Hot Mommy

Hot Mommy
Menyusahkan



Di dalam perjalanan Marcel sekilas melirik ke arah Keyla, yang sedang memejamkan kedua matanya sambil bersandar di jok mobil.


"Sedang tidur saja Mom kau sangat cantik sekali." Gumamnya pelan sambil tersenyum melirik ke arah Keyla.


Andai kau tahu Mom ternyata perasaanku melebihi rasa sayang seorang anak terhadap Ibunya, maafkan aku Mom begitu lancang mempunyai perasaan lebih untukmu. Batin Marcel lirih sambil menatap jalanan.


Tidak berapa lama mobil milik Marcel sudah tiba di depan apartemen, dia sekilas melihat ke arah Keyla yang masih tertidur pulas.


"Mom, kau sepertinya sangat kelelahan malam ini." Gumamnya pelan sambil membuka pintu mobil dan langsung menggendong Keyla ala bridal style menuju lantai 3.


Setibanya di apartemen, Marcel membuka pintu kamar milik Keyla dan dia langsung merebahkan tubuh Keyla ke atas ranjang dengan hati-hati.


"Astaga Mom kau itu lagi tertidur atau sedang pingsan, aku bahkan menggendongmu dari area parkiran apartemen menuju lantai 3 dan sekarang merebahkanmu ke atas ranjang, tapi tidurmu tidak terusik sama sekali Mom." Gumam Marcel panjang lebar sambil menggelengkan kepalanya melihat Keyla tidurnya seperti seekor kebo.


Cup


"Mimpi indah Mom." Ucap Marcel mencium kening Keyla dan melangkahkan kakinya keluar kamar.


Setelah itu Marcel masuk ke dalam kamarnya sambil membuka baju yang dia kenakan, dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Marcel sudah terbiasa jika tertidur hanya telanjang dada.


Rasanya malam ini begitu sangat menyenangkan, sepertinya ide yang bagus jika setiap malam minggu harus keluar bersama Mommy. Batin Marcel terkekeh sambil membayangkan.


Sementara di tempat lain.


Ziko yang berada di dalam mobil sambil menyetir sendiri dia terus marah-marah dan tanpa sadar menyumpahi Marisa.


"Kenapa harus aku yang menjemputnya." Gerutu Ziko kesal memukul setir pengemudi.


"Memangnya aku supir dia apa!! Awas saja jika sudah sampai." Seringai licik dari sudut bibirnya.


"Mommy tega sekali menyuruh putranya malam-malam keluar mansion, tidak takut apa dia jika putranya di ikuti oleh seorang penguntit tak terlihat. Memang benar jika saat ini Mommy sedang durhaka terhadap anaknya karena dia sudah berani membahayakan keselamatan putranya. Gumam Ziko panjang lebar.


"Wah jika benar ada seorang penguntit tak terlihat bagaimana. Aku sepertinya harus menanyakan hal itu kepada Marcel secepatnya." Gerutu Ziko khawatir.


"Masa seorang Ziko Pratama seorang CEO tampan, sekarang turun derajat menjadi supir." Decak Ziko kesal.


Sedangkan di rumah sakit wanita itu terus mondar-mandir di ruang kerjanya menunggu jemputan pulang yang di katakan oleh Mommynya, sesekali dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih.


Haduh lama sekali dia, apa lebih baik aku pulang naik taxi saja ya. Ini sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Gimana kalau dia berbohong kepada Mommy kalau sebenarnya dia pura-pura menjemputku. Gumamnya dalam hati khawatir.


"Ah lebih baik aku menunggunya di pos satpam saja supaya dia cepat mengetahui keberadaanku." Gumamnya pelan sambil berjalan melangkahkan kakinya menuju pos satpam.


Setibanya di pos satpam dia tidak melihat security yang berjaga malam, dan sekilas melihat bayangan di sekitar area parkiran yang terlihat gelap.


"Apa itu." Gumamnya pelan sambil membulatkan matanya ke arah parkiran.


Tiba-tiba bayangan itu semakin jelas di matanya, dan kebetulan tidak berapa lama ada taxi yang melewati rumah sakit. Dia langsung berlari ke arah taxi dengan tergesa-gesa.


Stop.


"Baik Nona."


Sementara di parkiran ...


"Ah kenapa di area parkiran sekarang ada saja orang yang membuang sampah sembarangan, padahal ada tempat sampah di sini." Gumam Security pelan sambil memunguti sampah yang berserakan.


15 Menit kemudian..


Mobil sport milik Ziko sudah tiba di rumah sakit ternama di Jakarta, dia memarkiran mobil miliknya di area parkiran. Kebetulan ada security yang sedang memunguti sampah yang berserakan, Ziko keluar dari dalam mobil dan ia langsung menanyakan ruangan direktur kepada security.


"Permisi Pak kalau ruangan Direktur sebelah mana ya?!" Tanya Ziko kepada Security.


"Oh ruangan direktur dari sini lurus saja Pak, terus belok kanan dan di situ ada ruangan direktur." Ucap Security panjang lebar.


"Baiklah terimakasih Pak."


Ziko berjalan memasuki area rumah sakit yang mulai terlihat sepi, ketika hendak belok kanan dia tidak sengaja melihat anak kecil yang sedang menangis sendirian seketika Ziko merinding.


Oh **** kenapa bulu ketiakku merinding. Batin Ziko bergidik takut dan langsung berjalan menghampiri ruangan Direktur tanpa mempedulikan anak yang sedang menangis sendirian.


Tok.. tok..


"Apa kau sedang berada di dalam." Ucap Ziko tanpa basa-basi sambil mengetuk pintu ruangan Direktur.


Apa dia tidak ada di ruangannya. Batin Ziko bertanya-tanya.


Tanpa pikir panjang Ziko membuka pintu ruangan Direktur dengan hati-hati, dia mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Akan tetapi tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.


Kemana dia, bukannya kata Mommy dia menungguku di dalam ruangannya. Batin Ziko bertanya-tanya.


"****!! Menyusahkan saja dia." Gerutu Ziko kesal.


Tiba-tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk dari Marisa.


"Mommy." Gumamnya pelan sambil mengangkat telpon.


"Iya Mom aku masih di rumah sakit."


(_______________)


"Apa?! Dia sudah pulang karena menungguku lama menjemput akhirnya dia naik taxi Mom. Kenapa dia tidak sabaran menungguku, menyusahkan saja!!" Decak Ziko kesal.


Terimakasih yang sudah mampir,


Jangan lupa tinggalkan Like, Coment dan Vote.