
Beberapa hari setelah mencari tahu informasi tentang rencana Alex dan dokter Vino, Kehidupan Caca bersama Ziko akhir-akhir ini sering ada teror. Seperti sekarang ini di kediaman mansion keluarga Pratama banyak bodyguard yang berjaga di setiap sudut mansionnya, dan setiap orang yang mengunjungi mansion Pratama mereka harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Ziko.
Caca yang baru selesai membersihkan tubuhnya tiba-tiba ada notifikasi ponsel dari nomor yang tidak ia kenal, ia begitu terkejut melihat pesan yang memperlihatkan suaminya sedang terkapar berlumuran darah di jalan raya yang tampak sepi.
Tak di sangka kini hal buruk itu pun terjadi menimpa suaminya sendiri dan sekarang tak ada satupun yang menolong suaminya, bahkan keberadaan Jack tangan kanan suaminya pun entah di mana keberadaannya.
Hati Caca hancur dengan derai air mata yang terus mengalir di wajahnya setelah melihat foto sang suami, ia mencoba menghubungi Jack terlebih dahulu untuk memastikan jika ia sekarang sedang bersama suaminya atau tidak. Akan tetapi nomor Jack sama sekali tidak ada jawaban, dan tidak berapa lama ada notifikasi pesan masuk kembali dari nomor yang sama.
"JANGAN PERNAH IKUT CAMPUR DENGAN URUSAN ORANG LAIN JIKA KELUARGA MU TIDAK INGIN CELAKA SEPERTI SUAMIMU."
Pesan tersebut berisikan sebuah peringatan terhadap Caca, ia sekarang tahu jika Alex tidak segan untuk membunuh keluarga dan dirinya bukan lagi sebuah ancaman seperti sebelumnya.
"Ya tuhan suamiku selamatkan dia." Lirih Caca berlari keluar mansion menaiki mobil pribadinya, tak lupa ia membawa beberapa pengawal untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu hal yang buruk lagi kepada dirinya.
Di dalam perjalanan ia tak henti-hentinya berdoa untuk sang suami, agar tidak terlambat menyelamatkannya. Pikirannya kini ia kacau harus menghubungi siapa tentang kejadian yang menimpa keluarga nya.
Rangga tak mungkin pasti dia sekarang sedang berada di rumah sakit bersama Diana, dan Marcel aku yakin dia sedang bersama Keyla untuk menjaga nya.
Arrrggghhh
Caca beberapa kali ia memukul setir dan sesekali menghapus air matanya. Sebenarnya Caca ingin menghubungi keluarganya dan Mommy Marisa akan tetapi ia berfikir lebih baik nanti saja jika Ziko sudah berada di rumah sakit di tangani oleh dokter.
Tidak berapa lama mobil yang di tumpangi oleh Caca dan beberapa pengawal yang mengikuti mobil Caca sudah tiba di tempat kejadian Ziko yang berlumuran darah, akan tetapi setelah sampai di sana ia tidak bisa menemukan keberadaan sang suami. Di sana hanya ada mobil Ziko serta darah yang sudah memenuhi jalanan.
"Suamiku kemana dia." Lirih Caca sambil mencari keberadaan sang suami, dan di ikuti oleh beberapa pengawal ikut mencari keberadaan Ziko. Setelah beberapa menit mencari tapi nihil semuanya tidak menemukan keberadaan Ziko, mereka juga tidak menemukan petunjuk yang bisa membawa mereka kepada Ziko.
Tiba-tiba ponsel milik Caca berdering memperlihatkan nama yang kini sedang menelponnya.
📞 Mommy Marisa calling ...
" Ya tuhan aku harus bicara apa sama Mommy." Gumam Caca masih bimbang untuk menerima panggilan dari Mommy Marisa.
"Ha-llo Mom." Dengan suara bergetar Caca menjawab telepon dari Mommy Marisa.
(___________________)
"APA Mom???" Caca sedikit lega setelah mendengar ucapan dari Marisa.
(_____________)
"Baik Mom Caca bersama beberapa pengawal sekarang akan segera ke rumah sakit." Terukir senyuman kecil dari sudut bibir Caca, ternyata Ziko sudah di tangani oleh dokter dan sekarang berada di rumah sakit bersama Mommy Marisa.
🖤🖤🖤🖤
Sesampainya di rumah sakit.
Caca berlari menuju ruangan sang suami dengan derai air mata yang terus membasahi wajahnya, walaupun perasaannya sedikit lega akan tetapi Caca masih khawatir dengan keadaan Ziko.
Ternyata di depan pintu ruangan suaminya Caca bisa melihat sudah ada beberapa pengawal yang berjaga untuk melindungi suaminya sekarang.
Ceklek.
Hati Caca berdenyut sakit melihat wajah sang suami dipenuhi oleh perban. Perlahan Caca berjalan menghampiri sang suami dan Mommy Marisa yang masih menciumi telapak tangan Ziko dan belum mengetahui keberadaannya.
"Hubby." Dengan suara bergetar dan hampir tidak terdengar oleh Mommy Marisa, kaki Caca terasa berat untuk melangkah dan hatinya sakit sangat sakit dengan keadaan sang suami sekarang.
"Mom Zi-ko hiks,, hikss." Caca masih terasa sesak menyebutkan nama suaminya.
"Iya sayang, lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Ziko." Jawab Marisa di sela tangisnya, sesekali ia mengusap punggung Caca.
Tidak berapa lama orang tua Caca sudah tiba di rumah sakit ia bisa melihat dengan jelas jika keadaan menantunya sangat parah.
Marisa yang melihat kedatangan besannya ia tersenyum dan melepaskan pelukannya dengan Caca.
Kini Caca menciumi wajah sang suami dan sesekali ia mengatakan jika dirinya sangat merindukan tingkah sang suami yang sangat manja kepadanya.
"Sayang ayo bangun aku sangat merindukanmu." Caca berbisik di telinga Ziko.
"Oh iya Mom kenapa bisa tahu jika Ziko berada di jalan X berlumuran darah." Caca baru ingat kenapa Mommy Marisa bisa mengetahui keberadaan Ziko.
"Jadi begini sayang." Marisa mulai menceritakan.
Flashback on:
Marisa yang sedang berada di ruang kerja ia tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan tangan kanannya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Apa yang terjadi?" Tanya Marisa penasaran tidak biasanya Fahmi seperti ini.
"Nyonya putra anda sekarang sedang terkapar berlumuran darah berada di jalan X." Jelas Fahmi panjang lebar kepada nyonya Marisa.
"APA!!" Bak di samber petir jantung Marisa tiba-tiba terasa sakit setelah mendengar putra semata wayangnya sedang dalam bahaya.
"Fahmi tolong selamatkan putra saya." Perintah Marisa meneteskan air matanya, sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
"Baik nyonya ada beberapa pengawal di sana sudah membawa putra anda ke rumah sakit, sementara saya belum menemukan keberadaan Jack tangan kanan putra anda." Jelas Fahmi teringat dengan tangan kanan Ziko yang setia di sampingnya.
"Cari dia dan selamat kan jika terjadi sesuatu kepadanya." Marisa merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil mengatur nafasnya.
"Baik nyonya saya permisi dulu." Fahmi membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan.
Flashback off:
Caca yang mendengar nama Jack di sebutkan dia baru ingat kalau tangan kanan suaminya belum juga terlihat sampai sekarang, sebenarnya apa yang terjadi dengan suami dan Jack.
Ceklek.
"Permisi tuan nyonya saya sudah menemukan Jack dan sekarang dia sudah berada di sebelah ruangan tuan Ziko untuk keadaannya dia tidak separah tuan." Jelas Fahmi panjang lebar memberitahukan keadaan Jack kepada keluarga Pratama.
"Iya terimakasih Fahmi." Balas Marisa tersenyum sementara Caca sekilas hanya melirik ke arah Fahmi.
Fahmi hanya mengangguk dan membungkuk hormat, baru saja Fahmi akan melangkah kan kakinya keluar ruangan tiba-tiba Caca menyuruh Fahmi untuk mengantar kan Mommy Marisa pulang ke mansion.
"Mommy lebih baik pulang saja istirahat di mansion, untuk Ziko Mommy tidak usah khawatir biar aku saja yang merawatnya di sini." Ucap Caca tersenyum ia tidak tega melihat keadaan Mommy Marisa yang sudah terlihat sangat lelah.
"Baiklah terimakasih sayang, di sini kamu jaga kesehatan juga ya." Sebelum pergi Marisa memeluk menantunya setelah itu dia sekilas melihat keadaan putranya.
"Hati-hati jeng." Orang tua Caca mengantar kan Mommy Marisa ke depan.
Terimakasih yang sudah setia membaca novelku semoga kalian sehat selalu 🤗