Ada rasa tak terima jika dia harus di pisahkan dengan Keyla, sedari dulu baginya nafas dia hanya untuk istrinya apalagi sekarang di hidup mereka akan ada buah hati yang melengkapi hidupnya bersama Keyla.
"Sebelum hal buruk terjadi kepada keluargaku, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri tidak akan membiarkan mereka bisa hidup dengan tenang jika mereka sudah berani mengusik keluargaku." Jawab Marcel tersenyum menyeringai, setelah itu dia pergi meninggalkan Rangga yang masih berada di ruang kerjanya.
*"Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu atau bahkan berani memisahkan kita, sebelum itu terjadi aku tidak akan membiarkan mereka bisa hidup dengan tenang." Ucap Rangga dengan nada suara serius, sambil mengusap rambut wanita yang berada di pelukannya dan sesekali dia mencium pucuk kepalanya. *
*Hiks,, hiks,, *
"Tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu yang tidak merestui hubungan kita, bahkan sekarang aku sedang mengandung cucu mereka tapi--- Wanita itu tidak menyelesaikan ucapannya dia menumpahkan rasa sedihnya di dalam pelukan Rangga.
"Sayang sabar ya sebentar lagi kita akan mendapatkan restu mereka." Rangga terus meyakinkan wanita itu yang tak lain adalah Mommy Marcel.
"Aarrggggh kenapa aku jadi memikirkan dia." Rangga mengacak rambutnya prustasi, dan tanpa sadar air matanya lolos begitu saja.
"Andai kamu tidak selingkuh dengan pria brengsek seperti Alex, mungkin kamu masih di sini bersamaku dan anak kita." Lirih Rangga terisak membayangkan masa lalunya.
Sementara ada seorang wanita yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruang kerja Marcel, sambil membawa secangkir teh hangat. Perlahan sebelah tangannya mengusap air mata yang lolos begitu saja membasahi pipi putihnya.
"Sekarang aku tahu, jika hatinya masih mencintai mantan kekasihnya dan sementara aku hanya pelampiasan dia ketika sedang bosan saja." Gumam Diana pelan menahan isak tangisnya, agar tidak terdengar oleh Rangga.
Perlahan kakinya mulai berjalan menjauhi ruang kerja Marcel, dan masih membawa secangkir teh hangat yang akan di berikan kepada Rangga.
"Tapi aku mungkin akan meminta maaf kepadamu jika kamu masih ada di sini, hatiku perlahan sudah mencintai wanita lain dan entah sejak kapan aku mulai mencintainya." Gumam Rangga pelan, tiba-tiba dia teringat dengan Diana yang sudah memenuhi isi kepalanya setiap hari. Setelah itu dia tersenyum membayangkan wajah Diana dan kebersamaannya.
"I love you Di." Rangga tersenyum setelah mengatakan hal itu, sambil beranjak dari atas sofa dan berjalan meninggalkan ruang kerja Marcel.
🖤🖤🖤🖤🖤
Sementara Di tempat lain.
"Bukannya itu Diana." Mata Keyla tak sengaja melihat Diana sedang duduk di taman belakang dengan bahu yang bergetar.
"Lebih baik aku samperin dia." Gumam Keyla pelan, sambil berjalan ke arah Diana.
"Di lu kenapa?" Tanya Keyla pelan, setelah dia mengetahui jika saat ini Diana sedang menangis dan ini baru pertama kalinya Keyla bisa melihat seorang Diana menangis juga.
"Ini lu bukan si Di kok gue jadi takut ya, malam-malam ada seorang wanita yang sedang menangis sendirian." Goda Keyla pura-pura ketakutan, sambil mengusap kedua lengannya yang di balut piyama.
"Sialan lu mau ngatain gue kuntil." Jawab Diana di sela isak tangisnya, sambil menatap tajam ke arah Keyla.
"Hey jangan marah dong gue kan hanya memastikan ini lu apa bukan? Karena jujur ini baru pertama kalinya gue bisa melihat lu nangis Di." Jelas Keyla terkekeh, sambil membawa Diana kedalam pelukannya.
Hiks,, hiks,,,
"Ini gue Key, gu-e sebenarnya juga rapuh sama seperti cewe lain. Hanya saja gue tidak menunjukkan rasa sedih gue di hadapan orang lain karena buat apa--" Diana belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah di potong terlebih dahulu oleh Keyla.
"Iya, iya gue tahu Di. Sekarang lebih baik lu menangislah setidaknya setelah itu lu bisa sedikit tenang." Keyla mengusap punggung Diana, dan sesekali mencium pucuk kepalanya.
Mungkin saat ini lu masih belum percaya untuk cerita sama gue Di, tapi gue harap sekarang lu bisa tenang setelah menangis di dalam pelukan gue. Batin Keyla ikut merasakan kesedihan Diana.
Terimakasih yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT dan VOTE !!