
Wijaya Aprt.
"Terimakasih honey." Rangga meneguk satu gelas jus yang telah di sediakan oleh Diana.
"Sama-sama honey." Diana duduk di sebelah Rangga dan memperlihatkan senyuman manisnya.
"Sebenarnya kamu habis dari mana honey?" Tanya Diana penasaran, karena seharian penuh dia tidak mendapatkan notifikasi message ataupun telepon dari Rangga.
Apa lebih baik aku jujur saja ya sama dia. Batin Rangga bimbang menatap Diana.
"Honey." Diana mencondongkan wajahnya ke arah Rangga, sementara Rangga hanya tersenyum simpul entah harus mengatakan yang sejujurnya atau berbohong kepada Diana.
"Hmm jadi sebenarnya aku sama Ziko dan istrinya lagi mengintai keberadaan si Alex dan kita lagi menyusun rencana untuk menangkap dia." Jelas Rangga dengan rahang yang mengeras setelah mengatakan nama Alex.
"APA?? Kenapa kamu tidak mengajakku di dalam rencana kalian sih." Jawab Diana terkejut, dan dengan kesal dia mengerucutkan bibirnya.
Oh **** dia sangat menggemaskan, tapi sepertinya firasatku mulai tidak enak. Batin Rangga masih menatap Diana dengan perasaan yang tidak enak.
"Sebenarnya kamu menganggapku apa sih honey?" Diana mulai menyentuh kedua pipi Rangga, sambil menatap manik matanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Rangga balik bertanya kepada Diana.
"Hanya saja aku merasa kamu tidak menganggapku berarti di hidupmu, buktinya sekarang kamu sedang menyusun rencana untuk menangkap Alex baru memberitahuku. Padahal akhir-akhir ini kamu sudah menyusun rencana itu bersama Ziko dan Caca." Ucap Diana dengan suara parau, sambil berbalik menatap ke arah depan.
Hmm benarkan firasatku. Batin Rangga.
"Hey jangan mengatakan hal seperti itu, justru kamu itu sangatlah berarti di dalam hidupku honey." Rangga menyentuh pundak Diana dan membalikkan tubuhnya agar bisa menatap matanya.
Cup.
Tidak ada jawaban dari mulut Diana, Rangga mulai mencium bibir Diana dengan tulus tanpa ada nafsu sedikitpun. Perlahan dia mulai memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan bibir Rangga dan tanpa sadar dari kedua sudut matanya mengeluarkan air mata, Diana jelas bisa merasakan ketulusan Rangga yang menyayanginya tapi kenapa dia bisa meragukan perasaan Rangga terhadapnya.
Tidak berapa lama Dianapun mulai membalas ciuman Rangga dengan sangat lihai, sambil mengalungkan tangannya di leher Rangga. Akan tetapi suara bel membuat kedua sepasang kekasih yang tengah berciuman mengumpat dalam hati.
*Oh **** mengganggu saja, padahal sebentar lagi badanku mulai panas. Batin Rangga mengumpat dalam hatinya. *
*Baru saja membalas ciuman eh udah ada yang mengganggu aja, huh menyebalkan. Batin Diana kesal. *
"Sebentar honey." Ucap Diana kepada Rangga setelah melepaskan ciumannya.
"Hmmm."
Dengan hati yang kesal Diana berjalan ke arah pintu, sambil melihat dari layar monitor siapa orang yang telah berani mengganggu waktunya bersama Rangga.
Ada apa Ziko sama si Caca datang ke apartemenku ya. Batin Diana bertanya-tanya.
"Ada apa kalian kemari?" Tanya Diana to the point, setelah membuka pintu dan memperlihatkan Ziko bersama Caca sedang berdiri di depan pintu apartemennya.
"Gue sama Ziko ke sini bukan mau ketemu sama lu, tapi liat tuh." Tunjuk Caca ke arah Rangga.
"Hmm baiklah kalian boleh masuk." Jawab Diana menyuruh Ziko bersama Caca masuk ke dalam apartemennya, dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Jadi gimana hasilnya?" Tanya Rangga serius setelah dia mengetahui siapa orang yang mengganggu waktunya bersama Diana.
"Jadi benar dia tidak terima, dan akan melakukan balas dendam atas percobaan bunuh diri keponakannya kepada Marcel." Tanya Diana yang sedang membawa 2 cangkir teh manis dari arah dapur, setelah itu meletakkan teh tersebut di atas meja.
"Yups dugaan lu benar Di, dan kalian mau tahu rencana si Alex apa? Dia akan membunuh bayi yang sedang di kandung oleh Keyla. Aku tidak tahu jika Alex secepat itu mengetahui kalau Keyla sedang mengandung anak Marcel." Jelas Caca kembali menjelaskan dengan raut wajah yang sudah mulai kesal.
"Sialan Alex!! Awas saja jika dia berani menyentuh cucuku, tapi kenapa anak itu tidak memberitahuku kalau istrinya sedang hamil." Ucap Rangga menatap satu persatu orang yang berada di apartemen Diana, dengan tatapan kecewa.
"Honey, mungkin saja Marcel lupa belum memberitahumu atau bisa jadi dia ingin kasih kamu kejutan." Diana mencoba untuk meredakan kekecewaan Rangga terhadap Marcel.
"Sekarang kamu tahu kan jika anakmu itu sangatlah kurang ajar." Ucap Ziko menekan kata kurang ajar, sambil menatap tajam ke arah Rangga.
Sementara Rangga hanya membalas tatapan Ziko dengan tajam tanpa ada niatan untuk membalas ucapannya.
"Ingat kalian di sini untuk menyusun rencana menangkap si Alex bukan berantem." Ucap Diana mengingatkan mereka.
🖤🖤🖤🖤
**Malam hari di kediaman Mansion Wijaya. **
"Selamat malam tuan." Ucap pak Mun ketika melihat Rangga memasuki Mansion Wijaya.
"Malam." Balas Rangga tersenyum, sambil mencari keberadaan Marcel dan Keyla.
"Tuan Marcel sama nona sedang menonton televisi di ruang keluarga, jika benar tuan ke sini sedang mencari mereka." Jelas pak Mun ramah, ketika melihat mata Rangga seperti yang sedang mencari sesuatu.
"Ah iya baiklah terimakasih pak Mun." Rangga menepuk bahu pak Mun setelah itu dia berjalan ke arah ruang keluarga.
Rangga bisa melihat jika anak dan menantunya sedang menonton film kartun kesukaan Marcel sewaktu kecil, dengan paha Keyla yang di jadikan bantal oleh kepala Marcel.
"Hmm." Rangga berdehem dengan keras, sambil berjalan menghampiri Marcel dan Keyla setelah itu dia duduk di hadapan mereka.
"Kenapa kamu tidak memberitahu ayahmu jika istrimu sedang mengandung anakmu?" Tanya Rangga to the point menatap anaknya dengan tatapan tajam.
"Kamu serius Dad tidak memberitahu ayahmu aku sedang mengandung anakmu." Keyla terkejut dengan ucapan Rangga.
"Tadinya aku ingin memberitahu ayah tapi sekarang ayah sudah tahu lebih dulu sebelum aku memberitahunya, jadi ayo kasih selamat yah." Ucap Marcel tersenyum lebar, sambil mengubah posisi tidurnya menatap Rangga.
"Anak kurang ajar, harusnya kamu langsung beritahu ayah ketika istrimu sedang hamil dan bukan dari orang lain ayah mengetahui istrimu hamil." Dengan kesal Rangga melempar bantal sofa ke arah Marcel.
"Hehe sorry yah aku lupa saking senengnya, jika masih ada ayah di hidupku." Dengan santai Marcel menjawab, sambil terkekeh.
"Lihatlah suamimu Key, kamu masih ingin bertahan sama dia yang seperti ini." Rangga pura-pura menggoda Keyla, sambil menahan tawa ketika melihat raut wajah anaknya sudah berubah datar.
"Iya yah sebenarnya aku juga-- Keyla belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Marcel.
"Sebenarnya apa Mom?" Marcel langsung bangun dan duduk di hadapan Keyla, dengan tatapan yang tidak terima oleh ucapan Keyla.
Sementara Keyla tidak menjawab hanya diam sambil menahan tawa, dengan kesal Marcel mencium bibir istrinya di hadapan Rangga.
"Wow main sosor aja ni anak." Rangga hanya menggelengkan kepalanya menatap jengah anaknya yang sangat posessive terhadap istrinya.
**Terimakasih yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT DAN VOTE. **