
Saat menggendong Keyla dia kembali mencium istrinya dengan sangat rakus, setelah itu dia merebahkan tubuh Keyla secara perlahan di atas ranjang tanpa melepaskan ciumannya. Dan kini ciumannya beralih ke leher jenjang Keyla yang sangat putih.
"Dad jangan meninggalkan banyak bekas besok kita ada pertemuan dengan dua perusahaan dari Dubai, dan aku tidak mau sttt mereka berfikir yang aneh tentang kita." Ucap Keyla menahan geli ketika Marcel terus bermain di lehernya.
"Apa salahnya Mom, kita sudah menikah dan mereka juga pasti sering melakukan seperti ini dengan istrinya, jadi jangan merasa malu dengan maha karyaku." Jawab Marcel bangga di sela menghisap leher istrinya, sambil tersenyum melihat salah satu maha karyanya begitu kontras dengan kulit sang istri yang sangat putih dan mulus.
Ah percuma berdebat dengan dia. Batin Keyla pasrah menerima maha karya suaminya.
Marcel benar-benar menciumi istrinya dengan detail bahkan daun telinganya pun dia tak ingin terlewati sampai-sampai telinga Keyla memerah dan sedikit basah.
"Dad come on ingat jam 2 siang." Keyla kembali mengingatkan sang suami di sela desahannya.
"Iyaiya tenang Mom kita juga baru mulai." Jawab Marcel sedikit kesal dan langsung melakukan penyatuan dengan istrinya, kali ini tidak ada yang namanya foreplay.
"Ahhh Mom sorry sakit ya, aku main pelan aja ya." Marcel merasa kasihan melihat sang istri selalu menahan sakit saat sedang bercinta, karena dia bisa merasakan punggungnya terkena cakaran kuku cantik sang istri.
"Its no problem Dad, lakukanlah apa yang kamu mau." Jawab Keyla mengelus rahang tegas Marcel.
Cup.
"Ahhh makasih sayang." Jawab Marcel sangat menikmati.
Semakin lama sepasang suami istri itu tanpa sadar sudah bercinta hampir setengah jam, dan mereka sudah pelepasan beberapa kali.
"Sayang sepertinya aku sudah mau keluar lagi." Erang Marcel mendekap tubuh Keyla kedalam pelukannya, dia bisa merasakan tubuh Keyla kembali bergetar saat cairan benihnya keluar memenuhi rahim sang istri.
"I love you Dad." Keyla membalas pelukan Marcel, sambil membisikan kata romantis di akhir penyatuannya dengan sang suami.
"Hmm love you more Mommy." Marcel mencium rambut Keyla dengan tulus.
Hari sudah semakin siang apalagi mereka sudah bercinta hampir 3 jam, dan sekarang berakhir pada pukul 12:15 AM mungkin saat ini semua karyawan sedang makan siang di pantry. Beda lagi dengan sepasang suami istri yang habis bercinta mereka malah asik berpelukan dan mungkin saat ini mereka sedang bermimpi indah.
🖤🖤🖤🖤🖤
Sementara di tempat lain.
Andrew terus mondar-mandir di depan pintu ruangan Marcel, dia begitu stres memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam dan memberitahu sahabatnya itu kalau sebentar lagi ada pertemuan dengan salah satu CEO yang bergerak di bidang kuliner. Bukan dia tidak mampu untuk bertemu sendiri dengan clientnya saat ini, akan tetapi perusahaan yang bergerak di bidang kuliner kali ini sangatlah berbeda pasalnya Rahadian Cunlry sudah menempati 5 negara di bagian eropa dan asia, bahkan di Indonesia restaurannya ada disetiap kota dan mall besar.
Apalagi Rahadian Cunlry baru pertama kali melakukan kerja sama dengan perusahaan Wijaya Group, jika mereka menjalin kerjasama dengan baik maka kedua perusahaan tersebut akan sangat berpengaruh di dunia dan tentunya ketika perusahaan lain ingin menjatuhkan salah satu dari mereka tidak akan berhasil, karena kedua perusahaan tersebut bisa dengan mudah memusnahkannya bahkan bisa membuat perusahaan tersebut hilang tanpa jejak seperti bak di telan bumi.
"Apa yang harus aku lakukan, shitt." Gerutu Andrew kesal menendang pintu ruangan Marcel dengan keras, sambil melihat arlogi yang berada dipergelangan tangannya.
"Habis lu jika tidak keluar juga, sialan Marcel lagi ngapain lu di dalam." Astaga pertanyaan yang bodoh, Andrew menepuk keningnya.
"Dongo buka." Sekali lagi Andrew menendang pintu ruangan Marcel dengan kesal.
Dari kejauhan tak sengaja Diana melihat raut wajah Andrew yang nampak kesal, dan dia juga bisa mendengar dengan jelas bahwa Andrew sedang berteriak dan memaki Marcel yang berada di dalam ruangan.
"Hey ada apa ini?" Tanya Diana menghentikan kekesalan Andrew.
"Bu Diana maaf, saya lagi kesal dengan Marcel." Jawab Andrew mengontrol emosinya agar tidak meledak di depan Diana.
"Saya juga tahu, tapi kenapa?" Diana ikut kesal melihat Andrew yang menjawab pertanyaannya setengah-setengah.
"Hehe maaf bu, sebenarnya pak Marcel sebentar lagi ada meeting dengan perusahaan Rahadian Cunlry tapi karena di dalam juga ada bu Keyla mungkin dia lupa dan pasti mereka sedang melakukan--." Andrew kikuk untuk melanjutkan ucapannya, dia juga merasa malu jika harus mengatakan hal itu kepada bu Diana.
"Iya saya tahu." Diana tahu apa yang akan di katakan oleh Andrew, jadi dia segera memotong ucapannya.
"Kamu seperti yang tidak tahu saja, Marcel kalau sudah di dekat istrinya pasti akan lupa
segalanya begitupun dengan perusahaan ini." Jelas Diana berjalan mendekati lukisan yang berada di sudut pintu, dia meletakkan lukisan tersebut di lantai, dan setelah itu Diana menekan tombol yang berwarna hijau. Sementara Andrew nampak kebingungan melihat apa yang di lakukan oleh Diana.
"Saya jelasin ya, semenjak mereka menikah saya juga pernah ada di posisi kamu saat ini. Kebingungan, kesal dan harus melakukan apa ketika sebentar lagi ada pertemuan penting tapi mereka justru malah asik di dalam dengan pintu yang di kunci dari dalam. Percuma kita berteriak dan marah-marah mereka tidak akan mendengar kita, karena kamu juga pasti tahu ruangan ini kedap suara." Jelas Diana panjang lebar dan sedikit terkekeh, ketika tadi dia tidak sengaja melihat Andrew marah-marah.
"Saya memutuskan untuk membuat tombol ini yang secara tak langsung sudah terhubung ke dalam ruangan Marcel, nah yang merah hanya terhubung ke dalam ruangannya saja. Sementara ke dalam kamar istirahat tidak akan terdengar oleh mereka jika mereka sedang di kamar jadi tekan tombol berwarna hijau, dan saya yakin sebentar lagi mereka akan keluar jadi tunggu saja dalam lima menit." Diana kembali menjelaskan kepada Andrew, sambil menepuk bahunya dan setelah itu dia pergi meninggalkan Andrew yang masih menyimak penjelasan dari Diana.
****, ribet juga ya kerja di perusahaan ini. Batin Andrew menggelengkan kepalanya.
Dan benar apa yang di katakan oleh Diana sepasang suami istri itu keluar dari dalam ruangan dengan wajah yang berseri, Andrew yang melihat mereka tersenyum rasanya dia ingin mencekik leher mereka.
Bisa-bisanya mereka tersenyum bahagia, sementara gue shitt. Batin Andrew tak habis pikir.
"Sudah siap drew." Tanya Marcel menatap Andrew tersenyum, sambil merangkul pinggang Keyla possesive.
"Sudah dari tadi bos, kemana aja lu baru mengetahuinya." Andrew lebih dulu berjalan meninggalkan Marcel dan Keyla.
"Mau tau gue kemana hah." Teriak Marcel terkekeh menatap punggung Andrew.
"Najis." Balas Andrew tanpa melihat ke belakang.
Terimakasih yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan LIKE, COMENT DAN VOTE.