
Tidak berapa lama Alex sudah sampai di kediaman Vino, ia sama sekali tidak curiga jika sudah terjadi sesuatu di kediaman Vino pasalnya semua pekerja rumah sudah melakukan aktivitas seperti biasa.
"Selamat malam tuan." Sapa security membuka gerbang, mempersilahkan mobil Alex masuk.
"Vino ada di rumah pak." Tanya Alex yang masih berada di dalam mobil.
"Ada tuan, silahkan masuk ke dalam." Security tersenyum ramah membungkuk hormat. Dalam hatinya ia sangat takut berhadapan dengan Alex jika aktingnya ketahuan bisa mati malam ini juga.
Semoga semua akting pekerja di sini tidak ketahuan oleh tuan Alex tuhan. Batin security berdoa.
Sesampainya di dalam mansion Alex segera menuju kamar milik Vino yang berada di lantai dua, ia sempat berpapasan dengan pelayan yang terlihat sedikit pucat saat tersenyum ke arahnya. Namun ia tidak menyadari sesuatu yang terjadi di mansion ini, mungkin pelayan itu sedang sakit pikirnya.
Tok,, Tok,, Tok.
"Vin buka pintunya." Teriak Alex dari luar sambil menggedor pintu dengan keras.
"Iya iya masuk, pintu gak di kunci bos." Sahut Vino dari dalam kamar.
Namun saat membuka pintu kamar Vino ia kalah telak karena anak buah Marcel dengan cepat sudah memukul tengkuk Alex sekuat tenaga menggunakan tongkat baseball.
Arrrggghhh ****.
Alex yang sudah terkapar tak berdaya ia tersenyum sinis menatap beberapa anak buah Marcel yang tersenyum ke arahnya sebelum ia menutup kedua matanya.
"Ayo bawa dia ke markas Laxia's." Ucap salah satu anak buah Marcel.
Setelah kejadian penangkapan Vino semua pekerja di lepaskan dan menyuruh mereka untuk berakting jika Alex sudah tiba di kediaman mansion Vino seperti tidak terjadi sesuatu. Dan beruntungnya salah satu anak buah Marcel mempunyai kelebihan menirukan suara orang lain sehingga ia bisa melabui Alex yang berada di luar kamar.
Sebelumnya mereka sangat bingung jika harus mengkhianati majikannya, akan tetapi kenyataan mengatakan jika sang majikan tidak akan kembali lagi percuma saja. Lebih baik mereka mengikuti rencana yang di berikan oleh anak buah Marcel, apalagi setelah berakting mereka di kasih kompensasi yang sangat menggiurkan iman para mata duitan.
🖤🖤🖤🖤
Markas Laxia's.
Perlahan Alex membuka kedua matanya dengan samar-samar ia bisa melihat jika Vino yang berada di hadapannya sedang berdiri dengan kedua tangannya di ikat oleh rantai seperti dirinya.
"Bos sudah sadar maafkan saya sudah tidak becus menjadi anak buahmu." Raut wajah Vino saat ini terlihat sangat menyesal, karena tidak menyadari jika sudah terjadi hal aneh di mansionnya untuk menjebak dirinya dan Alex.
"Sudahlah percuma saja menyesali yang sudah terjadi tetep saja kita masih berada di sini." Jelas Alex memejamkan kedua matanya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Prok,, Prok,, Prok.
"Ternyata kalian sudah sadar, sebentar lagi tuan kami akan datang menemui kalian." Salah satu anak buah kepercayaan Marcel tersenyum menyeringai.
"Cih, saya tidak takut dengan tuan kalian." Jawab Alex sinis.
Lima belas menit kemudian Marcel bersama Keyla dan yang lain sudah sampai di hadapan Alex serta Vino yang masih terikat dengan wajah yang sangat mengenaskan.
"Bagimana Alex tidur di sini nyenyakkan, ah apa kau tidak ingin tahu dengan wajahmu sekarang sangatlah tampan." Diana berjalan ke arah Alex, sambil mengeluarkan ponsel dan menunjukkan kamera kewajahnya.
"Bagaimana sangat tampan bukan." Sementara Alex hanya berdecih memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Sayang hentikan jangan sampai tangan indahmu menjadi kotor setelah menyentuh tubuh keparat Alex." Rangga merangkul Diana yang histeris memukul Alex, entah kenapa saat ini bumil sangat mellow melihat kondisi Ziko yang di kirim oleh Caca lewat pesan.
"Cih, pasangan aneh." Alex berdecih memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Sialan." Rangga melayangkan pukulan di wajah Alex sehingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya.
Setelah puas melihat aksi bar-bar Diana, Keyla menghampiri Alex dan di ikuti oleh Marcel dari arah belakang ia tidak ingin jika sang istri melakukan hal aneh seperti Aunty Di.
"Siapa yang menyuruhmu, cepat katakan." Tanya Keyla tersenyum menyeringai, ia tahu sebenarnya Alex hanya menjadi umpan untuk menjebaknya terlihat dari wajahnya yang sangat tenang berada di markas Laxia's. Sedangkan Vino ia bisa melihat wajahnya terlihat sangat panik dan menyesali perbuatannya karena ia tidak ingin mati konyol di sini.
"Ternyata istrimu sangat pintar boy." Alex terkekeh sekilas melirik ke arah Marcel.
"Diam jangan panggil aku boy karena namaku Marcel." Bentak Marcel menatap tajam ke arah Alex.
"Apakah kau sudah membenci Daddymu boy, Daddy masih sangat menyayangi mu." Raut wajah Alex terlihat sangat menyedihkan ketika menatap Marcel.
"Haha menyayangiku dengan cara menyiksa dan setelah itu membuangnya tengah malam dengan keadaan jalanan sepi, dan saat itu aku masih berusia 8 tahun. Itu yang kau sebut sayang seharusnya anak seusiaku masih butuh kasih sayang kedua orangtuanya." Teriak Marcel menatap tajam ke arah Alex.
"Jika saat itu tidak ada Mommy Key mungkin aku sudah mati di sana atau di culik oleh orang jahat." Marcel membalas pelukan sang istri yang mencoba sedang menenangkannya.
"Maafkan Daddy boy itu terpaksa karena pada saat itu Daddy sangat kesal dengan Mommy mu karena sudah membohongiku." Tak terasa Alex meneteskan air matanya menatap Marcel, ada rasa penyesalan karena sudah melampiaskan kemarahannya kepada putra yang ia rawat dengan kasih sayang sejak kecil.
"Tidak usah menyesali perbuatan mu Alex, jika hanya ingin terbebas dari sini berkat bantuan air matamu yang sangat menyedihkan itu di hadapan Marcel." Diana geram menatap tajam ke arah Alex.
"Aku tidak peduli jika sekarang harus mati di tangan kalian, apa yang aku katakan barusan murni karena menyesal sudah melampiaskan kemarahanku kepada putraku." Alex menunduk ia tidak sanggup harus menatap Marcel, rasa sesal kembali menghantui nya setelah kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Ingat dia putraku bukan putramu." Rangga tidak terima jika darah dagingnya di akui oleh Alex.
"Tapi dia putraku juga." Lirih Alex yang masih menundukkan kepalanya.
"Dad jadi tolong katakan siapa dalang dari semua ini, aku tidak ingin jika suatu saat nanti keluarga kecil ku mati ditangannya." Marcel mencoba untuk mengikhlaskan semua yang terjadi di dalam kehidupannya, perlahan tangannya menangkup wajah Alex yang terlihat sangat terkejut.
"Kau bilang apa boy." Alex masih shock mencoba untuk mencerna ucapan Marcel.
"Daddy." Ucap Marcel sekali lagi sambil tersenyum.
"Boy putraku." Alex menangis dan berusaha ingin memeluk Marcel, akan tetapi ia tidak bisa memeluknya karena kedua tangannya di ikat oleh rantai.
"Apakah kamu memaafkan Daddy." Tanya Alex menatap Marcel sendu, ia sudah lelah di hantui rasa penyesalan selama ini terhadap putra angkatnya. Saat ini Alex tidak peduli lagi dengan ancaman dari seseorang yang sudah menyelamatkan hidupnya, hingga kembali membuatnya menjadi seorang pembunuh.
"Iya Dad aku sudah memaafkan mu." Marcel memeluk Alex menenangkan sang Daddy yang masih menangis, sementara ke tiga orang yang sedang menyaksikan adegan Marcel bersama Alex hanya menghela nafas.
"Terimakasih boy, Daddy sangat bahagia mendengar nya." Alex memejamkan kedua matanya di pelukan Marcel.
"Sebenarnya dalang dari semua ini." Ucap Alex menatap Marcel yang sudah melepaskan pelukannya.
Jangan lupa dukungannya ya supaya author lebih giat lagi untuk melanjutkan cerita Hot Mommy, untuk bab selanjutnya masih konflik ya.