
Keyla berjalan menuju ruangannya dan di ikuti Marcel dari arah belakang.
Aish bahkan mereka keluar dari ruanganku begitu saja, tanpa bilang terimakasih dan pamit kepadaku. Seperti jailangkung saja datang tak di undang pulang tak di antar. Batin Diana bergidik merinding setelah mengatakan jailangkung.
Sementara di ruangan Keyla, Marcel terus saja berada di dekat Keyla bahkan tidak menyisakan jarak di antara mereka. Kini Keyla sedang duduk di pangkuan Marcel yang berada di kursi kebesarannya.
"Mom,, apa kau masih belum selesai." Tanya Marcel sambil menghirup aroma rambut Keyla dengan dalam.
"Heem sebentar lagi sayang." Gumam Keyla pelan tanpa menoleh ke arah Marcel.
Huh membosankan. Batin Marcel kesal.
"Argh Mom mataku perih." Gerutu Marcel sambil menutup matanya.
Seketika Keyla panik menghentikan pekerjaanya, dan menoleh ke arah Marcel yang berada di belakangnya. Akan tetapi ketika Keyla menoleh Marcel memajukan wajahnya di samping wajah Keyla, sehingga bibir Keyla dan Marcel bersentuhan.
Cup.
"Sayang ah kau menyebalkan." Gerutu Keyla kesal, sambil buru-buru menatap layar laptop supaya menutupi rona merah di pipinya.
*Haha..
Ini baru tidak membosankan. Batin Marcel terkekeh.
"Argh Mom beneran ini sangat perih." Ucap Marcel serius.
Akan tetapi ketika Keyla menoleh kembali ke arah Marcel, dengan sigap Marcel mencium kembali bibir Keyla.
Cup
"Sayang kau sengaja ya mengerjai Mommymu, hah!!" Decak Keyla kesal berdiri dari pangkuan Marcel.
"Mom sorry, aku hanya becanda." Jawab Marcel dengan wajah memelas.
"Kau bilang hanya becan--- Keyla belum sempat menyelesaikan ucapannya, Marcel sudah menarik tangan Keyla dan kembali duduk di pangkuannya, akan tetapi sekarang Keyla saling berhadapan dengan Marcel.
"Mom mataku perih." Ucap Marcel setengah berbisik mendekat pada wajah Keyla.
Punggung Keyla menegang, jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Rona merah di pipi Keyla kini terlihat jelas di wajahnya yang putih. Keyla menundukkan kepalanya, dan memejamkan matanya. Dengan begitu erat hingga kerutan di area matanya terlihat sangat jelas.
Marcel menaikkan dagu Keyla dengan telapak tangannya, wajah Keyla yang saat ini sangat menggemaskan di mata manik Marcel. Rasanya Marcel ingin menciumi wajah Keyla sebanyak-banyaknya, tapi diurungkan niatnya.
Astaga Mom kau sangat menggemaskan. Batin Marcel tersenyum.
Marcel mendekatkan wajahnya dengan wajah Keyla. Hembusan nafas saling menerpa dan menimbulkan kehangatan pada wajah mereka. Marcel menautkan keningnya pada kening Keyla dan masih terus menatapnya lekat. Kemudian Marcel menempelkan hidungnya pada hidung Keyla. Jarak mereka semakin dekat.
Punggung Keyla menegang, dia belum siap menerima serangan apapun. Matanya membuka lebar menatap manik mata Marcel yang berada sangat dekat dengannya. Tiba-tiba serangan itu datang, Marcel mengecup bibir tipis Keyla. Dan menempelkan bibirnya pada bibir Keyla yang manis dengan sedikit tekanan.
Sedangkan Keyla dia begitu terkejut dengan serangan Marcel yang tiba-tiba menciumnya, akan tetapi tidak berapa lama dari luar ruangan terdengar ada seseorang yang sedang mengetuk pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
Dengan cepat Keyla berdiri dari pangkuan Marcel, dan menyuruh Marcel untuk berdiri juga dari kursi kebesarannya.
Huft seperti seorang pencuri yang sedang ketahuan saja. Batin Keyla terkekeh.
"Masuk." Perintah Keyla dari dalam.
Ketika Diana mendengar perintah untuk masuk ke dalam, dengan cepat dia langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri meja Keyla sambil menggerutu.
"Lo kebangetan ya, di luar gua nungguin perintah masuk dari lo. Sampai kaki gua kesemutan berdiri terus, dan tangan gua juga lecet gara-gara terus mengetuk pintu sialan itu." Gerutu Diana kesal.
*Cih.
Aunty memang lebay. Batin Marcel.
"Sorry, jadi gimana lo udah mendapatkan informasinya." Tanya Keyla dengan antusias.
"Heem.. Dan lo jangan terkejut ketika membukanya Key." Ucap Diana meletakkan amplop di atas meja, sambil berjalan ke arah sofa dan duduk di hadapan Marcel.
Ketika Keyla membuka amplop tersebut, dia begitu terkejut mendapati poto Caca sedang bersama pria itu. Keyla beralih menatap ke arah Diana yang berada di atas sofa dengan tatapan menyelidik.
"Diana, jadi dia." Ucap Keyla dengan suara parau.
"Iya Key, dia pria brengsek itu. Dan baru satu minggu dia berada di Indonesia, sebelumnya dia tinggal di London. Akan tetapi Key lo tahu sekarang dia seorang duda." Diana menjelaskan dengan santai kepada Keyla, dengan nada penekanan di kata terakhir.
"Maksud lo." Selidik Keyla tidak percaya.
"Istrinya 8 tahun yang lalu dia mengalami kecelakan ketika hendak berangkat ke bandara bersama si brengsek itu, beruntungnya si brengsek itu selamat Key. Cuma bagian wajahnya yang terluka parah sehingga mengharuskan untuk operasi di bagian wajahnya." Ucap Diana panjang lebar dengan menatap Keyla.
"Pantas saja gua tidak mengenalinya." Gumam Keyla pelan.
"Mom jadi siapa pria itu?!" Tanya Marcel penasaran.
"Hem.. Dia dulunya mantan kekasih Dokter Caca sahabat Mommy sayang, akan tetapi pria itu menghianati si Caca, alasannya karena dia sudah menghamili wanita malam yang sering dia tiduri di club." Dengan santai Keyla menjelaskan kepada Marcel.
"Oh, terus anaknya kemana Mom?!" Sekali lagi Marcel bertanya karena masih penasaran.
Keyla dan Diana saling pandang, karena di amplop itu tidak menunjukkan poto anaknya.
"Kau benar Cel, anaknya sekarang di mana dia? Karena Aunty tidak menerima informasi mengenai anaknya, dan di amplop itu juga tidak menunjukkan tentang keberadaan anaknya." Ucap Diana nampak berfikir.
Ada benarnya juga perkataan Marcel, aku harus mencari tahu keberadaannya. Batin Keyla berfikir.
"Diana, lo harus mencari informasi lengkap tentang si brengsek itu." Perintah Keyla dengan tegas.
"Ok baiklah." Jawab Diana, sambil memutar kedua bola matanya malas.
Bonus visual Marcel.
_____________________________
Terimakasih yang sudah mampir❤️