Hot Mommy

Hot Mommy
Hamil



Dari arah depan Rangga bersama Ziko berlari ke arah Caca yang sedang terduduk lemas di atas kursi rumah sakit, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Ca bagaimana keadaan kekasihku." Tanya Rangga menghentikan tangisan Caca yang di tutupi oleh kedua telapak tangannya.


"Kalian sudah sampai? Tadi dokter yang sedang menangani Diana tiba-tiba keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa, dan sekarang dia belum masuk lagi ke dalam ruangan Diana." Jelas Caca dengan raut wajah khawatir, Ziko yang berada di samping Caca dia segera membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Aku takut penyakit Diana parah, dan itu semua salah aku mengajak dia minum coffee." Gumam Caca di sela tangisnya.


"Jangan mengatakan hal itu sayang ini semua bukan salahmu, dan lagi pula dokter belum menjelaskan tentang penyakit Diana separah apa." Ziko berusaha menenangkan hati sang istri yang merasa bersalah terhadap Diana.


Dari kejauhan dokter yang tadi menangani Diana berjalan ke arah ruangan Diana bersama seorang dokter wanita cantik di sampingnya.


"Permisi maaf kalian keluarga dari pasien yang bernama nona Diana?" Tanya dokter tersebut sambil tersenyum.


"Iya, bagaimana keadaannya?" Tanya Rangga penasaran dengan keadaan sang kekasih.


"Maaf saya belum memeriksa keadaannya, saya memanggil dokter Cika terlebih dahulu supaya dapat memastikan kalau sebenarnya nona Diana sedang---." Belum sempat menyelesaikan ucapannya Rangga sudah memotong ucapan dokter tersebut.


"Cepat dok masuk periksa kekasihku." Rangga tidak ingin dokter terlambat memeriksa keadaan sang kekasih.


"Baik tuan permisi."


Tidak berapa lama dokter Cika yang memeriksa keadaan Diana keluar dan memberitahukan tentang kondisi Diana sekarang.


"Apakah anda kekasih dari nona Diana?" Tanya dokter tersenyum ke arah Rangga.


"Iya dok kenapa?" Raut wajah Rangga mulai khawatir ketika dokter tersebut akan menjelaskan tentang kondisi sang kekasih.


"Selamat tuan kekasih anda sekarang sedang mengandung anak anda." Dokter tersebut mengulurkan tangannya kepada Rangga, sambil tersenyum.


Semua orang yang berada di sana tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh dokter Cika, kalau sebenarnya Diana sekarang sedang mengandung anak Rangga.


"Maksud dokter Diana hamil?" Tanya Caca memastikan jika dugaannya waktu itu benar kalau Diana sedang hamil.


"Iya nona." Jawab dokter Cika.


"Terimakasih dok, bisakah sekarang saya masuk ke dalam?" Rangga begitu bahagia mendapat kabar jika Diana sedang mengandung anaknya.


"Ah silahkan tuan." Dokter Cika mempersilahkan masuk.


_________________


Di dalam ruangan.


Saat Rangga membuka pintu dia bisa melihat dengan jelas raut wajah sang kekasih seperti tidak bahagia mendapat kabar jika dirinya sedang hamil. Apa dia tidak ingin mengandung anakku, pikir Rangga sedih.


Rangga berjalan ke arah ranjang yang di tempati oleh Diana, dan di ikuti Ziko bersama Caca dari arah belakang.


Tatapan mata Diana kosong saat melihat ke arah luar jendela, dan Rangga bisa melihat dari sudut mata Diana ada sisa air matanya yang menetes.


"Sayang." Ucap Rangga memecah lamunan sang kekasih, sambil berjalan ke arah Diana.


"Eh sayang kamu-- Diana terkejut dengan kedatangan Rangga bersama Ziko dan Caca, belum sempat menyelesaikan ucapannya Rangga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban jika sang kekasih akan bertanya hal itu kepada dirinya.


"Apakah kamu tidak mau mengandung anakku." Rangga membawa tubuh Diana ke dalam pelukannya, dia bisa merasakan kalau sang kekasih sedang menangis karena kemeja yang dia kenakan basah di bagian dadanya.


"Apakah kita harus memberitahu Marcel dan Keyla kalau Diana sedang hamil?" Ucap Caca kepada Ziko, dia merasa bingung berada di situasi seperti sekarang ini.


"Jangan, biarkan mereka berdua saja yang memberitahu." Ziko mengajak Caca untuk meninggalkan rumah sakit.


"Di sayang." Rangga kembali bertanya kepada Diana, karena pikirannya di liputi oleh rasa penasaran.


"Bukan seperti itu sayang aku bahagia mendapat kabar hal ini, hanya saja aku sedikit shock jika sebenarnya aku sekarang sedang hamil tapi tanpa status pernikahan." Jawab Diana di sela tangisnya, dan sedikit ragu akan mengatakan hal itu kepada Rangga.


"Aku akan menikahimu secepatnya Di." Ucap Rangga tegas menatap manik mata Diana dalam.


"Tapi bukan karena anak ini kan kamu menikahiku?" Diana hanya ingin memastikan sekali lagi kalau hati Rangga sebenarnya masih mencintai mantan tunangannya atau dirinya, karena dia pernah mendengar jika di hati Rangga masih ada nama mantan tunangannya.


"Ya ampun sayang jadi selama ini kamu anggap apa hubungan yang kita jalani hem." Rangga terkekeh dengan ucapan Diana.


"Aku serius."


Suasana di ruangan menjadi sunyi dan mereka berdua saling beradu pandang, Rangga menghela nafas dengan tatapan yang masih tertuju ke dalam manik mata Diana yang sembab karena menangis. Setelah itu Rangga tersenyum sambil mencium seluruh wajah Diana tanpa mengeluarkan kata-kata.


Diana yang melihat aksi Rangga menciumi seluruh wajahnya dia segera menutup kedua matanya. Namun hatinya masih belum puas dengan jawaban Rangga, perlahan tangan Diana menghentikan aksi Rangga dengan tatapan serius.


"Semenjak kita mulai menjalin hubungan aku sudah mantap akan menikahimu Di, kau tahu setelah pergantian tahun aku bersama Keyla dan Marcel sudah menyiapkan pernikahan kita. Akan tetapi rencana selalu tidak sesuai dengan apa yang di harapkan." Jelas Rangga panjang lebar, sambil mengelus pipi Diana dan sedikit terkekeh.


"Maaf sayang." Diana memeluk Rangga dengan erat menumpahkan rasa bahagianya jika ternyata diam-diam Rangga sudah menyiapkan pernikahannya.


______________


Sementara di tempat lain.


Dokter Vino kebingungan mencari keberadaan seorang pria yang akan menemui dirinya di lorong rumah sakit yang tidak jauh dari ruangannya.


**** !!


"Sepertinya ada yang ngerjain gue." Gerutu Vino kesal dan dia baru teringat sesuatu, dengan cepat dia berlari ke dalam ruangannya.


Sesampainya di sana dia bisa melihat dengan jelas jika amplop yang berisi photo-photo Keyla tidak ada di atas meja.


"Bunyi ponsel dari balik tirai itu pasti yang mencurinya, dan mungkin orang itu juga tahu rencana gue bersama Alex." Gumam Vino dengan raut wajah kesal.


"Periksa CCTV di dalam ruangan saya setelah itu kirim video tersebut ke dalam email saya." Vino menelpon seseorang bagian keamanan rumah sakit.


"Bagaimana kalau orang itu tahu dan arrrghhh gue harus menyusun rencana lagi untuk membunuh wanita itu." Vino mengacak-ngacak rambutnya prustasi.


Ting.


Bunyi notifikasi ponsel menghentikan kegiatan Vino yang sedang mengacak-ngacak rambutnya prustasi. Setelah melihat video itu Vino tidak menyangka jika yang mengambil amplop, dan yang berada di dalam ruangannya adalah rekan kerjanya sendiri di rumah sakit ini.


"Caca". Satu kata yang keluar dari mulut Vino.


Terimakasih yang sudah membaca karyaku.


Jangan lupa tinggalkan LIke, Coment, dan Vote.