
Hubby kenapa kamu menelponku di saat ya tidak tepat. Batin Caca menghela nafas.
"Suara ponsel siapa?" Tanya Alex menajamkan pendengarannya.
"Aku tidak---" Vino belum sempat menyelesaikan ucapannya, dia tidak sengaja melihat tirai yang berada di sudut ruangan begerak padahal di ruangan ini tidak ada angin pikirnya.
Apa itu tadi. Batin Vino bertanya-tanya.
"Vin ada apa?" Selidik Alex, mengikuti arah pandang Vino.
"Ada sesuatu yang aneh di balik tirai itu, sepertinya bunyi ponsel tadi berasal dari sana." Ucap Vino mulai berjalan mendekati tirai tersebut.
Ketika sedang memegang tirai, tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar mengagetkan Vino yang akan membuka tirai.
Shittt !!
"Masuk?" Sahut Vino, berjalan ke arah pintu.
"Dok maaf di sana ada seorang pria ingin bertemu dengan anda." Ucap pegawai rumah sakit dengan raut wajah serius.
"Siapa dia?" Selidik Vino.
"Maaf dok saya tidak sempat menanyakan namanya." Jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Baiklah tolong bilang sama dia sebentar lagi saya ke sana." Perintah Vino kepada pegawai tersebut.
"Baik dok saya permisi."
Saat berbalik badan mata Vino kembali melihat ke arah tirai, dia begitu penasaran di balik tirai tersebut sebenarnya ada apa.
"Siapa Vin?" Tanya Alex memecah lamunan Vino yang tengah berdiri menatap tirai.
"Hmm ada seorang pria mencariku." Vino berjalan ke arah Alex, dan melupakan untuk membuka tirai.
"Baiklah sepertinya saya juga harus pergi, siapkan anak buahmu dan lakukan dari sekarang rencana yang telah kita susun karena semakin cepat itu semakin bagus." Ucap Alex tersenyum menyeringai.
Oh my God akhirnya mereka akan pergi. Batin Caca merasa lega.
"Ok siap bos." Jawab Vino cepat.
Dari kejauhan seorang pria yang tengah memperhatikan ruangan dokter Vino, kini perasaannya sedikit lega setelah melihat jika Alex dan dokter Vino telah keluar dari ruangannya.
Maafkan aku sayang semoga ini bisa membantumu untuk keluar dari ruangan dokter itu, jika aku tidak melihatmu di balik jendela itu sepertinya kamu sekarang di sekap oleh mereka berdua. Batin Ziko menghela nafas panjang.
"Saatnya aku pergi dari sini, biarkan si dokter itu kebingungan mencari seorang pria yang akan menemuinya." Gumam Ziko terkekeh, akhirnya rencana untuk menyelamatkan sang istri telah selesai.
Dengan gerakan cepat Caca mulai keluar dari balik tirai persembunyiannya, sebelum pergi dia tidak lupa untuk membawa semua informasi yang dia dapat dari ruangan dokter Vino.
"Aku tak menyangka Alex begitu jahat dan bodohnya kenapa aku dulu sangat mencintai dia." Gumam Caca kesal.
Di saat akan membuka handle pintu ruangan Caca tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Aksesoris handphone ku masih disini, sangat di sayangkan kalau tertinggal sendirian di sini. Batin Caca terkekeh mengingat aksesoris handphonenya.
"Di mana seorang pria yang ingin menemui ku." Vino mengedarkan pandangannya ke seluruh koridor rumah sakit, akan tetapi dia sama sekali tidak melihat seorang pria yang sedang menunggunya.
___________________
Di tempat parkir.
"Hubby kamu mengagetkan aku." Raut wajah Caca begitu pucat, saat tangan kekar seorang pria melingkar di perutnya.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu sayang." Ziko mempererat pelukannya, sambil mencium aroma vanila dari rambut sang istri.
"It's okay aku baik-baik saja sekarang." Ucap Caca mengelus lengan kekar Ziko.
Sekarang aku sangat bersyukur di cintai oleh suamiku sendiri dengan begitu tulus. Batin Caca terharu.
"Sebentar lagi sayang." Zikir masih enggan untuk melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.
"Ih malu tahu di liatin banyak orang, dan kita juga harus segera bertemu dengan Rangga dan Marcel aku di sini menemukan banyak informasi penting untuk mereka berdua hubby." Panjang lebar Caca menjelaskan kepada Ziko.
"Baiklah biarkan aku yang menyetir mobilmu." Ziko merebut kunci mobil yang di pegang oleh Caca.
"Tapi mobilmu hubby." Tunjuk Caca ke arah mobil Ziko.
"Nanti akan ada supir yang mengambil mobilku kamu tidak usah khawatir, jika hilangpun aku masih sanggup untuk membeli lagi bahkan 10 pun masih bisa." Sifat sombong Ziko masih melekat di dalam dirinya.
"Terserah Sultan saja lah." Caca memutar kedua bola matanya malas, sambil masuk kedalam mobil.
Haha,, haha,, haha,,
"Kamu sangat lucu jika sedang marah sayang." Ucap Ziko terkekeh melihat tingkah sang istri.
15 Menit kemudian akhirnya mobil yang di tumpangi oleh Ziko bersama Caca telah sampai di kediaman keluarga Wijaya.
"Hallo fans." Ucap Ziko berjalan ke arah ruang keluarga, sambil melambaikan tangannya.
"Suami lu gesrek Ca, mit amit dah." Ucap Diana menggelengkan kepalanya.
"Ziko memang seperti itu Di." Keyla terkekeh melihat tingkah Ziko yang tidak pernah berubah.
"Sayang jangan melihat uncle Ziko, aku tidak mau ya jika anakku mirip dengannya." Celetuk Marcel tanpa rasa bersalah mengatakan itu kepada Keyla, dan sekilas melirik ke arah Ziko.
"Sialan lu" Ziko melempar bantal sofa ke arah Marcel.
"Hmm bagaimana apa kalian ke sini untuk memberikan informasi mengenai Alex dan dokter itu." Tanya Rangga penasaran saat melihat amplop coklat yang berada di tangan Caca.
"Ya kami membawa informasi mengenai mereka." Dengan santai Ziko merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Ayo jelaskan sayang kepada mereka semua." Perintah Ziko kepada Caca.
"Dasar suami menyebalkan." Gerutu Caca kesal sekilas melirik ke arah suaminya.
"Tapi kamu sayang, wlek" Ziko mengulurkan lidahnya kepada Caca, dan sementara Caca bergidik tak suka.
Haha,,, haha,,
Semua orang yang berada di ruang keluarga tertawa terbahak-bahak melihat perdebatan kecil rumah tangga Ziko bersama Caca.
Ish mereka menyebalkan. Batin Caca menahan malu.
"Hmm jadi begini mereka berdua sedang merencanakan untuk membunuh Keyla dan bayi yang berada di dalam kandungannya saat pergantian tahun nanti, ternyata mereka mengetahui jika kita akan merayakannya di London." Jelas Caca melihat raut wajah Keyla yang sedikit pucat setelah mendengar ucapannya.
"Cel boleh minta tolong antar istrimu ke kamar." Caca tidak ingin ucapannya mempengaruhi kandungan Keyla.
"Ayo sayang kita ke kamar istirahat saja, biar mereka saja yang berfikir untuk membalaskan dendam kita." Ucap Marcel tersenyum lembut ke arah Keyla.
"Tapi sayang aku ingin mengetahui semuanya." Cegah Keyla yang tak ingin di gendong oleh Marcel dan istirahat di kamar.
"Key ingat ada bayi di dalam perut lu yang harus lu jaga, jangan sampai keegoisan lu bisa membuat kehilangannya." Jelas Diana khawatir melihat raut wajah Keyla sangat pucat.
"Maafkan mommy sayang karena tidak memikirkan keadaanmu di sini." Sekilas Keyla mengelus perutnya, dan meminta Marcel untuk mengantarnya.
"Lanjutkan Ca." Ucap Rangga masih penasaran dengan semua informasi yang di dapat oleh Caca.
"Hmm sebenarnya mereka menyuruh anak buahnya untuk mencelakai Keyla bersama bayinya itu, ingin persis sama dengan kecelakaan yang menimpa mendiang orang tua Keyla saat 8 tahun yang lalu." Jelas Caca masih ragu untuk mengatakan semuanya, apalagi sekarang dia bisa melihat dengan jelas jika raut wajah Rangga sudah mulai menahan amarahnya.
"Maksud lu Ca." Tanya Diana terkejut, sambil menutup mulutnya tak percaya.
Terimakasih yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT DAN VOTE.