
Keesokan Harinya.
Kring.. Kring.. Kring alarm ponsel milik Ziko berbunyi membuat Ziko menutup telinganya.
Ini pasti baru jam 5 pagi. Batin Ziko.
Ziko dengan malas menyentuh ponselnya dan mematikan alarm, tanpa melihat sudah menunjukkan jam 07:30 pagi, entah kenapa kepalanya terasa berat setelah minum beberapa wine tadi malam. Ziko tersenyum ketika mengingat tadi malam bahwa dia bertukar pesan dengan Keyla sampai larut malam.
**** kenapa jantungku berdebar-debar saat mengingatnya, apa aku sedang jatuh cinta seperti ABG saja. Batin Ziko tersenyum sambil memegang dadanya.
Lamunan Ziko buyar ketika ada suara ketukan pintu kamarnya dari luar.
Tok .. tok ..
"Pak.. Pak.. Apa anda sudah siap berangkat meeting, karena sebentar lagi akan segera di mulai. Kalau Bapak terlambat habis sudah sama Bu Keyla, Bapak juga tahu sendirikan kalau beliau jika sedang marah seperti apa." Teriak Jack dari luar prustasi karena dari tadi tidak mendengar sahutan dari dalam kamar Ziko.
"Damn.. Kenapa bisa telat bangun." Umpat Ziko kesal.
"Jack kau tunggu di mobil, 10 menit lagi saya kesana." Teriak Ziko dari dalam kamar.
Tidak biasanya si bos telat bangun kesiangan, sebenarnya ada apa." Batin Jack bertanya-tanya.
Diperjalanan tepatnya di dalam mobil Ziko sedari tadi senyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya, mengingat tadi malam bertukar pesan bersama Keyla, Ziko menjadi teringat sesuatu.
Sekilas Jack melirik ke arah Ziko yang berada di kursi belakang dari kaca spion.
Eh tidak biasanya dia senyum-senyum sendiri, seperti sedang menang lotre saja. Batin Jack heran.
"Damn." Umpat Ziko kesal sambil menatap jam tangannya.
"Jack lebih cepat lagi !! Awas jangan sampai kita telat." Perintah Ziko.
Ah gimana mau cepat orang jalanan macet begini, suruh siapa dia bangun telat seperti tidak tau saja Jakarta di pagi hari seperti apa. Eh tunggu tadi dia sedang senyum-senyum sendiri dengan ponselnya, sebenarnya ada apa. Batin Jack bertanya-tanya sambil melirik ke arah kursi belakang dari kaca spion.
"Saya usahakan sekitar 20 menit sudah sampai di perusahaan Wijaya Group Pak." Ucap Jack.
"Damn." Gerutu Ziko kesal sambil menatap jalanan.
Kalau begini caranya sudah pasti telat, semoga aja si Jack benar bisa sampai dalam waktu 20 menit kalau tidak. Tamat sudah riwayat seorang Ziko Pratama di hadapan Keyla Wijaya. Batin Ziko membayangkan.
"Jack kau sudah siapkan semua berkasnya." Tanya Ziko.
"Bapak tenang saja semua sudah di siapkan." Jawab Jack dengan santai.
"God job Jack, 50rb menantimu." Ucap Ziko senang.
Tidak usah repot-repot pak uang segitu saya juga punya. Batin Jack.
"Oh iya Jack semalam apakah Mommyku ada menghubungimu." Selidik Ziko.
"Iya pak semalam Nyonya besar menghubungi saya, katanya kenapa Bapak tidak pulang ke Mansion dan no telp Bapak juga sedang di alihkan terus ketika beliau menelpon, maaf Pak saya baru memberitahu Bapak." Ucap Jack.
Ah semalam kan aku lagi bertukar pesan dengan Keyla. Batin Ziko terseyum.
"Terus kau jawab saya pulang ke Mansion Y." Selidik Ziko.
"Mana berani saya menjawab seperti itu Pak, itukan privasi Bapak dan lagian Mansion Y khusus pribadi Bapak. Tidak ada yang tahu termasuk keluarga Bapak tentang keberadaan Mansion Y." Jawab Jack.
Sebenarnya ada apa Mom sampai pulang ke Indonesia, tidak biasanya dia juga menghubungiku sebanyak 10 panggilan tadi malam dan tidak mungkin kalau Mom ke sini hanya untuk bersenang-senang, pasti ada sesuatu yang dia inginkan. Batin Ziko bertanya-tanya.
20 Menit kemudian mobil milik Ziko sudah berada di depan perusahaan Wijaya Group, Ziko melangkahkan kakinya memasuki perusahaan Wijaya Group dan di ikuti Jack dari arah belakang menuju ruang meeting yang berada di lantai 20, Mereka berjalan ke arah lift khusus presiden direktur. Para karyawan selalu memberikan hormat kepada para tamu atau client Keyla yang setiap mereka datang ke perusahaan Wijaya Group.
Mata Ziko menangkap seseorang yang dia kenal sedang berjalan kearahnya, Ziko terus menatapnya dengan tatapan intens.
Jack menyadari arah pandangan Ziko seketika Jack tersenyum.
"Pak, sepertinya itu Ibu Keyla beliau juga ternyata baru datang." Ucap Jack kepada Ziko dan sekilas menipiskan senyumnya.
"Selamat pagi sayang." Ucap Ziko tiba-tiba dan membuat suasana menjadi menatap kearahnya.
Para karyawan yang berada di depan lift khusus karyawan dan presiden direktur menatap kearah Ziko dan Keyla secara bergantian. Sejujurnya mereka sudah curiga kalau Bosnya ada hubungan bersama client yang bernama Ziko, tapi mereka semua memilih bungkam dari pada membuat kesalaham yang akhirnya merugikan mereka sendiri.
"Kau baru datang juga sayang." Tanya Ziko tersenyum.
"Sudah tau nanya." Jawab Keyla ketus tanpa melihat kearah Ziko.
Haha 8 tahun si Bos mengejar Bu Keyla tapi masih sama seperti dulu, apa spesialnya Bu Keyla di mata si Bos padahal banyak yang ingin menjadi kekasih si Bos bahkan ada yang rela melempar tubuhnya di atas ranjang demi bisa bersama si Bos. Batin Jack heran.
Keyla merasa jantungnya berdetak kencang disaat Ziko terus menatapnya tanpa berkedip, sesekali Keyla melirik kearah Ziko memastikan apa dia masih menatapnya, akan tetapi matanya bertemu dengan manik mata Ziko. Keyla buru-buru memalingkan wajahnya kesamping sambil panik.
Aish kenapa dia masih saja menatapku seperti itu, apa gara-gara semalam aku bertukar pesan dengannya membuat dia hari ini salah paham. Batin Keyla kesal.
Tiba-tiba pintu lift khusus direktur terbuka, membuat Keyla buru-buru masuk kedalam dan diikuti oleh Ziko dan Jack dari arah belakang. Keyla semakin panik ketika Ziko semakin mendekat kearahnya.
Jangan mendekat!! jangan mendekat!! please! Gumamnya dalam hati.
Ziko berdiri tepat disebelah Keyla, dia menyeringai licik melihat Keyla yang sedang gugup, Keyla terlihat sedang mengepalkan erat kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugupnya
Mengapa dia sangat menggemaskan begini. Batin Ziko tersenyum.
Situasi macam apa ini. Batin Jack mulai jengah.
Tidak berapa lama pintu lift terbuka, Keyla berhenti mengepalkan erat kedua tangannya, dan langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ziko di depan lift.
Dengan cepat Keyla berjalan menuju ruangan meeting, kini Ziko dan Jack mengikuti langkah Keyla dengan berjalan cepat dari arah belakang.
Pukul 9 pagi meeting dimulai, meeting itu melibatkan 4 perusahaan salah satunya yang berada diluar negri akan tetapi CEO nya tidak mengahadiri meeting dan di wakilkan oleh sekertarisnya, dan salah satunya ada perusahaan Rangga juga yang beberapa minggu lalu mulai bekerjasama dengan Wijaya Group.
Mereka semua sudah berkumpul diruangan meeting, kali ini akan dipimpin oleh Keyla.
Keyla memulai meeting dengan raut wajah dingin dan ekspresi datar tak terbaca oleh siapapun, sehingga membuat suasana ruangan menjadi mencekam berbeda jika meeting dipimpin oleh Ziko. Akan tetapi para client sudah terbiasa dengan suasana seperti ini jika yang memimpin meeting adalah Keyla.
Keyla terlihat begitu sangat anggun dan profesional ketika memimpin meeting, berbanding terbalik saat dia bersama dengan Marcel anak angkatnya. Semua orang yang ada diruangan begitu sangat menyukai pembahasan yang dikatakan oleh Keyla tentang kerjasama kedepannya yang saling menguntungkan satu sama lain.
Keyla sudah membahas dengan sedetail mungkin, supaya para client puas dengan apa yang Keyla sampaikan.
Tidak terasa sudah 3 jam, sampai akhirnya meeting telah selesai.
"Meeting kali ini kita tutup. Untuk rencana kedepannya bisa kita bahas pada pertemuan selanjutnya. Terimakasih atas kehadirannya hari ini." Ucap Keyla menutup meeting dengan singkat.
Tidak salah aku memilih Calon istri dan Ibu dari anak-anakku kelak, tidak apa-apa dia belum menjadi milikku seorang yang pasti aku akan tetap terus berjuang. Supaya nanti bisa aku menceritakan kepada anaku kelak bahwa perjuangan Ayahnya mendapatkan Ibunya begitu susah. Batin Ziko tersenyum sambil menatap kearah Keyla.
Semua yang hadir berdiri dan membungkuk hormat pada Keyla, mereka pun berangsur keluar dari ruangan. Keyla terlihat mengantar beberapa tamu keluar.
Keyla memberi kode kepada sekertaris Diana supaya cepat membereskan barang-barang dan berkas-berkasnya. Diana langsung paham dan dengan gerakan cepat akhirnya selesai.
Sayang apa kau lupa bahwa tadi malam kita bertukar pesan sampai larut malam, tapi sekarang aku liat kamu seperti melupakannya begitu saja. Batin Ziko lirih.
"Hemm.. Kasihan sekali disini ada yang sedang patah hati." Ucap Rangga tersenyum menyeringai.
"Diam kau.." Bentak Ziko kesal sambil menatap tajam kearah Rangga.
Haha.. haha..
"Santai bro aku hanya becanda." Jawab Rangga so akrab.
Ziko tidak menanggapi perkataan Rangga, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi dari dalam saku jasnya.
"Mommy." Gumam Ziko pelan ketika melihat layar ponselnya ada panggilan masuk.
"Hallo Mom."
(________________)
"Baik Mom, ada apa kau menelponku Mom. Aku sedang sibuk hari ini." Jawab Ziko datar.
(__________________)
"Iya nanti malam pulang ke Mansion." Jawab Ziko malas.
(___________________)
"Iya diusahakan, sudah dulu Mom aku ada meeting hari ini." Ucap Ziko berbohong.
Ziko menghela nafas dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan meeting dan diikuti oleh Jack dan Rangga dari arah belakang. Tadinya Ziko ingin bertemu dengan Keyla terlebih dahulu sebelum meninggalkan perusahaan Wijaya Group. Akan tetapi pikirannya sedang kacau dan memutuskan untuk segera pergi dari perusahaan Wijaya Group.
Rangga yang sedang memperhatikan punggung Ziko dari arah belakang tersenyum menyeringai.
Tidak biasanya dia tidak bertemu terlebih dahulu dengan Keyla, tapi itu lebih bagus. Batin Rangga menyeringai sambil menatap kearah punggung Ziko yang mulai hilang dari pandangannya.
Sedangkan diluar negri ada seorang pria yang sedang tersenyum licik sambil menatap layar ponselnya.
Sekarang kau masuk kedalam perangkapku. Gumamnya dalam hati sambil tertawa.
Haha.. haha
Sementara ditempat lain.
Didalam kelas Marcel sedari tadi fokus mendengarkan apa yang sedang diterangkan oleh Pak Agus guru bahasa daerah atau sunda. Dan menghiraukan Andrew yang terus berbicara dari jam pelajaran dimulai, karena bagi dia belajar bahasa daerah sangat membosankan dan susah untuk dipahami, banyak kosa kata yang sulit diucapkan bagi Andrew lebih baik belajar Bahasa Inggris.
Mungkin karena dia keturunan blasteran Indonesia - London, akan tetapi sejak kecil ia lebih lama tinggal di London di bandingkan Indonesia karena mengikuti orangtuanya yang berpindah-pindah bisnis. Dan sejak saat itu ia jarang bertemu dengan Marcel tetangga apartemennya yang sudah menjadi temannya. Akan tetapi ia masih menjalani pertemanan jarak jauh dengan Marcel.
Sejak masuk SMA dia memutuskan untuk sekolah di Indonesia dan sejak saat itulah mereka masih berteman baik sampai sekarang.
"Bro lo gak bosan apa dari tadi mendengarkan Pak Agus." Ucap Andrew malas.
"Cabut yuk ketempat biasa." Ajak Andrew.
Sedangkan Marcel dari tadi tidak menjawab ucapan Andrew, bagi dia lebih baik fokus belajar dan mendengarkan Pak Agus yang sedang menerangkan di depan kelas.
Andrew hanya mendengus kesal.
"Damn.. Selalu saja kalau sudah belajar susah untuk di ajak bicara." Gerutu Andrew kesal tanpa sadar menggebrak meja.
Seketika membuat semua orang yang ada diruangan menatap kearahnya, termasuk Pak Agus yang sedari tadi memperhatikan tingkah Andrew dengan tatapan tajam, Andrew yang tidak sengaja menatap kearah Pak Agus nyalinya langsung menciut.
"Heh.. Bule maneh teh paribasa setiap bagean kelas urang sok ngomong wae kunaon? (Heh.. Bule kenapa setiap bagian kelas saya kamu selalu berbicara terus ada apa?)." Tanya Pak Agus dengan tatapan tajam.
Andrew hanya menggelengkan kepalanya.
"Gewat maneh kaluar, ek naon cicing didieu gen ai hente memperhatikeun mah. (Cepat kamu keluar, buat apa disini juga kalau tidak memperhatikan)." Ucap Pak Agus kesal.
Duh dia bilang apa, harus jawab apa lagi. Gua kan dari dulu gak pernah serius belajar bahasa daerah. Cing cing apa itu. Batin Andrew bertanya-tanya sambil melirik kearah Marcel yang berada di samping.
Marcel paham kalau Andrew tidak tahu apa yang diucapkan oleh Pak Agus.
"Katanya cepat keluar dari ruangan ini." Ucap Marcel pelan.
Andrew sudah paham apa yang diucapkan oleh Marcel, seketika ia langsung beranjak berdiri dan berkata dengan santai sambil tersenyum.
"Dengan senang hati Pak." Ucap Andrew dengan entengnya, sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kelas dan melewati Pak Agus yang sedang menatap dengan tatapan tajam.
"Jangan lupa berkedip Pak, gak takut apatuh matanya keluar." Goda Andrew terkekeh dan membuat murid lainnya tertawa.
Haha.. haha..
"Budak gelo siah.( Anak gila)." Bentak Pak Agus kesal.
Andrew yang sudah tahu situasi seperti ini langsung mengambil langkah seribu.
****
10 menit kemudian pelajaran sudah selesai dan bel berbunyi pertanda sudah jam istirahat.
Marcel berjalan kearah kantin dengan ekspresi tak terbaca, jika disekolah Marcel sosok yang berwajah dingin tanpa ekspresi berbanding terbalik jika ia sudah bersama dengan Keyla atau sahabatnya. Akan tetapi murid perempuan tidak mempedulikan itu semua, ia lebih tertantang dengan wajah dingin Marcel. Dimata mereka sosok Marcel sangat tampan dan cool.
Marcel menghampiri meja Andrew dan duduk di sebelahnya.
"Akhirnya lo keluar kelas juga." Ucap Andrew lega.
"Apa." Jawab Marcel melotot.
"Gua males disini dari tadi itu cewe nanyain lo terus." Tunjuk Andrew kepada perempuan yang sedang membeli makanan.
"Hemm.. Gua lapar." Ucap Marcel santai.
"Ya terus kenapa bilang sama gua." Jawab Andrew
"Cepat." Perintah Marcel sambil menatap tajam kearah Andrew.
Ah kebiasaan, dia selalu saja seenaknya. Batin Andrew kesal sambil pergi memesan makanan.
Karena bagi Marcel dia paling malas kalau harus memesan makanan dan mengantri bersama kerumunan murid lainnya, yang ada dia yang dimakan oleh mereka terutama oleh murid perempuan.
Mohon maaf ya Author baru update lagi, Author sengaja dipart ini ceritanya lebih panjang supaya mengobati beberapa hari Author tidak Up.
Terimakasih sudah membaca karya pertamaku readers, semoga kalian suka dengan alur ceritanya. Jika ada kata yang kurang di mengerti silahkan coment ya.
TINGGALKAN LIKE, COMENT DAN VOTE JIKA SUDAH MEMBACA SUPAYA AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI BUAT UP.