
"Kenapa kalian jadi menonton istri saya, memangnya ini sebuah pertunjukkan hah?" Bentak Marcel yang baru menyadari jika dirinya dan Keyla sedang menjadi tontonan kedua sekertarisnya.
Sementara orang yang berada di dalam ruangan saling menatap satu sama lain, dan setelah itu mereka menundukkan kepalanya. Kecuali Diana yang sudah paham dengan situasi seperti ini dia harus melakukan apa, ya karena dia tahu jika Dokter pribadi keluarga Wijaya adalah sahabatnya sendiri yaitu Dokter Caca.
"Mati aku lupa." Diana segera menelpon Dokter Caca, dan memberitahukan kondisi Keyla saat ini.
"Mom, please wake up." Ucap Marcel dengan suara lirih, sambil terus memegang tangan Keyla dan sesekali mencium punggung tangannya.
Begitu besar cinta Marcel terhadap Keyla, gak nyangka Key lu jadi seorang wanita beruntung banget di cintai sama suami lu. Batin Diana terharu.
Tidak berapa lama Dokter Caca masuk ke dalam ruangan presdir, dia begitu terkejut ketika melihat keadaan Keyla sangat pucat dengan mata yang masih terpejam.
"Keyla kenapa?" Tanya Caca sambil memeriksa keadaannya.
"Dia tadi muntah-muntah, dan setelah itu dia tidak sadarkan diri saat berada di dalam toilet." Jawab Diana sedikit ragu-ragu.
"Hmm jadi begitu ya, apa dia sebelumnya sering mengalami hal seperti ini Cel?" Kini Caca beralih bertanya kepada Marcel.
"Hmm sepertinya tidak Aunty, karena akhir-akhir ini aku juga sering di samping Mommy. Tapi dia pernah bilang kalau seminggu ini tubuhnya merasa lebih lelah, mengantuk dan mudah lapar." Jawab Marcel serius, sambil menatap wajah Dokter Caca dan sesekali dia kembali menatap wajah istrinya.
"Hmm sepertinya tebakanku benar." Gumam Caca pelan sampai-sampai tidak terdengar oleh orang lain.
"Aunty minta sampel darah istri kamu ya." Pinta Caca, sambil mengambil sampel darah Keyla dan setelah itu Caca kembali menaruhnya di dalam tas.
"Iya Aunty, memang sakit apa Mommy? Apakah separah---" Tanya Marcel dengan berbagai macam pertanyaan kepada Caca, dengan pikiran yang sudah menyimpulkan tentang penyakit istrinya.
"Apa yang kamu simpulkan belum tentu benar." Caca seperti sudah tahu isi kepala Marcel akan mengarah kemana.
"Ehem." Marcel hanya berdehem karena apa yang di katakan oleh Dokter Caca benar, bahwa dia berfikir kalau istrinya mengidap penyakit serius.
"Sebentar lagi istri kamu sadar, usahakan dia jangan sampai banyak pikiran ya. Dan secepatnya Aunty kasih kabar mengenai hasil dari sampel darah istri kamu." Ucap Caca panjang lebar dan hanya di balas anggukan oleh Marcel.
"Kalau begitu Aunty pergi dulu ya, masih banyak pasien yang harus di tangani." Caca sekilas melihat arlogi yang berada di pergelangan tangannya, setelah itu dia kembali menatap Marcel.
"Baiklah terimakasih Aunty." Balas Marcel sambil tersenyum, mempersilahkan Dokter Caca untuk keluar.
Dokter Caca berjalan meninggalkan ruangan presdir dan di ikuti oleh Diana dari arah belakang.
"Ca tunggu sebentar." Cegah Diana menahan tangan Dokter Caca.
"Iya ada apa?" Tanya Caca serius.
"Apa kamu yakin bahwa Keyla tidak mempunyai penyakit serius?" Diana masih belum yakin dengan jawaban Dokter Caca ketika masih berada di dalam ruangan.
"Astaga, gue pikir lu mau nanya apa." Balas Caca terkekeh, menepuk bahu Diana yang masih terdiam menunggu jawaban selanjutnya dari Caca.
"Gue serius dia tidak memiliki penyakit serius, gue hanya menebak kalau dia itu lagi hamidun makanya gue ambil sampel darahnya buat memastikan tebakan gue benar atau tidak." panjang lebar Caca menjelaskan kepada Diana, sambil sesekali terkekeh melihat raut wajah Diana yang begitu khawatir dengan sahabatnya.
Hah bentar, tadi dia bilang hamidun." Batin Diana bertanya-tanya.
"Eh lu bilang apa tadi, hamidun?" Selidik Diana menyipitkan sebelah matanya.
"Yes, astaga atau jangan-jangan lu gak tahu apa itu hamidun?" Caca menggelengkan kepalnya, sambil berjalan.
"Gue gak sebodoh itu kali Ca." Diana mengimbangi langkah Caca.
"Maksud gue tuh kenapa secepat itu dia hamil, karena lu tahu sendirikan dia baru saja menikah." Ucapan Diana seketika membuat Caca berfikir dan menghentikan langkahnya.
"Eh iya ya." Mereka saling menatap satu sama lain dan setelah itu kembali berjalan, mereka melupakan ucapannya tentang Keyla yang sudah hamil tapi baru saja menikah. Karena mau bagaimanapun Keyla sudah mempunyai suami buat apa di permasalahkan.
Ruangan presdir.
Perlahan Keyla membuka kedua matanya beberapa kali mencoba membiasakan matanya yang terkena cahaya.
"Haus." Ucap Keyla dengan suara serak, sambil mengusap tenggorokannya.
"Sebentar Mom." Marcel langsung membawa segelas air putih yang berada di atas meja kerjanya.
"Ayo aku bantu buat minum Mom." Marcel dengan telaten membantu Keyla untuk duduk dan menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Terimakasih sayang." Ucap Keyla masih dengan suara serak dan tersenyum lembut, setelah itu dia meneguk air putih yang di berikan oleh marcel.
"Mommy istirahat saja ya di sini atau mau di--" Marcel tidak menyelesaikan ucapannya karena sudah di potong lebih dulu oleh Keyla.
"Di sini sayang, Mommy sangat merindukanmu." Keyla memeluk Marcel erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Marcel.
"Justru aku lebih merindukanmu Mom, beberapa jam tidak bertemu membuatku sesak." Marcel membalas pelukan Keyla tidak kalah erat.
"Sesak?" Keyla mendongakkan kepalanya ke atas menatap manik mata Marcel.
"Yeah Mom, karena sebagian hati dan jantungku sudah kamu ambil." Goda Marcel mencubit hidung Keyla dengan gemas.
"Raja gombal dan lebay." Keyla melepaskan pelukannya, dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Tapikan Mommy suka." Marcel kembali menggoda Keyla, sambil ikut merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"I see." Jawab Keyla pelan, sambil memejamkan kedua matanya.
Tidak berapa lama dari arah pintu terdengar suara ketukan dari luar ruangan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk." Sahut Marcel dari dalam ruangan, dan di sana sudah memperlihatkan sekertarisnya yang sedang membawa amplop berwarna coklat berjalan ke arahnya.
"Maaf pak mengganggu, ini hasil sampel darah Ibu Keyla dari orang suruhan Dokter Caca." Ucap Andrew menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Marcel.
"Terimakasih." Marcel langsung membuka amplop tersebut di hadapan Andrew dan Keyla yang sudah mulai membuka matanya.
"Sampel darah? Memangnya aku kenapa sayang?" Tanya Keyla penasaran.
"It's okay Mom." Jawab Marcel sambil fokus membaca isi kertas yang bertuliskan hasil dari sampel darah Keyla. Setelah itu raut wajahnya berubah seperti telah mendapatkan peti harta karun.
"Mommy makasih, i love you so much." Ucap Marcel antusias, dan terus menciumi suluruh wajah Keyla sesekali dia memeluk tubuh istrinya.
*Sepertinya si Marcel sudah gila ya, masa setelah membaca hasil dari sampel darah istrinya dia seperti itu.* Batin Andrew.
"Apasi yang." Keyla mulai membuka suara, pasalnya Marcel masih terus menciumi seluruh wajahnya dan tidak memberitahukan apa penyebabnya dia menjadi seperti ini.
"Aku akan menjadi Daddy yang." Ucapan Marcel berhasil membuat kedua orang yang berada di dalam ruangan tersebut, seketika mematung dan menatap Marcel tidak berkedip.
"Daddy."
"Daddy."
Gumam kedua orang tersebut dengan pelan, dan masih menatap Marcel tidak berkedip.
Terimakasih sudah membaca karyaku jangan lupa tinggalkan like, coment dan vote.