
Di sebuah kamar, ada dua orang yang masih tertidur pulas dengan tubuh setengah telanjang.
Dengan mata yang masih terpejam, Keyla menggeliat, merentangkan kedua tangannya ke samping hingga salah satu telapak tangannya itu mendarat di atas wajah seseorang yang berada di sampingnya.
Pelan-pelan Keyla meraba wajah itu, seperti hendak memastikan benda apa yang sedang di sentuhnya, membuat sang pemilik wajah memberontak karena telapak tangan Keyla menutupi hidungnya sehingga dia sulit untuk bernafas.
Kemudian dia menarik tangan yang menutupi hidungnya itu. Dua orang itu perlahan membuka kedua matanya, akan tetapi seketika mereka saling beradu pandang.
"Aaaa!!!" Teriak Keyla histeris menutup wajahnya. Bingung dan terkejut bagaimana bisa dia tidur dengan seorang pria di hotel.
Keyla menarik selimut menutupi tubuhnya yang hanya memakai tanktop dan hotpants.
Sedangkan Rangga dari tadi terdiam, tidak percaya bahwa dia kini satu kamar di hotel dengan seorang Keyla Wijaya dengan telanjang dada.
"Hey, apa yang kau lakukan padaku." Teriak Keyla menatap tajam ke arah Rangga.
"Saya." Rangga menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, siapa lagi yang ada di sini jika bukan kau." Bentak Keyla kesal dengan masih menatap tajam ke arah Rangga yang hanya terdiam.
"Saya tidak tahu, saya juga bingung kenapa bisa di sini satu kamar di hotel denganmu." Jelas Rangga meyakinkan Keyla.
"Terus kau." Keyla tidak meneruskan ucapannya, dia kemudian meneliti tubuhnya sendiri. Mencari jejak-jejak yang mungkin di tinggalkan pria itu di tubuhnya.
Akan tetapi bersih, tidak ada satupun di sana bahkan dia tidak merasakan sakit di bagian bawah. Kemudian Keyla memberanikan diri menatap Rangga meneliti tubuh pria itu.
"Benar kita sepertinya hanya di jebak, apa sebenarnya kau yang menjebakku." Selidik Keyla menatap tajam ke arah Rangga.
"Sorry Key, saya memang menyukaimu tapi tidak selicik ini menggunakan tindakan bodoh yang merugikan wanita yang saya cintai." Jelas Rangga panjang lebar dengan suara parau.
Lalu siapa kalau bukan dia. Batin Keyla bertanya-tanya.
"Apa kau masih mengingat kejadian sebelumnya?!" Tanya Keyla memastikan.
"Semalam ketika saya sedang berbincang dengan rekan pengusaha lain, kemudian ada seorang pelayan yang menawariku satu gelas wine. Dengan terpaksa aku menerimanya sampai tanpa sadar minuman itu habis. Dan setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi." Rangga nampak berfikir mengingat kejadian tadi malam.
Sepertinya memang sengaja ada yang menjebakku sama Rangga, tapi siapa apa musuh dia atau musuhku. Batin Keyla masih bertanya-tanya.
"Sementara kamu Key kenapa ada di sini juga, atau jangan bilang kau." Rangga membulatkan kedua matanya menatap ke arah Keyla.
"Seperti yang kau pikirkan, kita sama-sama di jebak di sini. Entah musuhmu atau musuhku yang sedang mencari keuntungan dari ini semua, tapi sepertinya sebentar lagi akan ada sorotan mengenai kita." Dengan santai Keyla menjelaskan kepada Rangga.
"Kau benar Key, sepertinya dia sedang menginginkan sesuatu." Rangga tersenyum tipis merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang.
"Hem, kita mainkan saja permainannya." Sekilas Keyla melirik ke arah Rangga yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Apa kau tidak tergoda dengan tubuhku." Goda Rangga tersenyum mengalihkan pembicaraan, menatap ke arah Keyla.
Dia memang mempunyai tubuh yang bagus, di bagian dadanya. Akan tetapi yang lebih menggoda punya Marcel. Batin Keyla membayangkan.
"Astaga kenapa aku membayangkannya." Gumam Keyla pelan menepuk pipinya.
"Kau kenapa, apa sedang membayangkan yang tidak-tidak denganku." Rangga terkekeh melihat Keyla seperti itu sangat menggemaskan di matanya.
"Tidak, siapa juga yang membayangkan. Yang ada saya lagi memikirkan bagaimana cara memainkan permainan ini tanpa ketahuan olehnya." Keyla berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi, tanpa melihat ke arah Rangga.
*Ternyata* kau sangat menggemaskan. Batin Rangga terkekeh.
Rangga lalu beranjak dari atas ranjang dan menemukan kemeja beserta jasnya yang tergeletak di atas lantai.
Rangga mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu dia menghubungi seseorang.
"Sial!!! Ponselnya mati." Gumamnya pelan.
Tidak berapa lama pintu terbuka, Keyla keluar dari kamar mandi dengan jubah handuk yang membungkus tubuhnya.
"Key kau habis mandi? Kenapa lama sekali? Kita harus segera keluar." Tanya Rangga yang sedang duduk di atas sofa.
Keyla malah menatap tajam ke arah Rangga di ambang pintu kamar mandi, membuat Rangga tersenyum tipis.
"Aish aku melupakan pakaianku." Keyla menatap dress yang tergeletak di atas lantai.
"Kau keluarlah terlebih dahulu, aku harus menunggu sekertarisku membawa pakaian ke sini." Perintah Keyla.
"Baiklah."
Tidak lama kemudian Rangga berjalan keluar kamar, dan mempercepat langkahnya menuju meja resepsionis.
"Permisi, semalam saya menginap di sini tapi sebelumnya saya tidak mereservasi kamar nomor 109, atas nama siapa?" Tanya Rangga dalam bahasa inggris.
Resepsionis mengerutkan keningnya menatap aneh kepada Rangga, akan tetapi dia segera memeriksa data pengunjung di komputernya.
"Kamar 109 reservasi atas nama Rangga Adi Putra." Jawab resepsionis itu.
"Apa saya boleh melihat rekaman CCTV?"
"Mohon maaf Pak semalam CCTV di dekat kamar 109 lagi ada kerusakan." Resepsionis meminta maaf kepada Rangga.
Tidak masuk akal hotel semewah ini di london ada kerusakan. Batin Rangga tidak percaya.
"Baiklah terimakasih." Rangga berjalan menjauhi meja resepsionis dan menelpon seseorang.
Sementara di tempat lain..
Diana yang sudah mendapatkan telepon dari Keyla, dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar yang di maksud oleh Keyla.
Ceklek.
Keyla yang melihat Diana sudah membuka pintu kamar, dengan segera dia menyuruh Diana untuk mengunci pintu kamar.
"Diana kunci pintu." Perintah Keyla.
"Baiklah, Key kenapa lo bisa ada di sini? Apa yang terjadi semalam." Diana berjalan menghampiri Keyla yang duduk di atas ranjang.
"Gua juga tidak tahu, yang pasti semalam gua di sini bersama Rangga." Jelas Keyla serius.
"What, lo tidur berdua dan jangan bilang lo." Diana tidak meneruskan ucapannya, dia langsung membulatkan kedua matanya.
"Otak lo kenapa jadi mesum, gua tidak melakukan apapun di sini hanya tidur dan yang pasti ada seseorang yang menginginkan keuntungan dari kejadian ini." Keyla menjelaskan kepada Diana sambil tersenyum tipis.
"Hemm. Mungkin sebentar lagi nama lo akan menjadi sorotan di semua statsiun TV dan sosial media." Diana duduk di hadapan Keyla.
"Itu yang aku tunggu, entah dia sedang mengincarku atau Rangga."
"Oh ya lo nanti yang mengahadiri pertemuan terakhir kita di london, gua akan pulang ke Indonesia lebih awal dan akan memulai permainan ini." Keyla tersenyum menyeringai.
"Baiklah serahkan semuanya padaku." Diana tersenyum ke arah Keyla.
Gua kagum sama lo Key, setiap ada masalah lo selalu kuat dan bisa mengatasinya sendiri. Batin Diana.
"Key semalam Ziko menanyakan keberadaan lo?!" Ucap Diana menatap ke arah Keyla.
"Lo bilang aja sama dia, kalau gua semalam lagi berdua sama Rangga di kamar hotel." Keyla beranjak berdiri dan mengambil paper bag yang di bawa oleh Diana.
"Tapi Key." Diana tidak meneruskan ucapannya karena Keyla menatap tajam ke arahnya, pertanda kalau dia tidak suka di bantah.
______________________
Terimakasih sudah mampir❤️
Part selanjutnya bakalan ada seorang pria yang bisa meluluhkan hati seorang Keyla.