Hot Mommy

Hot Mommy
Tempat persembunyian



"Siapa mobil hitam itu, kenapa sepertinya mereka mengikuti mobil gue." Vino sedikit was-was dengan keberadaan dua mobil hitam yang tak di kenal berada di belakangnya.


"Sepertinya ada yang mau main-main." Vino tersenyum menyeringai.


Baiklah let's play. Batinnya sambil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Pada saat mobil yang di tumpangi oleh Vino mendekati kediamannya, kedua mobil hitam itu tidak lagi mengikuti mobil Vino.


"Kemana mereka?" Vino menyadari jika kedua mobil hitam itu sudah tidak lagi mengikutinya.


Namun setelah sampai di depan gerbang rumahnya ia tidak menemukan security yang berada di sana dan gerbang pun sudah dalam keadaan terbuka. Akan tetapi dia tidak mempedulikan dan tidak mencurigai sesuatu hal yang terjadi di dalam rumah nya.


Setelah sampai di dalam kamar Vino masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Vino masih tidak menyadari di dalam rumahnya jika ada beberapa sepasang mata yang tengah mengamati gerak-geriknya.


Pada saat di dalam kamar mandi ia baru teringat jika di dalam rumahnya sekarang ia tidak melihat keberadaan asisten rumahnya maupun pekerja lainnya.


Sepertinya ada yang tidak beres sekarang di dalam rumahku, sial ponselku. Batin Vino mulai mencari cara untuk menghubungi anak buahnya.


Perlahan Vino keluar dari dalam kamar mandi untuk mencari ponselnya, namun terlambat kepala Vino sudah di pukul dan tidak sadarkan diri, sekarang ia sudah di bawa oleh pria misterius itu.


"Bagus perangkap satu sudah masuk ke dalam rencanaku." Gumam Marcel menyeringai saat mendapatkan notifikasi dari Andrew.


"Sepertinya sore ini aku harus membawa Mommy pergi dari mansion ke tempat persembunyianku, em lebih baik sekarang aku hubungi ayah." Marcel menekan nomor Rangga untuk menceritakan rencananya membunuh Alex malam ini.


"Sayang kenapa ada di sini?" Keyla tiba-tiba berdiri di belakang Marcel yang tengah berada di balkon, dengan keadaan setengah sadar.


"Sayang sudah bangun, barusan ada urusan di kantor." Marcel membalikkan tubuhnya menghadap sang istri sambil tersenyum, Dan mengajaknya ke atas ranjang.


"Iya aku menyadari kamu tidak ada di sampingku." Semenjak hamil Keyla sekarang lebih manja kepada Marcel, dan tidak bisa jauh-jauh dari suaminya.


"Uhh istriku ini tidak bisa jauh-jauh dariku ya." Goda Marcel mencium pucuk kepala sang istri.


"Hmmm." Keyla memeluk Marcel dengan erat ia merasa sangat nyaman di pelukan sang suami.


"Mom sore ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ucap Marcel mengelus punggung sang istri yang berada di pelukannya.


"Kemana?" Keyla mendongakkan kepalanya.


"Suatu tempat yang bisa membuat Mommy lebih aman, nanti di sana juga akan ada Aunty Di yang akan menemani Mommy." Jelas Marcel tersenyum, dia belum bisa menjelaskan semua rencananya kepada Keyla karena dia yakin jika sang istri pasti akan mengkhawatir keadaannya dan gagal untuk membunuh Alex.


"Baiklah aku akan ikut asal bersamamu." Keyla berfikir mungkin ada kaitannya tadi pagi saat berada di rumah sakit, dia tidak ingin ambil pusing suaminya sedang merencanakan apa dan belum menceritakan semua padanya mungkin dia punya alasan sendiri.


🖤🖤🖤🖤


Langit sudah berubah warna menjadi jingga itu berarti sekarang menandakan sudah menjelang sore hari, Marcel bersama sang istri mulai meninggalkan mansion keluarga Wijaya dengan di ikuti oleh beberapa pengawal menuju tempat persembunyiannya.


Sekitar 30 menit mobil yang di tumpangi oleh Marcel tiba di tengah hutan dengan pohon-pohon yang berdaun sangat lebat terdapat sebuah rumah sederhana di sana, dari kejauhan tidak akan menyangka jika di sana ada rumah sederhana yang nampak terawat dan bersih.


Marcel merebahkan tubuh sang istri di ranjang king size yang berada di dalam kamarnya, sebelum pergi ia mencium kening sang istri dan tersenyum.


Aku janji akan membalaskan dendammu Mom, setelah itu aku kembali ke sini. Maaf aku membuatmu tidur sebentar. Batin Marcel sebelum menutup pintu kamar.


Tidak berapa lama Andrew bersama Rangga yang sedang menggendong Diana telah sampai di tempat persembunyiannya.


"Son setelah ayah mengantar Aunty Di, jelaskan semua ini." Ucap Rangga tegas menatap tajam ke arah Marcel sebelum ia pergi mengikuti langkah Andrew menuju kamarnya.


"Hmmm."


Setelah selesai mengantar Diana ke dalam kamar, Rangga kembali menghampiri Marcel yang tengah berdiri menatap keluar jendela bersama Andrew di sebelahnya.


"Son jelaskan semua ini?" Tanpa basa basi Rangga langsung menanyakan semua yang tidak ia ketahui tentang putranya selama ini.


"Baiklah mari kita duduk yah." Marcel mengajak Rangga untuk duduk di atas sofa dan di ikuti Andrew dari arah belakang.


"Selama ini aku bersama Andrew terlibat di dunia gelap yah." Marcel mencoba sedikit menjelaskan kepada Rangga, ia ingin mengetahui respon sang ayah.


"Maksudmu mafia?" Tanya Rangga tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh putranya.


"Iya, awalnya kami tak sengaja bertemu dengan salah satu ketua mafia yang sedang sekarat di pinggir tuhan. Pada saat itu aku bersama Andrew tengah berburu di hutan, kami melihat seorang pria bersembunyi di batu besar dalam keadaan sekarat sedang berlumuran darah seperti tengah minta tolong." Jelas Marcel serius menceritakan awal pertemuannya dengan seorang ketua mafia.


"Setelah kami menghampirinya pria itu mengatakan jika dia ingin kita mengantarkannya ke sini." Marcel menyandarkan punggungnya.


"Jadi rumah ini milik dia? Kemana dia sekarang ayah ingin bertemu dengannya." Rangga penasaran dengan pria yang di maksud oleh Marcel.


"Dia sudah meninggal setelah dia tiba di sini akan tetapi ia berpesan kepada tangan kanannya dan kami, bahwa dia ingin kami meneruskan supaya kelompok mafianya masih berjalan sampai kapanpun. Dia bilang sudah mempercayakan kelompoknya di tangan kami yah, padahal pada saat itu aku dan Andrew tidak mempunyai kemampuan menembak atau membunuh." Ucap Marcel terkekeh saat mengingat permintaan pria itu.


"Kalau begitu kenapa mau menerimanya?" Rangga kembali bertanya.


"Karena tidak ada salahnya untuk mencoba menerima tawaran dia, lagi pula aku berfikir jika aku bergabung dengan mereka dan belajar menembak, bela diri dan hal yang bisa membuatku melindungi Mommy bersama keluargaku nanti. Karena aku tahu dunia bisnis pasti akan ada orang yang tidak suka jika perusahaan orang lain berada di peringkat ke satu." Marcel membayangkan wajah Keyla yang tengah tertidur dengan damai saat tidur bersamanya, serta kedepannya ia tidak ingin jika nanti keluarga kecilnya terjadi hal yang tidak di inginkan.


"Kau benar perusahaan Wijaya Group selalu berada di peringkat ke satu di dunia bisnis, pantas saja saat itu Alex membunuh mendiang kedua orang tua Keyla karena Wijaya Group tidak pernah bisa dikalahkan oleh siapapun." Ucap Rangga yang baru teringat saat pertama kali ia membangun perusahaannya, Wijaya Group sudah berdiri di peringkat satu di dunia bisnis. Dan pada saat itu juga ia belum berani untuk bekerja sama dengan perusahaan Wijaya Group.


Jangan lupa tinggalkan


like


comment


dan vote


supaya Marcel lebih semangat untuk membunuh Alex.


🤗