Hot Mommy

Hot Mommy
Ternyata salah



"Dan ini ada beberapa photo Keyla yang di ambil secara diam-diam oleh anak buah Vino." Ucap Caca.


"Ternyata bener dia ingin membunuh Keyla dan bayinya." Diana tidak menyangka jika Alex bisa sekeji itu terhadap Keyla.


"Dan apa betul Ca jika yang membunuh mendiang orangtua Keyla 8 tahun yang lalu adalah Alex juga." Tanya Diana masih belum percaya.


Dengan ragu Caca menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Biadab Alex." Gerutu Rangga dengan amarah yang memuncak.


Diana tidak menyangka jika ternyata Rangga bisa semarah itu setelah mendengar Jawaban dari Caca. Perlahan dia mendekat ke arah Rangga dan berusaha untuk menenangkan hatinya. seketika itu juga hati Rangga mulai sedikit tenang mendapat perlakuan lembut dari Diana.


"Makasih sayang." Rangga tersenyum lembut ke arah Diana.


"Sama-sama sayang."


"Akhirnya lu move on juga ya, gua gak nyangka gimana jadinya kalau lu masih mengharapkan Keyla. Mungkin jika di kisahkan di sinetron Indosiar judul yang cocok untuk lu adalah istriku mantan istri anakku atau juga bisa---" Saat akan menyelesaikan ucapannya, Tubuh Ziko sudah di lempari beberapa bantal sofa oleh Diana.


"Ish DIAM KAU, bisa-bisanya lu bercanda di saat seperti ini. Bukannya bantuin laki gua mikir buat bunuh si biadab Alex itu." Decak Diana kesal, sambil melempar bantal sofa ke arah Ziko.


"Yaelah hidup lu serius am---at" Ziko menahan rasa sakit ketika perutnya di cubit oleh sang istri.


"Sakit sayang." Gumam Ziko pelan menyentuh perutnya.


"Kamu sih sempat-sempatnya bercanda." Bisik Caca merasa malu dengan tingkah suaminya yang tidak tahu tempat untuk bercanda.


Kini Rangga mengajak Ziko untuk pergi ke suatu tempat dan meninggalkan kediaman Wijaya, akan tetapi Diana yang melihat raut wajah Rangga masih menahan amarah. Dia sangat khawatir jika calon suaminya melakukan hal bodoh bersama Ziko.


"Sayang mau kemana?" Tanya Diana di liputi rasa khawatir saat menatap Rangga yang akan mulai berdiri.


"Aku akan baik-baik saja sayang, kamu jangan pulang dan kalian menginap saja di sini." Rangga tersenyum lembut, dan sekilas melirik ke arah Caca.


"Hmm cepat pulang." Rengek Diana mengeluarkan buliran air matanya.


"Iya sayang." Rangga membawa Diana kedalam pelukannya, dan sesekali dia mencium pucuk rambut miliki Diana.


"Apa kamu akan melihat mereka berpelukan dan tidak ingin aku memeluk kamu juga." Goda Ziko kepada sang istri.


"Maaf aku terharu sayang, mereka seperti di dalam drama Korea yang pernah aku tonton." Ucap Caca tersenyum, sambil berjalan ke arah sang suami dan memeluknya dengan erat.


"Istriku ini ternyata korban drama Korea." Ziko membalas pelukan sang istri tak kalah erat.


Dari atas Marcel tidak sengaja melihat Ziko bersama sang ayah sedang berpelukan begitu erat, dan di sana dia juga tidak melihat kemana perginya dokter Caca bersama sekertaris Diana.


"Apa mereka berdua sudah gila." Pikir Marcel.


"Ayah sama uncle kenapa kalian berpelukan." Marcel berdiri dengan tatapan tajam, saat sudah sampai di ruang keluarga.


"Beraninya lu meluk gua." Rangga mendorong tubuh Ziko, sambil meremas rambutnya prustasi.


Sepertinya aku sudah gila membayangkan Diana, tapi perasaan tadi dia di sini dan merengek padaku untuk cepat pulang. Shitt anehnya kenapa si Ziko yang berada di pelukanku, kemana perginya Diana. Batin Rangga tidak percaya dengan apa yang dia lakukan sekarang.


"Heh lu pikir gua mau di peluk sama lu." Ziko tidak mau kalah jika menyangkut harga dirinya.


Apa ini perbuatan mereka berdua dan sekarang di mana mereka. Batin Ziko kesal.


"DIAM." Decak Rangga kesal, meninggalkan mansion Wijaya dan tidak mempedulikan umpatan Ziko terhadapnya.


"Rangga gila."


"Lembek."


"Pucat."


Sementara Marcel sedari tadi berdiri menahan tawa melihat pertengkaran antara sang ayah bersama Ziko.


"Kenapa kalian bisa berpelukan seperti itu." Tanya Marcel terkekeh.


Ziko tidak menjawab melainkan dia menatap Marcel dengan tatapan tajam.


____________________


Sementara di sebuah Cafe.


"Ca gak kebayang deh, ketika mereka tersadar dan saat membuka mata." Ucap Diana di sela tawanya, dia tidak bisa berhenti tertawa dan membayangkan ekspresi Rangga saat memeluk Ziko.


*Haha,, Haha,, Haha,, *


"Kali-kali kita kerjain mereka berdua." Jawab Caca menahan rasa sakit di bagian perutnya, setelah tertawa lepas cukup lama.


Flashback On.


Saat Ziko menutup mata dan menikmati pelukannya, Caca berbisik kepada Diana


untuk melepaskan pelukannya dari Rangga dan menyuruh mereka berdua untuk tidak membuka mata.


Diana menuntun tangan Rangga untuk membawa Ziko kedalam pelukannya, mereka berdua benar-benar tidak sadar jika sedang di kerjain oleh wanitanya sendiri.


"Sayang kenapa otot lenganmu besar?" Tanya Rangga tanpa membuka mata dan mulai curiga, sementara Diana yang masih berada di sana dengan cepat dia membalas ucapan Rangga.


"Iya nih aku gemukan yang." Bisik Diana dengan cepat di telinga Rangga.


Kenapa suara Diana terasa sangat dekat dengan telingaku. Batin Ziko merasa aneh, namun setelah itu dia tidak mempedulikan lagi.


"Biarkan mereka seperti itu, ayo kita pergi dan menikmati coffee hangat." Gumam Caca pelan kepada Diana.


"Lets go." Jawab Diana cepat, dan berjalan mengikuti langkah Caca.


Flashback off


"Bisa-bisanya lu kepikiran buat ngerjain mereka." Tanya Diana di sela minum coffee hangat.


"Gua sengaja supaya mereka tidak terlalu pusing memikirkan cara untuk membunuh si Alex, lagi pula ada waktu sebulan lagi kan." Jelas Caca tersenyum.


"Apa lu masih cinta sama dia." Selidik Diana penasaran.


Uhuk,,uhuk,,uhuk


Caca yang sedang menikmati coffee tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan Diana.


"Tidak." Dengan cepat Caca menjawab.


Kenapa aku mual setelah meminum coffee ini. Batin Diana menahan rasa mual.


"Di muka lu pucat, kenapa?" Tidak sengaja Caca melihat raut wajah Diana yang sedikit pucat, dan dia seperti sedang menahan rasa sakit di bagian perutnya.


"Hmmm gua--" Belum sempat menyelesaikan ucapannya Diana tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Caca yang melihat Diana sudah tidak sadarkan diri, dia segera meminta tolong kepada waiters yang berada di cafe untuk membawa Diana ke rumah sakit. Sebelum masuk ke dalam mobil Caca mengirim pesan kepada suaminya jika dia sedang berada di rumah sakit bersama Diana, tak lupa dia mengirim pesan juga kepada Rangga karena mau bagaimana pun Diana adalah kekasih Rangga.


Sesampainya di rumah sakit Diana segera di periksa oleh dokter, akan tetapi tidak berapa lama dokter yang sedang memeriksa Diana keluar dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan Diana.


Ada apa dengan dokter itu? Apa penyakit Diana sangat parah sehingga membuat dokter panik seperti itu, oh my God selamatkan sahabatku. Batin Caca.


**Terimakasih yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT, DAN VOTE **♥️