Hot Mommy

Hot Mommy
Berpapasan



"Kau sudah selesai." Tiba-tiba Ziko dari arah pintu masuk kamar membawa nampan berisi makanan.


"Seperti yang kau lihat." Dengan santai Caca berjalan ke arah Ziko, sambil mengambil nampan yang berisi makanan.


Tidak sengaja mata Ziko melihat leher jenjang Caca yang sangat putih dan mulus, dia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.


Oh ****.!! Kenapa si junior tiba-tiba berdiri hanya melihat lehernya saja. Batin Ziko kesal.


"Apa kau sudah makan." Caca membuyarkan lamunan Ziko, sambil berjalan ke arah sofa untuk meletakkan nampan di atas meja.


"Belum." Ziko mengikuti langkah Caca dengan pandangan mata yang tidak lepas dari tubuh Caca.


"Kenapa kau menatapku seperti itu." Caca tidak sengaja melihat Ziko yang sedang menatap ke arahnya tanpa berkedip.


Tanpa pikir panjang Ziko mulai mendekat ke arah Caca, dan mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Caca hingga hanya berjarak beberapa centi.


"Apa yang kau lakukan." Caca terkejut dengan tingkah Ziko yang tidak seperti biasanya.


Namun Ziko tidak menjawab ucapan Caca, melainkan dia mulai merengkuh pinggangnya dan mendekap tubuh Caca ke dalam dekapannya.


"Bolehkah aku melakukannya." Bisik Ziko di telinga Caca dengan suara beratnya.


"Bo--leh." Jawab Caca dengan ragu, dan tidak menyangka jika Ziko akan meminta malam pertama kepadanya.


Ziko yang mendapatkan lampu hijau dari Caca, dia langsung ******* bibirnya dengan rakus dan salah satu tangannya perlahan membuka tali jubah mandi milik Caca, Ketika Ziko melepaskan ciumannya dia tersenyum menatap wajah Caca sambil mengusap bibirnya yang basah dan bengkak.


Tatapan mata Ziko beralih ke bawah yang menampakkan bukit kembar milik Caca yang padat dan putih. Perlahan tangan Ziko menyentuh benda tersebut dengan pandangan mata sayu dia mulai meremas, akan tetapi gerakan tangannya berhenti ketika tangan Caca menepis tangan Ziko dari ***********.


"Aku tidak mau melakukan hubungan intim dengan seorang pria yang mempunyai perasaan cinta terhadap wanita lain." Ucap Caca menatap lekat wajah Ziko dengan tegas.


Apapun itu aku harus siap dengan jawabannya, dan maafkan aku Alex sepertinya kini aku telah mencintai pria lain yang ternyata sekarang dia sudah menjadi suamiku. Batin Caca lirih.


"Aku akan berusaha mencintaimu dan menjadi suami yang baik." Ucap Ziko tersenyum lembut sebelum melakukan aksinya kembali.


Apa dia serius dengan ucapannya. Batin Caca bertanya-tanya.


Ziko melihat Caca hanya terdiam dia segera menggendong tubuhnya dan merebahkan di atas ranjang, Matanya sangat sayu menatap tubuh Caca yang terlentang di atas ranjang.


Ziko mulai membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya dengan pandangan yang tidak lepas dari wajah cantik Caca.


Perlahan Ziko mencium jari kaki milik Caca dan mulai naik ke atas paha, hingga kini tepat berada di area sensitif Caca yang tanpa sehelai benangpun menutupinya.


Cup.


Ziko mengecup area sensitif Caca, setelah itu jari tangannya mulai bermain dengan lihai di dalam area sensitif Caca sambil sesekali menjilat jari tangannya yang sudah basah.


Caca sangat tahu, saat ini apa yang di inginkan oleh Ziko. Membiarkan Ziko melakukannya malam ini, karena sejujurnya Caca pun sangat menginginkannya.


Napas Ziko yang mulai memburu dengan mata yang di penuhi oleh kabut gairah, dia langsung melakukan penyatuan dengan istrinya.


"Pelan-pelan Ziko." Caca menahan rasa sakit ketika Ziko memasukkan juniornya.


"Iya sayang." Ziko mengusap wajah Caca, sambil tersenyum.


Suasana kamar pengantin di penuhi oleh dua insan yang sedang memadu kasih dengan suara ******* yang merdu dari mereka berdua.


Setelah melakukan penyatuan dengan istrinya, Ziko terkapar lemas di atas ranjang dengan napas yang masih memburu karena sudah beberapa kali pelepasan di dalam rahim Caca.


Tidak berapa lama Ziko tertidur sambil memeluk tubuh polos Caca yang sedang membelakanginya, sementara Caca hanya bisa menatap lengan kekar Ziko dan sesekali air matanya menetes.


Aku harap ucapanmu bisa di pegang Ziko. Batin Caca lirih masih menatap lengan kekar Ziko yang melingkar di pinggangnya.


Flashback off.


"Kau menyiapkan pakaian untukku?" Ziko yang baru keluar dari dalam kamar mandi, matanya tidak sengaja melihat ada pakaian di atas ranjang.


"Makasih sayang." Ziko tersenyum sambil mengambil pakaian yang di letakkan oleh Caca.


Deg.


Seketika tubuh Caca membeku dan telinganya mendadak tidak berfungsi ketika Ziko mengatakan kata-kata manis untuk dirinya.


"Hemm.. Caca hanya berdehem tidak menjawab ucapan Ziko, karena saat ini pikirannya masih terngiang dengan ucapan Ziko yang menyebutnya sayang.


"Kenapa tidak sarapan?!" Tanya Ziko yang melihat makanan masih utuh di atas meja.


"Karena aku menunggumu untuk sarapan bersamaku." Jawab Caca dengan santai.


"Baiklah ayo."


Sebenarnya di dalam kamar mandi Ziko sempat memikirkan sosok Keyla, akan tetapi dia menepis pikiran tersebut supaya perlahan mengikhlaskan Keyla bahagia bersama pria yang di cintainya.


Mulai sekarang Ziko memutuskan akan membuka hatinya untuk Caca, dan dia juga harus memulai hidup baru bersama dengan wanita yang telah menjadi istrinya.


❤️❤️❤️❤️


Sementara di tempat lain..


Marcel yang akan keluar dari perusahaan, tidak sengaja di loby dia berpapasan dengan Renata yang akan ke meja resepsionis.


"Marcel, apa kau bekerja di sini." Tanya Renata antusias ketika melihat Marcel yang berjalan di loby mengenakan setelan jas, sambil tersenyum kepada para karyawan lain.



Contoh Visual Marcel.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" Marcel mengalihkan pembicaraan, sambil mengerutkan keningnya ketika melihat Alex yang berjalan dari arah belakang Renata.


"Wah ternyata keponakanku mengenal seorang presiden direktur Marcel Wijaya." Tiba-tiba Alex menghampiri Marcel, sambil tersenyum menyeringai.


"Apa paman?!" Renata tidak percaya apa yang di katakan oleh Alex, dan dia beralih menatap ke arah Marcel untuk meminta penjelasan.


"Maaf Renata sepertinya aku harus pergi, ada urusan di luar." Marcel berjalan meninggalkan Renata yang masih terdiam menatap punggung Marcel, bersama Alex yang berteriak menanyakan Keyla.


"Marcel, gimana kabar Keyla dan sekarang dia dimana?! Bisakah aku bertemu dengan Mommymu?!." Teriak Alex dengan lantang sehingga membuat para karyawan yang berada di loby menatap ke arahnya, sedangkan Renata mengerutkan keningnya ketika Alex menyebutkan Keyla dan di mana Mommy.


Sepertinya nama Keyla tidak asing, siapa dia dan apa hubungannya di mana Mommy. Batin Renata bertanya-tanya.


"Paman siapa Keyla sepertinya nama itu tidak asing, dan apa maksudnya paman menanyakan Mommynya Marcel, paman mengenalnya?!" Tanya Renata secara beruntun kepada Alex.


"Dia itu--- Alex tidak meneruskan ucapannya karena sudah di potong oleh kedatangan Diana yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.


"Ada perlu apa kau kemari?!" Tanya Diana tanpa ekspresi kepada Alex.


"Oh maaf apa ibu mengenal paman saya." Ucap Renata menatap ke arah Diana dan beralih sekilas menatap Alex.


Oh ternyata dia pamannya dan ini keponakan yang mencoba mau melindunginya. Batin Diana tersenyum penuh arti.


"Ayo ikut saya ada beberapa berkas kontrak yang harus kamu tanda tangani, tapi sepertinya untuk saat ini kamu tidak akan bertemu dengan presiden direktur kami." Diana menjelaskan kepada Renata sambil berjalan melangkahkan kakinya bersamanya, sementara Alex mengikuti mereka dari arah belakang.


Apa presiden direkturnya Marcel, dan ucapan paman benar. Batin Renata bertanya-tanya.


_____________________


Terimakasih yang sudah mampir❤️


Jangan tinggalkan Like, coment dan Vote ya.


Terimakasih🙏