
Malam harinya.
Diana menginap di mansion milik Keyla, yang beralasan untuk menghindari perjodohan orangtuanya yang selalu memaksakan dirinya segera menikah.
Akan tetapi Diana lebih memilih untuk mencari pasangan sendiri di bandingkan harus dengan perjodohan, dia takut jika di tengah pernikahannya hancur gara-gara tidak saling mencintai akhirnya bercerai. Dan ujung-ujungnya merebutkan hak asuh anak.
Kini Diana sedang berada di kamar Keyla, sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Di lo serius mau di jodohkan?!" Tanya Keyla serius menatap ke arah Diana yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Entahlah gua males berada di rumah Key." Dengan malas Diana menjawab.
Sebenarnya Diana juga sedang di jodohkan oleh keluarganya dengan pengusaha seperti Caca, akan tetapi lelaki yang akan di jodohkan dengan Diana sudah berumur kepala empat.
"Oh iya Key, kenapa lo tidak memilih Ziko menjadi pedamping hidup lo." Selidik Diana.
Sebenarnya Caca akan di jodohkan dengan Ziko, makanya gua memilih Marcel tapi bukan berarti gua tidak mencintainya." Ucap Keyla tersenyum membayangkan ciumannya bersama Marcel, sambil menyentuh bibirnya.
Marcel sayang. Batin Keyla berbunga-bunga.
"Akhirnya lo sudah menjadi bucin." Ketus Diana sekilas melirik ke arah Keyla.
"Biarin nanti juga lo bakal merasakannya." Keyla kesal tidak terima, sambil senyum-senyum.
"Gua gak nyangka lo bakal mempunyai hubungan lebih bersama si bocah tengil itu." Gumam Diana kesal ketika mengingat perlakuan Marcel terhadapnya.
"Sama, gua juga tidak berfikir sejauh itu, malahan gua pikir bakal sama si Ziko tapi takdir berkata lain. Sebenarnya gua tidak mau kalau si Caca kembali lagi dengan si brengsek itu." Ucap Keyla.
"Eh gimana lo sudah mengetahui keberadaannya." Selidik Keyla mengalihkan pembicaraan.
"Belum Key gua sedang mencarinya lewat detektif yang handal." Balas Diana menatap ke arah Keyla.
Ternyata kau sangat licik dan pintar ya, akan tetapi kau tidak akan pernah bisa lari dariku Alex. Batin Keyla kesal.
Tiba-tiba ponsel milik Keyla yang berada di atas nakas bergetar ada notifikasi pesan masuk dari Marcel, seketika raut wajah Keyla tersenyum menatap layar ponsel.
✉️Marcel.
Sayang aku merindukanmu☹️.
✉️Keyla.
Hey kita baru beberapa menit bertemu sayang😜.
✉️Marcel.
Bagiku itu sangat lama, sayang pengen di peluk😫.
✉️Keyla.
Uh sayangku pengen di peluk ya, kasihan sekali sih!! Minta saja sama Ayahmu sana😝.
✉️Marcel.
Tidak mau sayang😞.
✉️Keyla.
Iya sayang, nanti Mom ke kamarmu😓.
✉️Marcel.
Ditunggu sayang, love you❤️
Keyla tersenyum ketika melihat notifikasi pesan masuk yang terakhir dari Marcel, sedangkan Diana sudah terlelap di atas ranjang dengan posisi tidur tengkurap seperti baby.
Keyla yang melihat Diana sudah tertidur di atas ranjang, lalu dia berdiri dan melangkahkan kakinya berjalan keluar kamar menuju kamar Marcel.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang." Teriak Keyla dari luar kamar.
Marcel yang mendengar suara Keyla dari luar kamarnya, dia segera berlari ke arah pintu kamarnya. Belum sempat Marcel membuka pintu kamar dia mencium terlebih dahulu badannya dan ketiaknya.
"Sudah wangi." Gumam Marcel pelan sambil tersenyum.
"Selamat malam sayang." Marcel membuka handle pintu kamarnya, dan tersenyum ke arah Keyla.
Hem, Keyla hanya berdehem sebagai jawaban sambil melewati Marcel yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kau mau terus berdiri di situ sayang." Dengan santai Keyla mengatakan hal itu kepada Macel, tanpa melihat ke arahnya.
"Ah tidak juga sayang." Ucap Marcel kikuk, karena Keyla hanya memakai tanktop dan hotpants.
Marcel masih menatap tubuh Keyla tanpa berkedip, tidak sengaja Keyla melihat Marcel yang terus memandangi dirinya lalu dia berjalan ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Aish kenapa Mom hanya memakai tanktop dan hotpants. Batin Marcel.
Setelah itu Marcel naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Keyla sambil memeluk tubuh Keyla dengan erat.
"Good night sayang." Marcel mencium kening Keyla dengan lembut.
"Good night too." Balas Keyla mencium pipi Marcel, lalu tersenyum menatap wajah Marcel.
Sementara di tempat lain..
Ziko bersama dengan Marisa sedang mengadakan jamuan bersama keluarga Jhonson yang tidak lain adalah keluarga Caca di kediamannya.
Sementara Caca tidak ikut karena masih berada di rumah sakit.
Kenapa dia selalu tidak ikut kalau ada pertemuan perjodohan denganku, apa dia juga menolak perjodohan ini. Batin Ziko bertanya-tanya.
"Ziko." Ucap Marisa menatap putranya yang terlihat sedang melamun.
Ziko hanya menoleh ke arah Marisa tanpa menjawab ucapannya.
"Jangan melamun, nanti ke sambet baru tahu rasa." Marisa menakuti putranya, sebenarnya memang Ziko orang yang penakut dengan hantu, dia memang mempunyai tubuh gagah tapi masalah hantu dia paling penakut.
"Apan si Mom." Ziko mendengus kesal.
"Sebelumnya saya minta maaf jeng, si Caca selalu tidak hadir dalam pertemuan perjodohan ini." Ibu Caca meminta maaf sambil tersenyum ramah.
"Iya tidak apa-apa jeng yang penting perjodohan ini berlangsung secepatnya ke dalam jenjang pernikahan." Ucap Marisa antusias.
"Mom." Geumam Ziko pelan menyentuh paha ibunya.
Haha.. Haha.. Haha..
"Iya jeng sepertinya mereka sangat cocok ya." Ibu Caca tak kalah antusias di sela tawanya.
"Iya, iya jadi kapan nih kita menjadi besan jeng?!" Tanya Marisa di sela tawanya.
"Kalau bisa sih 2 mingguan lagi jeng, iya kan pah?!" Ucapnya sambil melirik ke arah suaminya.
Suaminya hanya menganggukkan kepala saja sambil tersenyum ke arah Marisa, sedangkan Ziko yang berada di sebelah Marisa merasa tidak suka dengan perjodohan ini tapi mau gimana lagi kalau menolak pasti Marisa akan terus mencarikan calon istri untuknya.
_________________
Terimakasih yang sudah mampir❤️
Maaf ya author tambahin eps kali ini 😉
Jangan lupa tinggalkan like, coment, dan vote