Hot Mommy

Hot Mommy
Misi baru untuk Caca



"Lu yakin jadi seorang Daddy?" Tanya Andrew menatap sahabatnya serius.


"Yeah gue yakin 1000%." Jawab Marcel begitu antusias, sambil tersenyum lebar menatap sahabatnya.


Sementara Keyla hanya menatap Marcel datar entah apa yang ada di pikirannya sekarang,


Keyla bukan tidak bahagia mendapat kabar bahwa dirinya sedang hamil dari hasil cintanya dengan Marcel. Namun kebahagiannya kalah dengan rasa takut dan kekhawatirannya saat ini apalagi ayah angkat Marcel belum tertangkap, mungkin saat ini dia sedang merencanakan hal jahat untuk keluarga kecilnya.


Marcel baru menyadari jika ekspresi sang istri bertolak belakang dengan dirinya.


Apa dia tidak bahagia mengandung anakku, atau sebenarnya--. Batin Marcel terus bertanya-tanya, dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul di kepalanya saat ini untuk Keyla.


"Mommy kenapa?" Tanya Marcel lembut mengusap kedua pipi Keyla.


"Aku tidak apa-apa sayang." Dengan gugup Keyla menjawab, sebisa mungkin dia harus menyembunyikan rasa takut dan kekhawatirannya di hadapan Marcel.


"Mommy Keyla." Tegas Marcel saat menyadari jika sang istri sedang menyembunyikan sesuatu terhadapnya, bukan satu atau dua tahun dia hidup bersama Keyla sudah pasti Marcel tahu jika ada sesuatu hal yang di sembunyikan oleh Keyla.


"Sayang." Keyla langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marcel, dan memeluknya erat dia ingin melupakan rasa takut dan kekhawatirannya saat ini di pelukan sang suami.


"Kenapa hemm." Marcel mengusap kepala Keyla dengan lembut, dan sesekali dia menciumnya.


"Aku--a-ku takut sayang." Ucap Keyla dengan suara parau.


"Sttt jangan takut and dont cry honey." Marcel melepaskan pelukannya, menatap sang istri dan mengusap air matanya dengan lembut. Setelah itu dia kembali memeluk Keyla sambil mengusap punggungnya secara perlahan.


Andrew menyadari jika saat ini dirinya salah berada di dalam ruangan sahabatnya itu, dengan perlahan dia bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan sahabatnya itu.


"Saat ini aku tahu apa yang ada di pikiran Keyla." Gumam Andrew pelan, sambil menutup pintu.


"Ayo cerita sama suamimu ini, sebenarnya kenapa istri seorang Marcel Wijaya yang cantik ini tiba-tiba menangis saat mendapat kabar bahwa dia sedang hamil." Goda Marcel terkekeh, sempat-sempatnya dia berfikir untuk menggoda sang istri.


Aww ,,, Sttt.


"Sakit sayang." Marcel mengaduh kesakitan saat perutnya di cubit dengan keras oleh Keyla.


"Kamu sih." Keyla mengerucutkan bibirnya dan memutar kedua bola matanya malas.


Cup.


Dengan gemas Marcel mencium bibir istrinya yang sedang mengerucutkan bibirnya, bagi Marcel saat ini Keyla terlihat sangat menggemaskan.


"Aku takut dan khawatir sayang." Keyla mulai menceritakan kepada Marcel bahwa dirinya bukan tidak bahagia mendapat kabar sedang hamil, hanya saja dia takut dan khawatir tentang keluarga kecil jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


"Jangan takut ada aku yang akan selalu menjagamu dan baby kita jika sesuatu hal terjadi, nyawa bodyguard siap mati hanya untuk melindungi kita." Marcel kembali menggoda Keyla, setidaknya dia bisa melihat istrinya tersenyum dan melupakan rasa takutnya itu.


"Iihh kalau semisal terjadi sesuatu kepadamu bagaimana." Tanya Keyla serius menatap manik mata Marcel.


"Itu tidak akan mungkin terjadi karena suamimu ini sangatlah kuat." Dengan bangga Marcel mengatakan hal itu dan tersenyum lebar.


"Huh bicara denganmu selalu kalah terus." Keyla mulai kesal ketika mendengar jawaban sang suami.


🖤🖤🖤🖤🖤


Rumah sakit.


"Yang kamu tahu saat ini Keyla sedang hamil anak Marcel loh." Caca memberitahukan kabar bahagia sahabatnya kepada Ziko yang saat ini berada di ruangannya.


"Hmm tidak usah kamu pikirkan, maaf kalau aku keduluan sama Keyla." Caca menundukkan kepalanya karena dia tersadar jika pernikahannya lebih dulu dirinya di banding Keyla, dan saat mengatakan Keyla sedang hamil dia sudah bisa menebak ekspresi suaminya.


"Hey jangan berfikir seperti itu, aku tidak mempermasalahkan hal itu yang terpenting kamu selalu ada di sampingku dan kita menua bersama." Ziko membawa sang istri kedalam pelukannya, setelah itu dia mengusap punggung istrinya sesekali dia mencium pucuk kepalanya.


"Hmm sayang." Caca membalas pelukan Ziko tidak kalah erat.


"Eh katanya mau berangkat kerja, ayo aku antar ke tempat parkir." Caca mendongakkan kepalanya menatap mata Ziko.


"Ayo."


Saat di lorong rumah sakit Caca yang sedang berjalan bersama Ziko tidak sengaja melihat Alex sedang berbicara dengan salah satu dokter di rumah sakit ini. Dan tidak berapa lama mereka juga melihat keberadaan keponakannya Alex tengah duduk di kursi roda yang sedang di dorong oleh suster menghampiri Alex.


"Keponakan Alex kenapa ya?" Gumam Caca pelan, menatap suaminya.


"Aku tidak tahu, dan sepertinya aku harus memberitahukan hal ini kepada Rangga jika aku melihat Alex ada di rumah sakit ini." Ziko mulai membuka ponsel miliknya dan mengirimkan pesan kepada Rangga.


✉️Rangga sialan.


Send pict.


*Ting. *


Tidak berapa lama ponsel miliknya berdering.


📩Rangga sialan.


Cari tahu dia kenapa ada di situ, kemungkinan beberapa hari dia akan berkeliaran di rumah sakit itu.


****.


"Sebentar lagi aku ada meeting dengan client dari Rusia." Gumam Ziko kesal menatap arlogi di pergelangan tangannya.


"Kenapa?" Tanya Caca menatap suaminya yang berada di samping terlihat sangat kesal.


"Aku di suruh si Rangga mencari tahu info mengenai Alex berada di rumah sakit ini, tapi aku tidak bisa sebentar lagi aku ada meeting dengan client dari Rusia." Jelas Ziko panjang lebar kepada istrinya.


"Yasudah kamu berangkat saja ke kantor, di sini biar aku saja yang mencari tahu." Ucap Caca serius.


"Tapi yang--." Ucapan Ziko sudah di potong terlebih dahulu oleh Caca.


"Sudah jangan kebanyakan tapi, toh aku juga tahu siapa Dokter itu." Caca kembali meyakinkan suaminya.


"Baiklah aku percayakan semuanya padamu, jangan sampai ketahuan oleh Alex aku tidak mau istriku kenapa-kenapa." Ziko memperingatkan istrinya untuk hati-hati, setelah itu dia mengecup kening Caca dan pergi meninggalkan rumah sakit.


"Misi baru untuk Caca." Gumam Caca pelan, sambil tersenyum lebar menatap Alex dan Dokter itu masih sedang berbicara.


"Terimakasih Dok, kalau begitu saya pergi masih banyak hal yang harus saya selesaikan." Alex menjabat tangan Dokter itu, dan membawa Renata meninggalkan rumah sakit.


"Akan aku balas mereka dengan tanganku sendiri, sudah memperlakukan keponakanku seperti ini." Gumam Alex pelan menatap keponakannya yang sedang berada di kursi roda, dan memperlihatkan urat yang berada di lehernya menonjol.


Terimakasih yang sudah mampir di karyaku, jangan lupa tinggalkan Like, Coment Dan Vote.


**Salam manis dari keluarga besar Wijaya untuk para reader setia Hot Mommy. **